Seorang Anak Kecil Tanpa Sepasang Sayap

Add Comment

Kami ditakdirkan untuk memiliki sepasang sayap. Berwarna coklat dan berkilau ketika ditempa cahaya matahari.

Kami bukan sebangsa malaikat, bukan! Karena menurutku bangsa sejenis kami terlalu tidak pantas disebut malaikat.

Kami bukan sebangsa manusia yang tidak bersayap, bukan! Karena menurutku manusia terlalu tidak pantas jika disandingkan dengan kami.

Kami hanyalah kami, kami hidup sebagaimana manusia hidup.

Makan, tidur, belajar, sekolah dan semua kegiatan yang dilakukan manusia, kami juga melakukan hal yang sama.

Tapi ada satu perbedaan kami dengan manusia. Kami punya sayap, tentu saja.
Sayap kami tumbuh ketika kami genap berumur delapan tahun. Dan dalam hitungan 5 hari ke depan umurku delapan tahun.

Aku sungguh tak sabar menantikan tumbuhnya sepasang sayapku. Begitupun Ayah dan Ibuku, bagi bangsa kami pertumbuhan sayap sangatlah dinantikan.
Banyak teman-temanku yang sama sepertiku, lima hari lagi sayap mereka juga akan tumbuh. Kami sama-sama tak sabar menantikan sayap baru yang akan tumbuh sebentar lagi.

Kami bahagia, karena dengan adanya sayap kami bisa terbang kemanapun yang kami inginkan dengan cepat. Dan kami tidak akan terlambat datang ke sekolah.

***

Hari ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya.
Tapi tak ada hal yang berbeda dari tubuhku. Bukankah seharusnya sudah tumbuh sepasang sayap pada punggungku?
Aku berlari keluar kamar dan menemui ibuku.

"Ibuuuu..ibuuu..kenapa sayapku tidak tumbuh?". Tak kudengar jawaban dari ibuku.

"Hari ini aku berjanji akan bermain dengan teman-temanku. Dan kami akan terbang bersama ke desa seberang. Ibuu...ibuuu..ibu dimana?".

Masih hening, dimana ibuku?

"Ayaahh...ayaahhh...ayah dimana? Kenapa sayapku tidak tumbuh?".

Ayah sama saja tidak menjawab.

Kemana mereka?
Sayup-sayup kudengar suara beberapa pasang sayap mendekati rumahku. Itu pasti teman-temanku.
Aku harus bagaimana?
Aku tak mungkin menemui mereka tanpa sepasang sayap.
Aku malu.

Selama ini belum pernah ada seorang anak yang sudah genap berusia delapan tahun tapi tidak mempunyai sayap.

Apakah mungkin sayapku akan tumbuh esok hari?
Aku putuskan untuk tidak menemui teman-temanku.
Sungguh, aku malu.
Terlebih lagi tiba-tiba Ayah dan Ibuku menghilang entah kemana.

***

Berhari-hari aku tidak keluar rumah. Aku tidak sekolah.
Aku masih malu dengan wujudku yang tanpa sayap seperti sekarang ini.
Seringkali temanku datang berkunjung ke rumah, tapi aku tidak pernah menemui mereka.
Karena dengan wujudku yang sekarang, aku sungguh mirip dengan manusia. Sejenis makhluk yang sangat dibenci oleh bangsa kami. Mereka bilang manusia itu bangsa yang egois.
Entahlah, yang jelas aku benci dengan wujudku yang sekarang.
Dan aku juga sangat benci membayangkan bagaimana reaksi teman-temanku yang mengetahui wujudku ini.
Apakah mereka juga akan membenciku seperti mereka membenci bangsa manusia?

***

Aku masih dalam posisi semula. Berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan apapun. Ayah dan Ibuku juga tak kunjung pulang.
Bahkan aku lupa seperti apa wajah mereka.
Bertahun-tahun terlewati dan sayapku belum juga tumbuh.
Entah berapa usiaku sekarang?
Aku juga tak tau bagaimana wajahku sekarang. Apakah aku tampan seperti ayahku?
Aku sudah tak pernah bercermin sejak usiaku delapan tahun.
Karena aku benci melihat punggungku yang hampa, tanpa ada sepasang sayap coklat yang berkilau dan bersiap untuk membawaku terbang.

Sedikit Kisah Tentang Dimas

Add Comment

Sebelum saya mulai bercerita, ada baiknya saya perkenalkan dulu siapa itu Dimas.
Nama lengkapnya Dimas Ardha Pamungkas. Jujur saja, saya baru mengetahui nama lengkapnya beberapa hari yang lalu dari adik saya yang kebetulan seumuran dengan dia.

Dia masih anak-anak. Umurnya pun baru genap 13 tahun sekitar 3 bulan yang lalu. Bersekolah di SMP yang sama dengan Putri -adik saya-. Walaupun saya tak begitu akrab dengan Dimas, tapi saya tau kalau dia anak yang baik dan ceria. Seringkali dia bersepeda santai bersama teman-temannya melewati depan rumah saya ketika sore hari tiba.

Tiga hari yang lalu Dimas mendadak sakit, entah sakit apa. Menjelang Isya' Bapak dan Ibu saya menjenguk Dimas di Rumah Sakit. Saya yang waktu itu belum tau, lantas bertanya pada Ibu.

"Kok tumben pakai baju rapi, mau kemana buk?"

"Dimas sakit"

Sebenarnya jawaban ibu saya agak kurang nyambung dengan pertanyaan yang saya ajukan. Tapi di logika saja pasti bisa. Kalau ada orang sakit, pasti menjenguknya di Rumah Sakit kan?

Saya di rumah bersama Putri menunggu Bapak dan Ibu pulang. Tapi sampai larut mereka belum pulang juga. Saya maklum, Bapaknya Dimas itu kawan akrab Bapak saya. Bahkan dulu seingat saya Ibu saya dan Ibunya Dimas sering berkelakar kalau mereka ingin menukar anak kedua mereka, karena Orangtua Dimas mempunyai dua anak lelaki (Dicky dan Dimas) sedangkan orang tua saya mempunyai dua anak perempuan (Saya dan Putri). Mereka tidak mungkin menukar saya dengan Dicky, karena kami sudah cukup besar dan mengerti yang mana orangtua kandung dan orangtua tiri. Jadi muncullah guyonan penukaran anak kedua yang baru lahir. Itu berarti menukar Putri dengan Dimas.

Kembali ke cerita awal. Saya dan Putri sudah terlalu lelah menunggu Bapak dan ibu pulang. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
Pukul 2 dini hari, samar-samar saya mendengar suara Ibu yang membuka pintu kamar saya.

"Tik...tik...bangun...Dimas meninggal"

Jegeerrrr!!!
Bayangkan saja, dengan mata yang masih setengah terbuka saya mendengar kabar yang mengejutkan. Dimas, anak yang kemarin masih terlihat sehat itu tiba-tiba meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..

Bukan hanya perkara sakitnya yang mendadak saja yang membuat saya begitu heran, tapi juga perkara meninggalnya juga yang membuat saya sedikit belum percaya.

Ada efek yang sedikit menyimpang dari kematian Dimas. Adik saya, tidak berani tidur sendirian. Katanya dia takut dan masih teringat wajah Dimas setiap saat. Apalagi sehari sebelum sakit, Dimas masih bisa mengikuti ujian Madrasah dan Putri masih bertemu dengannya. Ditambah lagi, setiap berangkat dan pulang sekolah Putri selalu menaiki angkutan umum yang sama dengan Dimas. Itu membuatnya semakin sering teringat wajah Dimas. Putri memang agak berlebihan.

Saya mengatakan pada Putri agar tidak usah merasa takut. Dimas bukanlah seseorang yang perlu ditakuti. Ada baiknya sekarang kita doakan agar Dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan dari peristiwa ini juga saya lebih menyadari bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua bisa terjadi tanpa kita bisa menduga.

Akhir kata, saya pribadi mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Dan untuk Dimas, semoga kamu bahagia bersama malaikat disana. Selamat jalan, Dimas..

Tradisi Malem Jemah

Add Comment

Setiap Malem Jemah (Malem Jumat atau Kamis Malem) di kampung ada tradisi unik dan menarik. Sedikit penjelasan kenapa Kamis Malem disebut Malem Jumat menurut orang Jawa setiap melewati jam 6 malam hari tersebut sudah masuk hari berikutnya. Sama halnya kita menyebut Sabtu Malem dengan Malem Minggu.

Setiap Kamis sore orang-orang kampung pasti ziarah kubur. Entah itu ke kuburan orangtua, kakek-neneknya atau buyut bahkancanggahnya. Kebetulan di kampung ada dua kuburan, yaitu kuburan kampung (orang kampung menyebutnya Kluwur) dan satunya kuburan kecil. Rumah saya ngetanterus mentok belok kiri, sudah nyampai.

Sebagai anak yang berbakti pada agama, tentu saya juga tidak ketinggalan ikut ke Kluwur. Dulu waktu kecil biasa sama Bapak, ke kuburan orangtua Bapak. Saya bagian membawa sapu lidi buat bersihin daun-daun bambu yang menutupi. Sedang Bapak yang membawa kembangKuburan Kluwur  biasa ditempuh pakai jalan kaki atau terkadang naik sepeda.

Letaknya yang di bawah rumpun bambu apus, membuat kuburan sering tertutup daun-daun bambu kering. Dulu sih ada pohon beringin besar, tetapi entah mengapa tiba-tiba bisa tumbang dengan sendirinya. Menurut wong-wong tuo biyen, katanya diencot-encoti oleh pocong samagenderuwo jadi ambruk itu pohon beringin. Anda percaya? Saya juga tidak #hahahaha, mugo2gkualat.

Kalau sama Bapak sih enak. Saya hanya tinggal ngikutin, Bapak yang baca doa saya cuma amin. Tetapi kalau saya pas sendirian, Bapak masih bekerja di sawah. Ritual pertama bersihin daun pring. Setelah bersih baru baca doa. Jika yang lain baca buku Yassin. Dasar saya tidak mau repot, saya males bawa buku Yassin. Adapun yang saya baca:

Surat Al-Fatihah
Menyebut nama-nama Ahli Kubur (Simbah Kakung dari Ibu, Pak Lik, Simbah Kakung dari Bapak, Simbah Buyut)
Surat An-Naas
Surat Al-Falaq
Surat Al-Ikhlas
Astaghfirullah hal adzimsebanyak 33x
Tasbih 33x Subhanallah
Tahmid 33x Alhamdulillah
Takbir 33x Allahu-akbar
Laa ilaha illallah sebanyak 33x
Terus doa bahasa Indonesia (dalam hati)

"Ya Allah ampunilah dosa hamba dan kedua orangtua, saudara hamba. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba. Jauhkanlah orang-orang yang tadi saya sebut dari api neraka-Mu. Ampunilah dosa-dosa mereka. Limpahkanlah rejeki pada kami yang ditinggalkannya. Amin"

Setelah itu pulang. Beneran. Kadang malah lebih cepat soalnya ada beberapa dzikir yang saya cepatkan, saya korupsi jumlahnya. Padahal banyak warga yang datang lebih duluan dari saya masih khusyuk baca buku Yassin. Jadi datang terakhir tapi pulangnya duluan. Sayapun kadang juga geli sendiri.
Mungkin ahli kubur yang saya doakan menyindir jika mereka bisa

“Cepet men Le? Iku dungo opo balapan?”

“Porah Mbah, penting lakyo wis dungo, hahaha,” jawabku jika memang meraka bertanya.

Obrolan Ngalor Ngidul #2

Add Comment

Manusia hidup memang tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Memang begitu pula adanya. Orang yang tidak pernah punya masalah ialah orang yang sudah mati atau meninggal. Hanya dengan masalahlah kita bisa naik kelas dalam ujian kehidupan.

Malam itu kita bertiga berkumpul di kontrakannya Lukman yang ada di Mranggen, Demak. Reuni kecil-kecilan sembarimelepas kangen. Lukman meneruskan hidup sesuai dengan jalur akademisnya, yaitu menjadi seorang guru olahraga. Sedangkan saya dan Soni masih belum menemukan pakem mana yang harus kami perjuangkan. Meski setidaknya itu sudah mulai sedikit terang.

Oh ya lupa, Lukman tinggal bersama istrinya. Istrinya sudah masuk kandungan lima bulan. Badjingan sekali memang, di saat kita berdua masih fakir asmara. Dia hendak menjadi seorang ayah dalam hitungan bulan. Saudara macam apa itu, hehehe. Setidaknya kami bersyukur bahwa “anunya” bisa buat istrinya “mplenting”.
Tak elok rasanya yang namanya melekan tidak ditemani dengan segelas kopi. Walau pilihannya hanya kopi instan.

“Aku diberi modal bapak ibuku 15juta, Lek. Aku bingung mau usaha apa?” curhat Soni dengan menyesap kopi panasnya.

"Lha kok iso diwenehi modal semunu?"

"Mbokku mbi bapakku gregeten Lek. Dungokno suoro-suoro sing ora kepenak. Ndelok anake sarjana sampai saiki kok durung kerjo-kerjo. Akhire diwenehi duit semunu mau."

“Lho malah enak iku. Gawe usaha fotocopi wae. Kayake di Pati masih jarang sekali,” sahut Lukman sembari matanya memastikan bahwa istrinya sudah terlelap tidur. Sudah menjadi suami yang serba siaga satu melihat kondisi kehamilan istrinya yang sudah masuk bulan lima.

“Wingi aku yowis takon-takon ruko. Ndilalah oleh ruko ngarep Rumah Sakit Keluarga Sehat. Jaluke 2,5jt setahun.”

“Lha kuwi pas. Cocok. Angger ndang dijupuk. Selak kedisikan wong!” sahut Lukman dengan semangat.

“Mending kamu perkiraan disik. Kira-kira habis berapa itu usaha,” balas saya biar tidak disangka sahabat yang tidak pengertian mendengar keluh kesahnya. “Kowe ra ngeloni bojomu?”

Saya melirik ke Lukman.

“Jiangkrik, nak aku tego kelon karo bojoku. Mesake kowe-kowe kuwi. Mundak kepengen, hahaha.”

Jawaban yang lumayan asyu, tapi masuk akal. Kami tertawa bersama. Memang terkadang semua beban hidup akan nothing di hadapan tawa.

Malam itu kami ngobrol banyak hal. Mulai dari memperkirakan apa-apa yang diperlukan jika membuka usaha fotocopi. Range-range masalah dana. Sampai membahas ke masalah asmara percintaan.

“Jane aku ki dikon bapakku lek ndang nikah-nikah!” keluh Soni.

“Lha ngopo lek gak ndang?” sahut saya.

“Lha ngopo kowe yo lek gak ndang nikah?” Soni balas bertanya.

“Badjingan, takonku wae durung mbok jawab malah gentian takon. Iku panjang ceritane. Nak tak ceritake ora bar-bar mengko, hahaha.”

“Kowe-kowe kuwi mbokyo podo iling umur. Wis meh kepala tiga, lho. Ojo main tangan wae, hahaha,” seloroh Lukman.

“Asyuuuuuuuuu,” jawab kami bersama.

“Aku ki sebenere kadang ki yo iri. Pengen lek ndang duwe bojo. Sepantaranku wis do gendong anak kabeh je. Tapi kadang di sisi lain aku iseh pengen dewean. Kadang yo iseh ragu dewe. Iseh wedi mergo durung duwe penghasilan tetap. Ndilalah pas jawab ngunu kui, diskak Mbokku. Biyen pakmu karo mbokmu iki bar nikah ora kerjo, nyatane yo iso mangan. Mak klakep nu aku nak wis ngunu kuwi.”

“Modyar we, hahaha,” jawab Lukman singkat.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Tiba-tiba, ada suara…

“Yank, lapeeeeeeerrrrrrrrrrrrr!”

Asal suara dari dalam kamar tidur. Suara wanita yang divokalkan agak manja-manja gimana gitu. Taek tenan.

Lukman secara reflek langsung bangun jeng girat masuk ke kamar. Memastikan belahan badan jiwanya itu tidak kenapa-kenapa.

“Yuni ngeleh. Jaluk digawekno mie,” ujar Lukman selepas keluar dari kamar.

Kami berdua hanya tertawa melihat mimik wajahnya yang gimana gitu. Seorang pria tidak boleh kalah dengan wanita atau istri, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki kewajiban menghormati dan menghargai istrinya.

“Ni, ketone mangan mie enak yo. Sisan yo,” teriak saya dari ruang tengah.

“Asyuuuuu, gawe dewe!”

Mungkin seperti itulah kelak yang akan kami temui jika memang kami sudah ditakdirkan menikah. Setidaknya kami bisa belajar dari apa yang sudah sahabat kami (Lukman) lalui. Dan kelak kami bisa meminta saran atau masukan atas apa-apa yang sudah mereka lalui bersama. 

Colidan, Suplemen Asam Lambung Keluarga

Add Comment

Menjadi perantauan yang jauh dari keluarga memang gampang-gampang susah. Selain tentunya dituntut untuk serba mandiri di sini. Kalau di rumah mungkin setiap kali mau makan, sudah tersaji di meja makan. Tetapi bagi anak kos dan koleganya, makan harus beli atau masak dahulu. Kalau sakit di rumah ada ibu yang siap mengurus, tetapi kalau di perantauan harus mandiri.

Bekerja di perbankan yang tak jarang lembur menyelesaikan tugas sudah menjadi rutinitas. Berangkat pagi, pulang malam. Tak pelak membuat pola makan saya terkadang amburadul. Sering makan telat. Ujung-ujungnya berdampak pada kondisi maag atau lambung.

Selesai pulang kerja, kebetulan tidak ada lembur, saya bergegas pulang ke kos. Sekalian mandi dan langsung makan. Maklum, tadi siang hanya makan ringan karena tugas yang harus selesai dikerjakan. Ketika sampai di kosan tiba-tiba perut ini sakit tidak karuan.

"Dik, bisa ke sini tidak?" Ucapku di ujung telpon. Saya lantas menelpon si pacar yang kebetulan masih kuliah.

"Iya, Mas. Mas kenapa?" Jawabnya

"Tidak tahu nih, Dik. Tiba-tiba perutku sakit melilit."

"Mas tadi siang belum makan ya?"

"Hehehe, cuma ngemil tadi siang."

"Mas ini kebiasaan sih. Sudah dibilangin jaga pola makan. Masih saja teledor. Kalau jaga sendiri saja masih begini, bagaimana nanti mau jagain aku. Yaudah Mas istirahat saja dulu. Nanti saya beli obat di apotek sekalian beli makan."

Telepon ditutup. Yah, kena omelan deh. Tak berselang lama terdengar suara sepeda motor pacar saya. Suda hafal betul dengan suaranya.

"Ini Mas makan dulu. Baru setelah itu makan obat sakit maagnya. Sudah besar gini masih saja telat makan," cerocosnya sembari membukakan nasi bungkus yang disiapkan di piring."Sekalian disuapi?"

"Hehehe, tidak usah, Dik!" Jawabku dengan cengengesan. Jujur kalau dia sedang marah atau ngambek makin bersinar kecantikannya#gombal.

"Ini minum dulu obatnya, Mas! Biar cepat mendingan perute."

"Itu obat apa Dik?"

"Ini Colidan. Sudah to diminum dulu baru tanya, hiiisssshhh."

"Iya-iya bawel."

Jujur sebenarnya minum obat bukan favorit saya. Dan saya yakin juga favorit semua orang. Apalagi untuk minum obat sakit maag atau suplemen asam lambung apalah itu namanya. Tetapi tidak ada salahnya dicoba. Namanya juga ikhtiar.

"Yang selalu bikin bawel siapa? Coba kalo jaga pola makan. Kan gak jadi bawel gini," balasnya dengan menjulurkan lidah.

"Ini sisanya disimpan buat, Mas. Buat jaga-jaga siapa tahu mau sakit maag lagi. Kalau perlu simpan di tas kerjanya, Mas."

"Kok doanya gitu sih?"

"Ya lagian, disuruh jaga pola makan sulitnya minta ampun. Kerja sih kerja Mas. Tapi kalo tidak bisa jaga kesehatan, ya namanya kita dikerjain. Kerja kan buat ditabung buat kita kelak nantinya, bukannya habis buat berobat sakit akibat kerja."

Kalau sudah begini mau tidak mau hanya mendengarkan. Bisa lebih panjang kalau hendak membela. Lha wong juga salah saya sendiri sih. Dan hanya beberapa menit rasa sakit di perut sudah berangsur-angsur berkurang. Alhamdulillah.

Ceritanya lebay ya? Ya bagaimana lagi. Memang begitu adanya. Bagi teman-teman yang memiliki sakit maag kronis. Boleh kok mencoba minum Colidan. Kandungan fucoidan atau ekstrak ganggang laut cokelat asal Okinawa Jepang ini, bisa membantu melindungi kesehatan lambung. Yang tidak kalah keren dari obat suplemen lambung ini adalah dapat merangsang enzim yang mempercepat penyembuhan dinding lambung yang luka. Kalau kebanyakan obat penyakit maag lain hanya meredakan rasa sakit, Colidan memiliki nilai plus menyembuhkan kondisi lambung juga.


Konsumsi Colidan sebagai sahabat lambung kita.

Interview Gokil Yang Pernah Dialami

Add Comment
Interview | www.asdanet.org

Siapa sih yang tidak pernah diinterview? Diwawancarai? Bukan hanya ketika melamar kerja saja kok. Ketika hendak melamar anak orang pun juga demikian. Ketika meninggal ada 2 malaikat yang siap interview kita semasa di dunia.

Lantas pernahkah kalian mengalami sebuah interview yang menurut kalian nyeleneh atau gokil? Bisa dari pertanyaan-pertanyaan yang di luar ekspektasi kita selaku yang diwawancarai. Saya yakin pasti pernah, meskipun hanya sekali.

Berikut ini saya ceritakan contoh interview yang pernah saya alami sendiri. Jadi ceritanya saat itu saya mengikuti tes masuk pegawai KAI. Alhamdulillah sampai ke tahap wawancara. Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi PT KAI ketika wawancara siapkan mental kalian. Karena pertanyaan sesuai dengan mood dua pegawai KAI yang mengetes.

"Siapa yang suruh kamu duduk?" Kata salah satu pewawancara.

Langsung mak tratap, reflek saya berdiri kembali. "Maaf, Pak!" Jawabku sok diplomatis meski dalam hati sudah misuh-misuh,'modyar kowe.' Rasa kikuk pun menyerang.

Akhirnya saya dipersilakan duduk oleh pewawancara satunya.

"Kamu agamanya apa?" Tanya bapak pertama tadi. Sedikit judes. Mentolo juotosi.

"Islam, Pak!"

"Hafal ayat kursi?"

"Tidak, Pak."

Bapak tersebut tertawa. Bapak satunya hanya tersenyum. Uasu tenan.

"Ngakunya Islam kok gak hafal ayat kursi," bapak satunya ikut berbicara menimpali.

"Aku saja hafal kok," sahut Bapak yang pertama.

Saya diam klakep. Mikir apa yang harus aku jawab sebagai serangan balik. Harus mengena tapi tidak berzsa menghina.

"Hafal tidaknya ayat kursi kan, bukan patokan Islam tidaknya seseorang, Pak!"

Tam dum dis. Kedua Bapak di depanku gantian diam mak klalep. 'Modyar we pak.'

"Heeemmm...bener juga kamu. Yawes sebagai gantinya bisa baca syahadat?

"Ashadu ala ila haiallah, ashadu ana muhammada rasulullah."

"Hafal rukun Islam?"

Duh Gusti. Saya sempat heran, ini wawancara pegawai KAI apa wawancara pegawai Kementrian Agama?

"Hafal Pak. Rukun Islam: Membaca Syahadat, Menjalankan Sholat, Zakat, Puasa di bulan Ramadan dan Naik Haji bila mampu," jawabku setegas mungkin.

"Kalo rukun iman hafal?"

"Hafal pak. Rukun Iman, iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada qada dan qodar."

Bapak-bapak di depanku hanya manggut-manggut, yang saya sendiri tak tahu maksudnya. Saya sempat bersyukur ketika tak sengaja menengok samping.

Lha bagaimana tidak bersyukur coba yang lain ada yang disuruh nyanyi Indonesia Raya, disuruh push up (kowe kudu sangat, kawan), disuruh baca al quran, dan tes aneh-aneh lainnya. Dan saya yakin mereka tidak pernah membayangkan akan di tes seperti itu.

"Tahu cos 60 berapa?"

Lha ini, pertanyaan yang ada sangkut pautnya dengan akademik saya. Keluar juga dirimu hai matematika. Reneo karo bapak.

"Tahu pak, cos 60 itu 1/2."

Bapak yang kedua sibuk menulis di kertas. Entah apa yang ditulis. Nulis apa gambar saya juga tidak tahu.

"Yawes, sudah selesai wawancaranya."

Lho lah, dah selesai. Ngunu tok. Ya Allah ya Robbi. Saya pamitan dan tidak lupa bersalaman dan mengucapkan salam terima kasih.


Langsung saja endingnya ya, pengumuman malam itu alhamdulillah lolos ke tahap akhir, yaitu tes kesehatan akhir. Tapi mungkin memang belum rejekinya di PT KAI *tears*. Ketika pengumuman final nama saya tidak tercantum. Duh Gusti Paringono Sangar.

Mampir ke Bakmi Jowo Mas Ayu

Add Comment

Sore, setelah mengantar calon istri ke bandara Ahmad Yani Semarang, aku putuskan untuk balik ke Purwodadi. Awan mendung datang tiba-tiba menghiasi langit. Hujan tinggal menunggu waktu. Dan benar saja, belum jauh keluar dari bandara, hujan mengguyur deras kota lumpia. Tiba-tiba perut berontak minta diisi. Aku putuskan untuk mampir ke suatu tempat. Dulu sewaktu masih kuliah dan merantau di Semarang, tempat yang akan kutuju ini adalah tempat makan langgananku.
Kurang lebih 15 menit, akhirnya aku sampai di tempat tersebut. Bakmi Jowo Mas Ayu. Letaknya di Jalan Musi Raya.
Suasana warung tidak begitu ramai saat aku tiba. Terlihat dua pria beda generasi sedang sibuk memasak di atas tungku. Keadaan warung masih sama seperti beberapa tahun lalu. Hanya spanduk di depan warung yang diganti. Lebih cerah dan berwarna.


Spanduk depan warung Bakmi Jowo Mas Ayu
Spanduk depan warung Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

“Oalah Mas Andre. Lama tidak kelihatan Mas!” sapa salah satu pria muda. Namanya Ucil. Asalnya dari Wonosobo. Salah satu karyawan di warung bakmi ini.
Aku hanya tersenyum. Mencari tempat duduk.
Saat akan duduk, tiba-tiba ada suara yang familiar terdengar lagi.
“Oalah kamu to Ndre. Ya wes duduk dulu atau buat minum sendiri di belakang,” sapa pria yang juga sibuk memasak tadi. Ya. Beliau Pak Sumardi. Selaku pemilik warung bakmi jowo ini.
Menu sajian warung bakmi jowo di sini cukup bervariasi diantaranya; nasi goreng, nasi ruwet, bakmi goreng, dan bakmi godog. Ada pula tambahan lauk kerupuk, sate ayam, dan kepala ayam. Menu andalanku adalah Nasi Ruwet Godog; nasi (goreng) ruwet diberi kuah pedas.
Di dalam juga disediakan televisi sebagai hiburan, sebagai penghilang bosan bagi pelanggan yang sedang menunggu pesanan ketika warung sedang ramai-ramainya.
“Sehat Ndre?” ucap Pak Sumardi yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Alhamdulillah baik Pak,” jawabku sembari bersalaman.
Pak Sumardi sudah aku anggap sebagai bapak ketika merantau di Semarang dulu.
“Ini dimakan. Masih suka pedas to?” sambungnya menyerahkan sepiring bakmi godog.


Bakmi Godog Warung Bakmi Jowo Mas Ayu
Bakmi Godog Warung Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo
Semangkuk Cabai Rawit yang disediakan di tiap meja Warung Bakmi Jowo Mas Ayu
Semangkuk Cabai Rawit yang disediakan di tiap meja Warung Bakmi Jowo Mas Ayu | © Dwi Andri Yatmo

Malam itu hujan masih belum reda. Namun tidak menyurutkan orang-orang untuk datang membeli. Biasanya ketika pembeli memesan akan langsung ditanyai pedas atau tidak? Pakai telur atau tidak? Sudah mencari ciri khas beliau (Pak Sumardi) dan diajarkan kepada para karyawannya.
Jika dirasa rasa pedasnya masih kurang. Tenang, di setiap meja disediakan semangkuk cabai rawit yang siap dinikmati.
“Kok cuma satu orang Pak yang membantu?”
“Gak apa-apa. Banyak karyawan malah bingung ngaturnya. Susah sekali diarahkan untuk kebaikan mereka juga. Padahal kerja di sini ya gak otoriter lho. Bonus kalau warung ramai juga ada. Gaji bulanan ada. Makan, minum, dan rokok juga diberi.” pak Sumardi menjawab.
Pak Sumardi ini asli Sukoharjo. Bu Sumardi (istrinya) juga sama. Mereka berdua merintis usaha bakmi jowo sudah puluhan tahun di Semarang. Mulai dari pakai gerobak keliling hingga akhirnya menetap di warung ini yang disulap juga menjadi rumah di lantai dua. Belum lagi usaha kos-kosan yang tidak jauh dari warung. Itu semua adalah jerih payah, hasil dari berjualan bakmi jowo. Seperti karakter orang Solo, meskipun perawakannya yang sangar dan cenderung menakutkan, Pak Sumardi ini justru grapyak dan sumehkepada semua orang.
“Kenapa sih Pak pakai nama “Mas Ayu”?
“Kan Mas itu maskulin pak. Sambungannya Ayu lagi.”
Itulah pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan kepada beliau.
“Itu sebenarnya dari bahasa Jepang, Masayu. Yang memiliki arti; menguntungkan dunia. Atau memberikan rejeki yang berkah dan barokah. Biar terlihat lebih njawani, makanya saya pecah menjadi Mas Ayu.”
Ada doa di dalam pemilihan nama warung ini. Pak Sumardi —yang katanya tidak sekolah tinggi tersebut— dapat membungkusnya seolah hanya kalimat biasa dan tidak ada artinya. Itulah hakiki sebuah doa. Tanpa perlu orang lain tahu. Tak bermaksud be-riya’. Biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Pak Sumardi, pemilik Warung Bakmi Jowo Mas Ayu
Pak Sumardi, pemilik Warung Bakmi Jowo Mas Ayu. | © Dwi Andri Yatmo

“Pak sudah. Bakmi dua, kerupuk satu, sate dua, es teh dua.” Seorang pelanggan berdiri hendak membayar.
“Bakminya pake telur atau tidak, Mas?” balas Pak Sumardi.
Mboten, Pak!”
“Bakmi dua 14 ribu, sama sate dua jadinya 18 ribu, es teh dua jadinya 22 ribu. Kerupuknya seribu.”
Harga menu di sini masih tetap sama. Tidak ada yang berbeda. Untuk sajian makanan tanpa telur dihargai 7 ribu sedangkan kalau pakai telur jadi 9 ribu. Sate ayam harganya 2 ribu per tusuk dan kerupuk seribu rupiah. Murah! Kalau kalian sedang dompet tipis ingin mengajak pacar makan di malam minggu datang saja ke sini.
Salah satu kebiasaan yang tidak pernah hilang dari Pak Sumardi: selalu memberi lebih. Apalagi untuk tetangga yang biasa membeli di sini. Pasti diberi lebih, baik itu diberi tambahan sate ayam, kerupuk, es teh, atau teh anget. Bahkan tak jarang menggratiskan makanannya.
Mengenai kebiasaan memberinya tersebut dulu pernah aku tanyakan secara langsung. Apa tidak merasa rugi?
“Saya bersyukur sudah diberikan rejeki yang banyak oleh Allah dari sini. Dengan memberi kepada sesama itu juga bentuk syukur saya kepada rejeki yang diberikan-Nya. Masalah rugi atau tidak, itu urusan belakangan. Jangan pernah sekali-kali perhitungan dalam hal bersedekah,” jelas Pak Sumardi.
Alhamdulillah, beberapa bulan kemarin Pak Sumardi diberi momongan seorang putri. Meski melihat usianya seharusnya Pak Sumardi sudah memiliki anak perawan. Tetapi tidak jadi soal, karena menurutnya bukan masalah waktunya. Tetapi masalah kesiapan hati untuk menerima rejeki diberi tanggung jawab seorang anak. Kalian tahu nama anak pertamanya? Masayu Nur Alifa. Kata “Masayu” disematkan, tidak lain tidak bukan untuk mengharapkan berkah dari putri tersebut kelak di kemudian hari.
Masih ingin rasanya bercengkerama dengan beliau, tapi melihat jam dinding yang tersemat di warung menunjukkan sudah pukul 9 malam, mengharuskanku untuk menyudahi silaturahmi ini. Hujan juga sudah sedikit reda. Perjalanan dua jam ke Purwodadi sudah menanti.
“Pak saya pamit dulu sudah malam. Harus balik lagi ke Purwodadi. Tadi bakmi godog, es teh, sama dua sate ayam,” ujarku sembari berpamitan.
“Sudah tidak usah. Salam saja buat Bapak dan Ibumu di rumah.”