Mixtape Untuk Mereka Yang Datang di Pernikahan Mantan

Add Comment

Dwi Andri YatmoBeberapa bulan yang lalu sempat viral sebuah video seorang mantan yang mengamuk di pernikahan mantannya. Hingga memaksa si MC memberikan kalimat yang sangat viral sampai saat ini. “Mohon maaf ini ujian. Mohon bersabar. Ini perjuangan!”

Belum kering juga di ingatan sebuah video yang tidak kalah viralnya ketika seorang cewek datang ke pernikahan mantannya yang sudah pacaran puluhan tahun. Bahkan sampai pelukan dan pada menangis sesenggukan. Ketika menjalin hubungan puluhan tahun tentu memiliki rencana untuk ke jenjang pernikahan. Tetapi apa mau dikata, Gusti Allah berkehendak lain.

Saya yakin semua pembaca memiliki apa yang dinamakan mantan. Mantan pacar, mantan laki, mantan bini. Entah berapapun itu. Ada yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan mungkin ada yang tidak bisa dihitung karena saking banyaknya. Itu laku atau memang ngobral?

Membahas yang namanya mantan memang radak sedep-sedep gimana gitu. Karena ada dua anggapan mengenai mantan. Pertama, ada yang beranggapan mantan adalah masa lalu. Hal yang layak dilupakan. Tak ada gunanya untuk diingat-ingat atau diungkit-ungkit. Terekstrem mungkin menganggap mantan itu adalah musuh. Hapus kontak nomornya di hape. Unfriend di media sosial. Kalau perlu diblokir sekalian. Ada yang kayak gitu?

Kedua, beranggapan bahwa mantan itu sahabat, teman dan seseorang yang harus tetap dijaga silahturahminya meskipun sudah putus. Sulit memang dan jarang sekali dijumpai. Dan ada tujuan tersembunyi, apalagi kalau bukan CLBK. Kan sekali lagi kita tidak tahu. Dengan masih dekat mungkin rasa sakit perpisahan tidak begitu sakit. Karena toh kita masih bisa berhubungan. Ada yang kayak gini?

Banyak alasan yang mendasari seseorang untuk memutuskan sebuah hubungan pacaran. Banyak sekali. Lha wong dalam pernikahan yang sudah bertahun-tahun saja bisa bubar. Apalagi ini cuma sebatas pacaran. Rawan, Bung!

“Maaf kamu terlalu baik untuk aku.” Alasan badjingan yang sering dipakai untuk menolak seseorang atau memutuskan hubungan. Trus abang kudu dadi penjahat, Neng?

“Aku mau fokus sekolah dulu.” Alasan bedebah lainnya.

“Maaf kamu jelek,” atau “Maaf kamu kere!” alasan jujur tapi tetap saja guateli.

“Maaf saya sudah dijodohkan sama orangtua! Bulan depan mau nikah” :’(

Alasan termutakhir dalam mengakhiri sebuah hubungan. Makjlebnya sungguh kebangetan. Hubungan selama ini tidak direstui atau disetujui oleh orangtua. Karena orangtua itu ibarat hakim dalam sebuah persidangan. Ketika palu sudah diketok, selesai sudah hubungan.

Ya sama cerita di awal yang sudah saya sebutkan tadi. Jika si mantan tidak terima akhirnya ya ngamuk di pernikahan mantannya. Ini perbuatan bodoh dan tidak penuh perhitungan. Kan ya bisa datang ke pernikahan mantan dengan baik-baik. Itupun kalau diberi undangan. Karena 9 dari 10 mantan yang mau nikah tidak bakalan mengundang mantannya datang. Intinya sebagai kebaikan kedua belah pihak. Ya sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lantas kalo ndilalah mantan tetap saja ngasih undangan nikahan apakah tetap perlu datang? Kamu ini orang Islam atau bukan? Sesama muslim jika diundang ya harus datang. Orak elok kalo gak datang. Berarti si mantan menganggap kalian bukan musuh atau sesuatu yang patut dilupakan. Ya datang saja. Gitu aja kok repot.

Jangan sok-sokan bawa gebetan palsu atau bayar seseorang untuk diajak ke kondangan. Kalian harus jujur pada diri sendiri. Kalau masih jomblo ya datang saja sendiri. Seolah memperlihatkan ini lho saya juga bisa move on  darimu. Jangan! Jangan pernah munafik.

Saran saja ketika datang ke pernikahan mantan, cek terlebih dahulu di undangan apakah kolom hiburan diisi. Kebanyakan orang punya gawe nanggap hiburan musik. Dangdutan. Bisa mulai dari dangdut lesehan, organ tunggal, sampai dangdut panggung. Kalau di kolom hiburan diisi dangdutan. Kamu patut bersyukur alhamdulillah. Sumbanglah sebuah lagu dangdut.

Kenapa dangdut? Lagu ini lagu merakyat. Diterima semua lapisan semua masyarakat Indonesia. Dengar suar ketipung tubuh siapa yang tidak mau gerak. Ujung-ujung bakalan joget jika tidak malu-malu. Daripada harus ngamuk gak karuan yang tentu merugikan diri kalian sendiri. Lhakyo mending nyanyi. Ungkapkan semua isi lagi lewat lagu. Yakinlah bahkan orang Indonesia karaoke itu 99% curhat sisanya 1% nyanyi.

Lha kalo semisal di undangan tidak ada hiburan? Kalau semisal kalian kelebihan duit, sewa saja organ tunggal untuk mengiringi. Orangtua mantan mungkin malah bersyukur kamu menyumbang hiburan di pernikahan anaknya. Gratis pula.

Anggap saja, pernikahan mantan kalian ada hiburan dangdutnya. Lantas berikut ini saya berikan pilihan beberapa lagu yang cocok kalian nyanyikan di hadapan mempelai berdua. Urusan suara kalian fals, cempreng atau jelek urusan belakangan.


1. Kandas – Evie Tamala
Lagu ini seolah menjadi lagu wajib bagi mereka yang berakhir hubungan. Kandas, Bung! Ditinggal nikah duluan sama mantan apapun itu alasananya. Kelamaan nglamar misalnya, memang menyakitkan. Padahal selama ini sudah kerja keras banting tulang demi-semata-hanya mantan tak tahu diuntung itu. 

Eh, giliran pulang dengan membawa sebongkah berlian, si mantan malah udah dilamar orang.  Lagu Kandas ini pantas untuk dinyanyikan di pernikahan mantan pacar. Lebih syahdu lagi jika si mantan itu mau diajak duet nyanyi bersama. Berpegangan tangan. Terus sampai pelukan sesenggukan sembari menyanyikannya.

Sesal kian mendera
akhir sudah cerita kini kau telah berdua
itu kenyataannya
bila saja kutahu bahwa kesetiaanmu begitu dalam padaku
takkan aku mengingkari janjiku

Sekian lama kucari dirimu kasih
dari waktu ke waktu kucari
hingga putus asa diri ini
Dan betapa kusesali yang telah terjadi
kekasih yang paling kucintai kini terluka hati


2. Delima – Jotha RG & Yulia Citra
Jika kita sudah bekerja keras, bahkan sampai rela jadi TKI di luar negeri sono. Pulang ke kampung halaman membawa uang segepok untuk melamar si doi. Lha kok malah si doi ini menikah duluan. Sakit memang.

Terkadang realita tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Badjingan sebadjingan-badjingannya. Lagu ini cocok dinyanyikan berduet. Ajak si mantan untuk ikutan bernyanyi.

Delima oh delima
sambutlah 'ku datang
dengan senandung lagu melayu

Delima oh delima
aku tak menyangka
kiranya dirimu telah berdua


3. Cidro – Didi Kempot
Dikhianati itu memang paling menyakitkan. Apalagi si mantan berkhianat lantas menikah dengan oranglain. Kayak dihujani ribuan pisau di dada. Kita sudah percaya kepada dia. Tetapi ujung-ujung malah dikhianati lantaran permasalahan materi. 

Dia berkhianat karena memilih ornaglain yang lebih tajir. Lebih sugeh. Mas Didi Kempot ini bisa dikatakan sudah khatam dalam hal perasaan dikecewakan. Salah satunya ya melalui lagi Cidro ini. Sangat layak dinyanyikan di pernikahan mantan durjana itu.

Gek opo salah awakku iki
Kowe nganti tego mblenjani janji
Opo mergo kahanan uripku iki
Mlerat banda seje karo uripmu


4. Kelingan Mantan – NDX AKA

Kebanyakan persoalan asmara terhalang restu dari orangtua. Terutama dari pihak ibu, walau tak jarang juga datang dari pihak ayah. Ya tugas kita meyakinkan bagaimana pihak orangtua doi bahwa kita bisa membahagiakan anaknya.

Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Tetapi jika semua usaha sudah kita lakukan tetapi hasilnya juga akhirnya berpisah. Berikan motivasi kepada diri bahwa kalian memang tidak jodoh. Sembari misuh juga tidak apa-apa. Lagu ini cocok sekali dibawakan di pernikahan mantan. Syukur-syukur kalian membawa pasukan joget Temon Holic. Biarlah lagu ini mengiringi kebahagian mantan.

Dek koe mbiyen janji karo aku
Nglakoni tresno suci kanthi ikhlas tekan mati
Neng nyatane ngapusi, cidro ati iki
Netes elohku mili deres neng pipi

Cewek:
Mas pangapurane kanggo awakku
Mergani tresno iki tak direstui ibuku
Aku mblenjani janji cinta kita ini
Lilakno aku kanti ikhlas ati, lilakno aku kanti ikhlas ati


5. Loro Ati – NDX AKA
Idem di atas. Bisa dipakai sebagai alternatif jika lirik lagu di atas tidak hafal-hafal betul.

Cidro mergo sliramu
Jarene tresno aku
Nanging kowe ninggalke aku
Kabeh janjimu mung palsu

Kowe pancen tego
Medot talining asmoro
Lorone ati nganti ra biso ditambani
Tresnaku iki ora bakal direstoni
Nyang wong tuomu nganti tekan aku mati

Cewek:

Pangapurane mas
Aku wes ninggal kowe

Dudu karepku,ku mung manut bapak ibu

Kabeh mau gawe cidro ning atimu

Mergane aku dijodokke wong tuoku


6. Angge-angge Orong-orong – Didi Kempot & Dewi Angin angin

Percayalah bahwa pacaran adalah hubungan yang rawan. Rawan putus bung! Wong hubungan yang didasari komitmen saja terkadang harus oleng di tengah jalan. Ya. Bercerai. 

Jika ndilalah kalian dapat undangan mantan bini atau laki yang menikah lagi, lagu ini sangatlah pas dibawakan. Sangat sesusai dengan kondisi yang kalian rasakan. Sekali menikah dapat langsung satu paket dengan anak-anak yang diperoleh dari pernikahan sebelumnya.

Angge-angge orong-orong
Ora melok nggawe melok momong
Rondo randane ompong
Nduwe anak sak gede kingkong
Angge-angge orong-orong
Ora melok nggawe melok momong

7. Tewas Tertimbun Mantan (TTM) – NDX AKA
Saya kok heran duo (NDX AKA) ini lagunya semua patah hati. Tapi ya bagaimana lagi, lagu-lagunya cocok dengan apa yang ada di realita sekarang ini. Terutama yang dialami para jomblo-jomblo. Saya juga sih. Seseorang yang pernah singgah di dalam hidup kita ketika memutuskan untuk menghilang dari kehidupan memang memilukan.

Ujung-ujungnya seperti di atas sebelumnya ijin orangtua. Bagi kalian yang berpendirian bahwa tetap berusaha sebelum janur melengkung pas dengan lagu satu ini. Kalaupun sudah melengkung kan bisa diluruskan dengan disetrika, Mas! Durung sempet tak rabeni kowe Dik! Lha kok wis mblenjani janjimu to Dik! Uasuu

Aku ra iso lali, udan grimis sing dadi seksi
Durung sempet tak rabeni janjimu wis tok blenjani

Kowe tau ning uripku...
Tansah ono ning atiku
Ra bakal luntur sak durunge...
Janur kuning melengkung
Opo kowe ra kelingan...
Mbiyen mlaku bebarengan
Ibarat langit karo rembulan...
Tresnaku ra bakal ilang...
Sayang...


8. Kimcil Kepolen – NDX AKA
Benar pepatah anak muda saat ini, Jarene rak Ninja rak ono dicinta. Jarene rak (satria) Fu Ora I Love You. Terkadang banyak wanita yang orientasinya hanya materi, maetri dan materi. Dan kalo kalian kere atau miskin, mesti dipandang sebelah mata.

Banyak yang ingin mencari pasangan mapan sandang, pangan dan papan. Lha yang mapan itu rata-rata sudah menikah je. Inilah kesalahkaprahan dalam melihat pernikahan. Menikah itu ya berjuang bersama untuk sukses. Jika mantan kalian meninggalkan lantaran perkoro bondo nyanyikan saja lagu ini. Uasu og!

pancene koe pabu nuruti ibumu
jare nek ra ninja ra oleh dicinta
opo koyo ngene susahe wong kere
ameh nyandeng tresno kalah karo bondo

jaremu nek ra fu koe ora i love you
jaremu nek ra ninja koe ora cinta
nanging pie meneh aku wong ra nduwe
kalah bondo menang rupo kuwi saklawase


9. Jambu Alas – Didi Kempot
Move on memang bukan perkara mudah. Gampang memang diucapkan tapi terkadang melakukannya setengah modyar sulitnya. Momen krtitis Bung! Ibarat nila setitik rusak susu sebelangga. Rusak move on lantara sms “lagi apa?” atau “ketemuan yuk!”. Itu mending mantan belum nikah.

Lha kalo putus lantaran menikah dengan oranglain tetapi ketikas rasa sayangnya sedang banyak-banyaknya. Mampus dah! Tak apa. Jika kalian beranggapan bahwa kalo jodoh tidak akan kemana cocok sekali dengan lagu satu ini. Tidak peduli apa yang terjadi saat ini, optimis saja menunggu sampai dia ceras, hahaha

Jambu alas kulite ijo
sing digagas wes duwe bojo
Ada gula ada semut
durung rondho ojo direbut

Jambu alas nduk
manis rasane
Snajan tilas
tak enteni rondhone


Lantas ketika sudah datang ke kawinan mantan apakah perlu nyumbang pake amplop? Hahaha kalian ini guoblok atau gimana sih? Ya kalo mau jadi mantan yang sehormat-hormatnya dan sebaik-baiknya ya tidaklah. Lha kalian ini tidak diundang tapi mekso datang je. Ngerusak pemandangan dan suasana saja!

Carica Gemilang Wonosobo

Add Comment
Dwi Andri YatmoInilah pertama kali saya berkunjung ke Wonosobo. Perjalanan ini saya lakukan dalam rangka pekerjaan, merekam beberapa shot video di Wonosobo dalam pembuatan company profile perusahaan. Meski dalam rangka tugas kerja, saya masih bisa jalan-jalan. Saya berangkat dari Semarang pukul 7 pagi dan akhirnya sampai di Wonosobo sekitar pukul 10-an.

Ketika memasuki wilayah Temanggung, udara dingin sudah menyambut. Memasuki wilayah Wonosobo udara dingin semakin bertambah, disertai pula gerimis. Makin lengkap saja pengalaman pertama bertandang ke wilayah dataran tinggi ini.

Sebelumnya, saya membaca mie legenda; Mie Ongklok yang terkenal di Wonosobo. Kuliner khas Wonosobo yang patut dicoba. Hal itu menjadi salah satu tujuan saya nantinya, jika proses pengambilan gambar selesai. Setelah berkutat kurang lebih dua jam, akhirnya proses pengambilan video dan gambar selesai juga. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saatnya berburu kuliner Mie Ongklok sesuai penjabaran Moddie Alvianto Wicaksono.

Terasa kurang lengkap rasanya jika sudah berkunjung ke Wonosobo jika tidak mengicip buah tangan paling khas, Carica! Berbekal informasi teman, saya bertandang ke salah satu produsen manisan carica khas Wonosobo.

“Pokoknya datang saja ke sana. Selain mendapatkan manisan carica yang bagus. Kau akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari pemiliknya.”

“Nama merek manisannya apa?”

“Carica Gemilang. Alamatnya ada di jalan Siyono, 02/III, Bojasari Kertek, Kab. Wonosobo Jawa Tengah, Indonesia 56371.”

Berbekal alamat yang diberikan, saya menuju tempat tersebut. Tak lupa mempersiapkan diri dengan bantuan google maps. Meski sudah dibantu teknologi, tetap saja saya butuh bertanya ke warga sekitar. Penunjuk arah yang paling hakiki!

Terlihat sebuah papan plang bertuliskan Carica Gemilang Factory. Sebuah bangunan memanjang ke belakang dengan mayoritas berwarna kuning. Ada pula satu mobil boks operasional.

Kedatangan saya disambut seorang wanita cantik. Mempersilakan duduk di sebuah ruangan yang di-set sebagai ruang tamu. Saya duduk sebentar sembari mengamati ruangan ini. Tak lama kemudian muncul seorang pria.

“Selamat pagi mas, ada yang bisa saya bantu?” Logat medok Wonosobo terdengar keras.

“Mau membeli Carica Gemilang, Mas! Kebetulan lagi di Wonosobo, sekalian saja mencari oleh-oleh manisan carica. Mas ini siapa ya?”

“Saya Alfa Gemilang, pemilik usaha ini.”

“Sudah lama membuka usaha manisan ini?”

“Belum lama, sejak 2013 akhir kemarin.”

“Ooh gitu.”

”Awal mula kenapa mas membuka usaha manisan ini?”

“Wonosobo terkenal dengan buah carica. Buah yang sudah diakui Indonesia dan dunia internasional. Yang pertama, karena ingin tetap memperkenalkan kekhasan Wonosobo lewat manisan buah carica. Semua orang Indonesia suka yang manis-manis. Yang terakhir, saya ingin memperdayakan masyarakat di sekitar saya. Itu yang paling terpenting! Bermanfaatlah untuk orang-orang di sekitarmu.”

Saya menyukai orang yang memiliki empati terhadap lingkungan di sekitarnya. Termasuk Mas Alfa ini. Membantu mengangkat perekonomian warga sekitar, karena sebuah usaha bukan hanya untuk menghasilkan uang semata. Akan tetapi juga melahirkan sebuah rasa membantu lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan kata Henry Ford, “Sebuah usaha tidak menghasilkan laba selain uang, berarti usaha itu merugi.”

Papan pabrik Minuman sirup buah Carica | © Dwi Andri Yatmo
Alfa Gemilang, pemilik Carica Gemilang. | © Dwi Andri Yatmo
“Oh ya Mas Alfa, kenapa namanya Carica Gemilang? Lantas apa yang membedakan produk njenengan dengan produk lain?”

“Itu sebenarnya diambil dari nama belakang saya sendiri. Kalau ditanya, arti dari kata gemilang itu berasal dari akronim ‘seger, manis, lezat, dan ngangeni.’ Semoga orang yang membeli dan memakan produk saya bisa memperoleh manfaat dan selalu kangen dengan produk saya.”

“Di Wonosobo, ada banyak sekali produsen manisan carica, Mas. Tentu, seharusnya kita saling mendukung satu sama lain. Bukan malah menjegal dan saling menjatuhkan, karena sebenarnya kita sama-sama ingin memperkenalkan buah tangan khas Wonosobo ke seluruh pelosok Indonesia dan dunia.”

Saya lalu diajak jalan-jalan melihat proses pembuatan manisan carica. Proses pembuatan manisan ini dikerjakan oleh Ibu-ibu. Mulai dari mengupas kulit buah carica, dicuci, dipotong, dilakukan pengepresan ke dalam cup sampai memasukkannya ke dalam kemasan. Semua dilakukan oleh tetangga sekitar pabrik manisan milik Mas Alfa. Siapapun bisa bekerja di sini asalkan ada niat untuk bekerja.

“Saya kira Mas Alfa memiliki kebun buah carica sendiri?” Saya bertanya setelah melihat lahan luas di sekitar pabrik yang hanya ditanami pohon singkong.

Mas Alfa hanya tertawa.

“Saya tidak punya kebunnya Mas. Dulu pernah menanam, tumbuh memang. Tetapi tidak bisa berbuah. Mungkin Gusti Allah memang adil, memberikan buah yang hanya bisa berbuah di dataran tinggi Dieng sana. Ini mungkin karunia untuk masyarakat Dieng Wonosobo khususnya dan Indonesia pada umumnya.”

“Oh ya Mas Alfa, sejak masuk ke pabrik tadi. Kenapa memilih warna kuning? Saya lihat mayoritas njenengan memakai warna kuning.”

“Ini semua atas bantuan Neyma Semarang, salah satu Agency Brand Identity, Mas. Awalnya saya berpikir menggunakan warna hijau karena lebih segar dan enak dipandang mata. Tetapi saya salah, semua itu ada ilmunya. Sesuai saran dari Neyma akhirnya saya memakai warna kuning. Mas tahu kenapa?” Mas Alfa balik bertanya.

“Warna hijau itu mencerminkan buah yang masih mentah. Sedangkan warna kuning mengasosiasikan buah matang. Begitu Mas Alfa?”

“Tepat sekali Mas. Memang segala sesuatu harus diserahkan kepada ahlinya.”

Masih banyak sebenarnya yang ingin kami perbincangan. Mengingat waktu saya di Wonosobo juga tidak banyak, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Shooting sudah selesai. Mengicipi kuliner khas Wonosobo juga sudah. Oleh-oleh manisan carica juga sudah di tangan, ditambah cerita menginspirasi dari pemiliknya.

Semua daerah di Indonesia memiliki pelbagai ciri khas sendiri-sendiri. Kita sebagai orang Indonesia harus bisa menjaga dan menikmati keunikan tersebut. Bertandang ke Wonosobo tidak genap rasanya jika belum menyantap Mie Ongklok. Namun lebih tak sempurna lagi, jika belum mencicip dan membeli manisan carica. Wabil khusus, Carica Gemilang.
Foto Produk Carica Gemilang | © Dwi Andri Yatmo 

Semua Pasti Ada Hikmahnya

Add Comment

Sudah lama tidak menyapa di blog ini. Ketika ditanya peristiwa apakah yang paling disesali? Kalaupun bisa berputar ingin sekali diulangi kembali? Adalah ketika mendaftar di KAI (Kereta Api Indonesia). Karena menurut saya itu merupakan perjuangan sekali. Banyak yang dikorbankan pada saat itu.

Bulan Mei akhir tahun 2016, saya memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa tempat. Salah satunya di PT KAI. Ketika keluar pengumuman dari KAI nama saya sepertinya enggan nangkring. Alhasil dinyatakan tidak lolos. Yang namanya rejeki memang tidak ada yang bias menebak. Akhirnya ada telepon dari PT Suprama – produsen mie burung dara- bahwa dinyatakan lulus wawancara dan diharuskan mengikuti training selama 3 bulan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil yang di PT Suprama lantaran tinggal menghitung hari sudah masuk bulan puasa Ramadhan. Buat sangu nanti lebaran.

Seminggu di Sidoarjo, ndilalah ketika pulang dari kantor ada sms masuk. Kluntingg.

Anda diharapkan kedatangannya besok untuk mengikuti tes kesehatan pertama di PT Kereta Api Indonesia.

Bingung sumpah. Apakah harus mengambil tawaran tes kesehatan di PT KAI atau tetap stay di Sidoarjo selama 3 bulan ke depan. Saat itu sudah masuk bulan puasa Ramadhan. Akhirnya saya berkonsultasi dengan salah satu keluarga di Semarang mengenai ini. Apa yang harus saya lakukan.

Saya pun memutuskan untuk mengambil tantang tersebut dengan konsekuensi harus ijin di sini (Sidoarjo).  Perlu diketahui perjalanan Sidoarjo – Semarang kurang lebih 8 jam naik bus. Berangkat dari Sidoarjo jam 5 lebih, sampai di Semarang paling tidak Subuhan. Habis di jalan memang. Tapi ya bagaimana lagi.

Singkat kata, tes kesehatan awal lolos. Sampai tes tertulis, tes wawancara sampai tes kesehatan akhir. Karena wawancara dan tes kesehatan akhir dilaksanakan setelah lebaran. Saya pun memutuskan untuk resign dari PT Suprama. Gambling memang. Tapi memang harus dipilih salah satu.

Drama pun terjadi. Ketika wawancara dan tes kesehatan akhir, kartu tes saya masih ketinggalan di Sidoarjo sana. Ya Allah, sampai segitunya perjuangan ini. Ketika tes wawancara saya sudah lillahi ta’ala Karena kartu tes tidak ada. Sempat eyel-eyelan dengan petugas yang mewawancarai. Akhirnya saya diperbolehkan mengikuti tes wawancara. Sambal mencari informasi dari rekan yang masih di Sidoarjo sana. Siapa tahu mereka ada yang mengetahui keberadaan kartu tes tersebut.

Pengumuman wawancara dikeluarkan pukul 18:30 malamnya. Jadi seharian harus menunggu pengumuman keluar. Alhamdulillah ada nama saya di nomor 1. Dan ada kabar dari Sidoarjo sana bahwa kartu tes saya ditemukan di salah satu buku yang tertinggal di pabrik. Alhamdulillah kuadrat saat itu. Tetapi masalah muncul lagi?

Kok masalahnya tidak kelar-kelar ya. Tes Kesehatan akhir dilakukan lusa. Mau tidak mau mala mini juga harus segera ke Sidoarjo untuk mengambil kartu tes. Berarti seharian dihabiskan di perjalanan. Mana tadi salah satu petugase ngaish instruksi harus bersihkan karang gigi segala. Gimana bias kecandak semua. Ya Allah.

Mana lagi di saku uang tinggal 50 ribu. Bingung, sumpah bingung. Uang hanya cukup untuk sekali jalan. Pulangnya terus bagaimana? Terbesit untuk motoran ke Sidoarjo. Pilihan bodoh, mana kuat motoran 8 jam sendirian.

Saya putuskan untuk tetap naik bus, motor saya titipkan di rumah salah satu teman di Pati. Saya putuskan langsung untuk tidur. Badan sudah capek seharian wawancara dan debat dengan pewawancaranya. Untuk diskusi wawancaranya bias baca di salah satu artikel sebelumnya.

Paginya sampai juga di Sidoarjo, dan kalain tahu? Tidak bayar sama kondekturnya. Kebesaran Allah SWT. Ketika kita yakin akan sesuatu, Allah akan membukakan jalan-Nya sendiri. Setelah kartu tes sudah di tangan, siangnya saya putuskan untuk pulang. Paling tidak malam sampai di Pati. Kemudian balik ke Purwodadi.

Salah satu instruksi dari petugas kemarin diharuskan puasa mulai dari jam 10 malam sampai tes kesehatan dilaksanakan. Semua mepet sekali. Hingga akhirnya anjuran untuk membersihkan karang gigi tidak terlaksanakan. Selain Karena waktu juga Karena keterbatasan dananya. Lillahi ta’ala lagi.

Keseokan paginya, tes kesehatan akhir terlewati. Lagi-lagi diharuskan menunggu beberapa minggu menanti pengumuman. Saya sudah pesimis kala itu. Karena ketika pemeriksaan gigi, saya sempat lihat bahwa petugasnya tidak meloloskan saya. Bodoh memang. Ternyata benar anjuran salah satu petugas kemarin. Bersihkan itu karang gigimu.

Nasi sudah menjadi bubur. Semua perjuangan di atas harus sia-sia. Apakah saya down? Pastinya. Tapi kalaupun disesali terus apakah hasilnya berubah? Tidak. Karena mungkin memang rejeki saya tidak di sana. Sekuat apapun kalau rejeki kita tidak di sana, ya bakalan tidak keterima. Pembelajaran tersebut merasuk ke dalam diri saya. Yakinlah bahwa rencana Allah SWT lebih indah daripada rencana-rencana hamba-Nya.

Selang beberapa bulan, salah satu teman dulu yang pernah kerja di koperasi (usaha Riba) tumben-tumbennya ngechat. Tanya sekarang lagi kerja dimana?

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya direkomendasikan oleh teman tersebut ke bosnya. Singkat cerita saya diterima kerja di sana. Harus balik lagi ke Semarang untuk merantau. Ya Salam.

Rencana Allah memang lebih indah. Terkadang apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk di mata Allah. Camkan itu pada diri kita. Ikuti saja alur indah dari Allah. Jalani, jalani, dan syukuri.

Di tempat kerja baru ini, saya diberikan kesempatan untuk berkeliling kota Jawa. Jakarta, Bekasi, Depok, Surabaya, Malang, Jogjakarta dan masih banyak lagi. Tidak terbesit sebelumnya saya bisa melakukannya.

Dan untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang juga lantaran bekerja di sini. Belum tentu ketika diterima di KAI saya bisa melakukannya. Rencana Gusti Allah lebih cantik bukan?

Semua pengalaman dan hal baru saya temukan di sini. Sembari belajar hal-hal baru juga. Dan saya yakin semua itu tidak mungkin saya dapatkan jika diterima di KAI.

Sekali lagi ada hikmah yang Allah selipkan di setiap ujian-Nya. Husnudzon terhadap rencana-Nya.

Panjang ya ternyata curhatan kali ini. Padahal itu semua saya ambil garis besarnya. Kalau bloko suto mungkin lebih panjang dari ini.

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan sederhana ini. Semua pasti ada hikmahnya.

Sisi Lain Sholat Tarawih di Indonesia

Add Comment

Marhaban ya Ramadhan, bulan penuh berkah. Keberkahan tersebut salah satunya adalah lahirnya kembali media paling nyinyir se-Indonesia. Mojok. Memberikan secercah harapan bagi mereka yang sudah eneg, muak, bosan dengan berita yang isinya hanya hoax-hoax, kofar-kafir, dema demo ini itu, intimidasi dan lain sebagainya. Mojok hadir sebagai oase dari fenomena yang menyebalkan tersebut.

Di dalam bulan ramadhan yang menjadi pembeda dari bulan-bulan lainya selain berpuasa sebulan penuh ialah shalat taraweh. Karena selain di bulan ramadhan, shalat malam ini tidak kita jumpai. Bisa dikatakan agenda tahunan. Kita tahu sesuatu yang hukumnya wajib, kudu dilakukan. Sedangkan yang sunnah, dilakukan atau tidak, tak ada masalah. Lha masyarakat kita itu terbalik. Sholat lima waktunya ditinjggal, tetapi ketika ramadhan shalat taraweh.

Sudah menjadi rahasia umum di Indonesia, bahwa ketika awal puasa masjid begitu penuh. Bahkan kadang meluber. Tumpah-tumpah jamaah. Tetapi hal tersebut hanya akan bertahan seminggu awal puasa, setelahnya jamaah bakalan berkurang. Susut. Masalahnya apa? Wallahu alam.

Bahkan salah satu teman saya berujar, “Shalat taraweh itu kan sunah. Cukup di awal sama akhir saja. Tengah-tengah bolong gak papa.” Gak papa ndiasmu.

Dalam dunia per-tarawehan-an Indonesia terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang beraliran 11 rakaat (8 rakaat taraweh 3 rakaat witir). Dan yang kedua, mereka yang beraliran 23 rakaat. Untuk 23 rakaat sendiri mengenai waktu lamanya pun berbeda-beda. Ada yang cepat. Ada juga yang lama. Tergantung imamnya. Bahkan di Blitar ada pondok pesantren yang ketika shalat taraweh 23 rakaat hanya 7 menit. Ya Allah, itu sholat apa ngejar maling. Apa ya tidak kasihan malaikatnya ketika mencatat.”Ini orang lagi sholat apa senam?”

Ketika ditanya lebih memilih 11 rakaat atau 23 rakaat? Mayoritas orang Indonesia lebih suka yang 11 rakaat. Nyatanya banyak yang setelah rakaat kedelapan jamaah pritili satu per satu. Tetapi sekali lagi ya kembali ke imamnya dalam membaca surat. Kadang ada yang imamnya masih muda, baru keluar pondok, ketika memimpin shalat taraweh cepatnya minta ampun. Ndilalah kalo yang ngimami kyai sepuh, bacaan pelan-pelan terus suratnya yang dibaca surat panjang-panjang. Taraweh bisa selesai 2 jam. Buset dah! Kadang kok ya pengen nyeletuk jurus andalannya KH Anwar Zahid “Qul Hu wae Mbah. Sowen!”

Yang sedengan sajalah. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama. Asal rukun tuma’ninahnya terpenuhi. Sholat yang mengabaikan tuma’ninah konon katanya tidak diterima. Lha apakah sholat taraweh meniru tarawehnya orang arab sana tidak boleh? Ya boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Mau shalat taraweh semalem baca 1 juz Al Qura’an tidak apa-apa. Tapi lihat jamaahnya itu kayak gimana. Ini Indonesia, bukan Arab Saudi. Yang tiap kali mendengar suara adzan, semua orang kukut menuju ke masjid. Polisi-polisi Arab sana itu malah mengurusi orang-orang yang tidak mau shalat berjamaah di masjid. Kalo di Indonesia? Dengar adzan saja masih tumakninah di meja kerja. Masih tumakninah meskipun sudah terdengar iqomah. Lha wong polisi di Indonesia masih mengurusi ornag judi, narkoba, teroris, dll.

Lha kalo diajak sholat taraweh berjam-jam, apa ya mereka tidak ngrundel. “Kakeane, taraweh kok yo suwe ne pol”, “Iki taraweh tah opo, sak rakaat wae durung ntuk!”. Tapi giliran pegang hape buat facebookan, berjam-jam kuat mentelengi layar. Karena kebanyakan maish menganggap shalat iru sebatas kewajiban. Hanya sebatas menggugurkan suatu kewajiban. Belum sampai mengarah sebagai kebutuhan. Kita itu sebenarnya butuh Gusti Allah, bukan malah sebaliknya.

Orang Indonesia itu suka pamer. Riya’. Kalau orang dulu pergi ke masjid bawa mushaf al quran, lha sekarang yang dibawa hape. Dikit-dikit cekrek, selfie. Apalagi ini di bulan ramadhan, seolah-olah berlomba-lomba dalam mengabadikan ibadah.

Berangkat ke masjid mau taraweh. Cekrek, selfie. Upload di media sosial dengan caption “Bismillah, berangkat taraweh ke masjid.”

Habis sholat taraweh. Cekrek, selfie. Kasih caption, “Alhamdulillah, taraweh malam kelima.”

Cekrek lagi, kasih caption “Alhamdulillah, hari ini tadarus i juz.”

Dan pelbagai caption-caption yang memamerkan ibadah masing-masing ke publik. Jangan-jangan, kelak ketika sedang sholat. Cekrek, “Alhamdulillah, sedang sholat!” ngaudubillah min jalik.

Tarawih = Pengorbanan
Tarawih adalah sebuah pengorbanan. Lha bagaimana tidak? Kalau di hari-hari biasa selepas isya’ emak-emak sudah standby di depan televisi. Nonton Dangdut Academy, nonton sinetron yang sampai sekarang isinya cinta-cintaan dan berantem mulu sampai sinetron India. Dan emak-emak itu harus rela meninggalkan itu semua. Ini berat, Jeng. Berat. Juga bagi bapak-bapak yang harus memundurkan jam ngopinya di warung kopi selepas taraweh.

Selain untuk beribadah, shalat taraweh terkadang ada maksud tujuan lainnya. Ada yang di bulan-bulan biasa, ngancik masjid pun tidak pernah. Ketika taraweh tiba-tiba ikutan shalat di masjid. Entah hidayah apa yang turun ke kepalanya. Kebanyakan ini untuk emak-emak.

Untuk yang muda-muda biasanya untuk melihat para perawan yang jarang keluar rumah. Sembari cuci mata. Siapa tahu ada yang bisa digebet. Kan lumayan, Mblo!

Dan yang jadi langganan dari tahun ke tahun. Sewaktu kecil saya pun mengalaminya juga. Anak-anak sekolah yang taraweh sambil membawa buku “Kegiatan Bulan Ramadhan.” Ya apalagi kalau bukan utnuk meminta tandatangan dari si kyai untuk disetorkan ke guru agama.

Sebagai penutup, ada satu hal dari kesekian fenomena dan sisi lain sholat tawareh di Indonesia yang mmebuat juengkel. Adalah bapak-bapak yang memakai kaos partai jaman bahuela sebagai daleman baju koko. Ndilalah kok ya baju kokonya tipis jadi terawang. Sumpah, mengganggu konsentrasi shalat. Lha bagaimana tidak? Ketika sudah “Allahu Akbar”, makplek tangan sudah di depan dada. Pandangan ke depan, ada tulisan di baju tersebut, Lanjutkan Bung!

Ngunu kui yo mentolo saya baca. Kan setan.

Meluruskan Makna Takjil

Add Comment
Siapa yang tidak kenal HTI? Organisasi islam, Hizbut Tahrir Indonesia, yang konon dibubarkan pemerintah itu mas? Ah bukan. Satunya lagi. Emang ada HTI lain mas? Ada to. Yang diajak ngomong garuk-garuk kepala bingung.

Hizbut Takjil Indonesia. Oalah semprul, orak lucu mas. Taek.

Selama bulan Ramadhan ini dan sebelum-sebelumnya, kita pasti sering mendengar kata “takjil”. Apa yang terbesit di pikiran kita ketika mendengar kata tersebut? Makanan pembuka puasa, minuman dingin, teh anget, nasi bungkus, jajanan pasar, gorengan? Saya yakin ujung-ujungnya makanan, lha wong saya juga je.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT.

Sering di beberapa restoran atau warung makan menuliskan “Takjil Gratis” atau “Tersedia Takjil Gratis buat Pelanggan”. Bahkan di beberapa masjid juga sama demikian. Sehingga tidak asing kalau mendengar ada orang yang bertanya:

“Sudah beli takjil belum?”
“Belum ada takjil nih?”
“Nyari takjil di masjid yuk!”
“Yank, buat takjil yuk di kamar.” Laknat kau!
“Asu, eh puasa ding. Lha kok takjilnya Cuma gorengan.” Dan masih banyak lagi.

Kalau sampai detik ini, bahkan sampai membaca tulisan ini kalian semua masih menganggap bahwa takjil itu makanan. Kita sama, hahaha. Kita telah dibodohi. Kita Saya bodoh selama ini. Sudah 27 kali bulan ramadhan saya masih oon. Kemana saja selama ini?

Jamaah yang semoga selalu dikuatkan puasanya, meksipun kadang masih setengah hari.

Pencerahan ini saya peroleh ketika tidak sengaja membaca status dari Bapak Hanan Attaki, Lc. AH semoga tidak dianggap plagiat! Selama puluhan tahun saya berfacebook ria, hidayah datang beberapa waktu lalu. Duh Gusti, berarti selama ini saya hanya membuka facebook isinya mudhorot saja. Berita hoax, perseteruan kelompok A dan kelompok B, kofar kafir. Kamu kafir kalau tidak sejalan dengan pemikirannya.

Lantas apa sih ta’jil atau takjil itu sebenarnya?

Semua media pemberitaan selalu menyebut makanan untuk berbuka adalah Takjil, maka seolah-olah kita semua sepakat menyebut bahwa Takjil adalah hidangan atau panganan untuk berbuka puasa.

Kata takjil / ta’jil (تعجيل) artinya adalah “bersegera" diambil dari hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam :
“La yazalunnasu bikhairin ma‘ajjaluuhul fithra".
Artinya: Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (puasa). (HR. Muttafaq alaih).

Adapun makna takjil menurut ilmu bahasa arab ialah “penyegeraan, bersegera, percepatan”, sebuah kata dasar dari ajjala, yu’ajjilu artinya : menyegerakan, mempercepat. Ta’jilul fitri = menyegerakan berbuka (puasa). 

Terlihat di sini bahwa makna takjil tidak ada hubungannya sama sekali dengan makanan. Ora enek babar blas duwe hubungan karo pangan. Paham kon? Mudeng Su?

Kalau semisal masih belum percaya, bolehlah sekiranya kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tidak punya? Duh Gusti, pantas saja ulangan Bahasa Indonesia klen pada remidi. Cinta sama kamus saja masih dipertanyakan, bagaimana mau mencintai anak orang lain? Kalau tidak punya, bisa buka juga KBBI versi online.

Takjil adalah mempercepat (dalam berbuka puasa)

Dalam hal ini adalah mempercepat berbuka saat tiba waktunya berbuka puasa, lho Mblo! Bukan lantas kalian seenak udelnya mempercepat berbuka puasa sendiri.

“Ah sudah adzan Ashar, takjil buka puasa ah.” Demi kerang ajaib, iku jenenge badjingan!

Jamaah yang semoga dikuatkan oleh godaan warteg berkorden.

Ingat, mulai sekarang sepakat bahwa TAKJIL itu bukan makanan.

Jika ada pernyataan “Orang Arab bertakjil dengan kurma”. Maka pengertian yang benar ialah Orang Arab menyegerakan berbuka puasa dengan makan kurma . BUKAN makanan berbuka puasa orang Arab adalah kurma. Understand?

Jadi untuk para cewek yang sudah pacaran puluhan tahun. Tetapi belum juga diajak nikah-nikah. Sepertinya pasangan kalian perlu diajak takjil pernikahan.

Kematian Itu Pasti

Add Comment
Berita kecelakaan antara mobil Avanza dengan kereta api Argo Bromo Anggrek yang terjadi di Purwodadi masih terngiang-ngiang di kepala. Saya pun membayangkan ketika kecelakaan tersebut terjadi. Menjadi orang yang berada di dalam mobil tersebut. Sekian detik mungkin masih bisa tertawa, membayangkan ketika sampai di tujuan. Sekian detik pula kepala kereta api menekan bodi mobil tersebut. Tergencet antara kepala dengan rel.
Di dalam waktu yang sesingkat itu, antara hidup dan mati, apakah yang keluar di mulut orang-orang tersebut? Sampai segitunya saya membayangkan. Dengan waktu yang sesingkat itu, saya yakin tidak ada yang membayangkan ada di dalam posisi tersebut. Naudzubillahi min dzalik.

Lantas saya teringat sebuah cerita menarik dari guru ngaji saya dulu. Tersebutlah seorang kepala pondok pesantren yang sangat dihormati dan disayangi para santrinya. Suatu waktu, salah satu santri memberikan hadiah seekor burung yang menawan kepada Kyai tersebut.
Oleh si Kyai, burung tersebut diajari kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH setiap hari. Sampai akhirnya si burung tersebut bisa mengucapkan kalimat tersebut. Betapa bahagianya si Kyai melihat perkembangan belajar si burung.
Yang terdengar dari si burung hanyalah kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Tidak ada yang lain. Sampai suatu ketika, ada seekor kucing yang memangsa burung kesayangan si Kyai tersebut. Dan itu terjadi langsung di depan matanya.
Betapa sedih dan menyesalnya si Kyai itu. Sampai membuat para santrinya heran. Kenapa hanya kematian seekor burung sampai segitu sedihannya.
"Pak Kyai, kenapa begitu sedih karena kematian burungnya? Kami bisa mencarikan burung lain yang tidak kalah cantik dan menariknya."
"Bukan perkara burung yang membuatku sedih. Kalian tahu burung tersebut setiap hari saya latih untuk melafalkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Tetapi ketika dimangsa kucing, bukan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH yang keluar melainkan ucapan yang lain."
*******
Tidak ada yang bisa menginginkan bagaimana cara kematian menyambut. Kematian itu misteri. Hanya Allah yang tahu. Tentu semua orang menginginkan kematian yang khusnul khotimah. Meninggal ketika teringat tentang Allah. Bukan kematian ketika melakukan kemaksiatan. Kita tidak bisa menghindari kematian. Memundurkan atau memajukan.

Kematian itu kepastian. Sudah cukupkah bekal kita untuk menyambut kepastian tersebut?

Gagal Rabi Karena Riba

Add Comment
Kurang lebih 2 tahun saya bergelut dengan riba. Awalnya saya berpikir, ah sama saja. Tinggal bagaimana kita mengatur dan bersedekah saja. Itulah bayangan di kepala ketika menerima pekerjaan tersebut. Meskipun sebenarnya tahu bahwa riba sangat diharamkan di dalam keyakinan saya. Dicoba dululah tidak apa-apa, keputusan saya ambil.
Pekerjaan tersebut dilatar belakangi atas ketidakpuasan ‘seseorang’. “Kalau kamu bekerja di situ? Bagaimana kelak akan membangun masa depan?”
Akhirnya saya mengambil itu kerjaan lantaran referensi ‘dia’ juga. Saya memang selalu menuruti apa yang ‘seseorang’ itu katakan. Kata salah satu teman, itulah kelemahan yang dimiliki orang Pisces. Ciiih meskipun saya terkadang tidak percaya akan hal-hal tersebut.
Kurang lebih setahun berjalan di pekerjaan yang memang setiap harinya berurusan dengan kredit, bunga, tabungan, deposito. Sedikit ada perubahan gaya hidup, walau tidak signifikan. Karena saya memang tidak pernah suka shopping atau jalan-jalan kemana kek. Kecuali kalau ada yang mengajak. Mungkin ini juga yang membuat hubungan dengan ‘seseorang’ tersebut mulai hambar dan dingin. Egois dengan diri sendiri.
Awalnya perubahan hidup yang saya rasakan sedikit demi sedikit malah menjerat dengan yang namanya kekurangan. Ketidakpuasan. Awalnya gaji sebulan cukup dan bisa disisihkan untuk orang di rumah. Lama-lama menjadi minus. Tombok. Besar pasak daripada tiang. Selalu saja pengeluaran tidak sesuai dengan penghasilan lagi. Entah ini saya yang memang kurang memanage atau bagaimana.
Mulai saat itulah setiap bulan dan bulan-bulan berikutnya pengeluaran selalu satu langkah di depan penghasilan. Utang sana sini. Tutup lubang gali lubang. Apakah yang salah? Aku juga menyisihkan sedikit untuk berbagi. Sholat insya Allah juga tidak bolong-bolong amat. Mungkin dikarenakan tidak bisa manage keuangan, simpulan saya waktu itu.
****

Tidak ada perubahan yang lebih baik bulan-bulan berikutnya. Pernah saya bertukar pikiran dengan sesama teman kantor satu divisi. Mengenai keresahan keuangan yang njlimet ini, walau tidak terbuka seratus persen. Anehnya, teman sebelah meja tersebut juga mengalami hal yang sama. Defisit. Minus. Kurang. Bokek. Setiap gajian layaknya mampir ngombe, begitu ungkapannya. Ternyata tidak saya saja yang merasakan.
Alhamdulillah, Allah selalu memberikan rejeki yang tidak terduga-duga. Setiap kali bokek, saya pakai ungkapan itu saja, Allah memberikan rejeki dari orang-orang yang meminta servis laptop atau handphone. Malah terkadang uang inilah yang membantu menyambung hidup. Uang pokok gaji kemana? Entah kemana uang itu pergi.
Akhirnya saya sedikit disadarkan oleh perkataan salah satu sahabat. Dia berujar, kalau dari hulunya saja sudah kotor. Sebersih apapun kamu membersihkannya tetap kotor juga. Ya. Saya diingatkan oleh perkataan itu. Muncul niatan untuk resign. Walau masih sebatas keinginan.
Niatan itu aku utarakan kepada ‘seseorang’ yang sudah mulai apatis antara satu sama lain. Hubungan ini sebatas formalitas belaka. Di dalam sudah mulai membentuk benteng dingin masing-masing.
‘Aku mau resign!’
Resign? Sudah dapat penggantinya. Kalau belum mau kerja apa? Sekarang cari kerja itu susah. Jangankan lulusan SMA, lha wong lulusan sarjana saja banyak yang nganggur,’ balasnya.
‘Aku sudah tidak nyaman dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan riba. Kamu tahu kan tiap bulan bukannya bisa menabung malah minus mulu. Malah selalu merepotkanmu tiap bulan.’
‘Terserah kamu sajalah. Toh juga kamu yang jalani sendiri.’
*****

Niatan tersebut masih sebatas niatan. Belum ada keberanian untuk memberikan sebuah surat cinta, eh, mundur kepada manager di lantai 2. Dan hubunganku dengan ‘dia’ sudah entah sampai mana tingkat kejenuhannya. Bahkan tersiar kabar, itupun juga dari ‘dia’ langsung, kalau orangtuanya sudah menentukan calon suami. Keinginan untuk bertandang membawa bapak ibu musnah sudah. Harapan, walau sudah pesimis karena beberapa bulan ini hubungan seperti ini, untuk bersama menemui jalan sulit kalau tidak mau dikatakan buntu.
Dan hari tersebut akhirnya datang, tidak pernah ada komunikasi yang terjalin. Hubungan kurang lebih 4-5 tahun sudah terkubur secara resmi dengan datangnya sebuah sms darinya.
‘Aku sudah dijodohkan dengan oranglain pilihan orangtua. Hubungan ini cukup sampai di sini. Tolong jangan hubungi aku lagi. Terima kasih untuk selama ini.’
Bak orang sekarat, sakaratul maut, akhirnya modyar juga. Itulah persoalan selain niatan untuk resign. Masalah itu membuatku sejenak melupakan untuk resign. Menenangkan hati dengan bersembunyi di balik pekerjaan. Dan hasilnya, pekerjaan tidak maksimal dan banyak kesalahan. Lantas apakah aku menyalahkannya? Saya tidak pernah sekejam itu menghakimi.
Tak terasa sudah memasuki 1,5 tahun masih berkutat dengan riba. Ada perubahan? Tidak ada. Masih seperti setahun kemarin. Gaji tiap bulan bak mampir terus berlalu. Ditambah lagi status resmi jomblo. Walau sudah saya duga jauh-jauh hari. Tetapi hanya menunggu momentum peresmian perpisahan itu.
*****

Ada sahabat sewaktu SMA yang selalu saya repotkan masalah keuangan. Malah dengan dia sering saya habiskan waktu daripada ‘dia’. Saking dekatnya, mungkin kalau dia perempuan sudah saya tembak kepalanya. Berusaha setegar apa pun seorang pria kalau ada masalah mengenai asmara pasti akan tercium juga oleh sesama pria. Tak terkecuali sahabat saya itu.
Dia sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang wanita yang sedang dinas di Aceh. Anehnya, jadiannya pun tidak tatap muka. Kok bisa ya? Kadang heran kalau dipikir. Niatan untuk resign pun pernah saya lontarkan kepadanya.
‘Kerjaku riba gak sih Ni?’
‘Sorry bos, nak masalah riba tidaknya aku angkat tangan. Tidak punya pengetahuan cukup aku harus judge ini riba itu tidak.’
‘Bosomu leh sok-sokan duwur!’
Jangkrik, perasaan sewaktu SMA jadi ketua Rohis, batinku. Dia lebih memilih berkutat dengan layar handphonenya daripada meneruskan perdebatan.
‘Kowe kok gak semangat to bos! Wis to wis, wong wedok okeh. Gak mung siji kae,’ tiba-tiba dia membahas topik lain.
‘Emang ketok yo?’
‘Raimu ki ora iso ngapusi aku. Have fun. Ojo digowo pikir, mundak loro. Nyoh diwenehi pin BB koncone cewekku. Jare yo lagi bar putus, hahaha.’
‘Oh, lambemu. Ndi pin e?’
Aku masih bertahan di tempat kerja. Meski jujur sudah mulai tidak merasakan lagi apa yang namanya bekerja. Perkenalan dengan teman pacarnya Lukman juga dingin awalnya. Karena mungkin saya yang tidak agresif.
‘Bos, bos, kapan iso olehmu cewek nak chattingmu monoton. Takon iki dijawab wis. Nganti lebaran kucing yo gak bakalan oleh kowe. Sing agresif. Okeh takone. Improvisasi. Gawe bahan perbincangan. Jangkrik ngunu og koncoku!’
****

Singkat kata, hubungan yang awalnya hanya pertemanan ternyata berkata lain. Saat itu dia meminta tolong untuk dibelikan buku dan akan menjadi pertemuan pertama kami. Benar saja, akhirnya kami bertemu.
Sedikit canggung karena sebelumnya hanya say hello via aplikasi handphone. Saya memang tidak mengatakan kalau bekerja di salah satu lembaga keuangan. Karena toh hanya sebatas teman. Tetapi kehendak Allah berkata lain, kami semakin didekatkan dan mau tidak mau dia tahu kalau saya bekerja di pekerjaan riba.
Deg. Memang tidak ada penolakan di wajah. Tetapi dia memberikan nasihat dan dasar bahwasanya riba itu haram di dalam Islam. Walau saya sebenarnya juga tahu. Itulah pertarungan yang terjadi di dalam diri saya akhir-akhir ini. Memberikan saran untuk resign dan mencari pekerjaan yang lebih halal. Dan apa saya langsung menyetujuinya?
Awalnya masih sedikit gamang. Tetapi mantab juga tekat untuk resign. Langsung saya menghadap bapak manager di lantai 2. Dengan membawa surat pengunduran diri. Awalnya pak manager berusaha menahan karena kerja saya bagus. Tapi saya tetap pada pendirian untuk mundur.
Dan tepat 25 September 2015 saya lepas dari perusahaan tersebut. Atau khususnya lepas dari jeratan riba selama ini. Itulah pengalaman saya yang kurang lebih berdekatan dengan riba. Tidak ada berkah-berkahnya. Saya di sini tidak pernah menjelek-jelekkan sebuah perusahaan atau profesi. Ini murni apa yang saya rasakan sendiri. Dulu pernah saya membeli handphone yang sedikit mahal dengan gaji bulanan. Selang beberapa handphone tersebut hilang karena lupa naruh pas jalan-jalan di mall. Anehnya handphone satunya yang dulu beli pakai uang ngelesi sampai sekarang masih ada.
Banyak kok orang yang kerja di lingkungan riba jadi sukses. Saya tidak mempermasalahkan oranglain. Entah dia sukses atau tidak. Kita sendiri yang merasakannya. Bisa saja mereka sukses tetapi ada sedikit kegelisahan di hati mereka (bisa mungkin terjadi. Saya tulis mungkin). Dan mungkin Allah masih sayang kepada saya dengan memberikan keberanian untuk keluar dari lingkaran setan riba. Jauhilah riba kalau tidak mau terkabar oleh apinya.
Wassalam.