Kematian Itu Pasti

Add Comment
Berita kecelakaan antara mobil Avanza dengan kereta api Argo Bromo Anggrek yang terjadi di Purwodadi masih terngiang-ngiang di kepala. Saya pun membayangkan ketika kecelakaan tersebut terjadi. Menjadi orang yang berada di dalam mobil tersebut. Sekian detik mungkin masih bisa tertawa, membayangkan ketika sampai di tujuan. Sekian detik pula kepala kereta api menekan bodi mobil tersebut. Tergencet antara kepala dengan rel.
Di dalam waktu yang sesingkat itu, antara hidup dan mati, apakah yang keluar di mulut orang-orang tersebut? Sampai segitunya saya membayangkan. Dengan waktu yang sesingkat itu, saya yakin tidak ada yang membayangkan ada di dalam posisi tersebut. Naudzubillahi min dzalik.

Lantas saya teringat sebuah cerita menarik dari guru ngaji saya dulu. Tersebutlah seorang kepala pondok pesantren yang sangat dihormati dan disayangi para santrinya. Suatu waktu, salah satu santri memberikan hadiah seekor burung yang menawan kepada Kyai tersebut.
Oleh si Kyai, burung tersebut diajari kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH setiap hari. Sampai akhirnya si burung tersebut bisa mengucapkan kalimat tersebut. Betapa bahagianya si Kyai melihat perkembangan belajar si burung.
Yang terdengar dari si burung hanyalah kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Tidak ada yang lain. Sampai suatu ketika, ada seekor kucing yang memangsa burung kesayangan si Kyai tersebut. Dan itu terjadi langsung di depan matanya.
Betapa sedih dan menyesalnya si Kyai itu. Sampai membuat para santrinya heran. Kenapa hanya kematian seekor burung sampai segitu sedihannya.
"Pak Kyai, kenapa begitu sedih karena kematian burungnya? Kami bisa mencarikan burung lain yang tidak kalah cantik dan menariknya."
"Bukan perkara burung yang membuatku sedih. Kalian tahu burung tersebut setiap hari saya latih untuk melafalkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Tetapi ketika dimangsa kucing, bukan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH yang keluar melainkan ucapan yang lain."
*******
Tidak ada yang bisa menginginkan bagaimana cara kematian menyambut. Kematian itu misteri. Hanya Allah yang tahu. Tentu semua orang menginginkan kematian yang khusnul khotimah. Meninggal ketika teringat tentang Allah. Bukan kematian ketika melakukan kemaksiatan. Kita tidak bisa menghindari kematian. Memundurkan atau memajukan.

Kematian itu kepastian. Sudah cukupkah bekal kita untuk menyambut kepastian tersebut?

Gagal Rabi Karena Riba

Add Comment
Kurang lebih 2 tahun saya bergelut dengan riba. Awalnya saya berpikir, ah sama saja. Tinggal bagaimana kita mengatur dan bersedekah saja. Itulah bayangan di kepala ketika menerima pekerjaan tersebut. Meskipun sebenarnya tahu bahwa riba sangat diharamkan di dalam keyakinan saya. Dicoba dululah tidak apa-apa, keputusan saya ambil.
Pekerjaan tersebut dilatar belakangi atas ketidakpuasan ‘seseorang’. “Kalau kamu bekerja di situ? Bagaimana kelak akan membangun masa depan?”
Akhirnya saya mengambil itu kerjaan lantaran referensi ‘dia’ juga. Saya memang selalu menuruti apa yang ‘seseorang’ itu katakan. Kata salah satu teman, itulah kelemahan yang dimiliki orang Pisces. Ciiih meskipun saya terkadang tidak percaya akan hal-hal tersebut.
Kurang lebih setahun berjalan di pekerjaan yang memang setiap harinya berurusan dengan kredit, bunga, tabungan, deposito. Sedikit ada perubahan gaya hidup, walau tidak signifikan. Karena saya memang tidak pernah suka shopping atau jalan-jalan kemana kek. Kecuali kalau ada yang mengajak. Mungkin ini juga yang membuat hubungan dengan ‘seseorang’ tersebut mulai hambar dan dingin. Egois dengan diri sendiri.
Awalnya perubahan hidup yang saya rasakan sedikit demi sedikit malah menjerat dengan yang namanya kekurangan. Ketidakpuasan. Awalnya gaji sebulan cukup dan bisa disisihkan untuk orang di rumah. Lama-lama menjadi minus. Tombok. Besar pasak daripada tiang. Selalu saja pengeluaran tidak sesuai dengan penghasilan lagi. Entah ini saya yang memang kurang memanage atau bagaimana.
Mulai saat itulah setiap bulan dan bulan-bulan berikutnya pengeluaran selalu satu langkah di depan penghasilan. Utang sana sini. Tutup lubang gali lubang. Apakah yang salah? Aku juga menyisihkan sedikit untuk berbagi. Sholat insya Allah juga tidak bolong-bolong amat. Mungkin dikarenakan tidak bisa manage keuangan, simpulan saya waktu itu.
****

Tidak ada perubahan yang lebih baik bulan-bulan berikutnya. Pernah saya bertukar pikiran dengan sesama teman kantor satu divisi. Mengenai keresahan keuangan yang njlimet ini, walau tidak terbuka seratus persen. Anehnya, teman sebelah meja tersebut juga mengalami hal yang sama. Defisit. Minus. Kurang. Bokek. Setiap gajian layaknya mampir ngombe, begitu ungkapannya. Ternyata tidak saya saja yang merasakan.
Alhamdulillah, Allah selalu memberikan rejeki yang tidak terduga-duga. Setiap kali bokek, saya pakai ungkapan itu saja, Allah memberikan rejeki dari orang-orang yang meminta servis laptop atau handphone. Malah terkadang uang inilah yang membantu menyambung hidup. Uang pokok gaji kemana? Entah kemana uang itu pergi.
Akhirnya saya sedikit disadarkan oleh perkataan salah satu sahabat. Dia berujar, kalau dari hulunya saja sudah kotor. Sebersih apapun kamu membersihkannya tetap kotor juga. Ya. Saya diingatkan oleh perkataan itu. Muncul niatan untuk resign. Walau masih sebatas keinginan.
Niatan itu aku utarakan kepada ‘seseorang’ yang sudah mulai apatis antara satu sama lain. Hubungan ini sebatas formalitas belaka. Di dalam sudah mulai membentuk benteng dingin masing-masing.
‘Aku mau resign!’
Resign? Sudah dapat penggantinya. Kalau belum mau kerja apa? Sekarang cari kerja itu susah. Jangankan lulusan SMA, lha wong lulusan sarjana saja banyak yang nganggur,’ balasnya.
‘Aku sudah tidak nyaman dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan riba. Kamu tahu kan tiap bulan bukannya bisa menabung malah minus mulu. Malah selalu merepotkanmu tiap bulan.’
‘Terserah kamu sajalah. Toh juga kamu yang jalani sendiri.’
*****

Niatan tersebut masih sebatas niatan. Belum ada keberanian untuk memberikan sebuah surat cinta, eh, mundur kepada manager di lantai 2. Dan hubunganku dengan ‘dia’ sudah entah sampai mana tingkat kejenuhannya. Bahkan tersiar kabar, itupun juga dari ‘dia’ langsung, kalau orangtuanya sudah menentukan calon suami. Keinginan untuk bertandang membawa bapak ibu musnah sudah. Harapan, walau sudah pesimis karena beberapa bulan ini hubungan seperti ini, untuk bersama menemui jalan sulit kalau tidak mau dikatakan buntu.
Dan hari tersebut akhirnya datang, tidak pernah ada komunikasi yang terjalin. Hubungan kurang lebih 4-5 tahun sudah terkubur secara resmi dengan datangnya sebuah sms darinya.
‘Aku sudah dijodohkan dengan oranglain pilihan orangtua. Hubungan ini cukup sampai di sini. Tolong jangan hubungi aku lagi. Terima kasih untuk selama ini.’
Bak orang sekarat, sakaratul maut, akhirnya modyar juga. Itulah persoalan selain niatan untuk resign. Masalah itu membuatku sejenak melupakan untuk resign. Menenangkan hati dengan bersembunyi di balik pekerjaan. Dan hasilnya, pekerjaan tidak maksimal dan banyak kesalahan. Lantas apakah aku menyalahkannya? Saya tidak pernah sekejam itu menghakimi.
Tak terasa sudah memasuki 1,5 tahun masih berkutat dengan riba. Ada perubahan? Tidak ada. Masih seperti setahun kemarin. Gaji tiap bulan bak mampir terus berlalu. Ditambah lagi status resmi jomblo. Walau sudah saya duga jauh-jauh hari. Tetapi hanya menunggu momentum peresmian perpisahan itu.
*****

Ada sahabat sewaktu SMA yang selalu saya repotkan masalah keuangan. Malah dengan dia sering saya habiskan waktu daripada ‘dia’. Saking dekatnya, mungkin kalau dia perempuan sudah saya tembak kepalanya. Berusaha setegar apa pun seorang pria kalau ada masalah mengenai asmara pasti akan tercium juga oleh sesama pria. Tak terkecuali sahabat saya itu.
Dia sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang wanita yang sedang dinas di Aceh. Anehnya, jadiannya pun tidak tatap muka. Kok bisa ya? Kadang heran kalau dipikir. Niatan untuk resign pun pernah saya lontarkan kepadanya.
‘Kerjaku riba gak sih Ni?’
‘Sorry bos, nak masalah riba tidaknya aku angkat tangan. Tidak punya pengetahuan cukup aku harus judge ini riba itu tidak.’
‘Bosomu leh sok-sokan duwur!’
Jangkrik, perasaan sewaktu SMA jadi ketua Rohis, batinku. Dia lebih memilih berkutat dengan layar handphonenya daripada meneruskan perdebatan.
‘Kowe kok gak semangat to bos! Wis to wis, wong wedok okeh. Gak mung siji kae,’ tiba-tiba dia membahas topik lain.
‘Emang ketok yo?’
‘Raimu ki ora iso ngapusi aku. Have fun. Ojo digowo pikir, mundak loro. Nyoh diwenehi pin BB koncone cewekku. Jare yo lagi bar putus, hahaha.’
‘Oh, lambemu. Ndi pin e?’
Aku masih bertahan di tempat kerja. Meski jujur sudah mulai tidak merasakan lagi apa yang namanya bekerja. Perkenalan dengan teman pacarnya Lukman juga dingin awalnya. Karena mungkin saya yang tidak agresif.
‘Bos, bos, kapan iso olehmu cewek nak chattingmu monoton. Takon iki dijawab wis. Nganti lebaran kucing yo gak bakalan oleh kowe. Sing agresif. Okeh takone. Improvisasi. Gawe bahan perbincangan. Jangkrik ngunu og koncoku!’
****

Singkat kata, hubungan yang awalnya hanya pertemanan ternyata berkata lain. Saat itu dia meminta tolong untuk dibelikan buku dan akan menjadi pertemuan pertama kami. Benar saja, akhirnya kami bertemu.
Sedikit canggung karena sebelumnya hanya say hello via aplikasi handphone. Saya memang tidak mengatakan kalau bekerja di salah satu lembaga keuangan. Karena toh hanya sebatas teman. Tetapi kehendak Allah berkata lain, kami semakin didekatkan dan mau tidak mau dia tahu kalau saya bekerja di pekerjaan riba.
Deg. Memang tidak ada penolakan di wajah. Tetapi dia memberikan nasihat dan dasar bahwasanya riba itu haram di dalam Islam. Walau saya sebenarnya juga tahu. Itulah pertarungan yang terjadi di dalam diri saya akhir-akhir ini. Memberikan saran untuk resign dan mencari pekerjaan yang lebih halal. Dan apa saya langsung menyetujuinya?
Awalnya masih sedikit gamang. Tetapi mantab juga tekat untuk resign. Langsung saya menghadap bapak manager di lantai 2. Dengan membawa surat pengunduran diri. Awalnya pak manager berusaha menahan karena kerja saya bagus. Tapi saya tetap pada pendirian untuk mundur.
Dan tepat 25 September 2015 saya lepas dari perusahaan tersebut. Atau khususnya lepas dari jeratan riba selama ini. Itulah pengalaman saya yang kurang lebih berdekatan dengan riba. Tidak ada berkah-berkahnya. Saya di sini tidak pernah menjelek-jelekkan sebuah perusahaan atau profesi. Ini murni apa yang saya rasakan sendiri. Dulu pernah saya membeli handphone yang sedikit mahal dengan gaji bulanan. Selang beberapa handphone tersebut hilang karena lupa naruh pas jalan-jalan di mall. Anehnya handphone satunya yang dulu beli pakai uang ngelesi sampai sekarang masih ada.
Banyak kok orang yang kerja di lingkungan riba jadi sukses. Saya tidak mempermasalahkan oranglain. Entah dia sukses atau tidak. Kita sendiri yang merasakannya. Bisa saja mereka sukses tetapi ada sedikit kegelisahan di hati mereka (bisa mungkin terjadi. Saya tulis mungkin). Dan mungkin Allah masih sayang kepada saya dengan memberikan keberanian untuk keluar dari lingkaran setan riba. Jauhilah riba kalau tidak mau terkabar oleh apinya.
Wassalam.

Terapi Sujud

Add Comment
Ini tulisan sebenarnya sudah lama ngendon di hardisk laptop. Lama sekali. Entah angin apa yang membuat saya ingin memuatnya di sini.
Sudah lama rasanya aku tidak bercuap-cuap dengan mantan temanku yang di Rembang. Siapa lagi kalau bukan Ticha. Yang sekarang sudah menyandang status baru. Bumil, Ibu Hamil. Untuk tepat aku memang tidak tahu pasti, anggap saja sudah masuk bulan 7 atau 8. Karena menurut dukun bayi keluarganya, bayi tersebut akan lahir bulan Maret.
Kemarin aku sempatkan menyapanya lewat WA. Karena kalau lewat sms aku yakin tidak akan dibalas sampai kiamat pun.
Aku : Kabarmu gimana Cha?
Ticha: Alhamdulillah baik mas bro.
Aku: Gimana kabar si jabang bayi, anakku, eh anakmu, hahaha.
Ticha: Alhamdulillah sehat. Kemarin baru di USG kok, tapi ada satu masalah
Aku: Lho, masalah apa?
Ticha: Bayiku sungsang.
Jegleeeerrrr (ah lebay, bukan anakku juga kok).
Aku: Terus gimana solusi dari dukun bayimu? Eh dokternya?
Ticha: Disuruh terapi sujud.
Aku: Terapi sujud? Apa itu?
Aku kemudian memutar otakku tentang terapi sujud. Hasilnya tetap nihil. Buntu.
Ticha: Hahaha, disuruh njengking di pagi hari. Aku namakan terapi sujud, hahaha.
Aku: Oalah, yem yem, ngomong wae njengking. Sok-sokan terapi sujud mbarang. Jangkrik.
Ticha: Hahahaha
Aku pun kemudian berkhayal tentang dia-sedang-njengking-di pagi-hari. Iman dan imron lantas bergelut.
Duh Gusti, ampuni hamba.....

Ketika Lelaki Melihat Paha di Jalan

Add Comment
Setiap hari, bahkan setiap kali di jalan raya selalu kita disuguhi pemandangan yang menyehatkan mata. Apalagi kalau bukan, bertebarannya paha-paha mulus. Mulai dari yang beneran mulus alami, belang-belang karena bekas udun, sampai yang mulus karena memakai stocking. Semua tersaji secara gratis.
Itu mereka lakukan secara sengaja atau secara tidak sengaja? Atau jangan-jangan itu mereka lakukan dalam rangka survei sesuatu? Ahhh aku juga bingung dan tidak paham. Tetapi yang pasti mereka mempertontonkan salah satu bagian tubuhnya dengan bebasnya di jalan raya. Para mata lelaki hanya bisa melirik dan menelan ludah. Glek. Jakunnya naik turun. Ada juga yang mencuri-curi pandang untuk lebih memastikan.
Apa aku juga seperti mereka di atas? Astaghfirullah, tentu ya sama. Aku lelaki normal yang masih butuh pelukan wanita. Dan ketika disajikan sesuatu yang gratis ya siapa yang nolak. Emang ada kucing diberi gereh lantas menolaknya? Bedebah sekali kusing tersebut. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama kucing tersebut kehilangan identitas sebagai karnivora. Dan kedua, mungkin kucing tersbeut mengalami evolusi menjadi vegetarian.
Sebenarnya setiap kali melihat pupu berseliweran di jalan. Dalam hati ini bertarung antara dua kubu. Kubu pertama membisikkan,
“Tidak apa-apa! Lihat saja! Bukankah itu sama saja kita menghargai dan mengangumi ciptaan Allah SWT. Betapa sempurnanya Dia menciptakan paha begitu mulusnya!”
Bedebah sekali bisikan tersebut. Membawa-bawa hasil ciptakaan Allah segala. Tetapi ada sedikit benarnya juga sih.
Di sisi lain, kubu kedua membisikkan,
“Jangan dilihat! Itu sama saja kita melakukan zina mata. Bukankan segala zina itu dilarang dalam agama! Camkan itu anak muda! Camkan itu!”
Ini juga ada benarnya, melihat aurat lawan jenis yang bukan muhrimnya bukankah dimasukkan ke dalam perbuatan zina? Aahhhh, lantas apa yang harus aku lakukan. Masalahnya sekarang aku pas berhenti di belakang motor mbak-mbak yang paha berkibar-kibar minta dilihat itu. Detikan lampu merah juga, ngaudubillah masih lama.
Dilema.
“Tetapi bukannya ketika pandangan pertama itu sebuah rejeki?” kubu pertama tidak mau kalah membisiki kembali. “Makanya kalau sekali lihat jangan kedip sekalipun! Karena masih dalam kategori rejeki. Lha kalau sudah pandangan kedua, ketiga dan seterusnya baru masuk kategori dosa…..”
“Bajingan sekali bisikanmu, kamerad!” umpat kubu kedua tidak terima.
Wahai para wanita yang budiman! Janganlah membuat lelaki serba salah dengan memamerkan sebagian tubuhmu itu. Karena selain merusak fokus konsentrasi para lelaki di jalan. Juga akan membangunkan sesuatu yang terlelap tidur di sana. Apa kalian tidak memahami itu semua? Pernahkah kalian berpikir sampai situ? Betapa menyesakkan jika sesuatu itu bangun.
Dan ketika kita terbuai dengan bisikan kubu pertama tadi, dengan memperhatikan dengan saksama paha mulusnya. Per cm kita perhatikan. Kita telaah dan analisis. Dan jawabanmu sangat enteng sekali, “Punya mata dijaga Mas! Aku bukan cewek murahan seperti yang kamu kira! Pergi kamu dari hadapanku!”
Dan ketika kita meluruskan niat dengan menuruti bisikan kubu kedua. Kamu seolah tanpa berdosa menggerak-gerakkan kakimu yang putih tersebut. Semacam tanda ajakan. Sandi morse yang seandainya bisa berkata, “Lihat aku mas! Lihat aku mas! Lihat mas!”
Semakin naik turunlah jakun kami memahami itu semua.
Berdandanlah yang sopan rapi. Sehingga tidak memberikan perkara pelik untuk kau Adam. Kami memang selalu takluk di hadapan wanita. Tetapi bagaimana kita bisa mengungkung nafsu tersebut jika kalian selalu ngawe-ngawementolo minta dijiwit atau diciwel.
Kalaupun harus memakai rok 5 cm di atas lutut. Mbokyo pakai kain penutup atau jarik kalau mentok tidak punya. Karena toh kami juga segan jika kalian kaum Hawa memakai pakaian yang sopan. Ingat mbak, setiap kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukan kesempatan oleh si pelaku saja, melainkan kesempatan yang diberikan oleh korban tersebut.
Wahai pemilik pupuler (Pupu Dilér), sudah saatnya kalian sudahi permainan psikologis ini. Jangan kalian bombardir pertahanan kami dengan buaian paha mulusmu itu. Bertobatlah kalian semua Nak. Bukan dengan memamerkan belahan kaki kalian ke khalayak ramai agar dimengerti, dihargai, atau diakui. Malah kalian akan membangkitkan singa di dalam diri para lelaki. Camkan itu Suketi! Kembalikan kau ke alammu! Tempatmu bukan di sini!
Berpakaian sopan. Berpakaian santun. Itulah yang akan memberikan rasa segan dan hormat kami.
Salam Penikmat Pengamat Paha di Jalan

Mengejar Layangan

Add Comment

Dulu ketika masuk musim kemarau setiap sore pasti anak-anak bermain layangan. Petekan, kalau kami di desa menyebutnya. Berjejer petekan warna-warni menghiasi langit sore. Mulai dari anak kecil, remaja bahkan yang dewasa pun tidak mau kalah. Memamerkan petekan atau sowangan miliknya.

Sowangan adalah jenis layangan yang memiliki sayap dan buntut di bawahnya. Kebanyakan diterbangkan orang dewasa. Karena jarang sekali anak kecil yang mau susah payah membuatnya. Sowanganjarang sekali diperjual-belikan, kebanyakan dibuat sendiri. Maka tidak heran pelbagai jenis sowangan dan petekan dengan keunikan campuran warna kertas minyaknya.

Banyak sekali keasyikan yang bisa didapatkan ketika bermain layangan. Mereka akan pamer ketinggian layangan. Semakin tinggi layanganmu semakin jumawalah pemiliknya. “Deloken kae petekanku duwure jan ra karuan. Wenanmu ora enek apa-apane babar blas!”

Sebelum petekan bisa mengudara di atas langit sore. Harus melalui perlbagai ritual untuk bisa stabil terbang. Apalagi untuk awal mula memiliki atau menerbangkan layangan. Mencari keseimbangan di langit sangatlah sulit. Yang pertama adalah dalam hal goci-menggoci. Goci adalah landasan atau fondasi dasar dalam menerbangkan layangan. Menentukan jarak yang pas untuk membuat simpul. Jarang sekali orang bisa menggoci layangan ketika diterbangkan lantas angkuh di langit tidak serong kanan dan kiri terlebih dahulu. Jarang sekali. Jarang. Biasanya layangan yang begini disebut layangan gundul. Karena tidak akan ada embel-embel kertas di buntutnya atau kanan kirinya.

Ndilalah kami sewaktu kecil tidak sejenius dan sepandai dalam hal menggoci. Jadilah layangan kami ketika hendak take off tidak pernah mulus. Kalau tidak muter seser. Ya serong kanan atau kiri kemudian nubruk ke tanah. Solusinya harus diberi pemberat di bagian buntut dan anting-anting (untuk bagian kanan kiri). Maka jangan heran ketika ndangak ke langit banyak sekali layangan yang memiliki buntut panjangnya kadang naudzubillah melebihi tinggi pemiliknya. Lumrah.

Meskipun begitu tetap ada beberapa anak yang tidak memiliki layangan. Bisa karena tidak dikasih ijin orangtuanya bermain layangan atau kebanyakan tidak dibelikan layangan. Biasanya orang-orang ini kerap dijadikan sebagai pembantu lepas landas sebuah layangan.

Jadi si pemilik layangan mengolor bolah sepanjang mungkin. Sedangkan dilain ujung berdirilah orang yang tadi tidak punya layangan memegang layangan. Ketika menerima perintah dari pemilik layangan. Si dia akan menguncalkan layangan ke atas kemudian giliran si pemilik berlari agar layangannya naik ke langit. Begitu mudah? Tidak semua berjalan mudah. Apalagi kalau anginnya rasan-rasan berhembus. Kedua belah pihak ini akan saling menyalahkan.

“Asuu po kowe ki, iso ngumbulke tah ora? Ket mau kok ora mumbul-mumbul!” teriak si pemilik layangan yang sudah ngos-ngosan berlari.

“Pejoh opo we. Kowe kuwi sing mlayu ra banter. Masamu ora kesel tah piye nyekeli,” sahut si pengumbul.

Dan adu pisuhan pun terjadi. Padahal masalah utamanya adalah tidak adanya angin berhembus. Setelah layangan berhasil mengudara. Kedua insan tersebut akur kembali. Simpel.

Untuk sowangan, biasanya diberi alat khusus untuk mengeluarkan bunyi. Atau kami dulu menyebutnya gambreng. Terbuat dari sebilah bambu yang diberi pita jepang. Ketika diterpa angin akan mengeluarkan bunyi breng..brengg..brenggg. Tetapi ada juga yang mengganti pita jepang dengan serat karung beras dikarenakan harga pita jepang yang lumayan mahal kala itu. Toh, bunyinya juga sama. Mak brenggggg.

Selain itu juga, kebanyakan sowangan harus menggunakan benang sepatu. Melihat ukuran dan berat sowangan yang lebih besar dari petekan. Bahkan tidak jarang benang sepatu tersebut diolesi bbuk pecahan kaca. Sebagai alat perang ketika ada pertarungan antar sowangan. Khususon sowangan ada yang dipanjer sampai malam hari. Jadi ya terdengar suara mbengeng di langit setiap malam hari.

Apakah tidak takut hilang? Lagian mana ada maling yang mau mencuri sowangan. Kalaupun hilang kalau tidak putus ya jatuh ketika menjelang pagi.

Tetapi itu bukan puncak dari ritual bermain petekan maupun sowangan. Puncak dari bermain layangan adalah ketika ada sebuah petekan atau sowangan putus. Itulah hal yang paling dinantikan. Karena hal tersebut memaksa kita mengeluarkan jurus berlari paling cepat dan kelihaian menangkap.

Ketika terdengar ada suara “Petekan pedot!” atau “Sowangan pedot!”. Sontak membuat semua mata akan tertuju ke langit. Mencari objek yang dimaksud lantas ikut berlari mengejar. Lebih aneh lagi layangan belum tertangkap pun sudah pada perang mulut.

“Kae sowangan bagianku!”

“Kakeanem, durung keno wae wis guemede!”

“Gatel-gatel, do kokean cangkem tenan. Penting ki mlayu disik sopo sing pertama nyekel yo kuwi sing menang!”

Disinilah pertemanan dan persahabatan diuji. Tak ayal terkadang adu jotos bisa terjadi jikalau sowangannya bagus dan besar. Biasanya kalau si pemilik tetap ngotot meminta layangannya balik. Sowanganatau petekan  tersebut akan diblong–blong kertas minyaknya. Atau terkadang si penangkap lebih memilih benangnya daripada layangannya.

Mungkin dari sinilah asal muasal. Kenapa kita senang sekali kalau ada teman yang putus asmara. Putus cinta. Putus dengan pacarnya.

Entah berniat menangkap si wanitanya yang sudah putus atau ada motif lain kita tidak tahu.

Sayang seribu sayang, sekarang sudah tidak ada lagi keramaian anak-anak bermain layangan di sore hari. Sudah tergerus oleh kemajuan gadget. Mereka lebih memilih mentelengi layar hp daripada harus berlarian di sawah bermain layangan.

Duh Gusti, andai mengejar jodoh semudah mengejar layangan.

Wanita Itu Bernama….

Add Comment

Wanita tersebut perawakannya tinggi, dengan rambut panjang sampai pinggul. Selalu diikat dengan pengikat rambut. Model rambut kuncir kuda. Kulitnya sawo matang. Tetapi yang membuatku selalu teringat adalah hidungnya yang besar untuk seorang wanita. Tetapi itu semua terpadu dengan wajah ovalnya.

Aku belum mengenalnya ketika kelas 10. Dia masuk kelas X.4 sedangkan aku di kelas X.2. Sesekali bertemu ketika berjalan menuju perpustakaan atau ke kantin. Hanya sekali dua kali bertatapan langsung dengannya. Tidak lebih. Bukan maksud sombong atau pamer. Namaku mungkin sedikit terkenal di seluruh sekolah ketika ujian semester pertama mendapatkan nilai 100 untuk pelajaran kimia.

Ketika kelas 11, aku masuk ke kelas XI IPA 2 sedangkan dia di XI IPA 1. Aku masih belum begitu mengenalnya seperti satu tahun sebelumnya. Dia sibuk berkutat dengan organisasi OSIS dan Pramuka. Yang notabene tidak aku sukai. Dan lebih memilih organisasi Rohis.

Tetapi semua berubah ketika menginjak tahun ketiga SMA. Tiba-tiba, kami disatukan dalam satu kelas. Ya, Kelas XII IPA 3. Aku sekarang lebih banyak melihat wajahnya. Tahu kesehariannya di kelas. Tahu perilakunya di dalam kelas. Tetapi hanya sebatas itu. Lagi-lagi tidak lebih. Dan tidak kurang. Walau terkadang aku berkomunikasi langsung dengannya. Dalam batasan pelajaran belaka. Karena saat itu aku lebih mengangumi seseorang di kelas sebelah.

Pernah ketika sepulang sekolah, aku masih membaca buku di bangku paling belakang. Karena memang tempat dudukku paling belakang. Ujug-ujug dia masuk ke kelas kembali dengan wajah panik. Aku berhenti membaca tetapi masih dengan sikap tak acuh. Dia membongkar laci meja. Membongkar, melihat dan sekali mengecek tas kembali. Ada apakah gerangan? Masih belum berminat mengetahui lebih lanjut.

Dia memandangku. “Kamu lihat hpku di meja?” tanyanya masih dengan wajah panik. Aku menggeleng. Dia lagi-lagi mengecek laci meja dengan wajah pasrah.

“Ndak ketemu?” tanya Dewi yang ikut masuk ke kelas lagi. Dia menggeleng. Aku tahu dia hendak menangis mendapati hp-nya hilang di dalam kelas.

Itulah satu kejadian yang membuatku berduaan di dalam kelas. Meski dalam kondisi yang tidak menyenangkan karena dia kehilangan hp. Tetapi lagi-lagi, aku masih belum begitu dekat dengannya atau rasa mengangumiku belum mekar.
****

Tahun 2008 kami menjalani Ujian Nasional. Lagi-lagi aku sekelas dengannya. Hanya berjarak dua kursi darinya. Karena memang huruf depan nama kami sama inisialnya. Aku menjadi pusat bertanya karena memang aku sedikit lebih tahu tentang pelajaran. Tidak terkecuali dia bertanya kepadaku.

Waktu itu pelajaran kimia. Pelajaran favoritku. Waktu sudah setengah jalan. Kegelisahan sudah mulai tampak dari teman-teman sekelas. Aku pun juga mengakui soal kali ini memang sedikit menguras tenaga dalam pengerjaannya. Aku memandangi wajah teman lainnya satu per satu. Ketika pandangan jatuh kepadanya. Dia tersenyum kepadaku. Entah perasaan apa ini.

Setelah tersenyum dia berusaha memberikan kode meminta jawaban nomor tertentu. Lagi-lagi dengan senyum khasnya. Meski tidak ada lesung pipit di pipinya. Tak apalah.

Entah iba atau karena perasaan lain, aku memberikan kode jawaban yang dimintanya. Tentu dengan sandi jari. Satu jari untuk a, dua jari untuk b, tiga jari untuk jawaban c, empat jari untuk d dan lima jari untuk jawabane. Berangsur rasa cemasnya pudar setelah mendapatkan jawaban nomor yang dikiranya sulit. Penutupnya tentu, memberikan senyum termanisnya kepadaku. Aku memandangi teman yang lainnya.

Itulah senyuman yang aku peroleh darinya. Entah tulus dalam hati atau hanya kamuflase untuk mendapatkan jawaban. Aku juga tidak memikirkannya sampai di situ.
****

Tiba hari kelulusan. Alhamdulillah sekolah kami, SMA Negeri 1 Grobogan, lulus 100%. Tidak ada kesedihan, melainkan luapan kebahagiaan. Ada yang menangis bahagia. Ada yang bersujud bersyukur. Berpelukan kemudian berlonjakan karena senyawa kimia bahagia di dalam otak.

Dan acara coret-coret baju berlanjut. Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba beberapa kawan menghampirku memberikan spidol hitam. Menyodorkan bagian bajunya untuk ditandatangani. Tidak ketinggalan cat warna menambah keceriaan pagi itu. Semua tampak bahagia.

Aku juga lupa apakah dia meminta tanda tangan di bajunya. Aku tidak mengingatnya. Yang pasti pagi itu hari kebahagiaan untuk semua murid kelas XII Smansagan. Dan siap menyambut masa depan di depan. Entah jalan apa yang mereka bakal ambil dan tempuh. Tidak ada yang tahu. Sama halnya denganku yang tidak memikirkan apakah nanti melanjutkan kuliah atau tidak.

Terdengar percakapan dari beberapa teman yang saling memamerkan almamater mereka selanjutnya satu sama lain. Ada yang melanjutkan ke Semarang. Ada yang ke Solo. Ada sebagian yang ke Jogjakarta. Aku juga tahu dari obrolan tersebut kalau dia melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta.
****

Jalan hidup memang siapa yang tahu. Kita hanya bisa berencana dan berusaha. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dikarenakan masalah biaya dan keluarga. Aku tidak begitu merisaukannya. Apakah harus minder dengan mereka yang kuliah? Ada juga rasa itu tersemat sedikit di hati.

Tahun itu sedang booming dengan sosial media, mig33. Tak terkecuali aku, bermodalkan nokia 6030 pembelian kakak. Melalui mig33-lah kedekatanku dengannya mulai intens. Meski hanya sekadar lewat percakapan dunia maya.

Vi0_tatsuya: Hai…

De_vi0: Hai juga, gimana kabarmu?

Vi0_tatsuya: Alhamdulillah baik, gimana kabarmu? Kuliah lancar?

De_vi0: Alhmdulillah juga baik. Lancar kok.

Dan percakapan terjadi dengan sendirinya. Memang tidak pernah sekalipun kita membahas tentang masalah pacar atau perasaan. Membuatku seolah dekat dengannya. Aku juga masih belum mengerti tentang perasaan yang kurasakan saat ini. Sama persis ketika melihat senyumnya ketika ujian nasional. Ini murni perasaan sahabatkah? Camku dalam hati.
****

Saat itu dia masih disibukkan dengan agenda padat perkuliahan. Sedangkan aku masih berkutat di rumah membantu orang tua di sawah. Tiba-tiba kedekatanku dengannya mulai terdengar ke beberapa teman SMA dulu. Mulailah mereka menggoda kami berdua.

Bagiku itu hanya godaan gurauan mereka berdua. Tetapi entah mengapa semakin hari perasaan ini mulai tumbuh. Meski aku juga belum paham arti semua ini. Biarlah aku pendam sendiri. Perasaan seorang sahabat, aku tekankan sekali lagi.

Tiba-tiba dia menghubungiku meminta bantuan,

“Aku boleh meminta bantuan gak?” suaranya dari seberang

“Bantuan apa?”

“Kalau kamu tidak sibuk. Aku mau minta diajari pelajaran matematika, fisika dan kimia SMA. Itupun kalau kamu tidak sibuk!” lanjutnya sedikit ragu.

“InsyaAllah bisa. Mau diajari kapan?”

“Minggu depan ya. Datang ke rumahku. Terima kasih!”

Tuts. Percakapan selesai.

Benar saja. Minggunya dia memberikan kabar kalau sudah di rumah. Akupun menyiapkan beberapa buku sebagai bahan untuk mengajarinya kelak. Memang untuk apa dia belajar pelajaran IPA lagi? Bukankah dia mengambil jurusan ekonomi? Tanyaku sendiri.

Malam harinya kami berdua berkutat di ruang tamu rumahnya. Rumahnya besar. Karena orangtuanya yang seorang pegawai negeri salah satu instansi pemerintah. Hingga kami pun lupa akan waktu belajar. Jam dindingnya menunjukkan pukul 10 malam. Astaghfirullah, ucapku dalam hati. Aku pun takut dicap oleh keluarganya karena bertamu kelewat malam. Akhirnya sesi belajarnya aku sudahi mengingat sudah malam. Itu yang pertama.

Yang kedua adalah ketika kita reuni kecil-kecilan dan memutuskan untuk ke Pantai Bandengan Jepara. Tidak tahu ide siapa, dia berboncengan denganku. Ini pasti persekongkolan teman-teman lainnya. Dia masih seperti pertama kali aku jumpai kelas 10. Perawakannya masih tinggi, kulitnya sawo matang, hidungnya masih sama dirangkai dengan wajah ovalnya.

Dan sialnya, kami pulang agak malam. Dikarenakan tadi ada yang memaksa ke Pulau Panjang segala. Dia sudah ditelpon ibunya sebelum Magriban. Memintanya untuk segera pulang. Aku yang bertugas mengantarnya pulang juga sedikit ciut ketika harus mengahadap ibunya sebagai permintaan maaf karena mengantarkan anaknya pulang telat. Sungguh aku tidak ada nyali itu itu! Maafkan aku! Dan sekarangpun aku masih menyesali perbuatan tersebut.

Mungkin itu yang sedikit membuat penilaian orangtuanya kepadaku negatif. Lelaki yang tidak gentlemen mengantarkan anak perawannya pulang. Aku memang pengecut kala itu! Karena boleh dikatakan pertama kali dan sebab lainnya.
****

Kita melupakan kejadian tersebut. Meskipun terkadang aku masih mengutuk diriku sendiri.
Aku pun tidak tahu keberanian darimana yang tiba-tiba menyembul di dalam hati. Membuatku ingin mengutarakan sesuatu yang selama ini aku rasakan. Singkat memang! Terkadang rasa suka datang tidak perlu alasan untuk menjawabnya.

Saat itu dia sudah masuk semester 2 di dunia kampus, sedangkan aku masih berkutat di rumah.

“Kamu ada di rumah tidak?” tanyaku sedikit ragu.

“Di rumah. Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Cuma mau main saja!” jawabku singkat.

Untuk melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sungguh perjuangan ektra berat. Masih ingat aku kejadian pulang malam. Karena mendengar dia dimarahi ibumu habis-habisan. Dan dia sampai menangis. Aku sudah melakukan sesuatu yang membuatnya menangis. Aku hanya tertunduk di hadapannya.

Oh ya lupa, ketika sudah memasuki perkuliahan, dia sudha mengenakan jilbab. Sore itu, dia mengenakan jilbab hitam. Mengenakan blazer warna senada. Seolah mengetahui apa yang akan aku utarakan. Meski aku tahu dengan memaksakan senyuman. Sungguh berbeda dengan senyumannya ketika di dalam kelas ujian dahulu. Jujur, untuk mengutarakan sebuah perasaan kagum bukan tipeku. Apalagi langsung di hadapannya. Dalam hati pun aku berjudi apakah ini benar atau salah?

Kami berdua terdiam lama. Mulutku kelu dan kaku untuk bicara. Hingga akhirnya tercairkan ketika dia berkata, ada yang mau kamu katakan?

Semua susunan kalimat yang aku siapkan seketika buyar dan tercerai berai. Aku pun sulit harus memulainya dari mana. Ternyata situasi ini lebih sulit. Lebih mudah mengerjakan soal kimia sesulit apapun itu. Karena seolah saat ini aku diadili langsung.

“Maaaaffff….,” aku sedikit gugup dan terbata-bata. “Maaf sebelumnya kalau aku lancang mengucapkan ini ke kamu. Aku suka sam kamu! Aku pun juga tidak tahu alasannya apa.”

Seketika dia menangis. Aku semakin serba salah dan kikuk. Apa yang sudah aku lakukan ternyata salah besar hingga membuatnya menangis! Tidak ada yang bisa aku lakukan. Hanya diam melihatnya menangis. Hanya remasan jemari yang makin kencang.

“Maaf, sebenarnya aku juga suka. Tapi maaf kita tidak bisa karena….” dia masih tergugu dalam tangisnya. Ingin rasanya aku mengusap air mata itu. Tetapi aku masih pengecut.

Seketika itu pendengaranku terasa hilang. Aku tenggalam dalam dunia yang hampa. Sudah tidak bisa mendengarkan apa yang dia katakan lagi. Kesadaranku kembali. Bukan jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ yang sebenarnya ingin kudapatkan. Hanya sebatas agar dia tahu apa yang kurasakan selama ini.

Aku masih menunduk takzim. Di seberang meja, dia masih sesenggukan menangis. Mengutarakan alasan kenapa dia harus mengucapkan ‘tidak’. Tetapi aku tidak menghiraukannya.

Kami kembali diam. Sesekali sesenggukan tangisnya memecah kediaman.

“Terima kasih sudah mau mendengarkanku tadi. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi. Terima kasih ya! Aku pulang dulu!”

Aku beranjak berdiri dengan hati yang seolah diserang ribuan pisau yang tidak tahu darimana datangnya. Aku tersenyum dan berjabat tangan dengannya. Dia lirih berujar, maaf!

Itulah terakhir kali aku berkunjung ke rumahnya.
****

6 tahun sudah berlalu. Setelah kejadian tersebut, kami masih sering berkomunikasi.

Entah sampai sekarang perasaan tersebut masih ada atau tidak di antara hati kami berdua. Aku masih kikuk kala berjumpa dengan jikalau teringat kejadian 6 tahun silam. Dan hanya terkekeh merutuki di dalam hati.

Dia masih terlihat sama. Wanita dengan perawakan tinggi. Dengan rambut panjang yang sudah tertutup jilbab. Kulit sawo matangnya dan tentu dengan hidungnya yang besar dipadu dengan wajah yang oval

Kriteria Seorang Pacar

Add Comment
Aku dan Lukman itu ibarat bumi dan bulan, ketika menyentuh tentang bab percintaan. Lukman ibarat bumi dengan segala pesonanya. Walau dari luar angkasa pun tetap terlihat biru dan hijau. Enak dipandang. Sedangkan aku ibarat bulan, kalau mau lebih tragis lagi ya satelitnya bulan (eh bulan itu satelit tidak punya satelit oon).
Kalian selalu memandang bulan kan ketika malam hari? Anggap saja iya. Terlihat tandus, hampa, sepi, sunyi, senyap tiada berpenghuni. Tidak elok di mata ini, meskipun dia berusaha memberikan sinar di malam hari tetap saja kalah dengan bumi. Itulah perumpamaan untuk diriku yang hina dina ini.
Meskipun memiliki kisah yang berbeda. Tetapi ada satu kesamaan di antara kami. Entah dia sadar atau tidak. Tidak tahu mengapa selera tipe pacar Lukman itu kurang lebih sebelas tigabelas denganku. Padahal aku sekalipun tidak pernah memberitahukan kreiteria cewek idamanku. Bahas pun tidak pernah. Tetapi ujug-ujug mak bedunduk, dia punya pacar yang tipenya sama denganku. Ini cuma masalah tipe seorang cewek bukan berarti aku menyukai pacarnya. Bukan kok! Kamu aman, Ni!
Dia yang meniru, atau aku yang meniru, atau jangan-jangan ada benang merah yang menghubungkan hati kami berdua. Cieeeee
Dulu, aku pernah berfantasi memiliki cewek yang tomboi. Enak kali ya punya cewek tomboi. Diajak kemana-mana mau. Diajak menonton dan membahas sepakbola nyambung. Tidak lama menunggu ketika dandan, dan sebagainya. Sumpah aku pernah berkeinginan memiliki seorang pacar tomboi. Tetapi lagi-lagi itu hanya sebatas ingin dan tidak ada aksi berkelanjutan.
Lhadalahiso-isone Lukman duwe pacar rodok tomboi. Ini selera kami yang sama atau bagaimana? Aku yang berkeinginan, berfantasi dan berandai-andai. Dia yang mewujudkannya. Kan jiangkrik to!
Selang beberapa bulan, seleraku aku ubah. Biar tampil bedalah. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba terbesit dalam pikiranku yang masih polos ini untuk memiliki pacar seorang perawat. Kita bisa ‘diajari’ banyak hal. Sifatnya yang keibuaan. Merawat ketika kita sakit. Seorang perawat yang identik dengan pakaian putih (bukan kafan lho ya!), oohhhh pengen rasanya jalan berdua dengannya. Aku yakin pasti berbeda dengan Lukman. Yakin 100% deh.
Tetapi realita memang kejam guys. Lha kok ujug-ujug roh-roh ono, Lukman putus dengan si tomboi. Dan sekarang punya pacar baru? Pacar barunya seorang perawat. Lha iyo asem tenan! Lagi-lagi aku yang berkeinginan, yang berkepentingan, yang pokoke paling pengen. Eeh, eeh, eeh, lagi-lagi Lukman yang mendapatkannya.
Suatu kebetulan? Semoga saja begitu adanya. Lha mosok seleraku podo karo wonge. Kalau bisa sih jangan, tapi kalo kenyataannya begitu mau gimana lagi. Setelah kejadian tersebut sejak saat itu aku sudah ogah berfantasi pingin cewek inilah, itulah dan begitu. Aku musnahkan. Lha daripada untuk ketiga kalinya sama dengan Lukman.
Sebenarnya keresahan ini tidak pernah aku bicarakan kepadanya secar intim, eh pribadi. Tetapi kadang ya lucu dan geli jika harus mengingatnya. Pernah aku iseng menanyakan trik jitu kepadanya dalam mendapatkan pacar-pacarnya dulu.
“Ora ono trik opo-opo Bos! Mungkin aku sing lagi beruntung. Kowe pengen po? hahaha” jawabnya sambil tertawa.
“Yo ora sih. Mung karep tok! Hahaha”
“Mulo kowe kie rasah aneh-aneh pengen pacar koyok ngene koyok ngunu. Wis ora jaman saiki. Sing penting iku mung siji….”
“Opo kui, Ni?”
“Wonge seneng orak mbi kowe, hahaha”
Ohhh telo, batinku.