6 Keunggulan Memiliki Kulit Hitam

1 Comment
Bangga punya kulit hitam © penulispro.net

Sebelumnya aku tekankan di sini bahwa tulisan ini tidak bermaksud SARA. Bukan bermaksud membeda-bedakan antara kulit putih, sawo setengah matang dan hitam. Lantas kenapa menulis tulisan yang tidak jelas begini? Ini dikarenakan sebenarnya aku termasuk golongan orang berkulit hitam. Jadi tidak ada salahnya aku membanggakan diriku sendiri. Masamu penak? Yo penak.

Hitam adalah pilihan, sedangan kulit putih adalah mutlak. Sebenarnya kalaupun boleh memilih aku juga pengen dilahirkan dengan kulit putih. Kalaupun mentok ya sawo belum matang tidak apa-apa. Tetapi kalau sudah dikasih kulit ireng ya mau gimana lagi? Mau nolak kehendak Gusti Allah? Yang ada ya harus disyukuri. Masih syukur dikasih kulit ireng daripada tidak dikasih kulit? Yang setuju goyangkan kepalanya.

Sebenarnya kalau mau bersyukur, tersimpan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh orang ireng. Boleh berbanggalah aku di sini. Berikut ini akan aku jabarkan beberapa keunggulan tersebut:

1. Setia / Soale Ora Payu
Masalah kesetiaan dalam memegang janji dan menjaga cinta mungkin orang berkulit kurang putih juaranya. Bagaimana tidak? Karena mencari pasangan saja mereka kesusahan, termasuk juga aku sendiri. Dan ketika ada yang menyukai dan mencintai kami -semoga mereka tidak khilaf atau di bawah pengaruh obat-obatan- kami tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Soalnya ya itu tadi 1:1000. Makanya mencari pasangan yang berkulit agak gosong kayak aku gini #promosigencar.

Lagian juga orang hitam itu sulit sekali selingkuhnya. Cari pacar satu saja sulitnya minta ampun. Gimana mau selingkuh. Tidak bersyukur sekali jikalau ada bidadari khilaf yang menyukaiku atau golongan kita ini, tetapi malah selingkuh di belakangnya. Ckckckckck, ngoco mas ngoco.

2. Suka bekerja keras
Seyogyanya orang berkulit hitam ada dua penyebabnya, pertama memang bawaan dari bayi. Ketika lahir sudah membawa gen hitam dari kedua orangtuanya. Yang kedua, karena kebiasaan yang tidak terelakkan. Contoh gampangnya ya petani itu. Mereka harus berjibaku di bawah sinar terik matahari. Terpapar terus menerus sinar ultraviolet. Yang sedikit demi sedikit mengikis gen warna putih menjadi warna hitam. Kasihan memang, tapi ya mau gimana lagi. Tuntutan profesi.

Di kalangan petani desa tidak ada yang mengenal sunblock dan lotion tabir surya. Boro-boro beli sunblocklha wong buat makan saja pas-pasan. Emang cukup makan sun block?

Hitam ya hitam, disyukuri. Karena mereka sadar modal tampang saja tidak cukup. Ingat pepatah Jawa mengatakan, Kalah Rupo Menang Bondo. Harga lipstik, bedak dan tetek bengek lainnya itu sekarang juga mahal-mahal.

3. Ora wedi panas
Dalam kamus wong ireng, tidak ada kata takut panas. Bahkan mereka menggunakan kepanasan sinar matahari itu untuk meningkatkan level. Semakin mengkilap semakin jos. Kalau disuruh panas-panasan ya siapa takut. Karena toh sudah hitam jadi tidak takut tambah hitam. Malah yang aneh itu, jika disuruh panas-panasan malah berubah putih itu yang menakutkan.

Jadi, kalau wong ireng disuruh kerja yang bersinggungan dengan panas-panasan itu tidak jadi masalah. Bahkan malah senang. Karena kebanyakan orang yang sok bule takut jika kulitnya menghitam jika harus kerja di bawah tekanan sinar matahari.

Panas saja tidak mereka takutkan dik! Apalagi nembung orangtuamu minta restu.

4. Anti gores
Sama halnya smartphone yang takut jika layar tergores maka harus dipasangi anti gores, screen guard atau tempered glass. Buat aku itu semua tidak dibutuhkan. Aku mbok goreso yo rapopo. Aman. Tidak usah takut lecet atau apa. Angger ojo mbok gores atiku mbi cintamu Dik. Aku gak strong nak masalah kui.

Wong ireng itu serasa punya lapisan anti gores di kulitnya. Tidak perlu anti gores tambahan.

5. Tahan lama
Entah kenapa aku memasukkan kalimat 'tahan lama' yang ada petiknya pula. Tidak afdol rasanya kalau menyebutkan keunggulan wong ireng tidak memasukkan kalimat keramat tersebut. Orang berkulit kurang putih itu tahan lama jomblo atau singlenya, soalnya ya tadi susah dapat pacar. Tahan lama menahan rindu kepada seseorang yang belum tahu siapa yang dirindukan.

Dan yang terakhir adalah 'tahan lama' (artikan sendirilah). Pasti kalian juga mudeng dengan sendirinya, hahaha.

6. Awet Urip
No komen!! 

Itulah lima keunggulan yang tidak dimiliki bagi mereka yang kulitnya kurang eksotik. Sekali lagi aku tekankan di sini bahwa penulisan ini tidak bermaksud SARA atau SIRI. Melainkan hanya unek-unekku sendiri yang secara tidak sengaja tersiram gen warna hitam sejak kecil. Ya harus disyukuri sajalah. Lha wong semua perawatan kulit sudah aku tempuh toh nyatanya tidak ada perubahan. Mulai dari Nat*sha, Skinc*re, Er*clinic, LBD, dan masih banyak lagi tempat perawatan lainnya. Masih tetap eksotis saja kulitku.

Jadi pada intinya janganlah menyesali, gresulo atau tidak terima jika dianugerahi Gusti Allah kulit eksotis. Toh ternyata banyak keunggulan yang tersimpan di balik kulitmu itu #eeh kulitku ding. Tunjukkan bahwa dengan itu kita #eehh aku ding, bisa tampil beda di antara lainnya. Lha wis piye neh lha wong ireng dewe. Jangan malu punya kulit hitam guys. Salam eksotis ya!!

Salam Macul

Keutamaan Seorang Wanita

Add Comment

Sore yang indah.

"Day, sibuk gak?"

Lamunanku buyar mendengar suara Hati dari belakang. Aku menoleh dan memasang wajah ada apa gerangan? Pekerjaanku menumpuk di atas meja. Kertas-kertas berserakan tidak menentu. Banyak sekali yang menggantung. Semua buntu.

"Yuk jalan-jalan ke taman. Kau sudah lama kamu tidak mengajakku jalan-jalan sore lagi," ajaknya sambil menarikku agar berdiri dari kursi peraduan. Aku segera mengambil kunci motor dan mencari keberadaan HPku. Aku mengitari seluruh meja dan kamar. Itu dia.

Tiba-tiba Hati mencegahku. "Kali ini HP ditinggal saja! Sekali-kali boleh kan tidak bawa gadget!"
Aku mengangguk pelan. Tak apalah, batinku.

Hati segera menggandengku keluar kamar. Antusias sekali dia sore ini.
*****
Ada taman kota tidak jauh dari desa. Terletak di tengah persawahan. Dikelilingi pohon mahoni. Di tengah taman sengaja diletakkan beberapa permainan anak-anak. Ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan lainnya. Taman ini menjadi destinasi para warga untuk bermain bersama buah hati dan keluarganya. Jangan heran kalau sore hari adalah waktu paling ramai di taman tersebut.

Setelah 15 menit akhirnya kami sampai di taman. Seperti dugaanku, taman sudah ramai. Kebanyakan keluarga yang membawa buah hatinya bermain.

"Sudah ramai ya Day?" kata Hati turun dari motor. Aku mengangguk.

"Yuk ke kursi itu!" Hati setengah berlari menarik tanganku.

Asri. Damai. Tenang. Melihat keceriaan yang terpancar dari wajah anak-anak yang bermain.

"Inilah kehidupan yang sebenarnya Day!"

"Maksudnya apa, Hat?"

"Lihatlah di tengah taman itu. Inilah gambaran nyata kehidupan Day. Bukan cuma sebatas di layar 5 inch smartphone atau layar monitor saja. Jaman memang sudah banyak berubah. Mereka lebih asyik di dunia mayanya sendiri tanpa menghiraukan dunia nyata di sekelilingnya."

"Mereka hanya tidak siap menghadapi pergeseran kehidupan," jawabku sekenanya.

'Ini bukan masalah siap tidak siap Day. Mereka saja yang tidak bisa mengatur porsi masing-masing. Ketika mereka lebih asyik berkutat dengan dunia tak nyatanya, dunia nyata mereka dengan sendirinya akan terlupakan. Yuk ikut bermain dengan anak-anak," ajak Hati beranjak ke tengah taman.

Apakah selama ini aku terlalu disibukkan dengan dunia maya? Aahhhh. Aku melihat Hati begitu ceria sore ini. Gelak tawanya. Senyumnya. Ketika bermain dengan anak-anak. Bersendau gurau bersama anak kecil lainnya.

Tiba-tiba sebuah bola jatuh di depanku. Terlihat dari kejauhan Hati melambaikan tangan meminta bola tersebut. Aku ambil bola tersebut dan melangkah menuju kerumunan anak-anak kecil.
*****
"Gimana Day? Menyenangkan bukan?" tanya Hati setelah tadi bermain dengan anak-anak. Kami putuskan untuk menyudahi permainan bola tersebut. Merebahkan kembali tubuh ini ke deretan kursi taman yang lumayan lenggang.

Aku mengangguk pelan. Sore ini tidak tahu kenapa bawaannya tidak mau banyak berdebat dengan Hati. Malas rasanya untuk berkomentar.

"Day, kamu lihat ibu-ibu yang di sana?" tunjuk Hati ke seorang ibu di taman.

"Ibu-ibu yang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya itu?" jawabku menebak siapa yang ditunjuk Hati barusan.

"Ya. Ibu yang membawa kelima anaknya itu. Beliau hebat ya Day! Seorang diri menjaga kelima anaknya!"

Terlihat di sana ibu-ibu yang sedang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya. Di sekelilingnya berlarian tiga buah hati lainnya. Ibu dengan kelima anaknya.

"Jangan lupa ada suami hebat juga di samping ibu tersebut, Hat!"

"Iya, tapi sekarang beliau sedang sendirian bukan? Mungkin suami masih bekerja!" balas Hati menatapku. Aku membalas tatapannya bertanda heran.

"Kau tahu Day, seorang wanita itu adalah makhluk yang memiliki banyak keuutamaan."

"Makhluk yang memiliki banyak keutamaan? Maksudnya apa Hat?" tanyaku tidak mengerti arah pembicaraan Hati. Sepertinya akan ada pengetahuam baru dari Hati, batinku.

"Kau menatapku jangan begitulah Day! Serasa aku ini makhluk aneh di sini, hahaha," Hati tertawa melihat ekspresiku."Wanita itu memiliki banyak sekali keutamaan, Day. Kau bisa melihatnya dari sosok ibumu sendiri atau ibu-ibu tadi. Pertama, wanita memiliki bahu kuat. Buat apa? Agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur."

Aku memperhatikan dengan saksama.

"Yang kedua, wanita diberi kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Sudah bukan rahasia umum lagi kan banyak sekarang anak yang durhaka kepada orangtuanya. Padahal kalau mereka mau berpikir betapa beratnya seorang ibu ketika melahirkan. Mempertaruhkan nyawanya segala!"

"Selanjutnya?" potongku tidak sabaran.

"Ketiga, wanita diberi keperkasaan dan kesabaran. Keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Pandanglah wajah Ibumu ketika terlelap tidur, itulah wajah asli beliau tanpa ada yang ditutupi di depan anak-anaknya."

Tidak tahu mengapa, aku menggenggam erat tangan Hati. Seolah membangkitkanku memori tentang ibu. Aku kangen padamu Bu!

"Yang keempat, wanita dikaruniai perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya."

Hati berhenti sejenak mengambil nafas. Menikmati setiap hembusan nafas udara sore ini. Taman semakin ramai. Banyak keluarga yang mulai berdatangan.

"Selanjutnya, wanita diberi kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya."

"Bukankah sudah menjadi kewajiban suami untuk menjaga istri dan keluarganya, Hat? Lantas penjelasan perkataanmu barusan apa?" akhirnya aku bertanya juga.

"Hehehe," Hati malah tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Hati dan jantung tersebut ibarat suami, anak dan keluarganya. Kalau masalah misua menjaga keluarganya, itu sudah menjadi kodrat laki-laki menjaga sesuatu yang berharga baginya."

"Yuk, Day kita bermain lagi! Banyak anak-anak kecil lucu di sana! Sisanya nanti saya beritahu di perjalanan pulang saja. Yukkk..

Aku ditarik Hati untuk ke tengah taman lagi. Bermain dengan anak-anak kecil yang lucu. Berlarian ke sana kemari. Tidak ada lelah-lelahnya ini anak, batinku. Aku saja yang hanya melihat saja sudah ngos-ngosan.
****
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16:30. Sudah 2 jam lebih aku dan Hati bermain di taman. Matahari sudah turun ke peraduannya. Semburat jingga menghiasai langit sore. Menambah keindahan sore ini. Inilah kehidupan nyata. Yang tidak bisa kita jumpai kalau hanya memandang monitor Hp atau komputer saja.

"Ayo pulang Hat! Sudah sore!" terlihat wajah sedikit kesal karena harus menyudahi keceriaannya sore ini.

Sepanjang jalan desa kiri kanan ditanami pohon angsana. Membuat rimbun dan teduh ketika siang hari. Musim kemarau waktu yang pas menjumpai pohon angsana berbunga. Bunga kecil berwarna kuning. Ketika tertiup angin bunga tersebut jatuh menutupi jalan. Indah sekali momen langka ini. Kalau di Jepang ada bunga Sakura, di sini ada bunga Angsana.

"Hat, tadi kamu bilang masih ada dua keutamaan sebagai wanita kan?" tanyaku mengingatkan.

"Oh ya hampir lupa. Sudah keberapa ya Day?"

"Keenam," jawabku singkat

"Wanita diberi kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi."

"Dan yang terakhir adalah wanita diberi air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus diberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan."

Hati melingkarkan tangannya ke tubuhku. Menyandarkan wajahnya ke punggungku.

"Makasih ya Hat, atas pelajaran sore ini. Kau mengajarkan banyak hal kepadaku. Bahwa kehidupan itu tidak terbatas di sepetak layar HP atau monitor. Hidup sebenarnya adalah berinterksi langsung dengan sekeliling kita. Juga tentang pemahamanmu mengenai sosok wanita."

Tidak ada jawaban dari belakang.

"Hat.... Hat.... “ Yah, mungkin dia ketiduran karena capek.

Aku pacu motorku menyusuri jalan aspal. Hati tertidur di punggungku. Ditemani bungan angsana yang jatuh tertiup angin. Kawan, sudah kita peduli dengan sekitar kita terutama keluarga kita. Jangan sampai kita menyesal ketika mereka sudah tidak ada.

Salam Macul

Perjalanan Ke Barat

Add Comment

Aku rebahkan tubuh ini di kasur lantai kamar Soni. Kasur yang sudah tidak berbentuk kasur lagi. Warnanya sudah pucat dan bolong sana sini. Tipis pula. Tak apalah, namanya numpang ya harus trimo ing pandum. Aku pejamkan mata ini, tak kuasa menahan lelah perjalanan tadi. Lukman dan Soni masih bercengkerama membahas sesuatu tak penting.
"Masssss...."
"Masssss...."
Tiba-tiba aku sudah di alam mimpi. Aku mencari arah suara yang memanggilku barusan. Aku melihat sekeliling. Tidak ada seorang pun. Siapa yang memanggilku?
"Massss....."
"Ida....," ujarku pelan melihat seorang wanita yang begitu jauh. Kenapa dia terlihat jauh. Tangannya melambai seolah minta tolong. Kakiku terasa kelu untuk melangkah. Kenapa aku ini? Aku tidak bisa mendekatinya.
"Idaaaaaa...." aku terjaga. Aku melihat sekeliling lagi. Masih di kamarnya Soni.
"Jiangkrik, nglindur kowe Bos? Bikin kaget saja!" ujar Lukman
"Wedusss, hahahaha," timpali Soni.
Aku yang menjadi tokoh utama hanya bisa tersenyum malu. Aku rebahkan kembali di kasur bisu itu. Aku tak bisa memejamkan mata ini. Sembari mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Gimana Son?"
"Lanjut to..."
Apa yang sedang mereka bicarakan, batinku
"Ananda Chamdani Lukman bin Fulan. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adinda yang bernama Yuni Junet binti Fulan. Dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Yuni Junet binti Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Belum," tiba-tiba aku memotong pembicaraan mereka. Aku mekekelen menahan tawa. Jadi dari tadi mereka berdua latihan ijab qobul. Soni jadi wali dan Lukman mengucapkan qobul. Kok tidak mengajak aku, dijadikan saksi atau apa kek.
"Aseemmm kowe bos, hahaha."
Kami bertiga tertawa. Menertawakan kekonyolan barusan. Rasa kantukku seketika hilang. Kami saling ngobrol tentang masa depan kelak. Ahhh, konyol juga sebenarnya. Kita hanya bisa berencana, Allah yang berkehendak. Setidaknya kami sudah berusaha melukis impian kami di atas kanvas kehidupan. Tak terasa rasa kantuk melelapkan kami tanpa sadar.
Besuk ada agenda besar menanti kami. Perjalanan ke Barat.
****
Hari ini kami bertiga akan mendatangi pernikahan kawan satu kosan Soni dan Lukman dulu. Namanya Agung Kristianto. Perawakan kurus ceking. Tinggi sih. Tapi rela bagi-bagi? Aaahh malah ngelantur. Tempat resepsinya di Tuntang, Kabupaten Semarang. Sebagai rekan sejawat yang dulu berjuang bersama tidak afdol rasanya kalau tidak datang ke sana. Lagian juga sekali seumur hidup. Hitung-hitung sebagai tabungan kelak, hehehe.
Sebelum berangkat, kami luangkan waktu untuk sekadar ngopi pagi. Kopi susu sudah tersaji manis di depan masing-masing. Padahal belum juga cuci muka, masih tersisa bekas perjuangan tidur semalam. Iler. Toh juga agak ada yang lihat.
"Tempatnya sudah tahu Ni?" tanyaku mengenai tempat prosesi resepsi Lek Agung.
"Belum tahu. Gampanglah, pake google maps juga ketemu!" ujarnya enteng pake banget terus menyeruput kopinya.
Gampang mbahmu. Tidak tahu dia aku pernah trauma gara-gara google maps dulu di Rembang (baca: Perjalanan ke Timur). Ditelantarkan tanpa perasaan di pelosok desa yang warganya sendiri tidak tahu nama daerahnya. Tetapi rasa takut tersebut sedikit berkurang karena kami bertiga. Kalau tersesat lagi ya kebangetan sekali.
"Lha gak ada denah peta di undanganya to?" tanyaku sekali lagi. Menyeruput syahdu kopi di depanku.
"Gak ada Lek! Undangannya kan lewat Facebook!" balas Soni.
Whaatt?? Undangan lewat Facebook. Diacara sesakral ini. Sekali seumur hidup ini. Yah, yah. Dunia semakin aneh selurus dengan perkembangan teknologi. Teknologi memang bisa mendekatkan yang jauh, tetapi mereka tidak sadar juga menjauhkan yang dekat. Lihat saja sekarang, banyak orang berkumpul tetapi mereka disibukkan dengan gadget masing-masing. Serasa pada jadi anak autis sendiri-sendiri. Gilllaaaaa.... Kalau di kampungku mah, gak bakalan datang kalau tidak diundang pake sebungkus berkat.
Hari Minggu tidak ada gawean, enaknya ya males-malesan begini. Ditemani kopi susu. Mau mandi kok rasanya aras-arasen. Tetapi jam dinding kos menunjukkan pukul 09:00 pagi. Satu jam lagi harus beranjak ke daerah atas untuk nyumbang.
"Jasnya sudah cocok belum Son?" kata Lukman masih memandangi dirinya di depan cermin.
"Cocok Man. Jasku sepertinya malah terlalu kecil. Buat gerak agak susah gimana gitu. Jasmu piye Lek?" jawab Soni.
Aku masih memandang bayanganku di cermin. Ckckckckck, ternyata pake setelan jas hitam, kemeja putih, dasi, dan celana hitam membuatku terlihat ganteng maksimal. Bahkan kalo boleh jujur aku tidak mengenali siapa di cermin tersebut.
"Sekali-kali tampil modislah. Biar terkesan perlente. Bak priyayi, hahaha," ujarku menimpali Lukman dan Soni.
Kami bertiga masih berdiri di depan cermin. Mengagumi setelan pakaian masing-masing yang terlihat sama. Bak detektif dalam Men in Black saja.
"Tapi kok ada yang aneh ya Ni, Lek!" aku tertegun melihat sesuatu yang janggal.
Mereka berdua menoleh ke arahku. Mukanya penuh tanda tanya.
"Percuma kan kalo setelan jas, klimismplitit. Tapi perute masih saja buncit."
"Jiangkrik kowe Bos. Merusak khayalan wae," kesal Lukman menimpali.
Kami bertiga tertawa kembali. Membayangkan memakai setelan jas, pakai dasi, pakai sepatu fantopel. Tetapi itu hanya sebatas khayalan. Tak lebih. Yang ada malah, kemeja pendek, celana jeans dan pake Eiger KW (baca: sandal jepit).
"Yuk cussss"
*****
Kami sengaja tidak sarapan pagi. Biar perutnya bisa muat banyak kalo sampai di tempatnya Lek Agung. Lumayan kan makan gratis. Harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Itu prinsip anak kos, kata Soni. Aku mah ngikut saja.
Sudah 20 menit kami naik motor menuju tempat resepsi. Tapi belum juga sampai-sampai. Aku tanya Lukman katanya masih 10 km lagi. Alamak jauh amat. Selain dikarenakan suhu Semarang yang puanas pake banget. Perut ini sudah berdendang ria minta diisi.
"Eh Ni, ada yang bawa amplop gak? Tadi kelupaan pas di kos?" tanyaku membuang bosan.
"Gampang nanti cari pas di sana saja!"
Aahhh, panasnya Kota Semarang. Mungkin aku yang belum beradaptasi di sini kali ya? Dasar orang desa udik ketika melewati Ungaran yang banyak berjejer pabrik produk ternama membuatku ternganga kagum. Memang pada dasarnya di Purwodadi tidak ada pabrik. Kalau pun ada hanya sebatas Pabrik Kecap. Itupun tidak terlalu besar, masih tergolong Home Industri. Jadi harap maklum kalau seumur hidup baru melihat pabrik-pabrik yang sudah melegenda akan produknya.
Sebut saja, Nissin, yang selalu menemani hari-hariku di setiap lebaran. Produknya MondeKong Huan, Astor cukup menjadi primadona di desa. Selain itu multi fungsi yang dimiliki kalengnya selepas lebaran. Bisa buat tempat krupuk gendar/puli, rempeyek dan sebagainya.
Ada lagi pabrik Coca-Cola. Produsen minuman bersoda yang sangat-sangat mustahil untuk diminum dulu sewaktu kecil. Karena memang tidak kuat beli.
Akhirnya sebuah plang besar bertuliskan Tuntang menuntun kami untuk berbelok. Benar saja. Kami harus melewati jalan di tengah hutan. Melewati pemukiman penduduk yang tidak kami kenal sebelumnya. Melewati kebun buah milik pemerintah. Melewati persawahan bero.
Sebuah janur kuning melengkung. Berarti sudah mulai dekat nih tempatnya. Kami berhenti sejenak untuk memastikan dan mencari amplop.
"Yakin ini rumahnya Man?" tanya Soni
"Sepertinya begitu Son. Dulu ancer-ancernya ada gereja. Itu ada gereja! Wis to yakin. Sekarang tinggal cari amplop buat nyumbang!" jawab Lukman dengan menunjukkan sebuah tempat peribadatan.
Kami menyusuri toko-toko pinggir jalan untuk mencari sesuap amplop. Amplop sudah di tangan. Kami membeli empat karena ada teman yang nitip nyumbang. Dan tidak perlu kami beritahukan berapa yang kami gelontorkan untuk acara ini. Tahu sendirilah, hehehe.
*****
Skip. Skip. Skip. Akhirnya kami sampai juga di tempat kejadian pernikahan. Kalau boleh jujur sih agak nyepit tempatnya. Tak apalah. Yang pentingkan maknanya bukan tempatnya. Kami masuk bareng tamu yang lainnya soalnya kami hanya bertiga biji saja. Tidak etis kalau gluntang-gluntung sendirian di tempat yang menurut kami asing.
Disambut oleh bapak-bapak dan ibu-ibu penerima tamu. Tidak lupa juga memasukkan amplop yang tadi disiapkan ke dalam kotak amal uang. Isi buku tamu tidak pakai lama lanjut mencari tempat duduk. Yang lain dapat souvenir pemotong kuku kok kami tidak dikasih ini bagaimana? Kan kami juga tamu kehormatan dari negeri seberang. Kan lumayan daripada beli di toko. Tak apalah, aku maafkan!
“Yah, masih prosesi resepsi Lek!”
“Sabar Lek! Nyumbangmu ki piro langsung jaluk mangan!” lipur Soni
Ternyata prosesi resepsinya masih berlangsung. Dengan terpaksa harus menunggu lama. Padahal kami sudah perhitungkan ketika sampai langsung bisa menikmati santap makan. Ternyata memang belum rejeki. Terlihat mempelai pria keluar dari rumah entah punya siap diiringi beberapa cowok cewek yang didandani juga. Ekspresinya datar. Tidak ada senyum, kalaupun ada ya agak dipaksakan. Mungkin dikarena grogi dan gugup.
Skip.Skip.Skip. Prosesi resepsi selesai juga. Berarti waktunya isoma. Yahhh, inilah yang kami tunggu-tunggu. Kami langsung mengambil menu gule kambing yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat duduk. Ambil nasi secukupnya anak kos. Untuk lauk sudah disiapkan ibu-ibu di dalam mangkuk.
“Lauknya boleh ambil dobel Mas?” ujar salah satu Ibu yang masih sibuk menuangkan kuah gule ke dalam mangkuk daging.
Kami saling berpandangan. Segitunyakah Bu? Memandang kami seperti orang yang layak dikasihani? Layak dikasih lauk daging lebih? Kok Ibu itu bisa menebak latar belakang kami yang sangat kekurangan asupan daging. Tanpa pikir panjang dua mangkuk daging langsung kami tuangkan ke nasi terus disiram kuah gule yang banyak. Hitung-hitung buat ngisi tenaga nanti kalau pulang. Semoga saja nanti pas pulang juga dibawain berkat #ngarep.
Perjamuan makannya menerapkan konsep prasmanan. Tetapi sayangnya ya itu, tempat makannya satu dengan yang lainnya terpisah jauh antara langit dan bumi #lebay. Jadi memaksa kami tidak bisa mengeluarkan jurus bayangan untuk mencicip semua makanan. Yah, terpaksa deh cuma makan gule kambing.
“Kenyang Man?” tanya Soni kepada Lukman yang bingung mencari air minum.
“Hahahaha, sebenernya kalau jujur ya belum Son. Tapi ya mau gimana lagi. Jawa imejlah. Sekali-kali kayak orang lain gitu makannya sedikit!”
“Halah telo. Ngomong saja sih ngeleh. Soalnya aku juga sama, hahaha!”
Demi kesejahteraan bersama. Kami sudahi acara makan-makannya. Dan anehnya, semua kursi yang awalnya tadi terisi penuh oleh tamu. Setelah acara makan selesai langsung lenggang melompong. Oalah, ternyata mereka juga menunggu bagian isoma juga.
*****
Selesai makan, para tamu disuguhi hiburan organ tunggal. Ada dua biduan yang menghibur. Yang satunya masih muda, sital, agak sedikit semok dan manis 
bukan cantik. Dan satunya lagi sudah masuk fase ibu-ibu paruh baya. Kami memutuskan untuk foto-foto dengan mempelai berdua. Lek Agung Kristianto dengan Mbak Heni. Karena antriannya kayak antrian sembako kami menunggu sembari menikmati lagu yang disuguhkan. Ada seorang bapak-bapak yang request lagu dan dinyanyikan sendiri. Suaramu itu lho Pak, menusuk relung hatiku. Falsnya tidak ketulungan.
Sungguh benar di luar dugaan kami bertiga. Ini namanya rejeki atau malah ujian. Kami duduk berhadapan langsung dengan biduan muda tadi. Dan posisi duduknya biduan tersebut kakinya dinaikkan di kaki satunya. Posisi duduk khas para wanita. Yang membuat kami terpana adalah rok yang dikenakan biduan tersebut bisa dikatakan kurang panjang (baca: pendek). Maka terpampanglah paha biduan cantik tersebut tanpa tedeng aling-aling yang menghalangi. Mak glek, ludah aku telan. Kok sekarang hawanya jadi agak panas ya!
Serba salah. Kalau dilihat dosa. Kalau tidak dilihat ya eman-eman namanya rejeki. Jarang ada. Aku memberi kode kepada Lek Soni dan Lukman tentang temuan di depan mata tersebut. Ternyata mereka juga memperhatikan. Oalah jangkrik selera kita sama. Anehnya, bukannya memperbaiki posisi duduknya yang menantang tersebut. Si biduan acuh tak acuh dengan pandangan kami bertiga. Agaknya memang disengaja dan memancing kami bertiga nih.
“Mbak-mbak sajake kok nantang diciwel pupune,” batinku
Akhirnya kami diselamatkan dengan dipanggil ke atas panggung untuk foto bersama pengantin. Meski kami beranjak dari kursi dengan sedikit masih memandang pemandangan langka tadi.
Kami bersalaman dan basa basi berpelukan untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang samawa kata orang-orang. Sakinah Mawadah Warohmah. Semoga kami segera menyusulmu Lek Agung.
Pose sebentar. Foto jebret. Terus disuruh turun. Gantian dengan yang lainnya. Cuma sekali jepretan? Alamak. Dan akhirnya kami tahu besarnya sumbanganmu berbanding lurus banyaknya jepretan foto dengan pengantin. **Foto jepretan tunggal kemarin masih proses dikirim sama Lek Agung.
“Sudah? Cuma begini saja? Datang, salaman, duduk, makan, foto terus pulang?” keluh Soni tidak percaya.
“Nyumbangmu ki lho piro?” jawab kami berdua
Kami tertawa bersama.
Salam Macul
NB: Lek Agung Kristianto dan Mbak Heni jangan marah ya atas kelancanganku menulis ini semua. Tidak lain tidak bukan hanya untuk mengenang memori. Semoga bahagia sampai kakek nenek. Kapan aku nyusul? Kalau boleh jujur aku pun sudah kemana-mana mencarinya. Mungkin dia masih tersesat di hati oranglain, hahaha.

Disembunyikan Makhluk Halus

2 Comments

Hidup di kampung selalu bersinggungan yang namanya dunia mistis atau klenik. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau sesepuh dulu memiliki ajian berbeda-beda. Kata orang dulu mereka melakukan lakutopo atau meditasi bahasa kerennya. Tetapi bukan masalah gamankhodam atau apa yang akan aku bahas di sini. Stop.

Setan, demit, hantu atau apalah itu sudah menjadi teman cerita sewaktu kami kecil. Biasanya Emak atau Bapak memberikan cerita setan kalau kami bandel susah tidur. Kalian pernah? Pasti tidak kan? Bukannya takut aku malah selalu tertarik jika Emak bercerita tentang kejadian semasa kecilnya mengenai setan atau demit. Bahkan Emak sendiri pernah mengalaminya sendiri.

Waktu itu Emak masih berumur kurang lebih 7-8 tahun. Sepulang dari bermain, beliau langsung ke dapur mencari makanan. Rumah sepi karena Bapak dan Emaknya Emak pergi ke sawah. Tiba-tiba....

Seluruh rumah bingung bukan kepalang. Emak adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Adik-adik Emak laki semua. Simbah Kakung dan Putri bingung karena Emak dicari-cari tidak ditemukan batang hidungnya. Tiba-tiba....Emak ditemukan di dalam gulungan tikar bambu yang disandarkan di dinding rumah. Pas di atas tempat dulu ari-ari Emak dikuburkan.

Dari cerita Emak, dulu beliau tiba-tiba dibawa oleh makhluk hitam legam. Kami menyebutnya genderuwo, tidak tahu di daerah kalian namanya apa. Kata Emak juga sebenarnya beliau dapat melihat Simbah Kakung dan lainnya sedang mencarinya. Tetapi tidak tahu mengapa beliau tidak bisa berteriak memanggilnya. Kata sesepuh kampung, digondol genderuwo itu bisa menurun ke anak sulungnya kelak. Tetapi Emak tidak mempercayai itu.

Selang puluhan tahun setelah kejadian itu. Mas Pung, kakaku pertama, anak sulung Emak akhirnya mengalami apa yang dialami Emak dahulu. Waktu itu aku ingat betul apa yang terjadi.

Sore itu Mas Pung pergi main bola ke dusun sebelah. Tidak seperti biasanya dia main ke dusun sebelah. Dusunku dengan dusun tersebut dipisahkan sungai di belakang rumah. Jadi lewat belakang rumah lebih dekat daripada harus memutar jalan. Adzan Magrib sudah dikumandangkan di langgar depan rumah. Emak dan Bapak khawatir bukan main mendapati anak pertamanya belum pulang-pulang. Semua teman Mas Pung ditanyai apakah ada yang tahu keberadaannya.

Akhirnya ada tetangga yang melihat Mas Pung mandi di sungai belakang rumah ketika pulang dari dusun sebelah. Kalau mandi di sungai belakang rumah harusnya sudah dari tadi sampai di rumah. Lha ini kok belum pulang-pulang. Kemana lagi mainnya. Jangan pernah membuat orangtua kepikiran, karena kalian akan tahu bagaimana rasanya jika kalian memiliki anak kelak. Sesakit sakitnya sakit.

Bapak pun meminta pertolongan Pak Yahya, Kyai langgar depan rumah. Juga kepada Pak Dhe, kakak pertama Bapak, yang sering dimintain tolong oleh warga dalam hal spiritual. Semua tetangga berkumpul di dalam rumah. Ibu-ibu berusaha menenangkan Emak yang ternyata dari tadi sudah menangis. Ya Allah, kuatkan Emak hamba. Sudah tidak terhitung berapa kali Emak keluar masuk kamar Mas Pung. Sekadar mengecek siapa tahu Mas Pung sudah di dalam kamar. Alhamdulillah Emak tidak sampai pingsan.

"Siapkan tampah dan linggis. Kita ke belakang rumah sambil dipukuli tampah dan linggisnya," perintah Pak Yahya kepada warga yang berkumpul. Sepertinya Pak Yahya mengetahui kalau anak didik ngajinya itu sedang berada di dunia lain.

Aku pun ikut ambil bagian. Memukuli batang linggis. Sedangkan lainnya memukuli tampah. Terdengar suara dok ting dok ting dok ting. Perpaduan suara tampah dan linggis. Ada juga yang lantang memanggil nama Mas Pung.

"Pung...."

"Pung... Kowe nek ndi Le!"

"Digoleki wong okeh ki lho!"

"Pung..."

Belakang rumah ada kebun yang ditanami klirut dan ganyong sama simbah. Kami sudah memutari belakang rumah. Ke rumpun bambu yang tumbuh subur di pinggir kali. Melewati pohon waru yang besar menjulang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah..

"Purwanto sudah ketemu..."

Alhamdulillah. Akhirnya Mas Pung dipulangkan. Emak menjerit bukan main. Memeluk anaknya yang dikira hilang.

"Lee...Lee...nek ndi wae kowe mau!" meski menangis aku tahu pasti Emak bahagia dan senang karena anaknya sudah kembali dengan selamat.

Mas Pung ditemukan di antara amben dan gedek (dinding rumah dari bambu). Padahal sudah tidak terhitung Emak keluar masuk kamarnya tadi. Pas di atas tempat dikubur ari-arinya sewaktu bayi. Sama persis seperti ceritanya Emak dulu waktu kecil. Mas Pung langsung dimandiin sama Emak. Dibutkan teh hangat dan disuapi makan.

Emak tidak bertanya apa-apa kepadanya. Karena Emak tahu anaknya sedang syok. Bapak masih di ruang tamu melayani tamu-tamu yang datang. Aku lihat Mas Pung hanya diam dan tidak banyak bicara.

Sebagai tambahan dulu dapat cerita dari Mbah Sri (Sesepuh Kampung), kalau digondol genderuwo dikasih makanan jangan pernah mau. Konon katanya kalau dikasih mie itu aslinya cacing. Dan kalau sampai kita memakannya kita akan gendeng selamanya (baca: gila). Alhamdulillah Mas Pung tidak sempat ditawari makanan sam itu makhluk asral (pinjam sebutan dari Dunia Lain).

Mas Pung bercerita kalau sebenarnya dia sudah mau pulang selepas mandi di sungai. Tetapi tidak tahu kenapa ketika hendak pulang malah sampai di bawah pohon waru besar belakang rumah. Dan ketika melihat ke atas ada sorotan sinar terang. Sebenarnya dia juga tahu ketika sedang dicari orang satu RT. Melihat kami memukuli tampah dan linggis.

"Genderuwone ambune apek. Pokoke gak enak blas. Ora tahu adus paling," katanya

Itulah dua kejadian digondol genderuwo yang pernah terjadi di dalam keluargaku. Pertama Emak, kedua Mas Pung. Apakah nantinya akan menurun ke anak pertama Mas Pung? Semoga saja tidak. Aamiin.

Apakah sahabat Maculler ada juga yang mengalami hal yang sama? Atau mungkin tahu tetangga, saudara atau temannya yang pernah mengalami?

Premis yang dapat aku tarik di sini adalah mungkin si demit tersebut kesepian dan minta ditemani oleh anak manusia. Atau malah mau mengadopsi anak manusia dikarena dia jomblo, hahaha
Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Salam Macul

Belajar Dari Air

Add Comment

Sore itu akhirnya turun hujan. Sudah lama tidak turun hujan. Membasuh tanah kampung yang sudah kering kerontang akibat kemarau panjang. Hal yang sangat dinanti-nantikan para petani untuk mengawali musim tanah. Bau khas tanah kering terguyur air hujan. Orang kampung menyebutkan bau tanah lempung.

Tak ada yang aku lakukan, hanya memandang hujan di balik kaca kamar dekat balkon. Melihat tetesan air hujan yang tanpa lelah turun ke bumi. Seperti itulah mencintai tanpa mengenal lelah. Layaknya air hujan yang tanpa henti membasuh bumi. Meski mereka tahu sakit rasanya. Haiisshh aku ngelantur apa ini.

"Daripada bengong gitu mending kita main UNO yuk!" ajak Hati mendekatiku. Langsung duduk persis di sebelahku membawa tumpukan kartu UNO. "Akal, Nafsu ayo ke sini. Ikut main UNO!" ajak Hati kepada Akal dan Nafsu yang dari tadi bertengkar berebut main game di laptop. Mereka selalu saja begitu.

"Dingin-dingin gini ditemani cokelat panas enak nih," celetuk Hati yang masih menata kartu UNOnya."Kal, buatin dong! Kemarin kan sudah aku buatin teh hangat. Ya ya ya?" rengeknya.

"Ah, manja sekali kau, Hat!" jawab Akal."Naf, ayo ikut ke dapur. Bantu buat!"

"Yaaaahhhh...." lagi-lagi jawaban sebal mereka perlihatkan.

Cokelat panas sudah tersaji di depan masing-masing. Hawa dingin mulai merasuk. Guyuran hujan masih belum berhenti. Embun air mulai nampak di dinding kaca. Tujuh kartu UNO juga sudah tangan masing-masing. Hati mulai permainan kartu, mengambil kartu awal 7 merah.
*****
Sekarang gilirannya Nafsu yang main. Kartu teratas adalah Wild Two (+2) yang berarti Nafsu harus mengambil dua kartu dari tumpukan. Permainan berlanjut.

"Hujan belum juga reda ya?" gumamku sendiri. "Air. Menurut kalian air apakah yang sangat berharga di dunia ini?" tiba-tiba aku mengeluarkan bahan pertanyaan di sela permainan UNO. Mereka bertiga berhenti sejenak.

"Kalau aku sih mungkin berpendapatnya ASI. Air Susu Ibu. Karena kita kecil tidak mungkin tidak minum ASI. Bahkan itu sangat dianjurkan sampai umur 2 tahun. Dan sudah banyak penelitian yang membuktikan pentingnya ASI eksklusif bagi perkembangan balita itu sendiri," tutur Hati langsung menanggapi.

"ASI kan susu, Boy. Bukan air. Yang penting kamu jalan dulu. Lama nih aku nunggu kamu gak jalan-jalan. Kalau memang gak ada kartu yang cocok cepatan ambil!" balas Nafsu yang kesal.

"Iya-iya, sabar sedikit kenapa?" Hati mengeluarkan kartu 8 Hijau. Giliranku yang harus mengambil kartu karena tidak ada kartu angka 8 atau warna hijau di tangan.

"Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak pada bayi yang diberi ASI lebih besar daripada bayi yang tidak diberikan ASI. Sebuah analisis komparatif bayi yang diberi ASI dan susu formula bayi oleh James W. Anderson, ilmuwan dari University of Kentucky, menetapkan bahwa IQ bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya yang tidak diberi ASI.

“Sebagai hasil dari penelitian ini, ditetapkan bahwa ASI sangat bermanfaat bagi kecerdasan hingga 6 bulan dan bahwa anak-anak yang disusui kurang dari 8 minggu menunjukan tidak adanya perkembangan IQ yang signifikan.

Kami bertiga mendengarkan dengan saksama penjelasan Hati. Giliran si Akal yang harus mengambil kartu di tumpukan karena Nafsu mengeluarkan kartu Wild Four. Terlihat Nafsu tertawa dengan sinis dan puas.

"Sebagai hasil dari semua penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa ASI yang dibahas dalam ratusan tulisan yang telah terbit, melindungi bayi terhadap kanker. Fakta menunjukan  bahwa mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah protein ASI membunuh sel-sel tumor yang telah ditumbuhkan di dalam laboratorium tanpa merusak sel yang sehat, para peneliti menyatakan bahwa sebuah potensi besar telah muncul.

“Catharina Svanborg, profesor imunologi klinis di Universitas Lund di Swedia, memimpin kelompok penelitian yang menemukan rahasia mengagumkan dari ASI. Tim ini di Universitas Lund menjelaskan kemampuan ASI dalam memberikan perlindungan melawan beragam jenis kanker sebagai penemuan yang ajaib. UNO...," ujar Hati dengan semangat. Yang menandakan kartu yang di tangan Hati tinggal satu.

"Dan ironisnya, banyak ibu-ibu muda sekarang yang tidak memberikan ASI eksklusif. Alasannya karirlah, capeklah dan seabrek alasan yang dibuat-buat. Padahal dalam Al Qu'an sudah dijelaskan dengan gamblang, “Dan Ibu-Ibu  hendaklah  menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Bagi yang ingin menyusui secara sempurna……”. (Al Qur’an, 2:233)"

"UNO...." lagi-lagi Hati berteriak. Ternyata Nafsu yang kartunya tinggal satu lupa mengucapkan kata UNO. Karena sudah didahului Hati, Nafsu harus mengambil dua kartu di tumpukan kartu. Wajah Nafsu semakin sebal dan jengkel. Bisa-bisanya dia lupa mengucapkan UNO.
*****
Kini giliran Akal ikut ambil bagian dalam diskusi hangat sore ini. Tidak lupa dia mengeluarkan kartu Skip

"Kalau menurutku air wudhu. Secara tidak sadar, kita selalu menyepelekan hal berwudhu. Karena sesungguhnya berwudhu tidak sekedar membasahkan muka dari air saja. Sejatinya banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dari berwudhu. Ini siapa yang selanjutnya jalan nih?” akal mengitarkan pandangannya ke kami bertiga. Semua mata tertuju kepadanya.

“Oh aku yang jalan to. Maaf, maaf,” Akal mengeluarkan lagi-lagi kartu Skip. Kartu di tangannya kini tersisa dua kartu.

“Peneliti dari Universitas Alexsandria, dr Musthafa Syahatah, yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

“Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan, kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu, kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita. UNO.....” Akal mengucapkan UNO yang berarti kartunya tinggal satu. Kartu yang dikeluarkan Wild Four (+4).

“Warna apa yang kamu pilih Kal?” Hati yang bersemangat kartunya tinggal satu. Hati mendengus kesal karena warna yang dipilih Akal tidak sama yang dimiliki Hati. Terpkasa Hati harus mengambil empat kartu di tumpukan kartu ambilan. Nafsu yang dari tadi masih diam tertawa senang karena Hati tidak jadi menang.

“Para pakar kesehatan senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Apakah itu juga ada hubungannya dengan manfaat berwudhu sesuai penjabaranmu tadi Kal?” gantian aku yang bertanya.

“Boy, cepetan jalanlah. Sudah lama aku menunggu dari tadi Hati sudah minum kartu banyak itu, hahahaha,” sergah Nafsu

“Anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci, berarti ia dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

“Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.) Atau hadist lainnya yang berbunyi, “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim) 

“Dari Umar bin Harits bahwa nabi bersabda: “Barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu, maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah.” Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelum tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah. Lho kok malah tidak pada jalan, hahahaha. Penjelasanku terlalu panjang dan membingungkan ya?”

Kami bertiga tertegun mendengar penjelasan Akal. Kami semua sepakat kalau apa yang dikatakan Akal selalu berbobot dan memberikan wawasan baru.

“Apakah air wudhu mampu menjaga wajah wanita tetap cantik, Boy?” entah kenapa Nafsu bertanya yang seharusnya ditanyakan oleh Hati. Tiba-tiba permaiannya berhenti sejenak.

“Hahahaha,” Akal tertawa mendengar pertanyaan Nafsu.”Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan tentang wudhu. Ia mengemukakan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka, yaitu sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menghubungkan hikmah wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

“Dokter Ahmad Syauqy Ibrahim peneliti hidung, penyakit dalam, dan penyakit jantung di London mengatakan : "Para pakar sampai kepada kesimpulan: Pencelupan anggota tubuh ke air akan mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan pada syaraf dan otot, menormalkan detak jantung, kecemasan dan insomania (susah tidur)".

Akal berhenti sejenak mengambil nafas. Menyeruput cokelat panas di depannya.

“Mokhtar Salem dalam bukunya “Prayers a Sport for the Body and Soul” menjelaskan bahwa wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Apabila dibersihkan dengan air (terutama saat berwudhu), maka bahan kimi tersebut akan larut bersama air. Selain itu, wudhu juga dapat membuat seseorang menjadi tampak lebih muda.

“Di dalam buku Mukjizat Berwudhu karya Drs. Oan Hasanuddin, R.O, Akp, MA. Dijelaskan bahwa anggota badan yang dibasuh air wudhu memiliki titik akupresure dan akupunktur yang sangat bermanfaat bagi kesehatan seseorang. Titik-titik tersebut merupakan bagian titik pijat dan akupunktur untuk mengobati berbagai macam penyakit.

“Ulama fiqih juga menjelaskan bahwa wudhu juga merupakan upaya untuk memelihara kebersihan. Daerah yang dibasuh dengan air wudhu seperti tangan, daerah muka, dan kaki merupakan bagian yang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Oleh karena itu, daerah tersebut harus dibasuh untuk menghindari penyakit kulit yang umumnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang dibersihkan seperti sela-sela jari tangan, kaki, dan belakang telinga.

“Memang terdapat penelitian dan terbukti bahwa wudhu dapat membuat kita lebih cantik, tetapi janganlah berwudhu karena hanya mengejar niat ini. Baiknya, apa-apa yang kita lakukan selalu arahkan untuk mencapai Ridha Allah SWT. Masih ada yang meragukan manfaat tersembunyi dari berwudhu?”

Kami bertiga sepakat menggelengkan kepala. Permainan UNO dilanjutkan kembali. Kini posisi kartu masing-masing, aku masih tersisa 3 kartu, Akal 1 kartu, Nafsu 3 kartu dan Hati 5 kartu. Yang memungkinkan menang terlebih dahulu adalah Akal karena kartunya tinggal satu. Bukan Nafsu namanya kalau membiarkan Akal menang dengan mudah.

Giliran Nafsu mengeluarkan kartu Skip kepada Akal, sehingga akal tidak bisa berjalan. “Makan itu kartu Skip,Boy!”

“Sekarang giliran kamu Naf!” pinta Hati

“Lho kau kan sudah mengeluarkan kartu Skip!”

“Maksudnya giliran kamu yang bersuara setelah Akal dan Hati tadi,” aku bersuara menengahi.

“Oh itu, apa ya? Tadi Hati memilih ASI, Akal memilih air wudhu,” Nafsu mulai berpikir.

“Ah kelamaan mikir kamu Naf!” sebal Hati.”Masalah nyanggah kamu nomor satu. Giliran dapat bagian malah bingung, huuuuuuu.” Hati menjulurkan lidahnya sebagai tanda mengejek Nafsu.

“Sabar, Hat! Biarkan Nafsu berpikir sejenak!” tenang Akal

Hujan di luar agaknya belum mau mereda. Malah mulai timbul petir di langit.
*****
“Kalau menurutku Air Zamzam. Zamzam yang dalam Bahasa Arab memiliki arti ‘banyak atau melimpah ruah’. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa air ini memiliki keunggulan dan kelebihan dibandingkan dengan air tanah biasa. Melalui penelitian kimia dan fisika dalam air zamzam, Dr Hamdi Saif dari Alexandria University bahkan menyimpulkan, zamzam adalah air terbaik di permukaan bumi. Zamzam memiliki keseimbangan elektrolit yang sempurna, juga mineral esensial yang sangat baik lagi penting bagi kesehatan. Ia juga sangat alami dan murni, bebas dari satu pun mikroorganisme patogen. Air zamzam sangat membantu dalam pengobatan pengobatan penyakit ginjal dan jantung, masalah mata, migrain, dan sejumlah kondisi kronis lainnya.

“Tak seperti air lainnya, zamzam mengandung kalsium, magnesium, dan fluorida. Ini adalah kandungan unik dan khusus yang membuat zamzam memiliki khasiat untuk menyegarkan kembali para jamaah yang kelelahan.

“Dan hebatnya, zamzam tak mengenal kadaluarsa, meski harus hati-hati dengan kontaminasi wadah atau lokasi penyimpanannya. Zamzam 100 persen alami, tidak ada klorin di dalamnya, juga tidak diolah secara kimia dengan cara apapun.

“Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Robert M. Delinom mengatakan, air zamzam memiliki kandungan mineral yang lebih dibandingkan dengan air tanah pada umumnya. Salah satunya, dipengaruhi lingkungan geologis dan cuaca. Robert memaparkan kondisi sekitar Mekkah yang tidak banyak air hujan, cuaca yang panas mengakibatkan terjadinya penguapan mineral yang terkonsentrasi dalam air. Sehingga lebih berkhasiat. Lebih menyehatkan badan, energinya lebih, memberikan nutrisi pada tubuh. UNO...” teriak Nafsu girang bukan main. Lagi-lagi dia mengeluarkan kartu Skip mematikan langkah Akal.

Senang rasanya mendengar semua penjelasan dari mereka bertiga. Awalnya aku hanya ingin mendengarkan mereka berpendapat. Tetapi mereka memberikan ilmu pengetahuan yang mungkin aku sendiri belum mendapatkannya. Tak terasa jam dinding kamar menunjukkan pukul 16:00, berarti sudah 2 jam lebih kami berdiskusi dan bermain UNO.

Tiba-tiba petir menyambar di tengah perasawahan. Menimbulkan gelegar suara gemuruh yang lumayan memekakkan telinga. Reflek Hati memelukku mencari perlindungan.

“Yaelah malah main peluk-pelukan. Main woi main,”

“Kamu mau dipeluk juga Naf. Sini-sini aku peluk...,” canda Akal melihat Nafsu kesal.

“Iiiihhh...dipeluk kamu mending aku meluk guling, Boy!”

Kami semau tertawa mendengar kelakuan mereka berdua. Permainan kami lanjutkan kembali. Sekarang posisi berimbang, Nafsu, Akal dan Hati tinggal satu kartu. Tinggal aku yang masih memegangdua kartu. Seolah aku memegang kendali permainan. Jika kartu yang aku keluarkan ternyata Nafsu tidak sama berarti kemungkinan Nafsu menang terlewati.

“Kalau kamu sendiri bagaimana, Kawan! Kesimpulan yang dapat kau berikan kepada kami semua!”

Gerakan tanganku tertahan atas pertanyaan Akal barusan.

“Eh...” aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Semua mata memandangku.”Iya, iya tapi pandangannya jangan begitu, hahaha. Sebenarnya semua air itu baik, tergantung informasi apa yang kita berikan kepada air tersebut....”

“Maksudnya apa, Day?” Hati tiba-tiba memotong perkataanku.

“Di dalam buku-buku yang ditulis Dr. Masaru Emoto, dialah penemu kristal air yang menakjubkan itu. Bahwa air-air yang diucapkan doa dan kata-kata baik akan membentuk kristal yang sangat indah.
“Di dalam buku Thibbun Nabawi (Kedokteran Nabi) karya Imam Ibnul Qayyim. Di buku itu dituliskan bahwa Nabi Muhammad Saw, menggunakan air doa sebagai medium kesembuhan si sakit. Penemuan Dr. Masaru Emoto memiliki korelasi dengan apa yang diajarkan Nabi selama ini. Dr. Masaru Emoto mengatakan bahwa hal itu terjadi karena air merupakan misteri kehidupan. Mereka yang berhasil mengungkap rahasia di balik air, berarti telah menyingkap misteri kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup…” (QS. Al-Anbiya [21]: 30).

“Dalam penelitian Masaru Emoto, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuatnya yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah Air.

“Karena kualitas air bergantung pada informasi yang diterimanya, konsekuensi logisnya adalah manusia – sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air – sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit.

“Mari kita berkata-kata positif kepada orangtua kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita. Karena apa yang kita katakan kepada mereka sangat mempengaruhi jiwa mereka. Dengan hasil penemuan yang menakjubkan ini, semoga tidak ada lagi kata-kata kasar, merendahkan, dan menghinakan orang lain.

“Sudah selesaikan Boy? Cepat keluarkan kartumu!”

Dengan terpaksa aku mengeluarkan kartu 7 Merah. Aku sudah menduga kalau Nafsu pasti memiliki kartu yang sama. Entah itu angka atau warnanya.

Tiba-tiba.....Peeettttttt. Semua terlihat gelap. Pemadaman listrik ternyata. Kami bertiga tertawa kecuali Nafsu. Dia jengkel bukan main. “Mati lampu sialan, sedikit lagi aku menang!” cerocosnya dalam kegelapan.

Aku alihkan pandangan keluar. Menembus dinding kaca yang sudah blur karena embun air hujan. Terlintas dalam pikiran sesosok wanita yang sudah beberapa hari ini tidak memberikan kabar. Aaahh sudahlah. Hatiku terasa gelap seperti gelapnya kamar ini. Terdengar Akal dan Nafsu masih adu argumen masalah kemenangan tadi.

Salam Macul