Drama Kehidupan

Add Comment
Kemarin ketika tiba di bandara, saya disajikan penggalan adegan telenovela. Lha bagaimana tidak? Ada seorang wanita pribumi memeluk cowok non-pribumi sembari sesenggukan menangis.
Dan saat itu saya disadarkan bahwa drama itu ada di dalam kehidupan. Tidak hanya drama Korea saja. Dalam diri kalian itu juga ada drama. Tinggal apa yang bisa memantik jiwa drama kalian muncul ke permukaan. Camkan itu, kisanak.

Jadi tak elok rasanya mencibir atau mengucilkan seorang pria tontonnya Drama Korea. Bukan. Bukan. Ini bukan sebuah pembelaan.
Kembali lagi ke pasangan sejoli yang tidak mengindahkan perasaan para jomblo di bandara itu. Bedebah memang. Saya pun menghentikan kaki untuk check in. Mengamati dengan saksama adegan langka bin jarang-jarang yang saya jumpai. Biasanya hanya ada di film-film ataupun drama.
Siapa yang tidak menebak-nebak asal muasal penyebab kejadian tersebut. Ndilalah kok ya oatakku juga tidak mau ketinggalan menebak. Jiangkrik og. Tapi ya mau gimana lagi, itu sudah jadi kebiasaan kita untuk ikut campur dalam urusan oranglain. Alasannya satu dan lain hal.
Pertama, si cowok albino itu hendak meninggalkan Indonesia. Ya iyalah. Pasti juga tebakannya gitu. Eh sama to, hehe. Kalau menangis yg sampai menyebabkan sembab di mata. Bisa diperkiraan bahwa si bule badjingan yang telah mengoyak hati cewek cantik kembali ke habitat asal dan tidak akan kembali ke sini dalam waktu yang lama. LDR tingkat tinggi, dipisahkan benua dan lautan.
Setidaknya si mbak itu masih bisa berkomunikasi. Ada lho yang LDR tingkat dewa. Tingkat mantap juiwa. LDR yang dipisahkan dunia. Dipisahkan alam.
Ingin saya nyeletuk, "Kalau bulenya pulang tenang Dinda masih ada Kanda di sini!"
Kedua, mereka berdua putus hubungan. Bisa karena si cewek tidak mau LDR. Atau si albino yang tidak mau LDR. Jadi sebagai perpisahan mereka melampiaskan dengan adegan berpelukan. Menangis pula. Bulenya juga tidak bereaksi apa-apa. Mengelus-elus rambutnya pun tidak. Membalas pelukan si cewek juga boro-boro. Sialan memang. Beda kalau saya yang dipeluk #ngarep.
Ah sepertinya saya terlalu banyak mengkhayal tentang hubungan dua manusia beda ras tersebut. Biarlah mereka melakukan apa yang mereka anggap benar. Toh setidaknya kita juga disuguhi sebuah cuplikan drama kehidupan.
Jangan sok suci, itu tidak elok karena kita budaya timur. Tabu kalau di tempat umum. Emang kalau di tempat sepi kalian mau ngapain saja? Kita terkadang menganggap diri sendiri paling suci. Paling bersih. Paling benar. Dan menganggap orang lain berdosa semua. Kita lupa bahwa kita semua ini tercipta dari tanah semua. Kenapa kudu sombong? Bisa jadi drama kalian yang nantinya ke permukaan. Yang akan kalian sajikan ke khalayak umum tanpa disadari.
Sudah. Sudah. Kita akhiri saja sampai di sini. Saya langkahkan kaki ke tempat check in tiket. Berbahagialah bagi mereka yang selalu mendoakan pasangannya satu sama lain. Bahwa doa itu sebuah wujud cinta yang paling hakiki.
Tabik.

Hal-hal Yang Harus Dihindari Ketika Nonton Di Bioskop

Add Comment

Orang Indonesia penggila film. Baik itu menonton di bioskop maupun download film bajakan yang menjamur di internet. Bahkan porsi anggaran menonton mengalahkan porsi sedekah atau beramal. Saya yakin teman-teman tidak termasuk kaum seperti itu. Karena mereka orang-orang tafir. Titik.

Banyak sekali faktor yang membuat seseorang menonton di bioskop. Refreshing, melepas penat setelah seminggu bekerja. Penggemar salah satu film yang kebetulan sedang tayang. Sekadar menemani pacar atau gebetan nonton. Sebagai pelampiasan karena tidak ada tontonan di televisi yang mendidik. Isinya hanya sinetron-sinetron sampah. Tak jarang juga sebagai tempat pelampiasan asmara dua sejoli yang takut kena razia kalo check in di hotel melati. Dan masih banyak lagi faktor-faktor lainnya.

Ada beberapa hal yang sebaiknya teman-teman siapkan jikalau ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Baiklah. Baiklah. Mari kita bahas satu per satu.

Buang Air Kecil (Kencing)
Sangat disarankan sebelum masuk ke gedung bioskop sebaiknya Anda kencing terlebih dahulu. Kuras semua persediaan air seni kalian. Pastikan benar-benar kosong. Ini pernah terjadi kepada saya.

Jadi, saat itu si Bos mengajak nonton film di bioskop. Kota Anda tidak ada gedung bioskopnya? Hahaha. Kasihan sekali hidupmu, Kisanak! Soalnya kita sama. Awalnya tidak ada gejala hendak pipis. Dan saya yakin dapat menonton dengan tenang dan nyaman. Dan film yang diputar juga film aksi laga.

Setelah film berlalu, sesuai keinginan. Tidak terjadi apa-apa. Tetapi sial memang tidak pernah bisa kita tolak. Ndilalah, tiba-tiba, ujug-ujug, mak benduduk, anu ini ingin sekali pipis. Mana adegan sedang seru-serunya lagi. Baku hantam antar pemain. Suara dentuman bergelegar. Getarnya sampai ke ujung. Membuat saya semakin blingsatan. Tak karuan rasanya. Menahan sekuat tenaga.

Bingung mana keputusan yang harus saya pilih. Pertama, pergi ke belakang. Mengecurkan art water ke kloset. Tetapi perhitungan saya bekerja. Jarak dari tempat duduk ke kamar mandi kurang lebih 300 meter. Bolak balik 600 meter. Kalau saya berlari kurang lebih 1/2 m/detik. Berarti butuh waktu 20 menit. Belum waktu untuk ritual menguras art water. Katakanlah 5menit paling luama (iku nguyoh opo nguyoh liyane). Total 25 menit. Itu kondisi kalau toilet tidak penuh. Kalau ndilalah penuh, nunggu juga nambah-nambahi waktu. Iya kalau bejo kembali filmnya masih berlangsung. Bisa minta ceritakan gebetan yang adegan terpotong tadi. Lha kalau pas kembali layar bioskop nampilin kredit film. Modyar kon.

Yang kedua, ini sempat terlintas di kepala. Awal mula petaka karena si bos nawari minuman dingin. Bedebah memang, tapi kok ya enak. Saya curiga mungkin inilah yang mengilhami para kaum hawa selalu menolak dengan alasan ‘kamu terlalu baik untuk aku’. Karena memang yang bedebah, jahat dan bejat membuat ‘enak’. Ternyata ini asal muasal alasan badjingan dari penolakan tersebut. Sempat terlintas untuk nekat menampung pipis di botol minuman bedjat tadi. Sial memang. Kiri kanan saya cewek semua. Berjilbab pula. Makin erat pula aku nekem ini junior. Kalau nekat aku lakukan, dan ketahuan. Bisa modyar mantap jiwa. Bisa-bisa masuk headline koran lokal, seorang pria cabul di bioskop kepergok hendak mencabuli cewek berhijab di sebelah. Padahal bukan itu sebenarnya, toh media massa lebih menyukai berita-berita yang bombastis meski kevalidan isinya perlu dipertanyakan. Belum lagi si bos ikutan malu. Bisa-bisa besuk disuruh istirahat kerja di rumah selamanya.

Pilihan ketiga, ini juga sulit. Tidak jau beda memalukan dari pilihan dua tadi. Mengikhlaskan untuk mengompol di celana. Lega sih. Tapi akibatnya bahkan lebih dahsyat memalukan. Tiba-tiba seisi gedung bioskop mencium bau pesing. Orang Indonesia paling suka mencari kesalahan orang lain. Paling suka mencari kambing hitam. Paling suka tuduh menuduh antar sesama. Tidak butuh lama pasti ketahuan siapa yang tega merusak kekhusyukan menonton yang mengalahkan kekhusyukan ketika sedang beribadah. Dan radius 1 meter kanan kiri depan atas yang paling lantang menuduh. Tidak mau kan diteriaki,"asyuu mase ngompol ig!" Atau "badjingan mase ngompol nek katok."

Pilihan terakhir, pilihan para filsafat. Para filsuf. Yakni memotivasi diri sendiri bahwa kamu bisa. Tahan, tahan, kamu pasti bisa. Saya sugesti diri sendiri begitu. Tak pula makin erat dalam hal menekem ini junior. Duduk tidak jenak. Menonton adegan juga tidak bisa khusyuk menikmati. Ingin ndang-ndang selesai filmnya. Pertaruhan memang. Di satu sisi tidak ingin melewatkan setiap detik adegan film. Di sisi lain harus berjuang mati-matian untuk bisa menahan agar tidak jebol meski harus duduk gonta-ganti posisi. Aku bahkan teringat syair dari Wijhi Tukul dalam hal seperti ini, "hanya satu kata: Lawan."

Manusia memang gudangnya rencana, tetapi Gusti Allah Maha Menentukan. Sudah sekuat tenaga, bahkan sampai titik darah penghabisan, menahan gempuran panggilan alam. Tetap saja tubuh tidak bisa menolak kodrat. Saya akhirnya mengalah dengan si junior. Tidak enak yang namanya memendam. Menahan. Mungkin seperti itulah yang dirasakan jika seseorang tidak bisa mengungkapkan perasaan kepada yang disukai. Atau seperti selingkuhan yang hanya diperhatikan ketika waktu senggang saja. Rasanya itu sungguh-sungguh geli dicampur sakit.

Kentut
Kentut bisa sebagai pertanda gejala sakit perut atau mules. Kadang juga diasosiasikan seperti musuh dalam selimut. Karena bentuk fisiknya yang tidak bisa kita lihat tetapi memberikan dampak yang sungguh menjengkelkan. Bahkan bisa menimbulkan perpecahan. Politik devide et impera alami.

Kentut dibedakan menjadi dua kelas. Pertama, kentut telolet, maksudnya ketika kentut dibarengi dengan suara yang saya yakin sangat familiar di telinga teman-teman semua. Saya yakin itu! Yang kedua, kentut silent. Kentut tanpa mengeluarkan bunyi-bunyian atau suara. Ibarat sniper, mereka menggunakan peredam. Dan hanya orang-orang professional saja yang dapat mengatur kentut tanpa harus mengeluarkan bunyi. Butuh penguasaan pernafasan, tenaga dalam dan lain-lain.

Ada mitos yang mengatakan bahwa kentut yang berisik biasanya tidak berbau. Sedangkan, kentut yang silent biasanya lebih berbau. Tetapi itu semua tidak bisa dijadikan patokan utama di dalam dunia nyata. Terkadang malah sebaliknya. Hanya kentur dan Tuhan yang tahu.

Jika ndilalah di gedung bioskop kalian mau kentut. Sebisa mungkin keluar dari gedung tersebut. Jika tidak ingin melihat gedung tersebut menjadi medan pertempuran misuh. Tetapi jika kalian yakin bahwa kentut kalian tidak berbunyi dan tidak berbau. Silakan saja dilepas. Sekali lagi ada yakin bahwa kentut kalian tidak akan membawa malapetaka kedepannya.

Orang Indonesia terkenal sadis dan tidak kenal kompromi dalam hal perkentutan. Mereka bakalan militan dalam mencari sumber bau tersebut. Suara misuh pelbagai variasi dan tingkatan akan terucap. Semua penghuni kebun binatang tidak akan absen ikut keluar.

“Badhjingan, kentut bau gini tidak mau keluar.”

“Woy, mbokyo mikir. Kita butuh udara segar. Bukan udara yang dicemari bau busuk begini.”

“Asyuuuu, ngaku wae sopo iki sing ngentut!”

Pastikan lagi ketika hendak menonton bahwa kondisi perut kalian aman. Gas-gas hasil pencernaan tidak sedang dalam level tinggi. Dan jarang sekali – bahkan langka- ada orang yang mau mengakuii kalau dia yang mengentut. “Maaf tadi saya tidak kuat menahan jadi kentut deh!” Kalau ada orang seperti itu kalau perempuan cepat kalian jadikan istri, kalau pria cepat kalian jadikan suami. Negeri ini krisis orang jujur. Camkan itu!

Buang Air Besar (BAB)
Jika menahan pipis (kecil) saya begitu besar perjuangan menahannya. Maka jangan pernah menahan buang asir besar apalagi di dalam gedung bioskop. Kita memang tidak pernah bisa menebak kapan datangnya penyakit atau sakit. Suka-suka dia mau datang kapan saja. Kayak jelangkung saja ya. Tidak bisa kita prediksikan. Sama halnya kata putus atau break dalam hal hubungan. Ada yang sedang mesra-mesranya ndilalah ceweknya minta putus. Ada. Atau malah sebaliknya, cowoknya yang minta putus. Itu semua sudah hukum alam. Di hadapan yang lebih baik dan segalanya, perasaan bisa berubah kapan saja.

Saran saya, sebelum nonton ada baiknya jangan makan pedas-pedas. Atau kalau sebelumnya sudah terasa ada gejala mules atau sakit perut jangan pula dipaksakan untuk menonton. Saya yakin bukannya bisa khusyuk menikmati jalannya film, kita akan direpotkan dengan menikmati setiap kruwes-kruwesan di dalam perut.

Tapi kalo sudah terlanjur di tengah-tengah jalan film, tiba-tiba perut mules. Pastikan dahulu tanya pada diri Anda sendiri. Kuat tidak menahan itu gejolak usus dua belas jari. Ada tips sederhana untuk menangkal sakit perut. Yang pertama, kantongi batu kerikil. Cari yang kecil saja jangan yang besar. Konon ketika mengantongi kerikil sakit perut akan sembuh. Aaaahhh paling juga mitos? Ya terserah njenengan semua mau percaya atau tidak. Namanya juga mencoba. Lagian di dalam bioskop mana ada kerikil.

Yang kedua dengan memijat bagian tangan antara ibu jari dan jari telunjuk. Pijat sekuat-kuatnya. Kalau orang tua dulu bilang pringkeli. Tekan dan pijat sekuat mungkin, sekuat kalian jika melihat gebetan jadian sama orang lain. Atau melihat mantan yang sekarang semakin cantik ketika putus. Badjingan bukan? Yang badjingan bukan pringkelinya tapi perumpaman tadi.

Lha kok belum juga ada perubahan yang menjanjikan? Ya mengalah saja. Mungkin memang kamu ditakdirkanm untuk tidak menyelesaikan misi menonton film tersebut. Segera berdiri dari tempat duduk. Kemudian menuju ke pintu keluar, berlarilah ke toilet jika memang sudah sampai di pucuk atau ujung. Daripada sampai cepirit di celana dalam gedung bioskop. Apa gak malah malu semalu-malunya….. namun engkau tak mengerti…. (eh, malah nyanyi)

Hidup memang hanya sebuah pilihan. Pilihan mana yang hendak kamu pilih. Memilih tetap bertahan di bioskop dengan pelbagai konsekuensinya. Atau harus mengalah. Mengapa selalu aku yang mengalah....


Ingatlah wahai kawan dimanapun Anda berada. Hidup itu hanya mampir nguyuh, ngetut lan ngising. Nguyuh art water sama nguyuh yang lainnya. Dan ketika hendak menonton bioskop, lebih baik sebelumnya Anda tinggal itu juniormu kalau bisa. Junior portable.

Salam Macul

Semua Ada Waktunya

Add Comment
"Kamu tidak mau menikah, Day?” tanya Hati di sore itu.

Aku terdiam. Sejenak kaget mendengar pertanyaan. Pertanyaan yang lebih ke sebuah kekhawatiran. Aku hanya tersenyum kepadanya. Menyesap kopi di cangkir yang sembari tadi kupegang.

“Apakah pertanyaanku salah?” tanyanya kembali.

Aku hanya menggelengkan kepala. Menikmati semilir angin sore di balkon rumah. Melihat pemandangan hiaju yang terhampar di persawahan.

Aku dan Hati membisu. Hati sepertinya merasa bersalah atas pertanyannya barusan. Hanya memandang secangkir teh yang dibuatnya tadi.

“Hat, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Agar mereka saling mengenal. Siapa di dunia ini yang tidak ingin menikah, Hat. Aku pun mempunyai keinginan tersebut. Lantas apa yang kau khawatirkan?” jawabku tanpa memandangnya.

“Mungkin kamu khawatir bahwa teman-teman seangkatan saya sudah menikah semua. Sudah memiliki momongan. Bahwakan teman-teman di bawahku juga sudah banyak yang menikah. Itu yang kamu risaukan?” kali ini aku berubah memandang wajahnya.

Hati hanya mengangguk pelan.

“Aku pun juga demikian, Hat. Kadang kala iri juga melihat teman-teman lainnya sudah menikah semua. Tetapi aku sadar Hat. Segala sesuatu itu ada waktunya. Dan mungkin ini memang belum waktuku untuk mengucapkan janji sakral tersebut. Segala sesuatu yang sudah ditulis di Lauh Mahfudz baik itu rejeki, jodoh dan mati, tidak bisa kita majukan atau dimundurkan. Mungkin ini rencana-Nya bahwa saya harus memperbaiki diri. Fokus belajar dan bekerja. Maka yang terbaik akan datang sendiri.”

“Apakah kamu tidak malu ketika ditanya sama teman-temanmu, Day?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan Hati. Hati berbalik menatapku heran. Mungkin kalau diungkapkan, ‘apakah ada yang lucu?’

“Kenapa aku harus malu, Hat? Malu karena sampai saat ini aku masih sendiri? Biarlah mereka berkata apa. Tidak lakulah. Tidak beranilah. Mengejek. Meremehkan. Lantas jika semua perkataan mereka aku dengarkan. Apakah lantas jodohku besuk langsung datang? Besuk bisa langsung menikah seperti apa yang mereka khawatirkan?”

“Aku percaya dengan janji-janji terbaik-Nya. Dan doa-doa terbaik dari orang yang sungguh peduli. Bukan sekadar rese' sibuk bertanya sambil tertawa cengengesan. Wajah sok akrab tapi sebenarnya meremehkan.”

Hati mendekatiku. Berjejer tepat di sebelahku. Tangannya memegang tanganku yang masih memegang cangkir kopi. Hangat. Sehangat perhatiannya selama ini. Sehangat kepeduliannya selama ini.

“Aku hanya berharap, kamu tidak pernah membenci atau menaruh dendam kepada orang-orang yang pernah membuatmu sakit atau kecewa karena persoalan cinta.”

Seketika aku diam. Menunduk. Tidak tahu apa yang harus aku ucapkan sebagai pembelaan. Pandanganku hanya tertuju ke kopi hitam di dalam cangkir. Samakah warnanya dengan apa yang aku pendam saat ini. Mudah memang mengucapkan sebuah kata maaf. Tetapi untuk belajar mengobati apa yang sudah mereka torehkan belum bisa aku lakukan. Dan itu yang Hati lihat dari laki-laki yang berdiri tepat di sebelahnya.

“Orang insting, seperti kamu Day, selalu menyimpan benci dan dendam atas rasa sakit apa yang mereka terima. Aku berharap kamu dapat membuang dendam atau benci tersebut. Percayalah, membenci hanya menyakiti dirimu sendiri. Karena terkadang tidak semua luka harus dibayar dengan luka,” Hati mengenggam tanganku semakin erat.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Apakah aku bisa?” batinku.

“Segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin, Day.”

Melepas Semua Beban Hidup di Hadapan Aplikasi Nothing

Add Comment
Jika jamaah Mojokiyyah yang dirahmati Allah sedang dalam keadaan tersebut, janganlah berkecil hati. Segera ambil smartphone masing-masing (bagi yang sedang fakir kuota bisa nebeng wi-fi tetangga), masuklah ke playstore, kemudian ketikkan: NOTHING. N-O-T-H-I-N-G.
Eittt, jangan terburu-buru klik tombol pasang atau install.
Jadilah warga negara Indonesia yang baik. Warga negara Indonesia yang baik selalu berpikir dulu sebelum berkomentar melihat terlebih dahulu testimoni suatu produk. Geser layar ponsel ke bawah, kemudian cermati dengan saksama dan baca satu per satu testimoni dari aplikasi di atas.
Bagaimana? Ada perubahan mimik?
Jika tertawa, berarti Anda sekalian normal. Kalau tertawanya terpingkal-pingkal? Anda jauh lebih normal dari yang pertama tadi. Lha kalo cuma senyum saja? Tidak apa-apa, toh sudah berusaha untuk nyengir. Tetapi, kalau tetap tidak ada perubahan di raut wajah njenengan semua, artinya sense humor Anda sekalian perlu dipertanyakan.
Ada banyak sekali macam testimoni dari aplikasi tersebut. Dan bisa ditebak, mayoritas dari orang Indonesia. Berikut ini saya sertakan beberapa testimoni yang mungkin bisa menggerakkan jempol njenengan sekalian untuk mencoba Nothing ini.
“Gak nyangka bener kata orang, dont judge books by the cover. Nama aplikasinya nothing tapi pas saya buka luar biasa. Saya biasa pergi ke luar negeri dengan aplikasi ini dengan cara menjatuhkan HP dari apartemen lantai atas dan Anda bisa merasakan sensasinya.”
“Gila Seru Parah Pas gw punya app langsung bisa dapat kantong ajaib doraemon buat bantuin naruto ngalahin madara biar dia jadi tukang tahu bulat. Akhirnya dia dapat jurus chidori dan edo tense ia jadi Hokage 1 Mengalahkan Minato Lalu di kalahkan Lee.”
“luarBINASAH app ini the best THUG LIFE APP EVER! membuat saya terinspirasi menikahi rudy tabuti yg mengendarai mcqueen pd fast and furious ke-69 yg disutradarai oleh audrey britoni, download secepatnya sebelum negara api menyerang Kutub Utara.”
“Wow Awalnya gua kira di tipu sama temen gua, tapi ternyata bener ini aplikasi terbaik yg gua donlod. Aplikasi ini bisa baca pikiran temen lu, sebelum temen bales chat lu. Aplikasi ini udah ngirim tulisan apa yang mau dia chat ke lu, gua juga bingung, Ini padahal baru pikiran gua tapi kenapa udah kekirim.”
“Waw Waw ini apk yg bikin gwa terbang ama semvak gw di ranjang tanpa sadar ternyata gw tidur diteminin kasur tetapi tok dalang ingin menjadi hokage tetapi opah menghadang rencana tok dalang tetapi apakata dunia masa gopal suruh ke klinik tongfang dengan pikotaro yg membuat video teryouchob waw warbyazah.”
“Hebat banget APK NYA MANTAP GAK SIA SIA GUA DONLOD SEJAK MAIN GAME INI GUA BISA BERUBAH JD LEBIH BAIK DAN AKHIRNYA NAURA BISA HIDUP MERDEKA DAN TANTE ARUNI AKHITNYA MATI WKWKWKK.”
Masih banyak lagi sebenarnya testimonI-testimoni yang diberikan oleh orang Indonesia. Kita memang dikenal oleh bangsa yang mudah terprovokasi. Mudah ikut-ikutan. Tak terkecuali dengan fenomena aplikasi Nothing di atas.
Jika kita sudah selesai membaca komentar warbysah dari sebangsa tanah air kita, segera geser ke atas kembali, kemudian klik tombol pasang atau install. Setelah selesai, bukalah aplikasi tersebut.
Ada apa di dalamnya?
NOTHING. Tidak ada apa-apa.
Bingung? Pasti.
Tidak tahu apa yang harus dilakukan? Tentu
Pengin misuh asu atau bajingan? Ya monggo.
Tahan semua amarah jamaah Mojokiyyah yang sekali lagi dirahmati Allah Swt. Sejatinya aplikasi Nothing sungguh sangat cocok untuk masyarakat Indonesia. Mewakili fenomena yang sebenar-benarnya ada di tengah masyarakat. Representasi realitas. Tetapi, entah mengapa yang menangkap keadaan tersebut malah orang luar sana sehingga bisa menciptakan aplikasi bajingan satu ini.
Mengapa aplikasi ini pas buat orang Indonesia, kita main cocoklogi saja.
Banyak penguasa yang awal kampanye menjanjikan ini itu, tetapi setelah terpilih. Hasilnya? Nothing.
Ketika awal pacaran bilang cinta mati, tidak bisa hidup tanpamu, nyicil manggil mamah-papah. Ketika ketemu yang lebih segala-galanya, hasilnya? Nothing.
Sudah beresolusi tahun ini rabi, tetap konsisten meskipun resolusi tersebut sudah dicanangkan sejak sepuluh tahun lalu, dan hasilnya? Nothing
Berusaha sekuat tenaga move on dari mantan bajingan, tetapi ada SMS masuk. Dia tanya kabar. Ambyar segala-galanya. Hasilnya? Nothing.
Harga sembako naiknya jan nggak ketulungan. Disuruh turun-turun tidak mau. Janji para pejabat akan segera menurunkan harga. Hasilnya? Nothing
Dan masih banyak nothing-nothing lainnya yang seolah sudah menjadi bagian dari hidup.
Segeralah tulis komentarmu di kolom komentar aplikasi Nothing. Sumbangkan semua unek-unekmu di sana agar kegelisahan, kesedihan, dan penderitaanmu bisa menjadikan orang lain yang membaca ikut merasakan dan ikut tertawa menyinyiri hidup ini.
Sebab ada kalanya kesusahan hidup terasa nothing di hadapan tawa. Dan masalah yang sebenar-benarnya ialah ketika cewek mengatakan, “Nothing!