Soni Pengen Rabi

Add Comment
Tak seperti biasanya wajah jomblo satu ini sedikit bermuram durja. Tak selaras dengan perut buncitnya yang makin menjadi-jadi. Masalah macam apa lagi yang sedang mendera makhluk satu ini, ya Gusti, batinku sebagai sohib yang berusaha pengerten.
"Parah, Lek!" Ujarnya masih dengan wajah yang sungguh memprihatinkan.
Aku dan Lukman masih berdiri mematung dan tak kuasa untuk tidak mendekat.
"Macam mau kiamat saja perkara asmaramu," celetukku.
Soni akhirnya mau mencerita perihal yang masalah yang membelitnya belakangan ini. Sudah bisa aku tebak. Orang satu ini selalu rapuh jika berhadapan dengan yang namanya percintaan. Duh Lek, biyen mbokmu nyidam opo pas meteng kowe!
"Jadi kemarin itu saya belanja di salah satu supermarket. Tiba-tiba ada seorang wanita muda menepuk pundak saya. Sontak saya kaget dan heran. Kenal saja belum sudah main tepuk segala,"
Kami berdua setia mendengarkan. Berusaha menangkap pokok permasalahan pelik buat makhluk rentan ini.
"Akhirnya dia bilang kalau dulu pernah satu kelas di SMP. Jujur kalau disuruh mengingat saya tidak bisa mengingatnya ketika masih di SMP. Lha wong ingat mantan saja saya sering-sering lupa, hehehe.."
Lagak-lagaknya hendak diselingi ndagel yang tidak lucu. "Yo ncen, kowe ki opo pernah duwe mantan!" Skak Lukman.
Modyar kowe, batinku.
"Setelah ngobrol yang tidak jelas. Saya memutuskan untuk pulang. Ketika pulang dia meminta nomor telepon. Sebenarnya mamang mau saya kasih atau tidak. Akhirnya ya saya kasih. Lha wong lumayan cantik je."
"Oh raimu. Lha terus masalahe ki opo? Ketemu wadon ayu konco SMP wae iso gawe galau ora ketulungan ngunu," sahutku tak sabar.
"Kowe ki kok yo ra sabaran ki lho. Tinggal mendengar saja kok ya repot. Lha masalah iki, selang beberapa hari. Dia telepon."
Aku dan Lukman saling berpandangan heran. Drama apalagi ini, Duh Gusti.
"Lha kalo telepon biasa sih sih tidak apa-apa. Malah kebablasan curhat masalah pribadine tetek bengek ra karuan. Aku sebagai laki-laki yang baik hati ya gur mendengarkan."
"Yo apik nu!" Sahutku.
"Apik lambemu kuwi. Ujung-ujunge opo jal. Dia berterus terang kalau semenjak SMP sudah menaruh hati dan rasa kepadaku. Lha aku lakyo bingung. Sak umur-umur lagi pisan ini ditembak cewek."
"Sik-sik, kowe duwe fotone tah ora?" Tanya Lukman ikut-ikutan mulai beraksi.
"Ho'oh, ndi fotone jal,"
Soni memperlihatkan sebuah foto seorang wanita yang, heeemmm, lumayan cantilah. Pantes semisal dijak kondangan mantenan.
"Genah yo ayu ngono. Gelemi wae. Itung-itung kowe nyenengno wong tuomu. Rak mesake kowe. Pengen lek ndang delok anake rabi," lanjutku.
"Masalahe kuwi statuse Lek!"
"Lho emang statuse kenopo?" Tambah Lukman
"Wonge ki janda mahmud abas."
"Kowe ki nak gawe ukoro ki mbokyo sing gampang dingerteni ngunu lho. Mahmud abas ki opo maneh?"
"Mulak'o dadi wong ki gaul. Mahmud abas ki, mamah muda anak baru satu."
Kami berdua diam klalep. Sejenak tak tahu apa yang harus kami ucapkan.
"Kowe ki ncen badjingan og. Gusti Allah ki pancen adil, kowe pengen rabi. Diwenehi sisan bonus!"
"Bonus raimu kuwi!" Jawabnya sedikit sengak.
"Deloken Lukman kuwi, tinggal menghitung bulan bakalan jadi ayah. Lha kowe ki wis titi wancine rabi tur gendong anak. Lha kari gendong anak, ora usah repot-repot gawe kok yo sih maido."
Aku dan Lukman tertawa. Wajahnya Soni makin tak karuan. Agaknya salah langkah karena curhat ke tempat yang salah.
"Lha kok omonganmu gedebus ngunu. Kowe wae yo durung rabi. Sok-sokan ngandani. Teloo tenan kowe!"
"Modyar kowe bos, kapokmu kapan!" Sahut Lukman ikut-ikutan menyerang.
Taek kabeh.
"Kowe podo lali yo. Deloken maneh kae film-film pendekar. Lakon kuwi menange keri. Lakon kuwi bahagiane keri. Tititk!"

Putri Tuan Besar dan Senyumnya

Add Comment

Hari ini untuk yang kesekian kalinya aku mengunjungi rumahnya. Rumah megah berlantai tiga dengan warna coklat pada tiap sisinya. Oh..dan juga beberapa tanaman rindang di depan rumahnya.
Apa aku terlihat sangat hafal dengan rumahnya? Tentu saja. Hampir tiap hari aku datang ke sana. Ehm..lebih tepatnya tiap hari Rabu dan Sabtu aku datang ke sana.
Apa kalian bertanya siapa aku? Aku bukanlah siapa-siapa, karena bukan aku yang memegang peranan di sini. Kuperjelas lagi, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang buruh cuci dari perkampungan sebelah yang beruntung dapat bekerja di rumahnya.
Dia?
Kalian bertanya siapa Dia? Sejujurnya aku pun tak tahu siapa Dia. Bahkan namanya pun aku tak tahu. Aku cukup sadar diri untuk tak mencoba berkenalan dengannya.
Aku kira semua orang berpunya seperti Dia pasti punya standar sendiri untuk ukuran pantas menjadi temannya. Yang aku tahu Dia adalah putri Tuan Besar di rumah ini. Dan sepertinya Tuan Besar memang hanya mempunyai satu orang putri.
Nyonya Besar? Entahlah..aku tak tahu..
Baiklah. Sepertinya aku terlalu banyak bicara semenjak masuk gerbang rumahnya. Kulangkahkan kakiku menuju pintu rumahnya. Perlahan aku memanggil Tuan Besar.
Bukannya aku tak mau menggunakan bel rumah. Hanya saja..aku tak tahu cara menggunakannya.
Oh ayolah.. di kampungku tak ada orang yang memasang bel semacam itu. Hanya dengan berteriak di depan pintu saja sudah cukup.
Pintu rumahnya terbuka. Tuan Besar sudah menyambutku disana.
“Masuklah, pekerjaan sudah menunggumu”, senyum ramah selalu menghiasi wajahnya.
“Baik Tuan”,
Berbeda dengan Tuan Besar yang ramah. Putrinya tak seramah beliau.Entah kenapa aku tak pernah melihatnya tersenyum. Apa mungkin Dia tak menyukaiku? Tapi seharusnya Dia tak menunjukkan wajah murung itu padaku. Jujur, aku kasihan melihatnya.
Sepertinya usia Putri Tuan Besar dan aku tak terpaut jauh. Bukankah harusnya kami bisa berteman? Oh maaf..aku lupa..standar temannya pasti bukanlah seorang gadis buruh cuci seperti aku.
Pekerjaanku selesai sore ini. Setelah kubereskan semua, aku bergegas menemui Tuan Besar.
Sekali lagi aku melihat sekilas wajah Putri Tuan Besar. Masih seperti sediakala. Murung dan tanpa senyum. Apa ada yang salah dengan hidupnya? Dengan begitu banyak kecukupan yang Dia punya. Dia tak harus bekerja keras setiap harinya agar bisa membeli apa yang Dia inginkan.
Setidaknya Dia harus bahagia untuk Tuan Besar.
***
Hari berikutnya setelah pekerjaanku selesai, aku berhenti sedikit lebih lama di dekat kamarnya yang selalu terbuka. Kulihat Tuan Besar ada disana. Sedang berbicara sesuatu hal dengan sang Putri.
Apa yang mereka bicarakan? Aku sungguh ingin tahu. Tapi apa hakku?
Aku mulai berlalu. Lebih baik berpamitan dengan penjaga gerbang saja. Sepertinya Tuan Besar sedang sibuk dengan sang Putri.
Sayup sayup aku mendengar isak tangis dari dalam kamar sang putri. Kenapa Dia menangis?
Kuarahkan langkah kakiku kembali ke depan kamarnya. Tuan Besar marah! Entah karena apa aku tak mengerti. Dia hanya menangis dan terus menangis. Tapi air matanya tak keluar sedikitpun
Sebenarnya apa yang ia tangisi?
Semua perkataan Tuan Besar tak diacuhkan olehnya. Akhirnya kuputuskan untuk pergi saja.
Tapi, tiba-tiba Dia menoleh padaku dan tersenyum. Senyum yang sangat indah.
Sesaat aku terpana.. Apa aku bermimpi? Putri Tuan Besar yang sedang menangis itu tersenyum padaku?
Kubawa rasa penasaranku sampai penjaga gerbang membukakan gerbangnya untukku. “Hei..kenapa kau tersenyum sepanjang jalan, Nak?” Aku diam. “Apa kau mulai seperti sang Putri?”
Apa maksudnya? Aku menoleh padanya.
“Apa kau melihat sang Putri bicara sampai kau tersenyum sepanjang jalan seperti itu?” Penjaga gerbang menatapku sinis. “Apa masalahnya kalau Dia bicara?” Aku heran pada penjaga gerbang ini.
“Mustahil!”, Hanya itu yang dikatakannya. Dan senyumku pudar seketika.

Tivi di Rumah Pak Joyo

Add Comment


Kemarin aku menumpang nonton televisi di rumah Pak Joyo. Kalian tahu Pak Joyo kan?
Itu lho..juragan beras yang paling kaya di kampungku.

Hari ini pekerjaanku tak begitu banyak. Jadi sepulang merumput di sawah aku bisa langsung menonton televisi.

Kesempatan seperti ini memang sangat jarang terjadi padaku.

Biasanya aku selalu bekerja serabutan mulai dari adzan subuh berkumandang sampai adzan maghrib menjelang.
Melelahkan memang, tapi aku tak punya pilihan lain.
Pengennya ya bersekolah. Tapi uangnya yang tak ada.
Emak bapakku sudah terlalu tua untuk memikirkan kelanjutan sekolahku. Eh, maksudku bukan kelanjutan tp nasib sekolahku.
Bagaimana aku bisa mengatakan kelanjutan kalau aku saja tak pernah bersekolah.
Kalau aku tak pernah bersekolah, lalu apa yang mau aku lanjutkan?

Jangan khawatirkan aku, aku sudah biasa dengan kehidupan dengan pekerjaan serabutan seperti ini. Dan kedengarannya tidak semengerikan seperti apa yang kalian kira.

Aku pun tak merasa sengsara sama sekali.
Kenapa aku bilang begini?
Tentu saja karena aku sudah biasa.

Bicara tentang kebiasaanku sehari-hari, pernah suatu siang aku menumpang nonton televisi di rumah Pak Joyo.

Disana ada tayangan yang sepertinya membahas tentang kehidupan ‘sengsara’ seorang anak kecil berusia 10 tahun yang bekerja serabutan seperti aku.
Aku heran, bagaimana bisa tayangan di tivi tampak terlalu mendramatisir suasana seperti itu?
Usiaku sama dengan anak itu, dan aku juga bekerja serabutan sepertinya.
Tapi aku tak pernah merasa se-sengsara itu.
Percayalah, kehidupan anak itu jauh lebih baik daripada aku.

Dia masih punya orang tua yang mampu menjadi buruh tani tiap harinya.

Sedangkan orang tua ku? Untuk berjalan saja sudah kesulitan.
Dan aku bersyukur karena dengan begitu mereka tak akan pergi kemana-mana dan meninggalkan aku sendirian.
Hidup sendirian terdengar mengerikan menurutku.

Dia punya seragam untuk pergi bersekolah tiap harinya.

Sedangkan aku? Jangankan seragam, bersekolahpun tidak.
Tapi aku bersyukur karena aku bisa punya tambahan sedikit uang karena aku bisa bekerja lebih lama tanpa harus pusing tiap malam memikirkan PR menumpuk dari sekolah.

Dia punya pakaian yang lumayan bagus ketika dia masuk tivi.

Sedangkan aku? Aku hanya punya dua kaos lusuh warna biru dan kuning serta satu celana pendek yang sudah tak jelas warnanya.
Dilihat dari penampilanku saja sudah tak layak masuk tivi.

Dari sini kalian dapat menebak betapa akan terlihat sengsara diriku jika masuk tivi di acara yang sama seperti anak itu.
Tapi..ngomong-ngomong, apa ada tivi yang mau menawariku untuk mengisi acaranya?

Sepertinya tak ada.
Dan kebetulan sekali aku tak mau masuk tivi.
Tapi tak apalah, apa enaknya masuk tivi? Jadi tontonan banyak orang dan kebanyakan dari mereka akan mengasihaniku.
Dan aku tak suka dikasihani.

Aku juga melihat dapur anak itu dari tivi. Lumayan bagus menurutku.

Setidaknya dia punya peralatan lengkap.
Punya meja, punya piring, punya mangkuk, punya sendok, punya garpu. Dan peralatan dapur lainnya.
Sedangkan aku?
Di rumahku yang luar biasa kecil ini, hanya ada satu meja rapuh dan kursi reot.
Tanpa peralatan makan yang lengkap.
Apa kalian bilang?
Miris?
Jangan berlebihan, aku makan menggunakan tangan dan beralaskan daun pisang.
Rasanya sudah enak menurutku. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot membeli sabun cuci piring setiap miggunya.
Harga sabun cuci piring memang tidak mahal, tapi akan lebih menguntungkan kalau aku gunakan uang itu untuk mencicil hutang beras di toko Pak Joyo.
Bukankah itu penghematan yang lumayan?
Pak Joyo memang sangat baik hati.
Aku sangat bersyukur bisa berhutang beras dari juragan baik hati seperti dia.
Hutangku memang tak banyak. Hanya sedikit beras yang aku beli dari Pak Joyo.
Karena beruntungnya lagi emak bapakku memang porsi makannya tak banyak.
Tiap aku datang ke toko Pak Joyo, aku hanya mampu membayar setengah harga beras.
Jika besok penghasilanku bertambah. Akan aku bayar lunas hutang hari ini.
Begitu seterusnya.

Ah, sudahlah..

Aku sampai lupa menceritakan acara tivi yang aku tonton siang ini.

Kalian tau?

Acara hari ini jauh lebih tidak menyenangkan daripada cerita tentang anak kecil tempo hari.

Di tivi terlihat sekelompok orang kaya yang makan siang di sebuah restoran mewah.

Dengan dekorasi yang indah dan sepertinya menu makannya pun sangat enak.

Tapi..setelah pesanan mereka datang..

Makanan itu ditumpahkan di atas meja. Tanpa piring. Tanpa sendok ataupun lainnya.
Mereka makan tanpa piring?
Semua makanan ditumpahkan di atas meja dan semua orang kaya itu makan dengan lahapnya.
Mereka bilang kalau makan tanpa peralatan makan seperti biasanya mempunyai sensasi yang sangat berbeda dan mereka sangat menyukainya.

Apa kebanyakan orang kaya selalu seperti itu?

Ada apa dengan hidup ini sebenarnya?

Hal-hal Wagu Ketika Bertemu Maling

Add Comment

Maling adalah seseorang yang mengambil barang orang lain yang notabene bukan miliknya tanpa ijin terlebih dahulu. Karena kalau ijin itu berarti minjem bukan maling. Bisa beraksi kapanpun dan dimanapun. Pagi hari, siang hari, sore hari, malam hati atau tengah malam sekalipun.

Yang  paling melegenda adalah ketika si Maling tidak mau mengakui ibunya. Mentang-mentang sudah menikahi putri saudagar kaya raya. Hal tersebut membuat si Maling dikutuk ibunya menjadi batu. Itulah cerita si Maling yang melegenda hingga saat ini (itu Malin woy, Malin Kundang, bukan Maling Kutang)

Kembali kita ke pembahasan maling.

Semisal kita bertemu maling, kebetulan kok si maling bersilahturahmi ke rumah atau kos kita (ngaudubillah jabang bayi amit-amit). Ada beberapa sikap yang menurut saya wagu ketika kita memergoki maling sedang timik-timik masuk ke rumah atau kos. Berikut ini beberapa hal wagu atau bodoh ketika bertemu maling:

1. Tanya Siapa Dia
Ketika bertemu dengan maling. Akan ada kecanggungan di antara keduanya. Saling kikuk menatap mata. Ambil contoh si Soni hendak buang hajat di kamar mandi. Ndilalah, mendengar suara kresek-kresek di belakang. dan Soni melihat ada orang asing.

Soni       : “Woy siapa kamu!”
Maling : ”Aku? Kamu tanya aku? Tega kamu Bang! Tega! Masak kamu segitu cepatnya melupakan aku!”
Soni       : (melongo! Dan tiba-tiba sudah cepirit di celana)

Itulah kali pertama kita ucapkan ketika melihat maling. Yang namanya maling dari nenek moyang buyut sampai sekarang kalau ditanya siapa dirinya tidak bakalan ada yang mau menjawab. Daripada harus basa-basi bertanya yang gak penting. Langsung saja ringkus tanpa banyak cingcong. Tapi kita harus yakin bahwa dia maling. Untuk memastikan dia maling atau tidak ya, tanya terlebih dahulu #eeehhhh.

2. Ngapain Kamu Di Sini
Kalau tadi Soni, sekarang Lukman yang mengalaminya. Ceritanya hampir sama seperti di atas, tapi kali ini Lukman kebelet pipis. Tiba-tiba dikejutkan oleh maling yang sedang memilah-milah sepatu olahraganya. Refleks Lukman langsung tanpa babibu.

Lukman : “Eh kamu lagi ngapain?” (sambil matanya mendelik dan sedikit membentak)
Maling : “Kamu masih tanya aku ngapain? Cukup Mas! Aku lelah! Kamu selalu tidak peka dan pengertian atas apa yang aku lakukan!”
Lukman : “Oke fine! Oke!” (sambil nahan anunya yang sudah sampai pucuk)

Selain kata pertama tadi. Ini yang biasa dikatakan ketika bertemu dengan seseorang yang mencuri, bertanya sedang apa yang dia lakukan. What? Kalau memang kita yakin dia hendak memalingkan barang. Ya harus segera diringkuslah. Ngapain capek-capek tanya sedang ngapain? Ya kalau maling ya tentu dia sedang mencuci, ehh mencurilah.

3. Teriak Maling, Maling, Maling
Ketika si maling sudah ketangkap basah atau kering juga boleh. Biasanya kita reflek berteriak maling, maling dan maling. Agar warga lainnya mendengar dan ikut membantu meringkus. Tetapi itu sepertinya yang tidak disukai si maling. Berikut ini ada percakapan singkat antara Soni yang sedang mengejar maling.

Soni : “Maling! Maling! Maling….!” (sambil berlari mengangkat sarungnya)
Maling : (yang tadinya berlari tiba-tiba berhenti) “Bisa gak sih diem! Aku tuh bisa denger! Gak usah pakai teriak-teriak segala! Apa kamu tidak kasihan apa sama warga yang sedang terlelap tidur? Menganggu mimpi indah mereka. Pernah gak sih mikir sampai di situ? Tidak pernah kan? Laki-laki semua sama saja! Kalau kamu masih mengejar-ngejarku seperti itu. Lebih baik kita kakak adikan saja!”
Soni : “Wooeeekkk!” (tiba-tiba langsung muntah)

Teriak-teriak memang boleh. Apalagi kalau ada maling yang berusaha kabur dari kejaran. Tetapi mbokyo pake irama atau nada ketika teriak maling, maling, malingnya. Biar tidak menganggu warga yang sedang tidur. Itu pesan si maling. Teriak boleh asal merdu dan mendayu-dayu. Kalau bisa ada cengkoknya sekalian.

“Maaaaalllliinnnggg…..! maaallliiingggg….!” (suara Iyeth Bustami lagu Laila Canggung)

4. Selalu Berteriak Berhenti Kamu!
Ketika kita sudah ngos-ngosan mengejar itu maling. Dan jarak kita masih jauh bagai bumi dan langit (aahh apain ini). Dan jurus terakhir yang selalu kita keluarkan adalah berteriak, ‘woy berhenti kamu!’. Kita ambil contoh Lukman yang katanya Guru Penjas tetapi masih saja kalah lari dengan maling. Guru yang tidak bisa diambil contoh baik sama sekali, lari saja kalah.

Lukman : “Woy berhenti kamu! Woy berhenti!”
Maling : “Memang kamu siapa? Nyuruh-nyuruh aku berhenti? Pacar juga bukan! Laki-laki memang egois. Selalu memaksakan kehendak seenak udelnya. Hayati lelah, Bang! Lelah selalu begini! Ngejar aku saja payah begitu. Gimana mau ngejar rumah tangga kita kelak!”
Lukman : (lagi-lagi melongo) “Hueeekkkk!” (tiba-tiba muntaber)

Setinggi apapun pangkat kamu, tidak bisa menyuruh maling berhenti berlari. Daripada bengok-bengok tak karuan. Fokus saja sama kecepatanmu untuk bisa menyamainya. Syukur-syukur bisa menyalipnya untuk sampai di garis finish duluan.

Itulah keempat hal-hal wagu yang sering kita jumpai atau bahkan kita lakukan jika harus bersua dengan maling. Dan sudah saatnya kewaguan tersebut kita ganti.

Sebenarnya masih ada satu maling yang lebih berbahaya daripada contoh maling-maling seperti di atas. Yaitu maling cinta, maling hati kita. Kita memang tidak kehilangan berupa barang di dunia nyata. Dan sialnya ketika kita sudah mengetahui identitas si maling. Kita tidak bisa menangkapnya. Menyeretnya ke kantor polsek terdekat. Siapa lagi kalau bukan cewek.


Kita sudahi tulisan yang tidak ada faedahnya ini. Mohon maaf lahir batin!

Catatan Kecil Anak Petani

Add Comment
Kau bertanya, ‘Itu apa?’ Sembari menunjuk hamparan tanah yang gersang.
‘Itu sawah!’ Jawabku menimpali.
‘Itu apa?’ Tanyamu lagi menunjuk benda dengan besi pipih dan ada tongkatnya.

‘Itu cangkul!’
‘Untuk apa?’ Tanyamu lagi.
‘Untuk mengolah dan menggarap sawah!’

Kamu diam melihat lekat-lekat benda yang aku yakin jarang ditemui saat ini.
‘Itu sebelah cangkul apa?’ Agaknya rasa ingin tahumu sangatlah besar. Mengingatkanku akan seseorang, persis sepertimu.

Jarimu menunjuk sebuah onggokan besi yang beroda.
‘Itu traktor. Gunanya untuk mengolah sawah juga. Pengganti cangkul agar memudahkan pekerjaan!’
Kau mengangguk takjim.

‘Mereka siapa? Dan sedang apa ke sawah?’

Aaahh, matamu ternyata jeli dan lincah ketika menyibak hamparan sawah nan tandus ini.
‘Mereka petani. Orang yang mengolah sawah dan menggarapkannya.’

‘Kenapa sawah perlu digarap!’

‘Agar bisa menghasilkan padi, jagung dan hasil bumi lainnya. Kemudian diolah menjadi beras. Seperti yang kita makan selama ini.’
Kau diam lagi. Walau saya yakin masih banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalamu.

‘Bukankah kita membeli beras di supermarket? Bukan di petani itu. Kenapa mereka harus bekerja di sawah segala.’

Aku hanya tersenyum. Mengusap rambutmu.
‘Kalau petani tidak menanam padi. Kita semua tidak bisa makan. Itulah mulianya para petani. Jerih payahnya memberikan keberlangsungan hidup untuk banyak orang. Walau mereka sendiri serba kekurangan.’

‘Kenapa mereka bisa kekurangan?’

Aku terhenyak sebentar mencerna pertanyaanmu itu.
‘Karena hasil jerih payah mereka tidak sebanding dengan hasil yang mereka peroleh.’

‘Kalau mereka rugi kenapa tidak kerja yang lain saja?’

Lagi-lagi kamu membuatku sejenak menikmati view sawah dan berpikir nan merenung.
‘Kita hidup di dunia ini memiliki peran masing-masing. Peran mereka adalah petani. Menghasilkan padi dan hasil bumi lainnya. Dan peran sebagian lagi adalah sebagai konsumen penikmat hasil mereka. Mereka tahu peran dan fungsi sebagai petani. Mereka tahu dan paham sangat. Sehingga tidak ada niatan untuk berhenti atau berputus asa. Itulah makna mereka.’

‘Apakah kakek dulu juga seorang petani?’

‘Ya. Kakek nenekmu dulu adalah seorang petani. Yang tidak pernah putus asa dan menyerah meski hasil panen dari tahun ke tahun selalu menurun. Petani itu mulia, Nak! Jangan pernah malu sebagai anak petani!’ Sekali lagi aku mengusap rambutmu.
Semburat jingga terpapar di langit barat. Senja menyapa. Malam menyambut. Sayup-sayup aku dengar ibumu memanggil untuk masuk dan makam malam.
Ya. Aku anak seorang petani. Tak pernah aku sedikitmu malu mengakuinya. Setiap pekerjaan akan mulia jika kita melakukannya dengan hati. Dan juga halal tentunya.

Namanya L

Add Comment

Kalau ada kontes nama terpendek, mungkin dialah pemenangnya. Bagaimana tidak? Namanya hanya satu huruf saja. Tidak ada tambahan tedeng aling-aling. Kalau pun panjang karena ada tambahan bin nama ayahnya kelak di buku nikah. Entah maksudnya apa sehingga bapak dan ibunya memberikan nama segitu singkatnya. Jangan berpikir karena terinspirasi anime atau manga Death Note. Lha wong, nonton kartun saja orangtuanya tidak pernah. Mentok ya nonton Doraemon di tv tiap minggu pagi.

L lahir di keluarga yang cukup berada. Berada di bumi salah satunya. Bukan, bukan. Berada dalam artian mampu dan lumayan kaya. Apapun yang dia inginkan pasti terpenuhi. Handphone? Terbaru dari yang dimiliki teman sebayanya. Laptop? Tercanggih pada saat itu. Motor? Varian yang paling baru rilisnya. Uang? Ah kalau ini jangan kalian perdebatkan. Tak elok rasanya membicarakan nominal kepada seseorang yang lebih suka memakai debit daripada cash. Pacar? Ini yang menjadi sedikit persoalan. Dari semua unsur duniawi yang dipunyainya, tak ada satupun perempuan yang meliriknya. Kasihan, kasihan, sungguh kasihan.

Mungkin dia memang alim sehingga tidak mau pacaran? Ah, tidak ada di dalam wajahnya yang sedikit kecokelatan tetapi lebih menjurus ke hitam itu.

Tetapi sebentar, ketika SMA ada seorang perempuan yang aduhai tomboinya. Sebut saja inisialnya D, wanita berkacamata tersebut. Mereka didekatkan karena satu kelompok sandiwara cinta, eh, kelas. Benih-benih cinta, saya yakin sebatas cinta monyet, mulai tersemai seiring latihan drama selepas pulang sekolah. Apalagi alur dramanya menceritakan mereka pasangan kekasih yang memperjuangkan cinta karena ditentang salah satu keluarga. Sinetron atau FTV banget.

Bedebah sekali pembuat skenario tersebut, runtuk L. Terima kasih guys, yuk tak traktir di kantin.

*****


Tetapi kisah kasih di sekolah tersebut harus benar-benar usai. Dikarenakan mereka tidak seprinsip lagi dalam hal asmara. Buset dah. Ditunjang juga karena mereka akan berpisah lantaran kuliah di kota berbeda. Si D tidak terima karena harus LDR.

“Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai di sini, L?” ujar D tanpa wajah sedih atau nelangsa karena harus putus. Pacar macam apa ini.

“Kenapa D?” jawab L yang berusaha mempertahankan.

“Aku tidak bisa jika harus LDR gini, L. Aku pengen kamu selalu ada di sampingku. Tetapi jarak memisahkan kita. Aku tuh gak bisa diginiin, L!” masih dengan ekspresi dingin.

“Bukankah kita masih bisa bertemu seminggu sekali. Kalau ada liburan kita juga bisa bersua. Bagaimana kalau aku juga pindah kuliah di sana?” segala jurus dikeluarkan L.

D hanya menggeleng. Tentu tidak mungkin karena minggu depan sudah aktif masuk.

“Bagaimana kalau kita menikah?” keluar juga pertanyaan yang entah spontan, uhui, atau sudah dipikir masak-masak itu.

D masih menggeleng. “Aku belum siap nikah!”

Ooo uasu tenan. Diajak nikah gak gelem tapi pengene bareng, batin L. Tidak sampai hati dia melontarkan umpatan kepada perempuan yang disayanginya itu. Walaupun memang pantas kalau dipikir-pikir.

Dialog tersebut menemui jalan buntu. D masih teguh meminta putus meski L berusaha mencari pelbagai solusi. Tetapi semuanya tidak ada artinya di mata D. L tertunduk lesu. Tidak pernah terbayang di benak pikirannya kalau percintaanya tidak sesuai skenario drama SMA dulu. Ciihh, sandiwara kok disamakan realita. Mikir Bung!!

Maka keputusan secara sepihak diambil. D memutuskan mengakhiri hubungan kurang lebih 2 tahun itu. Apakah L patah hati? Pertanyaan retoris. Apakah D juga sama? Tak tahu pasti. Entah hatinya terbuat dari batu atau apa, kok ada semacam senyum kebahagian tersimpul. Kasihan L, kasihan, kasihan. Wanita macam apa yang kau perjuangkan itu! Bedebah bukan?

*****

Patah hati semakin membuat L tegar dan kuat. Cukup sudah baginya sedih-sedih ria jikalau harus putus dengan seorang pacar. Kendi, tempat air minum orang kampung, semakin kuat dan kokoh karena dibakar terus menerus. Apakah hati L demikian adanya? Kuat dan kokoh karena sering disakiti wanita? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Terutama wanita yang dianggapnya sebagai cinta pertamanya dulu.

Semasa kuliah, dia berubah bak cassanova. Sudah beberapa kali menjalin hubungan. Dan semuanya kandas. Tetapi itu semua tidak dia ratapi. Putus ya putus. Sekarang prinsipnya berganti haluan, ”tujuan sebuah pacaran adalah putus”. Filsafat apa yang membentukmu seperti itu L?

Mulai dari seorang calon perawat. Kandas. Sama adik angkatan yang dipertemukan di jagat chatting. Putus. Dengan teman sekampus. Juga sama, karam. Sama teman SMA dulu tetapi beda jurusan. Endingnya tidak jauh beda. Tetapi ada hal menarik dari kisah terakhir tersebut.

Sebut saja namanya N. L bertemu dengannya lantaran tidak sengaja N meminta bantuan. Kebetulan mereka kuliah di kota yang sama. Mulai dari itulah komunikasi semakin terjalin. Apalagi status mereka yang sama-sama jomblo. Sekadar menemani makan di luar. Mudik bareng, berangkat juga iya. Dari situlah L merasakan nyaman. Tetapi tidak lantas terburu-buru menyatakan perasaan. Tak elok rasanya dengan waktu yang sesingkat ini. Rupanya L melupakan kaidah cinta yang mengatakan cinta bisa muncul sepersekian detik ketika pandangan pertama. Nikmat mana yang kau dustakan L?

Hari bahagia itupun datang. Sudah tak mampu rasanya L membendung luapan cintanya kepada N. Gayung pun bersambut. N juga memendam rasa yang sama. Rasa itu muncul kembali. Rasa yang dulu dia rasakan ketika dengan D. Apakah memang N jodohku, ya Allah? Dia sisipkan kalimat tersebut dalam setiap doanya. Ending drama sewaktu SMA apakah harus aku lalui dengan N? Terkadang L senyum-senyum sendiri jika membayangkannya.

Bulan berganti bulan, membuat L yakin akan pilihannya itu. Maka diutarakan niatan suci tersebut kepada ibunda tercinta. Meminta restu agakanya si L ini.

“Bu..”

“Yo, Le. Enek opo? Sajake anak jokone ibu iki lagi dilema. Ngomong karo ibu Le!”

Itulah ikatan batin seorang ibu terhadap anaknya. Terkadang weruh sak durunge winarah. Tahu kalau anaknya sedang gusar akan suatu masalah. Kalau ibu kalian tidak peka seperti itu, berarti itu bukan ibu kalian tetapi tetanggamu.

“Ngeten Bu. Kulo kok kaleh N sansoyo sreg nggih. Nggih boten nopo-nopo, sak umpami kulo nembung N dados bojone kulo pripun? Hehehe,” ujar L sembari tersenyum malu di hadapan ibunya itu.

“Oalah, jokone Bu e wis kepengen nikah to. Bapak karo ibu manut kowe wae Le. Wis mbok takoni durung bocahe? Nak iyo bapak ibu lakyo siap sowan keluargane,” ujar ibu dengan menguyel-uyel rambut anak sulungnya.

“Dereng Bu. Mangke kulo pastike riyen. Suwun nggih Bu!” pamit L meminta ijin mencium tangan orang yang melahirkan, menyusui dan merawatnya itu.

*****

Selang beberapa hari, L meminta makan malam dengan N. Ijin sudah dikantongi dari kedua orangtua. Beberapa hari lalu bapaknya berbicara dengannya meminta penjelasan atas apa yang diutarakan kepada ibunda. Intinya sama, bapaknya hanya memastikan apakah memang sudah siap dan meminta dengan segera lulus dahulu. Inilah salah satu hari bersejarah di dalam hidupnya selain hari kelahirannya. Tidak lupa L menyiapkan sesuatu spesial.

“Maaf ya telat dikit Beb, tadi sedikit macet, hihihi!”

“Sejak kapan kota P macet, Beb!” balas N tidak mempermasalah.

Makan malam romantis pun berlangsung. Diselingi tawa di antara mereka berdua atas lelucon L. Bisa melucu juga kau L? Dan sudah saatnya tiba.

“Beb, ada yang mau aku omongin!”

“Apa Beb? Sok atuh….”

Eeemmm, heeeemmm, mencoba membuang grogi.

“Beb, aku tahu hubungan kita baru seumur jagung. Tetapi selama ini aku merasakan nyaman. Dan….eeeeemmmmm…..aku ingin mengajak ke hubungan yang serius…”

Hoooooeeeekkk, N sedikit tersedak mendengar perkataan pacar di depannya. L berusaha membantu memberikan air minum. N memberikan kode tidak apa-apa dan meminta L melanjutkan.

“Jadi intinya aku ingin mengajak menikah. Kalau iya, bapak dan ibu siap datang ke rumah. Bagaimana Beb? Mau kan?” ujar L sembari merogoh sesuatu di saku celananya.

Hening. N masih diam. L masih menunggu jawaban yang sudah ditunggu-tunggu.

“Eeemmmm…gimana ya Beb! Aku kok belum berpikir sampai ke situ. Aku masih pingin berkarir dulu. Maaf ya Beb, kita jalani saja dulu bagaimana?”

L diam seribu bahasa. Dia tidak menginginkan jawaban seperti itu. Dia ingin mendengar N menjawab, ”Iya Beb, aku mau. Mau. Kapan kita nikah? Kapan bapak ibu ke rumah?” Tetapi itu hanya dalam angan-angan saja.

“Beb….Beb…tidak apa-apa kan?” N berusaha membangunkan L dari lamunannya.

“Tidak apa-apa kok Beb. Mungkin aku saja yang terlalu cepat dan buru-buru,” L menyalahkan dirinya sendiri.

Makan malam berlangsung tetapi suasana sudah berubah. Menjadi dingin, padahal langit terang benderang. Tak terlihat mendung satu pun. Melenceng sekali di luar ekspektasi.

L pulang dengan gontai. Ibunda sudah menunggu di kursi teras rumah. Tanpa berkata pun seorang ibu sudah mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. L bersimpuh di pangkuan ibunda. Meminta tempat pijakan dan naungan untuk menumpahkan semua di dalam hati. Ibunya tidak berkata apa-apa hanya tangan lembutnya mengusap rambut ikal anaknya. Tidak ada airmata yang keluar, yang menangis adalah hatinya. Pria pantang menangis dalam hal asmara, prinsip kedua yang dipegang L.

Badjingan. Biasanya wanita yang nguber-uber meminta dinikahi. Lha ini? Sudah tak tawari nikah. Ealah ladalah jagat batara, malah ditolak. Wanita uasu.

*****

Karena kesibukan masing-masing intens komunikasi hanya sebatas via sms, chatting dan telepon. Setelah tragedi makan malam itu, L lagi-lagi belajar ilmu kehidupan. Jangan mengajak menikah wanita yang labil atau ababil. Meski begitu hubungannya dengan N masih berlanjut walau pesimis tujuan akhir apa yang ingin mereka perjuangkan. Walau di dalam sudut hatinya tetap mengharapkan waktu itu akan datang, entah kapan itu terjadi. Tidak apa-apa kan berharap meski tahu peluangnya 1:1.000.

“Mending langsung nembung ibu e to! Kowe ki kok ra mudengan!” ejek S sahabat L mendengar cerita konyol tersebut.

“Wedokan kucluk. Dijak kawin kok ra gelem. Pekok tenan. Aku wae ditakoni kapan nglamar aku, Mas. Glagapan jawabe piye, hahaha,” sahut A menimpali.

Ketiga sahabat tersebut tertawa. Menertawakan salah satu bab kehidupan yang terkadang tidak sesuai dengan rencana.

“Pantesan kowe ditinggal kawin bocahmu, hahaha!” sahut S.

“Uasu kowe. Daripada kowe. Reti nak pacarmu ngajak serius malah mbok tinggalke. Kowe pacaran lakwis mbi L. Cocok. Sijine ninggal, sijine ditinggal, wkwkwk,” balas A tak mau kalah argumen.

“Prei gowo dowo aku,” tangkas L menjawab guyonan dua sahabatnya itu.

“Rupamu malah ditinggal nikah, hahaha,” sambung S tidak mau kalah.

Lagi-lagi mereka tertawa.

*****

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tiba-tiba si N mengajak makan malam setelah sekian lama tidak bertegur sapa. Entah karena kesibukan yang benar sibuk atau sekadar sok sibuk. Gerangan apakah yang menggerakkan N mengajak bertemu? Mengajak putus karena sudah antipati satu sama lain?

“Gimana punya kabar Beb, eh, N?”

“Alhamdulillah baik Beb. Panggil Beb tidak apa-apa kok. Lama tak bertatap muka, kok kamu semakin ganteng saja Beb!” puji N kepada L di depannya.

Ingin rasanya L berbalik badan mendengar pujian pacarnya. Hueeeeekk, jangkrik gombal mukiyo.

“Beb….masih ingat dulu yang kamu bicarakan pas makan malam dulu?” N berusaha membawa ingatan ke masa lalu. L mengangguk. Kok sudah dua makan malam tidak pernah ada adegan makan ya?

“Setelah aku pikir-pikir lagi Beb, aku merasa bersalah karena menolak ajakan menikah dulu. Dan sekarang Beb, aku sudah siap untuk kamu nikahi….”

Seperti mendapat durian runtuh. Ketiban bulan ndaru, kalau orang Jawa umpamakan. Mata L berbinar-binar. Ingin rasanya dia menangis mendengar kata N barusan. Dadanya meletup-letup. Inilah yang dia harapkan makan malam dulu. Akhirnya datang juga hari bersejarah tersebut. Duh gusti, alhamdulillah Engkau berikan kesempatan ini.

Dia pun merogoh sesuatu di saku celananya. Dan berjalan menuju kursi N. Berdiri di belakang N hendak memeluknya. N memejamkan matanya. Menunggu sureprise yang akan diberikan kekasihnya, L. L pun membisikkan kalimat di telinga N.

“Seseorang tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Pantang bagiku, Hayati. Terima kasih ajakannya. Dan terakhir aku hanya ingin berkata, asuuuu.”

Bukan kalimat romantis yang keluar melainkan kekesalan. N membuka mata dan terpaku di tempat duduknya. L mengeluarkan sesuatu di sakunya. Selembar uang Soekarno-Hatta dia letakkan tepat di depan N.

“Buat bayar makan malam malam ini.”

L beranjak keluar dari tempat makan tersebut. Bukan main plong rasanya di dalam hati. Dan tersungging senyum di pojok bibirnya. Arahan sahabatnya S biar tetap terlihat cool meski sudah melakukan sebuah perbuatan badjingan.

Perbuatan badjingan hanya bisa dibalas dengan badjingan juga.

NB: kalau ada kesamaan cerita atau peristiwa jangan menyalahkan penulis. Karena memang telah disengaja, hahaha.

Perihal Hadiah Ulang Tahun

Add Comment
Pernah dapat hadiah ulang tahun? Hadiah spesial dari orangtua, sahabat atau pacar misalnya. Dalam hal beginian mungkin kaum Hawa yang sering mendapatkan. Paling sederhana kue, coklat, bunga atau mentok boneka. Untuk kaum Adam mungkin ada yang juga pernah tetapi tidak sesering kaum Hawa.

Saya pribadi pernah mendapatkan hadiah ulang tahun dari seseorang (baca: mantan). Itupun juga ulangtahun tiga tahun terakhir ini. Sebelum-sebelumnya bagai padang pasir kering kerontang. Ingatpun tidak mereka dengan hari kelahiran saya menyapa dunia.

Kebetulan hari kelahiran saya berada satu slot dengan bulan Kasih Sayang kata orang bule sono. Ya meski tidak tepat-tepat amat dengan tanggal 14. Mungkin itulah yang membuat saya memiliki rasa kasih dan sayang begitu melimpah. Sayang kepada orangtua, sudah tentu pasti. Sayang saudara, off course. Sayang sahabat, yoi. Sayang mantan, eh.

Kembali lagi ke persoalan hadiah ulangtahun. Saya akan jabarkan beberapa benda hadiah yang pernah saya terima ketika ulangtahun.

1.  Jam Tangan
Benda inilah hadiah yang pertama saya terima seumur hidup ketika ulang tahun. Itupun juga yang memberikan sudah menjadi mantan dan sudah menikah pula. Ceritanya jam tersebut couple-an kalo kata anak muda kekinian. Entah jam satunya masih dia simpan atau sudah dikilokan di tukang rosok. Itu sih hak dia.

Mungkin ketika dia memberikan hadiah tersebut sembari memberikan sebuah tanda, ‘waktu kebersamaan kita hanya tinggal menghitung hari.’ Modyar kowe. Masalahnya aku yang tidak peka. Mungkin lho ya.

2. Sarung dan Baju Koko
Sebenarnya jumlah sarung dan baju koko di rumah sudah banyak, meski tidak banyak-banyak mamat juga. Ini adalah benda kedua pemberian dia. Karena setelah pemberian ini, dia sudah memutuskan untuk merajut masa depan dengan pria lain. Sa’ake men kowe Le, Le!

Dan apa kata motivasi terakhir yang dia ucapkan? Itu pun dia kirim lewat sms. ‘Semoga bisa menjadi imam untuk wanita yang lebih baik dari saya.’

Kan telo tenan to. Hambok doa qunut wae kadang apal kadang ora je. Isih grotal gratul.

3. Baju dan Sandal Joger
Hadiah yang ketiga adalah sebuah baju joger dan sandal joger (seumur-umur cuma waktu SMA ke Bali, itupun juga tidak beli apa-apa). Dari seseorang yang menempati tempat istimewa di hati ini, cieee cieeee. Sandalnya sampai sekarang pun belum pernah aku pake. Eman-eman je!!

Menurut saya pribadi, ketika acara ulang tahun yang terpenting bukan masalah hadiah apa yang diterima. Tetapi yang paling sakral adalah ketika meniup lilin di atas kue. Itu awesome banget. Sakral, suci dan aaaahhhh…..pokoke kuwilah.

Dan sialnya seumur hidup belum pernah sekalipun, saya camkan belum pernah sekalipun, diberi sureprise sembari dibawakan kue tart atau blackforest dengan lilin menyala. Seperti di film-film romantis begitu, atau seperti teman-teman lainnya. Blas ora pernah. Mesake kuadrat kowe Ngger Ngger!

Padahal ketika teman wadon ultah, sekadar memberikan sureprise juga ikut terus. Lha kok giliran saya babar blas sureprise ememper sih ora penting marai. Tidak dikasih hadiah pun juga tidak mengapa, asal dikasih sureprise kue yang ada lilin menyalanya. Gak ada kue cuma lilin juga tidak masalah. Hambok trimo jenang abang tengahe diwenehi lilin putih, wis suenenge ora umum. Asal ora liline babi ngepet wae.

Tapi kok ya hanya khayalan semata. Semoga saja calon istri saya membaca tulisan ini. Semoga saja ya Allah! Aamiin.