Selamat Datang di Markas Kecil

Add Comment

Manchester United memiliki markas Old Traffod. Real Madrid memiliki Santiago Bernabeu. Barcelona memiliki Camp Nou. Arsenal memiliki Emirates Stadium. Ini membuktikan bahwa untuk besar haruslah memiliki tempat atau markas. Sebagai jujukan. Sebagai tempat untuk melatih dan berlatih kemampuan. Dan sebagai ajang pembuktian duel melawan realita. Haissahhh, ini ngomong apa sih.

Didasari itulah akhirnya dengan kemampuan seadanya, saya membangun sebuah markas kecil untuk sekadar kongkow atau ngobrol dengan santai. Tidak luas sih hanya bedeng berukuran 2,5m x 2,5m. Itupun masih numpang di emperan rumah kakak. Abaikanlah semua keterbatasan tersebut. Dengan desain counter tentuny. Lha mbokyo ngomong nak konter, ngunu wae repot.
Markas Kecil Tampak Depan 

Sebenarnya itu hanya opsi kesekian kali. Biar markas ini dilihat orang. Dan juga membantu para tetangga dalam hal menyediakan jasa pengisian pulsa dan sebangsanya. Yang paling utama sih untuk tempat berimajinasi ria. Melatih kemampuan dalam menulis. Dan tak lupa sebagai tempat pelarian jikalau sedang galau atau sebagainya, hehehe.

Sebagai pelengkap markas ini adalah mural tulisan yang tertuang di dalam setiap inchi dinding karsibot. Saya persilakan semua orang yang memiliki unek-unek dan motivasi untuk menuangkannya di dinding. Penampakannya seperti di bawah ini.
Markas Tampak Samping
Tulisan yang selalu bikin baper, duh siapa yang nulis ini!
Tulisan Pintu Depan
Tulisan Pintu Depan 2
Rak Buku untuk sekadar memuaskan nafsu membaca

Coretan Anak-anak yang tidak bertanggungjawab

Semoga markas ini memberikan pencerahan kepada saya bahwa hidup itu butuh perjuangan yang keras. Bahwa untuk sukses itu perlu proses, tidak ujug-ujug ada di depan mata. Dan tentunya jikalau ada rekan yang mau mampir monggo. Kita bercengkerama santai masalah hidup atau tema lainnya. Dengan bantuan secangkir kopi tentunya. Agar suasana semakin intim dan gayeng.

Emak : Pahlawan Sejati

Add Comment

Satu hal yang selalu Emak lakukan di rumah setiap pagi adalah memastikan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Walau hanya dengan lauk kemarin yang dihangatkan kembali. Kadang juga hanya dengan sambel, tapi bagi saya itu lebih dari cukup. Berapa banyak di luar sana yang tidak bisa makan, harus bekerja membanting tulang demi sesuap nasi. Dan menu andalan Emak adalah sambel tempe kemangi.  Kalaupun tidak ada kemangi ya tidak apa-apa, toh tetap sambel tempe.
Setiap kali bangun tidur pasti sarapan sudah siap di meja (kusam) makan kami. Melihat anaknya bangun Emak pasti langsung berkata, “Ndang sholat Subuh Le. Bar iku ndang sarapan trus adus, mangkat sekolah!” (Ayo sholat subuh, Nak. Setelah itu sarapan kemudian berangkat sekolah)
Emak dan Bapak pasti sarapan paling terakhir, memastikan bahwa ketiga anaknya sudah selesai sarapan. Terkadang Bapak malah harus ke sawah selepas subuhan, tidak sempat sarapan. Lha  wong sarapane durung mateng. Setelah anak-anaknya berangkat sekolah, barulah Emak sarapan. Tentu lauk sambel tempenya tersisa sedikit, tidak jarang bahkan lauknya habis. Emak tidak pernah sedikit pun marah.
****
Emak bukan wanita karir. Hanya lulusan SD. Terpaksa tidak meneruskan pendidikan SMP dikarenakan harus mengalah dengan kelima adik laki-lakinya. Emak lebih memilih membantu nenek menjaga adik-adiknya di rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga. Sebagai anak pertama dan perempuan memang harus serba cekatan dan serba bisa di kampung. Tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk kami berbangga hati memiliki ibu seperti beliau.
Menjadi seorang ibu yang baik tidak dilihat dari titel pendidikannya. Tetapi seberapa besar beliau bisa menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya.
Bagi saya Emak selalu dalam #usiacantik. Tidak peduli berapaun umnurnya sekarang ini. Karena perjuangan beliaulah kami tumbuh dewasa tanpa kekurangan kasih sayang. Dari beliaulah kami belajar sabar dan mengalah. Dari beliau juga kami belajar banyak hal. Meski fisiknya harus dikorbankan karena terus bekerja di sawah.
*****
Bukan uang banyak yang mereka inginkan dari kita, anak udik kampung. Melainkan krungoke nak dituturi, manut nak dikongkon. Karena Emak dan Bapak lebih banyak di sawah jadi semua urusan rumah harus bisa diselesaikan anak-anaknya. Mulai dari menyapu, mencuci pakaian,mencuci piring, mengisi bak mandi (dulu belum ada pompa air), ngarit buat sapi. Hanya itu. Sederhana sekali bukan.
*****
Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
Kita tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayang yang telah Emak dan Bapak berikan kepada kita. Lantas apa yang dapat berikan? Jadilah anak yang membanggakan orangtua. Tidak neko-nekoManutan. Menjadi orang yang sukses. Hanya itu yang mereka inginkan di masa paripurnanya.
Setiap malam Emak pasti tertidur di amben depan tv. Setelah seharian bergumul di sawah dan memasak di rumah. Jika ingin melihat wajah bidadari kalian dengan sempurna, pandanglah wajah beliau ketika tidur. Saya pernah melakukannya ketika tidak sengaja menemani Emak menonton tv.
Wajah lelah, penat beliau. Tergurat dari kerutan-kerutan di wajah mereka. Kerutan semakin bertambah seiring bertambahnya usia beliau. Wajah kusam yang terbakar sinar matahari. Kulit kaki yang pecah-pecah. Tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Tanpa lelah bekerja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Pernahkah kalian melihat wajah sejati Emak kalian ketika tertidur? Cobalah.

“Mbok, ngapurane sing kathah. Dereng saget mbahagiake Emak karo Bapak. Nyuwun dongane mawon Mak, mugo-mugo saget dados tiyang,” ujarku setelah melihat wajah Emak tertidur.

Fenomena PekGoWe

Add Comment

Yang namanya jodoh itu tidak akan kemana. Entah itu jaraknya yang kadang nauzubilah jauhnya. Sampai yang kebangetan dekat jaraknya. Ya itulah misteri sebuah jodoh. Kita tidak akan tahu siapakah gerangan sempalan tulang rusuk kita nantinya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini. Saya akan membahas yang namanya fenomena PekGoWe. Apakah itu? PekGoWe singkatan dari diPEK tongGO deWE. Entah mulai kapan pastinya akronim tersebut mulai menjamah dalam pembendaharaan kamus orang desa.

Saya yakin fenomena tersebut juga terjadi di sekitar Anda-anda semua. Tetapi tidak semua jenis pernikahan bisa diklasifikasikan ke dalam akronim ini. Ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi. Yap, masalah jarak antar rumah. Orang nikah se-RT (satu RT) termasuk PekGoWe bagian 1. Menikah tetapi satu dusun termasuk bagian 2. Sedangkan jikalau yang menikah beda dusun tetapi masih satu desa termasuk PekGoWe bagian paripurna atau 3.

Lha kalo menikah antar desa apakah termasuk PekGoWe, Bung? Sebenarnya masih bisa diakui. Tetapi sekali lagi kita lihat jaraknya. Lha kalo ndilalah rumah keduanya berdekatan lantaran batas kampung. Malah bisa masuk ke bagian 1. Tetapi sekali lagi itu tergantung kesepakatan tetua kampung.

Apasih enaknya nikah PekGoWe, Bang? Jujur dalam menjawab pertanyaan satu ini bukan wewenang saya. Lha wong saya belum nikah. Tetapi saya rangkum dari keterangan dari beberapa narasumber rekan-rekan yang mengalaminya secara langsung.

Berikut ini beberapa keuntungan yang diperoleh dari fasilitas menikah PekGoWe.
1. Biaya nikah murah. Lantaran jaraknya yang katakanlah sepelemparan cawet, maka biaya untuk sasrahan jadi hemat. Lha masamu nyewo mobil atau bus dan tetek bengek liyane murah kanggo jaman saiki? Mikir.
2. Lebih dapat chemistry dengan mertua. Karena sering bertemu atau mungkin sejak kecil selalu main bersama semakin tahu sifat-sifatnya. Dan khusus dengan morotuo tentu lebih mudah klop. Lha wong konco ngopi nek warung, misale.

Di dunia ini semua berpasang-pasangan. Kalau ada enak pasti ada tidak enaknya atawa kelemahan. Ceileh ngomong opo sih.
1. Kalau bertengkar bisa kedengaran orangtua atau mertua. Namanya berumah tangga harus siap menerima resiko bertengkar. Lha kalo khusus pengantin PekGoWe sangatlah tidak menyenangkan. Pasti mertua atau orangtua akan tahu kalau kita bertengkar.

Mungkin segitu dahulu ya Bro bahasan kita tentang fenomena PekGoWe. Toh fenomena ini sudah berjalan turun-temurun sejak dulu. Yang nama bahkan diabadikan menjadi sebuah lagu dangdut. Apa-apa kalau sudah masuk ranah musik dangdut, pastilah sesuatu yang menarik.
"Pacarku memang dekat. Lima langkah dari rumah,"

Goyang asyikkk

Rahasia Bahasa Wanita

Add Comment

Tak seperti biasanya Sarno terpekur di angkruk depan rumahku. Sendirian. Padahal kalo tiap malam begini kerjaannya hany memandangi layar hp. Mesam mesem sendiri. Tak jarang tertawa terbahak bahak. Tanpa menghiraukan sekitarnya. Ada apa dengan Sarno? Sebagai sohibnya tentu tidak akan membiarkan kejadian langka ini terjadi berlarut-larut. Bisa-bisa nanti Sarno nangis meraung-raung tanpa alasan jelas.

Aku ceblek pundaknya. “Tumben dewean nek kene, No? Biasane lak ngamping nek lawang kamarku kowe,”

“Hmmmmmm, gak opo-opo Mo! Lagi pengen wae!” jawabnya datar. Sedatar wajahnya yang memang pas-pasan itu.

“Biasane lak kowe ngene iki mesti enek masalah. Enek opo kowe mbi pacarmu? Ngomongo karo aku, nak iso tak bantu yo tak wenehi saran. Nak ora iso yo pancen iku nasibmu sing lagi gak beruntung.”

“Lagian nak aku crito karo kowe masalah cewek. Opo o kowe mudeng tur nyambung. Lha wong pacar wae kowe ora duwe. Tuwekan kok ora payu-payu!”

“Kowe ki ncen konco asu kok, No. Wis apik aku nawani konco curhat malah mbok unek-uneke.”

Sarno masih diam. Aku pun demikian adanya. Menikmati semilir angin malam yang dinginnya gak ketulungan. Mana rembulan tidak mau nongol lagi. Tertututp awan mendung. Pancen cocok koyok hawane si Sarno.

“Aku ki bingung, Mo. Kurang opo karo pacarku. Sak panjalukane tak turuti. Jaluk ngene, jaluk ngunu. Lha kok kebiasaane nesu tanpo sebab iseh wae. Aku lak dadi ngelu to, Mo. Ngambekan!”

Akhirnya keluar juga curhatan si Sarno. Seperti dugaanku awal tadi, paling banter masalahnya juga masalah percintaan.

“Ngene lho No. Tak ceritani, tapi iki mbok enggo yo monggo. Ora mbok enggo yo monggo. Kabeh wong wadon iku sebenere duwe titisan telik sandi. Kenopo? Lha wong semua keinginane iku roto-roto gowo kode je. Lha salahe wong lanang, koyok aku kowe iki, ora babar blas masalah perkodean ngunu kui. Yo enek sih wong wadon sing gamblang ngucap pengen ngene pengen ngene. Tapi No, mayoritas lebih suka pakai bahasa kode. Mereka pengen kowe kuwi iso mengerti semua keinginannya tanpa banyak berbicara. Ibarate weruh sakdurunge winarah.”

“Bahasa kode piye maksudmu Mo? Aku kok malah sansoyo bingung!”

“Sebenere bukan bahasa kode dalam artian sebenere No. Tapi lebih mengarah ke sebarapa jauh kowe ngerteni kebiasaan dan keinginan pasanganmu dengan bahasa wanita. Bisa bahasa isyarat, bahasa tubuh dan bahasa kebalikan dari opo sing wonge ucapno. Mudeng tekan kene?”

Sarno geleng-geleng kepala. Aku tepuk jidat.

“Memper nak pacarmu nesa nesu wae,”

“Aku ki malah seneng nak wong wadon ki bloko sutho. Ngomong wae nak pengen ngene pengen ngene.”

“Kabeh wong lanang pengene yo ngunu No. Nak ndilalah ntuk pasangan sing koyok mbok maksud kowe kuwi yo minuk. Gandeng okeh wong wadon sing pengen dimengerti tanpa harus banyak mengeluarkan banyak bicara.”

“Koyok judul lagu wae to Mo. Karena wanita ingin dimengerti.”

“Yo pancen kodrate wong wadon pengen dingerteni, No. Tugase wong lanang kuwi sing ekstra kerja keras piye carane iso ngerteni pasangane dengan segala macam keunikan yang dimiliki oleh makhluk bernama wanita.”

“Terus bahasa kode sing mbok maksud mau piye?”

“Memang sulit No mengerti dunianya wanita. Tapi yo kudu gelem belajar mengerti pasangan masing-masing. Tapi iki sepanjang apa sing tak baca lho. Biasane cewek nak ngomong “tidak” bisa berarti “ya”. Kalo ngomong “Ya” bisa berarti “Tidak”. Tergantung sikon. Deloken wae raine pacarmu pas ngomong iya opo tidak. Nak ndilalah raine ora mesem babar blas yo berarti pacarmu lagi ngajaki sinau antonim.”

“Terus?”

“Pernah pacarmu ngomong “cie” nak kowe gak?”

“Pernah kayakne Mo. Iku lak mung ngajak guyon ra.”

“Cah blaoon kowe. “Cie” ne pacar iku tandane wonge cemburu. Bukane ngajak guyon.”

“Pantesan terus ora gelem bales sms, bbm, wa-ku yo Mo. Cemburu ta wonge. Terus opo neh?”

“Nak kowe lagi lungo karo pacarmu nek mall opo nek pasar. Ndilalah pacarmu ngomong “Tase apik yo Mas?” sambil megang opo nunjuk tas. Iku tandane wonge jaluk ditukokno tas kuwi. Kowe mesti lak mung gur jawab, “Iyo pancen apik!” to?”

Sarno hanya tersenyum mendapati pertanyaanku barusan. Akhirnya tersenyum juga ini makhluk Tuhan semenjak tadi.

“Lha pancen lagi gak duwe duit je Mo. Kon piye maneh! Aku dadi wong ki to Mo, nak gak duwe yo ngomong gak duwe. Daripada gak duwe ngomong duwe, ujung-ujunge malah utang.

“Yo apik kuwi. Dipertahankan. Tapi kok ra duwe duite terus-terusan, sopo sing terus terusan. Sopo sing betah.  Kata satu iki sering banget diucapno marang cewek. “Nggak papa kok” utowo “Gak popo kok” dan sejenisnya. Iku tandane “ada apa-apa”. Inilah yang biasa wanita gunakan, mereka berusaha membuat absrud keadaan dan memaksa pihak pria untuk berpikir keras.”

Hanya dibalas anggukan kepala si Sarno. Semoga memang dia mengerti beneran.

“Kamus selanjutnya adalah “Kamu lagi dimana?” itu artinya “jemput aku sekarang”. Memang terkesan basa-basai sih, tapi ya namanya juga wanita. Sesosok makhluk yang sulit dimengerti dan itu tugas berat bagi kaum hawa untuk belajar mengerti pasangannya.”

“Kowe ki jelaskno ojo plin plan sih? Kadang gowo boso Jowo kadang gowo Bahasa Indonesia.

“Lha kowe kok cerewet. Sing ngomong aku kok kowe sing ribut. Gaweanmu mung trimo rungoke kokean cangkem. Dilanjut pora iki?”

“Hahaha, alus tah Mo. Ojo nesu ngunu. Yo lanjutlah. Pacarku wae sih ngambek ngene kok.”

“Pernah gak pacarmu ngomong “cewek iku sopo?” mbi kowe?”

“Hmmmmmm...” Sarno sejenak sok berpikir. “Pernah kayake Mo, biyen pas aku ngeterno koncoku SMP.”

“Iku tandane cewekmu wenehi kode ojo hubungi bocah wadon kuwi maneh. Terus terkadang wanita sering mengucapkan kata “Mungkin”. Padahal iku arti sebenarnya adalah “tidak”. 

“Dan yang terakhir adalah kata paling sering keluar dari bibir seorang wanita. Bahkan kata ini membuat banyak para pria senewen. Karena ambiguitasnya yang tingkat dewa. Kata itu “Terserah”. Ketika seorang pria mendengar kata tersebut keluar dari mulut pasangannya, yakinlah itu seperti terkena stroke ringan. Kalaupun boleh memilih, mereka lebih memilih pingsan daripada harus berurusan dengan kata mengerikan itu. Karena salah sedikit saja, duuuaaarrr. Seperti mematik granat.  Mungkin cuma itu beberapa bahasa rahasia wanita yang sepengetahuanku No.”

“Tapi kayane enek siji sing mbok liwatno Mo.”

“Opo kuwi?”

“Pikir saja sendiri” itu kalimat bombastis yang tak kalah mengerikannya selain “terserah”. Bahkan ketika seorang pria harus menerima pil pahit kalimat “pikir saja sendiri” dengan perpaduan wajah cemberut pasangannya. Yakinlah bahwa modyar adalah pilihan terbaik.”

Kami pun tertawa bersama. Hanya berdua di angkruk depan rumah. Walau mungkin sebenarnya juga ada beberapa makhluk lain yang ikut tertawa atas guyonan kami.

6 Keunggulan Memiliki Kulit Hitam

1 Comment
Bangga punya kulit hitam © penulispro.net

Sebelumnya aku tekankan di sini bahwa tulisan ini tidak bermaksud SARA. Bukan bermaksud membeda-bedakan antara kulit putih, sawo setengah matang dan hitam. Lantas kenapa menulis tulisan yang tidak jelas begini? Ini dikarenakan sebenarnya aku termasuk golongan orang berkulit hitam. Jadi tidak ada salahnya aku membanggakan diriku sendiri. Masamu penak? Yo penak.

Hitam adalah pilihan, sedangan kulit putih adalah mutlak. Sebenarnya kalaupun boleh memilih aku juga pengen dilahirkan dengan kulit putih. Kalaupun mentok ya sawo belum matang tidak apa-apa. Tetapi kalau sudah dikasih kulit ireng ya mau gimana lagi? Mau nolak kehendak Gusti Allah? Yang ada ya harus disyukuri. Masih syukur dikasih kulit ireng daripada tidak dikasih kulit? Yang setuju goyangkan kepalanya.

Sebenarnya kalau mau bersyukur, tersimpan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh orang ireng. Boleh berbanggalah aku di sini. Berikut ini akan aku jabarkan beberapa keunggulan tersebut:

1. Setia / Soale Ora Payu
Masalah kesetiaan dalam memegang janji dan menjaga cinta mungkin orang berkulit kurang putih juaranya. Bagaimana tidak? Karena mencari pasangan saja mereka kesusahan, termasuk juga aku sendiri. Dan ketika ada yang menyukai dan mencintai kami -semoga mereka tidak khilaf atau di bawah pengaruh obat-obatan- kami tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Soalnya ya itu tadi 1:1000. Makanya mencari pasangan yang berkulit agak gosong kayak aku gini #promosigencar.

Lagian juga orang hitam itu sulit sekali selingkuhnya. Cari pacar satu saja sulitnya minta ampun. Gimana mau selingkuh. Tidak bersyukur sekali jikalau ada bidadari khilaf yang menyukaiku atau golongan kita ini, tetapi malah selingkuh di belakangnya. Ckckckckck, ngoco mas ngoco.

2. Suka bekerja keras
Seyogyanya orang berkulit hitam ada dua penyebabnya, pertama memang bawaan dari bayi. Ketika lahir sudah membawa gen hitam dari kedua orangtuanya. Yang kedua, karena kebiasaan yang tidak terelakkan. Contoh gampangnya ya petani itu. Mereka harus berjibaku di bawah sinar terik matahari. Terpapar terus menerus sinar ultraviolet. Yang sedikit demi sedikit mengikis gen warna putih menjadi warna hitam. Kasihan memang, tapi ya mau gimana lagi. Tuntutan profesi.

Di kalangan petani desa tidak ada yang mengenal sunblock dan lotion tabir surya. Boro-boro beli sunblocklha wong buat makan saja pas-pasan. Emang cukup makan sun block?

Hitam ya hitam, disyukuri. Karena mereka sadar modal tampang saja tidak cukup. Ingat pepatah Jawa mengatakan, Kalah Rupo Menang Bondo. Harga lipstik, bedak dan tetek bengek lainnya itu sekarang juga mahal-mahal.

3. Ora wedi panas
Dalam kamus wong ireng, tidak ada kata takut panas. Bahkan mereka menggunakan kepanasan sinar matahari itu untuk meningkatkan level. Semakin mengkilap semakin jos. Kalau disuruh panas-panasan ya siapa takut. Karena toh sudah hitam jadi tidak takut tambah hitam. Malah yang aneh itu, jika disuruh panas-panasan malah berubah putih itu yang menakutkan.

Jadi, kalau wong ireng disuruh kerja yang bersinggungan dengan panas-panasan itu tidak jadi masalah. Bahkan malah senang. Karena kebanyakan orang yang sok bule takut jika kulitnya menghitam jika harus kerja di bawah tekanan sinar matahari.

Panas saja tidak mereka takutkan dik! Apalagi nembung orangtuamu minta restu.

4. Anti gores
Sama halnya smartphone yang takut jika layar tergores maka harus dipasangi anti gores, screen guard atau tempered glass. Buat aku itu semua tidak dibutuhkan. Aku mbok goreso yo rapopo. Aman. Tidak usah takut lecet atau apa. Angger ojo mbok gores atiku mbi cintamu Dik. Aku gak strong nak masalah kui.

Wong ireng itu serasa punya lapisan anti gores di kulitnya. Tidak perlu anti gores tambahan.

5. Tahan lama
Entah kenapa aku memasukkan kalimat 'tahan lama' yang ada petiknya pula. Tidak afdol rasanya kalau menyebutkan keunggulan wong ireng tidak memasukkan kalimat keramat tersebut. Orang berkulit kurang putih itu tahan lama jomblo atau singlenya, soalnya ya tadi susah dapat pacar. Tahan lama menahan rindu kepada seseorang yang belum tahu siapa yang dirindukan.

Dan yang terakhir adalah 'tahan lama' (artikan sendirilah). Pasti kalian juga mudeng dengan sendirinya, hahaha.

6. Awet Urip
No komen!! 

Itulah lima keunggulan yang tidak dimiliki bagi mereka yang kulitnya kurang eksotik. Sekali lagi aku tekankan di sini bahwa penulisan ini tidak bermaksud SARA atau SIRI. Melainkan hanya unek-unekku sendiri yang secara tidak sengaja tersiram gen warna hitam sejak kecil. Ya harus disyukuri sajalah. Lha wong semua perawatan kulit sudah aku tempuh toh nyatanya tidak ada perubahan. Mulai dari Nat*sha, Skinc*re, Er*clinic, LBD, dan masih banyak lagi tempat perawatan lainnya. Masih tetap eksotis saja kulitku.

Jadi pada intinya janganlah menyesali, gresulo atau tidak terima jika dianugerahi Gusti Allah kulit eksotis. Toh ternyata banyak keunggulan yang tersimpan di balik kulitmu itu #eeh kulitku ding. Tunjukkan bahwa dengan itu kita #eehh aku ding, bisa tampil beda di antara lainnya. Lha wis piye neh lha wong ireng dewe. Jangan malu punya kulit hitam guys. Salam eksotis ya!!

Salam Macul

Keutamaan Seorang Wanita

Add Comment

Sore yang indah.

"Day, sibuk gak?"

Lamunanku buyar mendengar suara Hati dari belakang. Aku menoleh dan memasang wajah ada apa gerangan? Pekerjaanku menumpuk di atas meja. Kertas-kertas berserakan tidak menentu. Banyak sekali yang menggantung. Semua buntu.

"Yuk jalan-jalan ke taman. Kau sudah lama kamu tidak mengajakku jalan-jalan sore lagi," ajaknya sambil menarikku agar berdiri dari kursi peraduan. Aku segera mengambil kunci motor dan mencari keberadaan HPku. Aku mengitari seluruh meja dan kamar. Itu dia.

Tiba-tiba Hati mencegahku. "Kali ini HP ditinggal saja! Sekali-kali boleh kan tidak bawa gadget!"
Aku mengangguk pelan. Tak apalah, batinku.

Hati segera menggandengku keluar kamar. Antusias sekali dia sore ini.
*****
Ada taman kota tidak jauh dari desa. Terletak di tengah persawahan. Dikelilingi pohon mahoni. Di tengah taman sengaja diletakkan beberapa permainan anak-anak. Ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan lainnya. Taman ini menjadi destinasi para warga untuk bermain bersama buah hati dan keluarganya. Jangan heran kalau sore hari adalah waktu paling ramai di taman tersebut.

Setelah 15 menit akhirnya kami sampai di taman. Seperti dugaanku, taman sudah ramai. Kebanyakan keluarga yang membawa buah hatinya bermain.

"Sudah ramai ya Day?" kata Hati turun dari motor. Aku mengangguk.

"Yuk ke kursi itu!" Hati setengah berlari menarik tanganku.

Asri. Damai. Tenang. Melihat keceriaan yang terpancar dari wajah anak-anak yang bermain.

"Inilah kehidupan yang sebenarnya Day!"

"Maksudnya apa, Hat?"

"Lihatlah di tengah taman itu. Inilah gambaran nyata kehidupan Day. Bukan cuma sebatas di layar 5 inch smartphone atau layar monitor saja. Jaman memang sudah banyak berubah. Mereka lebih asyik di dunia mayanya sendiri tanpa menghiraukan dunia nyata di sekelilingnya."

"Mereka hanya tidak siap menghadapi pergeseran kehidupan," jawabku sekenanya.

'Ini bukan masalah siap tidak siap Day. Mereka saja yang tidak bisa mengatur porsi masing-masing. Ketika mereka lebih asyik berkutat dengan dunia tak nyatanya, dunia nyata mereka dengan sendirinya akan terlupakan. Yuk ikut bermain dengan anak-anak," ajak Hati beranjak ke tengah taman.

Apakah selama ini aku terlalu disibukkan dengan dunia maya? Aahhhh. Aku melihat Hati begitu ceria sore ini. Gelak tawanya. Senyumnya. Ketika bermain dengan anak-anak. Bersendau gurau bersama anak kecil lainnya.

Tiba-tiba sebuah bola jatuh di depanku. Terlihat dari kejauhan Hati melambaikan tangan meminta bola tersebut. Aku ambil bola tersebut dan melangkah menuju kerumunan anak-anak kecil.
*****
"Gimana Day? Menyenangkan bukan?" tanya Hati setelah tadi bermain dengan anak-anak. Kami putuskan untuk menyudahi permainan bola tersebut. Merebahkan kembali tubuh ini ke deretan kursi taman yang lumayan lenggang.

Aku mengangguk pelan. Sore ini tidak tahu kenapa bawaannya tidak mau banyak berdebat dengan Hati. Malas rasanya untuk berkomentar.

"Day, kamu lihat ibu-ibu yang di sana?" tunjuk Hati ke seorang ibu di taman.

"Ibu-ibu yang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya itu?" jawabku menebak siapa yang ditunjuk Hati barusan.

"Ya. Ibu yang membawa kelima anaknya itu. Beliau hebat ya Day! Seorang diri menjaga kelima anaknya!"

Terlihat di sana ibu-ibu yang sedang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya. Di sekelilingnya berlarian tiga buah hati lainnya. Ibu dengan kelima anaknya.

"Jangan lupa ada suami hebat juga di samping ibu tersebut, Hat!"

"Iya, tapi sekarang beliau sedang sendirian bukan? Mungkin suami masih bekerja!" balas Hati menatapku. Aku membalas tatapannya bertanda heran.

"Kau tahu Day, seorang wanita itu adalah makhluk yang memiliki banyak keuutamaan."

"Makhluk yang memiliki banyak keutamaan? Maksudnya apa Hat?" tanyaku tidak mengerti arah pembicaraan Hati. Sepertinya akan ada pengetahuam baru dari Hati, batinku.

"Kau menatapku jangan begitulah Day! Serasa aku ini makhluk aneh di sini, hahaha," Hati tertawa melihat ekspresiku."Wanita itu memiliki banyak sekali keutamaan, Day. Kau bisa melihatnya dari sosok ibumu sendiri atau ibu-ibu tadi. Pertama, wanita memiliki bahu kuat. Buat apa? Agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur."

Aku memperhatikan dengan saksama.

"Yang kedua, wanita diberi kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Sudah bukan rahasia umum lagi kan banyak sekarang anak yang durhaka kepada orangtuanya. Padahal kalau mereka mau berpikir betapa beratnya seorang ibu ketika melahirkan. Mempertaruhkan nyawanya segala!"

"Selanjutnya?" potongku tidak sabaran.

"Ketiga, wanita diberi keperkasaan dan kesabaran. Keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Pandanglah wajah Ibumu ketika terlelap tidur, itulah wajah asli beliau tanpa ada yang ditutupi di depan anak-anaknya."

Tidak tahu mengapa, aku menggenggam erat tangan Hati. Seolah membangkitkanku memori tentang ibu. Aku kangen padamu Bu!

"Yang keempat, wanita dikaruniai perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya."

Hati berhenti sejenak mengambil nafas. Menikmati setiap hembusan nafas udara sore ini. Taman semakin ramai. Banyak keluarga yang mulai berdatangan.

"Selanjutnya, wanita diberi kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya."

"Bukankah sudah menjadi kewajiban suami untuk menjaga istri dan keluarganya, Hat? Lantas penjelasan perkataanmu barusan apa?" akhirnya aku bertanya juga.

"Hehehe," Hati malah tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Hati dan jantung tersebut ibarat suami, anak dan keluarganya. Kalau masalah misua menjaga keluarganya, itu sudah menjadi kodrat laki-laki menjaga sesuatu yang berharga baginya."

"Yuk, Day kita bermain lagi! Banyak anak-anak kecil lucu di sana! Sisanya nanti saya beritahu di perjalanan pulang saja. Yukkk..

Aku ditarik Hati untuk ke tengah taman lagi. Bermain dengan anak-anak kecil yang lucu. Berlarian ke sana kemari. Tidak ada lelah-lelahnya ini anak, batinku. Aku saja yang hanya melihat saja sudah ngos-ngosan.
****
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16:30. Sudah 2 jam lebih aku dan Hati bermain di taman. Matahari sudah turun ke peraduannya. Semburat jingga menghiasai langit sore. Menambah keindahan sore ini. Inilah kehidupan nyata. Yang tidak bisa kita jumpai kalau hanya memandang monitor Hp atau komputer saja.

"Ayo pulang Hat! Sudah sore!" terlihat wajah sedikit kesal karena harus menyudahi keceriaannya sore ini.

Sepanjang jalan desa kiri kanan ditanami pohon angsana. Membuat rimbun dan teduh ketika siang hari. Musim kemarau waktu yang pas menjumpai pohon angsana berbunga. Bunga kecil berwarna kuning. Ketika tertiup angin bunga tersebut jatuh menutupi jalan. Indah sekali momen langka ini. Kalau di Jepang ada bunga Sakura, di sini ada bunga Angsana.

"Hat, tadi kamu bilang masih ada dua keutamaan sebagai wanita kan?" tanyaku mengingatkan.

"Oh ya hampir lupa. Sudah keberapa ya Day?"

"Keenam," jawabku singkat

"Wanita diberi kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi."

"Dan yang terakhir adalah wanita diberi air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus diberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan."

Hati melingkarkan tangannya ke tubuhku. Menyandarkan wajahnya ke punggungku.

"Makasih ya Hat, atas pelajaran sore ini. Kau mengajarkan banyak hal kepadaku. Bahwa kehidupan itu tidak terbatas di sepetak layar HP atau monitor. Hidup sebenarnya adalah berinterksi langsung dengan sekeliling kita. Juga tentang pemahamanmu mengenai sosok wanita."

Tidak ada jawaban dari belakang.

"Hat.... Hat.... “ Yah, mungkin dia ketiduran karena capek.

Aku pacu motorku menyusuri jalan aspal. Hati tertidur di punggungku. Ditemani bungan angsana yang jatuh tertiup angin. Kawan, sudah kita peduli dengan sekitar kita terutama keluarga kita. Jangan sampai kita menyesal ketika mereka sudah tidak ada.

Salam Macul

Perjalanan Ke Barat

Add Comment

Aku rebahkan tubuh ini di kasur lantai kamar Soni. Kasur yang sudah tidak berbentuk kasur lagi. Warnanya sudah pucat dan bolong sana sini. Tipis pula. Tak apalah, namanya numpang ya harus trimo ing pandum. Aku pejamkan mata ini, tak kuasa menahan lelah perjalanan tadi. Lukman dan Soni masih bercengkerama membahas sesuatu tak penting.
"Masssss...."
"Masssss...."
Tiba-tiba aku sudah di alam mimpi. Aku mencari arah suara yang memanggilku barusan. Aku melihat sekeliling. Tidak ada seorang pun. Siapa yang memanggilku?
"Massss....."
"Ida....," ujarku pelan melihat seorang wanita yang begitu jauh. Kenapa dia terlihat jauh. Tangannya melambai seolah minta tolong. Kakiku terasa kelu untuk melangkah. Kenapa aku ini? Aku tidak bisa mendekatinya.
"Idaaaaaa...." aku terjaga. Aku melihat sekeliling lagi. Masih di kamarnya Soni.
"Jiangkrik, nglindur kowe Bos? Bikin kaget saja!" ujar Lukman
"Wedusss, hahahaha," timpali Soni.
Aku yang menjadi tokoh utama hanya bisa tersenyum malu. Aku rebahkan kembali di kasur bisu itu. Aku tak bisa memejamkan mata ini. Sembari mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Gimana Son?"
"Lanjut to..."
Apa yang sedang mereka bicarakan, batinku
"Ananda Chamdani Lukman bin Fulan. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adinda yang bernama Yuni Junet binti Fulan. Dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Yuni Junet binti Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Belum," tiba-tiba aku memotong pembicaraan mereka. Aku mekekelen menahan tawa. Jadi dari tadi mereka berdua latihan ijab qobul. Soni jadi wali dan Lukman mengucapkan qobul. Kok tidak mengajak aku, dijadikan saksi atau apa kek.
"Aseemmm kowe bos, hahaha."
Kami bertiga tertawa. Menertawakan kekonyolan barusan. Rasa kantukku seketika hilang. Kami saling ngobrol tentang masa depan kelak. Ahhh, konyol juga sebenarnya. Kita hanya bisa berencana, Allah yang berkehendak. Setidaknya kami sudah berusaha melukis impian kami di atas kanvas kehidupan. Tak terasa rasa kantuk melelapkan kami tanpa sadar.
Besuk ada agenda besar menanti kami. Perjalanan ke Barat.
****
Hari ini kami bertiga akan mendatangi pernikahan kawan satu kosan Soni dan Lukman dulu. Namanya Agung Kristianto. Perawakan kurus ceking. Tinggi sih. Tapi rela bagi-bagi? Aaahh malah ngelantur. Tempat resepsinya di Tuntang, Kabupaten Semarang. Sebagai rekan sejawat yang dulu berjuang bersama tidak afdol rasanya kalau tidak datang ke sana. Lagian juga sekali seumur hidup. Hitung-hitung sebagai tabungan kelak, hehehe.
Sebelum berangkat, kami luangkan waktu untuk sekadar ngopi pagi. Kopi susu sudah tersaji manis di depan masing-masing. Padahal belum juga cuci muka, masih tersisa bekas perjuangan tidur semalam. Iler. Toh juga agak ada yang lihat.
"Tempatnya sudah tahu Ni?" tanyaku mengenai tempat prosesi resepsi Lek Agung.
"Belum tahu. Gampanglah, pake google maps juga ketemu!" ujarnya enteng pake banget terus menyeruput kopinya.
Gampang mbahmu. Tidak tahu dia aku pernah trauma gara-gara google maps dulu di Rembang (baca: Perjalanan ke Timur). Ditelantarkan tanpa perasaan di pelosok desa yang warganya sendiri tidak tahu nama daerahnya. Tetapi rasa takut tersebut sedikit berkurang karena kami bertiga. Kalau tersesat lagi ya kebangetan sekali.
"Lha gak ada denah peta di undanganya to?" tanyaku sekali lagi. Menyeruput syahdu kopi di depanku.
"Gak ada Lek! Undangannya kan lewat Facebook!" balas Soni.
Whaatt?? Undangan lewat Facebook. Diacara sesakral ini. Sekali seumur hidup ini. Yah, yah. Dunia semakin aneh selurus dengan perkembangan teknologi. Teknologi memang bisa mendekatkan yang jauh, tetapi mereka tidak sadar juga menjauhkan yang dekat. Lihat saja sekarang, banyak orang berkumpul tetapi mereka disibukkan dengan gadget masing-masing. Serasa pada jadi anak autis sendiri-sendiri. Gilllaaaaa.... Kalau di kampungku mah, gak bakalan datang kalau tidak diundang pake sebungkus berkat.
Hari Minggu tidak ada gawean, enaknya ya males-malesan begini. Ditemani kopi susu. Mau mandi kok rasanya aras-arasen. Tetapi jam dinding kos menunjukkan pukul 09:00 pagi. Satu jam lagi harus beranjak ke daerah atas untuk nyumbang.
"Jasnya sudah cocok belum Son?" kata Lukman masih memandangi dirinya di depan cermin.
"Cocok Man. Jasku sepertinya malah terlalu kecil. Buat gerak agak susah gimana gitu. Jasmu piye Lek?" jawab Soni.
Aku masih memandang bayanganku di cermin. Ckckckckck, ternyata pake setelan jas hitam, kemeja putih, dasi, dan celana hitam membuatku terlihat ganteng maksimal. Bahkan kalo boleh jujur aku tidak mengenali siapa di cermin tersebut.
"Sekali-kali tampil modislah. Biar terkesan perlente. Bak priyayi, hahaha," ujarku menimpali Lukman dan Soni.
Kami bertiga masih berdiri di depan cermin. Mengagumi setelan pakaian masing-masing yang terlihat sama. Bak detektif dalam Men in Black saja.
"Tapi kok ada yang aneh ya Ni, Lek!" aku tertegun melihat sesuatu yang janggal.
Mereka berdua menoleh ke arahku. Mukanya penuh tanda tanya.
"Percuma kan kalo setelan jas, klimismplitit. Tapi perute masih saja buncit."
"Jiangkrik kowe Bos. Merusak khayalan wae," kesal Lukman menimpali.
Kami bertiga tertawa kembali. Membayangkan memakai setelan jas, pakai dasi, pakai sepatu fantopel. Tetapi itu hanya sebatas khayalan. Tak lebih. Yang ada malah, kemeja pendek, celana jeans dan pake Eiger KW (baca: sandal jepit).
"Yuk cussss"
*****
Kami sengaja tidak sarapan pagi. Biar perutnya bisa muat banyak kalo sampai di tempatnya Lek Agung. Lumayan kan makan gratis. Harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Itu prinsip anak kos, kata Soni. Aku mah ngikut saja.
Sudah 20 menit kami naik motor menuju tempat resepsi. Tapi belum juga sampai-sampai. Aku tanya Lukman katanya masih 10 km lagi. Alamak jauh amat. Selain dikarenakan suhu Semarang yang puanas pake banget. Perut ini sudah berdendang ria minta diisi.
"Eh Ni, ada yang bawa amplop gak? Tadi kelupaan pas di kos?" tanyaku membuang bosan.
"Gampang nanti cari pas di sana saja!"
Aahhh, panasnya Kota Semarang. Mungkin aku yang belum beradaptasi di sini kali ya? Dasar orang desa udik ketika melewati Ungaran yang banyak berjejer pabrik produk ternama membuatku ternganga kagum. Memang pada dasarnya di Purwodadi tidak ada pabrik. Kalau pun ada hanya sebatas Pabrik Kecap. Itupun tidak terlalu besar, masih tergolong Home Industri. Jadi harap maklum kalau seumur hidup baru melihat pabrik-pabrik yang sudah melegenda akan produknya.
Sebut saja, Nissin, yang selalu menemani hari-hariku di setiap lebaran. Produknya MondeKong Huan, Astor cukup menjadi primadona di desa. Selain itu multi fungsi yang dimiliki kalengnya selepas lebaran. Bisa buat tempat krupuk gendar/puli, rempeyek dan sebagainya.
Ada lagi pabrik Coca-Cola. Produsen minuman bersoda yang sangat-sangat mustahil untuk diminum dulu sewaktu kecil. Karena memang tidak kuat beli.
Akhirnya sebuah plang besar bertuliskan Tuntang menuntun kami untuk berbelok. Benar saja. Kami harus melewati jalan di tengah hutan. Melewati pemukiman penduduk yang tidak kami kenal sebelumnya. Melewati kebun buah milik pemerintah. Melewati persawahan bero.
Sebuah janur kuning melengkung. Berarti sudah mulai dekat nih tempatnya. Kami berhenti sejenak untuk memastikan dan mencari amplop.
"Yakin ini rumahnya Man?" tanya Soni
"Sepertinya begitu Son. Dulu ancer-ancernya ada gereja. Itu ada gereja! Wis to yakin. Sekarang tinggal cari amplop buat nyumbang!" jawab Lukman dengan menunjukkan sebuah tempat peribadatan.
Kami menyusuri toko-toko pinggir jalan untuk mencari sesuap amplop. Amplop sudah di tangan. Kami membeli empat karena ada teman yang nitip nyumbang. Dan tidak perlu kami beritahukan berapa yang kami gelontorkan untuk acara ini. Tahu sendirilah, hehehe.
*****
Skip. Skip. Skip. Akhirnya kami sampai juga di tempat kejadian pernikahan. Kalau boleh jujur sih agak nyepit tempatnya. Tak apalah. Yang pentingkan maknanya bukan tempatnya. Kami masuk bareng tamu yang lainnya soalnya kami hanya bertiga biji saja. Tidak etis kalau gluntang-gluntung sendirian di tempat yang menurut kami asing.
Disambut oleh bapak-bapak dan ibu-ibu penerima tamu. Tidak lupa juga memasukkan amplop yang tadi disiapkan ke dalam kotak amal uang. Isi buku tamu tidak pakai lama lanjut mencari tempat duduk. Yang lain dapat souvenir pemotong kuku kok kami tidak dikasih ini bagaimana? Kan kami juga tamu kehormatan dari negeri seberang. Kan lumayan daripada beli di toko. Tak apalah, aku maafkan!
“Yah, masih prosesi resepsi Lek!”
“Sabar Lek! Nyumbangmu ki piro langsung jaluk mangan!” lipur Soni
Ternyata prosesi resepsinya masih berlangsung. Dengan terpaksa harus menunggu lama. Padahal kami sudah perhitungkan ketika sampai langsung bisa menikmati santap makan. Ternyata memang belum rejeki. Terlihat mempelai pria keluar dari rumah entah punya siap diiringi beberapa cowok cewek yang didandani juga. Ekspresinya datar. Tidak ada senyum, kalaupun ada ya agak dipaksakan. Mungkin dikarena grogi dan gugup.
Skip.Skip.Skip. Prosesi resepsi selesai juga. Berarti waktunya isoma. Yahhh, inilah yang kami tunggu-tunggu. Kami langsung mengambil menu gule kambing yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat duduk. Ambil nasi secukupnya anak kos. Untuk lauk sudah disiapkan ibu-ibu di dalam mangkuk.
“Lauknya boleh ambil dobel Mas?” ujar salah satu Ibu yang masih sibuk menuangkan kuah gule ke dalam mangkuk daging.
Kami saling berpandangan. Segitunyakah Bu? Memandang kami seperti orang yang layak dikasihani? Layak dikasih lauk daging lebih? Kok Ibu itu bisa menebak latar belakang kami yang sangat kekurangan asupan daging. Tanpa pikir panjang dua mangkuk daging langsung kami tuangkan ke nasi terus disiram kuah gule yang banyak. Hitung-hitung buat ngisi tenaga nanti kalau pulang. Semoga saja nanti pas pulang juga dibawain berkat #ngarep.
Perjamuan makannya menerapkan konsep prasmanan. Tetapi sayangnya ya itu, tempat makannya satu dengan yang lainnya terpisah jauh antara langit dan bumi #lebay. Jadi memaksa kami tidak bisa mengeluarkan jurus bayangan untuk mencicip semua makanan. Yah, terpaksa deh cuma makan gule kambing.
“Kenyang Man?” tanya Soni kepada Lukman yang bingung mencari air minum.
“Hahahaha, sebenernya kalau jujur ya belum Son. Tapi ya mau gimana lagi. Jawa imejlah. Sekali-kali kayak orang lain gitu makannya sedikit!”
“Halah telo. Ngomong saja sih ngeleh. Soalnya aku juga sama, hahaha!”
Demi kesejahteraan bersama. Kami sudahi acara makan-makannya. Dan anehnya, semua kursi yang awalnya tadi terisi penuh oleh tamu. Setelah acara makan selesai langsung lenggang melompong. Oalah, ternyata mereka juga menunggu bagian isoma juga.
*****
Selesai makan, para tamu disuguhi hiburan organ tunggal. Ada dua biduan yang menghibur. Yang satunya masih muda, sital, agak sedikit semok dan manis 
bukan cantik. Dan satunya lagi sudah masuk fase ibu-ibu paruh baya. Kami memutuskan untuk foto-foto dengan mempelai berdua. Lek Agung Kristianto dengan Mbak Heni. Karena antriannya kayak antrian sembako kami menunggu sembari menikmati lagu yang disuguhkan. Ada seorang bapak-bapak yang request lagu dan dinyanyikan sendiri. Suaramu itu lho Pak, menusuk relung hatiku. Falsnya tidak ketulungan.
Sungguh benar di luar dugaan kami bertiga. Ini namanya rejeki atau malah ujian. Kami duduk berhadapan langsung dengan biduan muda tadi. Dan posisi duduknya biduan tersebut kakinya dinaikkan di kaki satunya. Posisi duduk khas para wanita. Yang membuat kami terpana adalah rok yang dikenakan biduan tersebut bisa dikatakan kurang panjang (baca: pendek). Maka terpampanglah paha biduan cantik tersebut tanpa tedeng aling-aling yang menghalangi. Mak glek, ludah aku telan. Kok sekarang hawanya jadi agak panas ya!
Serba salah. Kalau dilihat dosa. Kalau tidak dilihat ya eman-eman namanya rejeki. Jarang ada. Aku memberi kode kepada Lek Soni dan Lukman tentang temuan di depan mata tersebut. Ternyata mereka juga memperhatikan. Oalah jangkrik selera kita sama. Anehnya, bukannya memperbaiki posisi duduknya yang menantang tersebut. Si biduan acuh tak acuh dengan pandangan kami bertiga. Agaknya memang disengaja dan memancing kami bertiga nih.
“Mbak-mbak sajake kok nantang diciwel pupune,” batinku
Akhirnya kami diselamatkan dengan dipanggil ke atas panggung untuk foto bersama pengantin. Meski kami beranjak dari kursi dengan sedikit masih memandang pemandangan langka tadi.
Kami bersalaman dan basa basi berpelukan untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang samawa kata orang-orang. Sakinah Mawadah Warohmah. Semoga kami segera menyusulmu Lek Agung.
Pose sebentar. Foto jebret. Terus disuruh turun. Gantian dengan yang lainnya. Cuma sekali jepretan? Alamak. Dan akhirnya kami tahu besarnya sumbanganmu berbanding lurus banyaknya jepretan foto dengan pengantin. **Foto jepretan tunggal kemarin masih proses dikirim sama Lek Agung.
“Sudah? Cuma begini saja? Datang, salaman, duduk, makan, foto terus pulang?” keluh Soni tidak percaya.
“Nyumbangmu ki lho piro?” jawab kami berdua
Kami tertawa bersama.
Salam Macul
NB: Lek Agung Kristianto dan Mbak Heni jangan marah ya atas kelancanganku menulis ini semua. Tidak lain tidak bukan hanya untuk mengenang memori. Semoga bahagia sampai kakek nenek. Kapan aku nyusul? Kalau boleh jujur aku pun sudah kemana-mana mencarinya. Mungkin dia masih tersesat di hati oranglain, hahaha.