7 Poin

Add Comment

“Apa? Kalau aku bisa pasti aku jawab!” aku kembali mengalihkan pandanganku ke persawahan.


“Emmmmm.... Hal-hal apa sih yang menurut para pria itu romantis yang mesti dilakukan pasangan wanitanya?” tanyanya dengan sedikit malu-malu.

Aku memandanginya sekali lagi setelah mendengar pertanyaan tersebut. Seakan-akan ada tanda tanya di atas kepalaku. Tumben Hati bertanya hal yang beginian.

“Ada yang aneh?” tanya Hati sekali lagi. Sepertinya ia merasa sebal aku pandangi seperti itu.

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke persawahan. Terlihat beberapa anak kecil yang memainkan layang-layang.  Merasa tidak ada respon dariku, Hati sedikit jengkel.

“Ya sudahlah, kalau tidak mau menjawab!” ujar Hati sedikit kesal karena aku tidak segera menjawab pertanyaannya. Aku segera mengenggam tangan kanannya dan menariknya hingga ke pelukanku. Hati sedikit kaget aku peluk seperti itu.

“Pelukan dengan pasangannya, juga merupakan hal yang romantis bagi seorang pria!”

Aku melepaskan pelukanku. Memandanginya sekali lagi.

“Banyak hal yang membuat pria merasa romantis. Semua itu tergantung individunya masing-masing, Hati.  Tetapi aku akan memberikan beberapa hal yang membuat merasa romantis atas apa yang dilakukan pasangan wanitanya. Yang pertama, berdandan untuknya. Sebagai pasangannya, kamu tentu tahu seleranya. Nah, sesekali berdandanlah dengan gaya yang ia sukai. Ingat, kamu melakukan ini untuk kepuasannya.

"Ajak si dia shopping dan mintalah ia memilihkan dress yang ia inginkan untuk kamu pakai," begitu saran dari Mbak Barbara De Angelis, Ph.D, penulis buku Secrets About Men Every Woman Should Know. Dan yang juga perlu kamu ingat, pria adalah mahluk yang orientasinya lebih fokus pada penampilan. Karena itu, hal yang sangat romantis bagi mereka adalah melihat kamu berdandan sesuai dengan gaya dan fantasi mereka.

“Tetapi jujur secara pribadi, aku lebih menyukai wanita yang tidak terlalu memperdulikan dandannya. Aku lebih menyukai mereka apa adanya, tanpa harus ditutupi bedak. Yah, meski dalam keadaan tertentu mereka harus berdandan.”

Hati mendengarkan dengan baik. Tidak lupa juga ia mencatat hal-hal yang menurutnya penting.

“Yang kedua,  pria suka pasangan berinisiatif. Banyak pria mengaku merasa lebih diinginkan bila pasangan mereka tak segan berinisiatif melakukan kontak fisik. Menggandeng tangannya saat jalan di mal atau "bermain" kaki di bawah meja, adalah contoh sentuhan fisik yang mereka sukai. Para pria mengartikan sentuhan-sentuhan itu sebagai ungkapan penerimaan dan hasrat dari pasangannya. Tetapi hal tersebut tidak harus dilakukan secara intens kok.”

Hati mengangguk mengerti.

“Yang ketiga adalah ijin bergaul. Bila kamu membiarkan mereka tetap bergaul dan boleh berkumpul dengan teman-temannya, bagi mereka itu adalah hal yang manis dan romantis. Sebenarnya pria juga tidak suka pasangannya terlalu posesif dan protektif. Tidak boleh melakukan ini, melakukan itu, bergaul dengan si A atau si B. Tetapi yang aku herankan, jika mereka tidak mau begitu, kenapa kebanyakan para pria juga terlalu posesif dan protektif dengan pasangannya? Hehehe, manusia memang aneh!”

Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Mencerahkan pikiran yang sebelumnya kalut karena pekerjaan. Dan sekarang harus menjelaskan sesuatu kepada Hati. Mengasyikkan juga sih sebenarnya.

“Selanjutnya apa?”

“Selanjutnya adalah memujinya. Kamu pasti tahu bagaimana menyenangkan rasanya dipuji. Berbaik hatilah dengan sesekali memujinya. Kamu bisa mengatakan tubuhnya masih seksi dan tegap atau apalah sebatas itu tidak menyinggungnya. Pujian yang kamu berikan akan ia nikmati sebuah pesan bahwa  kamu menginginkan, membutuhkan, dan mencintainya.”

Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Begitu serius mencatat apa yang aku katakan. Aku mengusap rambut hitamnya yang panjang. Ia juga tersenyum dan kembali mencatat. “Terus?” ujarnya.

“Ini yang keberapa ya? Oh ya kemana Akal dan Nafsu? Sepertinya seharian ini aku tidak melihat mereka berdua?”

“Yang kelima! Sudahlah jangan menghiraukan mereka berdua. Paling-paling juga jalan-jalan gak jelas,” jawabnya dengan antusias.

“Iya. Yang kelima adalah beri hadiah yang tepat. Ingin mengungkapkan perhatian lewat kado? Pikirkan sesuatu yang akan membuatnya senang. Bila ia pecinta musik, mungkin tiket nonton konser band favoritnya akan lebih dihargainya ketimbang sebotol parfum.

“Dan yang keenam, beri perhatian.  Ini yang paling semua pasangan butuhkan. Perhatian. Menemukan cara untuk menunjukkan perhatian pada seluruh aspek dalam hidupnya adalah cara yang tepat untuk menunjukkan kamu sangat peduli padanya. Sesekali ikut menemani Si Dia melakukan hobinya, membaca buku bareng,  memberi ucapan selamat ulang tahun pada ibunya, atau memberinya buku yang terkait dengan profesinya, adalah contoh hal-hal kecil bermakna besar.

“Bentar dong! Pelan-pelan saja bicaranya!” protes Hati yang merasa kewalahan dalam mencatat apa yang aku katakan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

“Iya!” jawabku dengan tersenyum.

“Dan yang terakhir adalah menceritakan rahasia. Si dia juga ingin jadi soulmate kamu. Menceritakan padanya rahasia kamu merupakan simbol dan ungkapan bahwa kamu percaya kepadanya dan pada hubungan yang sedang dibina. Ia pun pasti tak akan keberatan berbagi rahasia denganmu. Sudah, cuma itu yang bisa aku jelaskan. Meski masih banyak lagi lainnya, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Semua itu tergantung prianya masing-masing. “

“Lho kok pelukan tidak ada? Katanya tadi pelukan juga termasuk?” lagi-lagi Hati protes kepadaku.

“Pelukan kamu masukkan saja ke poin enam. Bukankah suatu pelukan itu termasuk rasa perhatian pasangan kepada pasangannya. Memang buat apa kamu mengumpulkan data-data seperti itu, Hati?” tanyaku ingin tahu.

“Rahasia dong! Hehehe,” jawabnya dengan senyum.

Cup. Sebelum Hati pergi ia mencium pipiku. Aku menyentuh pipiku, bekas ciumannya. Apalagi yang bisa aku lakukan jika bukan tersenyum. Ada-ada saja kelakuannya! Pikirku.

Aku sendirian di balkon. Merasakan semilir angin sore yang berhembus. Aku mengambil ponsel di saku celana. Mengetik pesan singkat. Dan segera mengirimkannya.

Aku kangen sama kamu.
Tring.
Pesan terkirim
Someone
15:00

Gara-gara HP

Add Comment


Entah kebetulan atau memang sudah takdir. Mereka bertiga bertemu di sebuah kafe. Berangkat dari sebuah trauma yang sama mereka berkumpul dalam satu meja. Ya, meski mereka belum mengenal satu sama lain. Agaknya, latar belakang trauma tersebut membuat mereka sama.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya Soni menghampiri meja yang hanya diduduki satu orang.

“Oh, silakan. Tidak ada yang lain kok!” jawab Lukman dengan senyum.

“Terima kasih!” Soni segera duduk berhadapan dengan pria yang belum dikenalnya itu.

Selang beberapa menit. Datanglah pria lain yang mempunyai masalah yang sama dengan mereka berdua.

“Boleh gabung di sini? Kebetulan semua meja di sini sudah full kecuali di sini?” tanya Andre yang membawa makanan. Ia ikut bergabung dengan kedua pria itu.

“Soni......”

“Lukman....”

“Andre....”
 Mereka saling berjabat tangan memperkenal diri.

“Kamu asli Semarang ya Man?” tanya Soni memulai pembicaraan.

“Bukan, saya perantauan di sini. Aslinya Purwodadi. Kalau kamu?”

“Saya asli Pati. Di Semarang sudah 2 tahun. Kalau kamu, Ndre? Asli orang sini juga? Tapi kalau dilihat-lihat tampang kamu bukan tampang Semarang, hehehe.....”

“Bukan. Saya asli Purwodadi, kebetulan kerja di Semarang sama seperti kamu tadi, 2 tahun. Wah ternyata ketemu tetangga malah.”

Mereka bertiga ngobrol ngalur ngidul. Semua mereka bicarakan. Mulai dari masa kuliah, lulus dan sekarang bekerja. Jam dinding kafe menunjukkan pukul 15.00. Berarti mereka sudah ngobrol selama tiga jam.

“Boleh minta nomor handphone kamu, Man? Ya, sapa tahu kalau ada waktu luang mampir ke tempat kamu!” tanya Soni.

“Punya. Tapi kebetulan lagi gak bawa hp.”

“Kebetulan, aku juga tidak bawa hp,” sahut Andre menimpali.

“Oh ya. Sama dong. Aku juga gak bawa hp, hahahahahahaha!”

Tidak bawa hp kok bangga. Waduh.

“Hp kadang bisa membuatku mengingat kejadian yang menyedihkan di dalam hidupku,” ujar Soni tanpa diminta.

“Ya, kamu benar Son. Aku juga pernah mengalami hal yang buruk dengan hp,” sambung Andre.

“Benarkah? Lagi-lagi kita sama dong. Apa kalian juga punya pengalaman yang menyedihkan, menjengkelkan atau apalah itu namanya yang berkaitan dengan hp, Ndre?” Soni beralih menatap Andre.

“Iya,” jawab Andre singkat.

“Kalau aku, gara-gara hp aku harus putus dengan pacar yang kusayangi dan kucintai,” Soni memulai ceritanya. Ia memandang ke atas dan mulai bertutur cerita.

*******

Siang itu.

“Jangan smsan mulu to yank! Konsentrasi ke jalan!” pinta Reni kepada Soni yang asyik smsan meski mereka dalam perjalanan pulang kuliah dengan sepeda motor.

“Iya, yank, iya!” jawab Soni seadanya. Tiap ada sms yang masuk Soni segera membalasnya tanpa menghiraukan jalan di depan.

“Iya, iya! Kalau iya kenapa masih smsan mulu! Kan bisa diteruskan nanti kalau sudah sampai kos,” lanjut Reni semakin kesal atas ulah pacarnya itu. Bukannya mengutamakan keselamatan malah memilih bersms ria di jalan raya.

Agaknya nasihat Reni tidak digubris Soni. Nyatanya ia masih memandang layar hpnya dan sesekali melihat arah depan. Minimnya konsentrasi ke jalan inilah yang menyebabkan angka kecelakaan lalu lintas selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Reni semakin dongkol. “Jangan-jangan itu sms dari selingkuhan kamu ya?”

Tak ada jawaban dari Soni. Tentu membuat Reni semakin kesal dan marah. Ia merebut hp Soni. Terjadi aksi tarik-menarik antara Soni dan Reni memperebutkan hp. Karena adegan tarik-menarik membuat Soni tidak memperhatikan jalur motornya. Sepeda motornya oleng dan menabrak pohon pinggir jalan. Brrraaakkkk.

Soni dan Reni terpental. Dan untungnya, mereka tidak terpental ke tengah jalan raya. Kalau itu terjadi bisa-bisa disambar kendaraan yang lewat. Soni berusaha bangun memastikan tidak terjadi apa-apa padanya dan berlari menghampiri sepeda motornya yang nyungsep.

“Alhamdulillah kerusakannya tidak seberapa.”

“Sialan kamu Son! Bukannya menolong pacarnya, motor duluan yang kamu urusin. Kita putus!” teriak Reni.

Bllarrr. Seperti ada petir di siang bolong.

“Apa? Putus? Kenapa harus sekarang sih, yank? Dalam keadaan seperti ini?”

“Putus ya putus. Kamu lebih sayang hp dan motor kamu daripada pacar kamu sendiri!” Reni menangis dan berjalan pergi meninggalkan Soni.

“Tapi yank? Sebaiknya aku antar kamu pulang, kakimu lecet gitu!”

“Tidak usah! Mending aku naik angkot saja!” Reni berjalan pergi sembari sesengukan menangis.

“Tapi yank........”

 “Gak ada tapi-tapian. Putus ya putus!” jawab Reni mulai kesal.

“Itu, helmnya tolong dibalikin. Itukan punyaku!”
GUBRAAKKK....

“Ya begitulah. Saya dan Reni beneran putus gara-gara kejadian tersebut. Meski sebenarnya saya masih sangat mencintainya,” kata Soni mengakhiri ceritanya.

“Kenapa kamu tidak tembak dia lagi?” tanya Andre merespon cerita Soni barusan.

“Sayang sekali sob. Dia sudah menikah dengan orang lain dan sekarang menetap di Kalimantan,” jawab Soni dengan ekpresi sedih di wajahnya.

“Saya ikut belasungkawa sob! Hahaha,” canda Lukman mencairkan suasana.

“Jiangkrik, hahaha.”

*****

Sekarang giliaran Lukman yang bercerita. Cerita ini terjadi saat ia dan pacarnya, Yuni pulang dari kuliah. Tempat kuliah dan kos lumayan jauh dan harus melewati pos polisi lalu lintas. Kita harus berhati-hati. Tahu sendirilah polisi lalu lintas Semarang sangat displin. Kesalahan sedikit saja di semprit. Digiring masuk ke pos dan akhirnya apalagi kalau bukan ditilang. Lho kok malah bahas polisi. Kembali ke cerita.

Siang itu, kejadiannya seperti cerita Soni sebelumnya, kata si Lukman gitu.

Ibuku sangat perhatian kepadaku. Saking perhatiannya, apa-apa harus lapor lewat sms atau telepon. Sedang melakukan apa, sama siapa dan sebagainya. Kalau sms atau telepon tidak aku cepat balas atau angkat, ibu akan menceramahi inilah, itulah panjang lebar. Pada intinya aku sangat sayang kepada ibuku. Itu beliau lalukan karena aku adalah anak tunggal. Seperti siang itu... Narasi Lukman seperti prolog film.

“Yank, kita jadi nonton film?” rengek Yuni di belakang.

“Iya, yank. Jadi!” jawab Lukman yang konsentrasi ke arah depan. Mereka berencana nonton film sepulang kuliah. Seperti biasa, Lukman mengantar Yuni pulang ke kos dengan sepeda motornya untuk berganti pakaian.

Gret, gret, gret, gret. Hp Lukman bergetar di dalam sakunya. Ada sms yang masuk! Ahhh...mungkin dari teman-teman yang iseng! Batin Lukman. Ia tak mengubrisnya. Lampu hijau sudah menyala, Lukman memacu motor agak melambat karena ada nada panggilan masuk. Dilihatnya di layar hp. Ibu, pikir Lukman.

“Ya, Bu. Ini Lukman sedang di jalan..... Iya.... Iya, Bu..... Nanti Lukman pulang tepat waktu kok...... Sedang sama temen..... Iya-iya,”

Klik. Telepon selesai.

Priiitttt. Prrriiittt.

“Bisa berhenti sebentar, Pak!” perintah salah satu polisi menghentikan perjalanan Lukman. 

“Bisa lihat surat-suratnya!”

Lukman memberikan STNK dan SIM C kepada polisi tersebut.
“Bapak tahu kesalahan Bapak? Bapak telah melanggar peraturan No 2 tahun 2005, bahwa tidak boleh berkendara motor sembari bersms atau telepon. Untuk selengkapnya mari kita ke pos!” si polisi meninggalkan mereka dengan membawa surat-surat Lukman.

“Apa aku bilang yank! Jangan telepon atau sms sambil berkendara. Begini kan jadinya! Huuufftttt,” Yuni kesal atas perbuatan Lukman barusan. “Ya sudahlah kita putus sekarang!”

“Lho, lho, lho, kok putus segala yank!” kata Lukman dengan kagetnya.

“Putus ya putus!” Yuni masih tetap pada pendiriannya. Mengakhiri hubungannya dengan Lukman.

”Ini gue balikin helmnya. Sebelum kamu minta!” tambah Yuni menyerahkan helm kepada mantan pacarnya itu.

Yuni berjalan pergi meninggalkan Lukman sendirian yang masih belum nggeh dengan kejadian barusan.

“Bagaimana acara nontonnya, yank?” teriak Lukman yang masih memanggil Yuni dengan kata sayang. Yuni hanya melambaikan tangan yang berarti tidak.

“Kalau begitu balikin tiket nontonnya! Kan masih kamu bawa!”
GUBRRAAKKK

“Begitulah sob! Akhirnya saat itu aku putus dengan Yuni. Sangat disayangkan memang. Tapi ya sudahlah yang lalu biar berlalu,” Lukman mengakhiri ceritanya.

“Lantas bagaimana kabar Yuni sekarang, Man?” tanya Soni.

“Apa kamu masih ketemu sama dia?” Andre menambahi.

“Suatu hari, dia mengajak ketemuan. Katanya dia minta maaf atas kejadian tempo hari. Dia melakukan itu hanya emosi sesaat dan minta balikan lagi. Dan, sekarang telah menjadi istriku, hehehe,” jawab Lukman dengan tawanya yang renyah.

“Terus kabar ibu kamu gimana?” tanya Andre lagi.

“Alhamdulillah masih sehat di rumah. Tapi ya itu perhatiannya seolah-olah aku masih anak kemarin sore,” lanjut Lukman.

*******

Dan terakhir, giliran Andre yang bercerita.

Cerita ini terjadi dua tahun yang lalu. Saat Andre masih duduk di bangku kuliah. Siang itu, lagi-lagi waktu pasti siang semua. Udah pada janjian ya? Hehehe.

Siang itu Andre dan pacarnya, Indah pulang selepas kuliah.

“Yank, jadikan kita menjenguk Ida di rumah sakit?”

“Insha Allah, jadi yank! Memang ada apa?” tanya Andre sembari melihat pacarnya tersebut.
Mereka berencana menjenguk Ida yang terbaring di rumah sakit karena tipes. Ida adalah teman sekelas mereka.

“Kadang aku pengen sakit di rumah sakit, yank! Dapat beristirahat dengan tenang. Lantas kamu selalu ada di sampingku, menjagaku saat aku tidur.”

“Huussshhhh. Jangan bilang begitu, yank! Aku akan selalu di samping kamu meski kamu gak sakit. Buang jauh-jauh pikiran semacam itu,” Andre menasihati.

Indah hanya tersenyum mendengar kata pacarnya tersebut. Dan memandang wajah Andre yang sedang konsen menyetir mobilnya.

Tiba-tiba dari hp Andre bergetar, ketika hendak mengambil, hpnya jatuh ke bawah. Andre berusaha mengambil dengan jangkauan tangannya. Hal ini membuat konsentrasinya terpecah

Brrraaaakkkkkkk 
Sebuah truk menabrak mobil Andre dari arah depan. Membuat bagian depannya ringsek. Andre dan Indah mengalami luka yang lumayan serius. Beruntung Andre masih bisa diselamatkan. Tetapi naas bagi Indah, karena mengalami pendarahan di bagian kepala. Nyawanya tidak tertolong. Hal ini, membuat Andre merasa bersalah. Keluarga Indah sudah berulang kali meminta Andre untuk tidak menyalahkan diri atas kematian putri mereka. Tetapi malah membuat Andre semakin bersalah.

“Selang beberapa hari polisi memberitahukan bahwa kecelakaan tersebut dikarenakan supir truk mabuk ketika menyetir,” kata Andre menyudahi ceritanya.

“Sudahlah sob! Kita memang tidak bisa melawan takdir. Kita ambil hikmah dibalik ini semua!” lipur Soni sembari menepuk-nepuk bahu Andre. Andre membalasnya dengan senyuman.

“Kami ikut sedih mendengarnya!” tambah Lukman.

“Terima kasih semuanya!” balas Andre.

*****

Tidak terasa sudah lima jam mereka duduk di kafe tersebut. Mereka memutuskan untuk pulang. Karena sudah menjelang malam Andre menawarkan mengantar Soni dan Lukman. Karena Andre satu-satunya yang membawa mobil. Ternyata rumah mereka satu arah.
Di dalam perjalanan pulang mereka masih ngobrol dan bercanda. Tiba-tiba.....

Ada seorang wanita yang menyebrang sembarangan. Tanpa melihat kendaraan yang lewat. Sialnya lagi wanita tersebut sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone di telinganya. Matanya tertuju layar hp sembari smsan.

Tiiiiiiiiiinnnnnn. Tiiiinnnnnn.
Klakson mobil Andre tak membuat wanita tersebut sadar.

“Mbak tolong minggir!” teriak Soni yang harus keluar jendela memperingatkan.

“Woy, mbbbbaaaakkkkkk...Miiiinnggggiiiiiiirrrrrrr......” teriak Lukman membantu.

Dan. BBRAAAKKKK.

Perkembangan Video Dewasa di Kampung

Add Comment
Bintang Maria Ozawa dari Jepang
Marhaban ya Ramadhan sahabat maculekrs. Sebenarnya tabu aku harus memosting tulisan kali ini. Karena pembahasannya yang sedikit kedewasaan dan kebetulan juga bertepatan dengan bulan puasa. Tetapi tidak apalah semoga ini juga sebagai ujian kita dalam puasa kali ini.

Berbicara film dewasa, BF atau Blue Film tidak akan kenal namanya habis dimakan jaman. Mulai dari anak-anak sampai orangtua pasti sudah nggeh dan mengerti apa itu BF. Orang desa lebih familiar menyebutkannya‘film unyil’ untuk sedikit mengurangi ketabuannya. Apa hubungannya coba?

Sejak kapan kalian pertama kali nonton film dewasa? Kalau aku jujur sejak SMP kelas 2. Saat itu rumah Simbah sepi lagi ke sawah semua. Sepulang sekolah hendak nonton televisi, karena saat itu baru simbah yang punya televisi. Boring dengan acara-acara begitu saja, aku masuk ke kamar pak lik. Kebetulan saat itu lagi booming VCD Player. Ada kaset di atas VCD Player, karena penasaran aku putar kaset tersebut. Dan astaghfirullah, ternyata kaset tersebut adalah film dewasa, yang baru saat ini aku tahu kalau judulnya T*rzan X. 
Karena kaget dan takut ketahuan akhirnya aku putuskan untuk tidak meneruskan menonton film tersebut. Dan kalian tahu apa yang aku sesali? Aku tidak selesai menontonnya sampai selesai. Sungguh rasanya belum plong.

Kalau aku pertama kali bersentuhan dengan film dewasa ketika SMP, parah lagi salah satu teman dari Pati, sebut saja namanya Soni. Dia lebih awal dan muda berkenalan dengan film dewasa yaitu ketika SD. Lebih parah kan? SD saja sudah kenal BF. Alasannya karena pergaulan sehari-hari dengan anak-anak yang lebih tua. Salut deh pokoknya buat Lek Soni. Tetapi yang masih menjadi misteri adalah tentang Lukman. Sejak kapan dia menonton BF? Kalau menilik dari raut wajahnya yang polos-polos gimana gitu sulit ditebak. 
Belum lagi dia tidak pernah bercerita kapan pertama kali melihat BF. Tahu-tahu ketika dia kuliah, aku banyak sekali disuguhi pelbagai macam variasi film Barat dan Asia. Dia gudangnya ternyata, ckckckck. Makasih Ni atas koleksinya.

Berbicara perkembangan eksistensi video dewasa di desa juga menarik. Kalau awal tahun 90an sulit rasanya untuk menonton film dewasa secara bebas. Karena hanya orang-orang dewasa saja yang seakan diperbolehkan. Anak kecil? No way. Dulu pertama kali masih menggunakan kaset VCR berwarna merah.

Seiring berjalannya waktu muncullah teknologi VCD Player kemudian DVD Player. Mulai dari situ penyewaan kaset-kaset CD film dewasa mulai marak. Pak Lik-ku nomor 5 yang sering menonton BF di rumah. Terkadang aku mengintip untuk ikut menontonnya. Yang paling parah pernah dia mengajak teman-temannya nonton BF di kamarnya. Seharian, guys!! Bisa dibayangkan nonton BF seharian di kamar, batang semua. Ckckckck, kejiwaanmu Pak Lik kejiwaanmu. Mbok aku diajak nonton sekalian Pak Lik.

Saat itu aku duduk di bangku SMP, dan bertepatan dengan Bodo Kupat (Lebaran Ketupat). Setelah selesai kondangan di mushola depan rumah. Aku dan beberapa pemuda lainnya merencanakan menonton kaset CD film dewasa sewaan terbaru milik Junet dan kami berkumpul di rumahnya.

"Sudah aman to?” tanya Junet selaku pemilik rumah.

Oyot – begitu kami memanggilnya, adik kandung Junet – memberikan kode ok lewat jarinya.

Saat itu kami berdebar-debar karena pertama kali nonton berjamaah. Belum selesai menonton aku mendengar suara mencurigakan dari luar rumah. Sontak kami mematikan VCD Player dan keluar rumah. Benar saja, kami melihat Heni lari terbirit-birit masuk ke rumahnya. Perasaanku kok gak enak begini ya. Merasa ketahuan kami putuskan untuk tidak melanjutkan menonton. Inilah penyesalan keduaku, hahaha.

Malam hari ini, kami semua dikumpulkan oleh Bapak di mushola. Bapak selaku Ketua RT mendapat laporan dari Heni kalau kami tadi siang menonton BF di rumah Junet. Apa yang aku khawatirkan terjadi juga. Kami semua hanya bisa menunduk mendengar ceramah dari Bapak. Tentu Bapak malu melihat anaknya ini ikut-ikutan pergaulan yang tidak benar. Jujur saat itu aku menangis dalam hati, malu rasanya melihat wajah Bapak.

“Pak, aku berjanji tidak akan membuatmu malu gara-gara ketahuan nonton BF. Kejadian ini akan menjadi pertama dan terkahir kalinya Pak. Aku berjanji kalau nonton BF tidak akan ketahuan lagi, Pak!”

Menginjak tahun 2000an, mulai marak HP berkamera. Mulai dari situlah yang tadi biasa menonton lewat VCD/DVD sedikit demi sedikit beralih ke HP. Karena lebih praktis dan tidak mudah ketahuan sama orangtua. Video 3gp yang meskipun gambarnya agak sedikit buram dan gak jelas tetapi layak dinikmati. Yang penting suara desahannya terdengar merdu. 
Saling bertukar koleksi lewat inframerah atau bluetooth sudah kebiasaan ketika SMA. Bahkan bisa dipastikan jika para cowok berkumpul di belakang kelas, diam khidmat memandang satu layar HP bisa ditebak mereka sedang melihat video tutorial pelajaran Biologi bab perkembangbiakan.

Setelah menjamurnya warnet, budaya menonton HP masih berlanjut tetapi ada variasi terbaru yaitu menonton streaming di warnet. Aku kadang diajak Lukman ke warnet Purwodadi hanya sekadar browsing dan juga menambah koleksi. Atau kalau tidak jika ingin menambah koleksi 'film  unyil' terbaru bisa datang ke warnet. Bilang saja sama penjaga warnetnya, 

“Mas komputer yang ada film unyilnya nomor berapa?” pasti dijawab, “Bawa sini memorimu aku kopikan!” ada juga yang begitu. Tetapi ada juga yang bilang tidak ada ‘film unyil’, adanya film Pak Raden.

Menurut survei yang saya lakukan setiap cowok pasti di dalam HP-nya ada ‘film unyil’nya. Tidak percaya? Cek saja HP pasangan masing-masing. Ada yang disembunyikan sedemikian rupa sehingga sulit ditemukan atau video yang namanya dirubah aneh-aneh. Atau kalau tidak ya coba dicek file hidden di laptop atau komputer pasangan masing-masing. Hpku ada? Oohhh jelas.........ada, meskipun cuma satu (dan sudah dihapus oleh seseorang, hahaha). Lantas manakah yang banyak disukai antara film Asia dengan film Barat? Yang banyak disukai adalah film buatan dalam negeri. Aku pernah menanyai salah satu rekan sejawat perpaculan di desa, sebut saja namanya Yono.

“Film unyil yang paling suka film mana Lek?” tanyaku kepadanya.

"Sebenernya semua film saya suka, tapi yang paling bagus itu buatan anak bangsa, soalnya lebih natural dan bikin penasaran. Ya meskipun gambarnya tidak sejelas film HD Jepang atau Amerika, lebih alami saja. Biasalah produk kamera HP...”

"Jiangkrik film buatan anak bangsa. Ndasmu aboh kuwi!! Jangan bawa-bawa nama bangsa di sini, gak elok!!” selaku menyanggah perkataannya.

"Setelah itu ya film-film Asia, semisal Jepang, Korea, Filipina dll. Wajahnya lebih kelihatan, mana yang cantik mana yang tidak. Kulitnya juga putih-putih, hehehe. Yang terakhir ya film Amerika. Meskipun tidak terlalu suka sama pemain dan gayanya yang absurd, tetapi kalau lagi tidak ada film baru ya terpaksa ditonton.”

Bisa aku disimpulkan bahwa minat masyarakat akan film buatan negeri masih begitu tinggi, hehehe. 

Miris memang melihat perkembangan film dewasa akhir-akhir ini. Anak SD sudah mengkonsumsi film yang belum sepantasnya dilihat. Jadi jangan heran jika banyak media massa memberitakan kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, hamil di luar nikah dan aborsi. Itu semua karena pengaruh negatif film porno dan kurangnya ajaran agama di dalam keluarga.

Sahabat Maculkers yang dirahmati Allah SWT, ingat bahwa menonton film dewasa itu bisa merusak iman. Maka jauhilah sebisa mungkin. Kalau menurut penelitian kecanduan narkoba itu merusak 3 saraf otak, tetapi kecanduan pornografi merusak 5 saraf otak. Waspadalah waspadalah!!

Dan akhirnya setelah beberapa tahun, penyesalanku akhirnya terobati juga. Tidak sengaja aku buka-buka file drivenya laptop Lukman. Ndilalah kok nemu sebuah film yang pertama kali mengenalkanku dengan duni hitam ini. Astaghfirullah, Ni Ni ternyata selera kita sama.

Salam Macul....

Perjalanan ke Timur

Add Comment

Butuh beberapa hari untuk mengistirahatkan tubuh ini. Jujur saya lelah fisik, lelah batin, lelah hati dan lelah dompet. Peristiwa yang bakalan tidak akan terlupakan seumur hidupku. Perjalanan yang sedikit mengubah alur kehidupanku di kehidupan mendatang, ciyeee dramatisir. Langsung saja ini ceritanya:
Prolog:
Hari Sabtu, tanggal 6 Juni 2015, teman saya Tutycha F. Karisma X 125 melangsungkan pernikahan pertamanya di pelosok Rembang. Kemarin mendapatkan undangan darinya. Mungkin kalau sebatas lewat ucapan atau selembar kertas kosong bisa kita abaikan atau katakanlah kalau menyumbang bisa dititipkan. Masalahnya kemarin dia memberikan undangan sembari memberikan sebungkus roti di dalamnya. Ini mah namanya penyuapan dan sedikit pemaksaan harus datang. Kalau gak datang ya kebangeten, wis diwenehi roti.

Sedikit ada kebimbangan ketika hendak berangkat. Mau pakai motor atau umbal bus? Kalau naik bus katakanlah dari rumah ke Grobogan habis 5rb, Grobogan ke Pati habis 15ribu, Pati ke Rembang habis 10ribu, belum lagi dari Rembang ke desa Ticha yang jauhnya Naudzubillahi Min Dzalik jika ditempuh dengan ojek, bisa jebol ini dompet.

Itu baru perjalanan berangkat belum lagi perjalanan pulang, bisa dibayangkan sendiri berapa dollar harus saya keluarkan untuk itu semua, hahaha. Akhirnya saya putuskan pake Grand Astrea Patah Hati sebagai kawan perjalanan. Paling PP habis bensin 50ribu buat beli bensin. Untuk perjalanan nanti harus menempuh 2 Kabupaten, Kab. Pati dan Kab. Rembang.
*****
Singkat perjalanan, aku hendak masuk ke Kabupaten Pati. Ndelalah ada operasi Ketupat Candi dari polisi lalu lintas. Padahal motor Ninja saya itu sudah mati pajak 5 tahun (jangan ditiru ya). Maklum motor tidak pernah ke luar kota, mentoknya juga ke Grobogan. Mengetahui keadaan tersebut aku was-was dan bimbang setengah mati. Kalau diberhentikan dan ditanya surat-surat dan tahu kalau STNK mati 5 tahun bisa berabe ini. Akhirnya saya teringat ajaran Lukman, katanya kasih senyum semanis mungkin ke polisi.
Aku manis-maniskan senyum ke polisi yang berjejer rapi di pinggir jalan. Alhamdulillah polisi satu terlewatkan. Masih ada dua polisi yang menanti.
"Monggo pak," mungkin itu yang bisa dijabarkan dari makna senyumanku.
Dan alhamdulillah Pak Polisi tidak menghentikan sepeda motorku. Entah tadi karena senyum manisku atau karena melihat sepeda motorku yang butut. Tak apalah yang penting sudah lolos.
Perjalanan ke timur aku lanjutkan. Motor ninja ini aku paksa untuk mengeluarkan tenaga maksimalnya. Tapi ya tetap saja kalah sama motor-motor keluaran terbaru. Tetap disyukuri.
Sesampai di alun-alun Rembang aku bingung mau lewat jalan mana. Karena ini adalah kali kedua aku ke Rembang setelah pertemuan pertamaku dengan Ticha dulu. Di surat undangan Ticha juga tidak ada denahnya pula. Mateng rak kowe!! Yang aku ingat hanya jalan ke jalur dulu ketika ngedos.
Akhirnya saya putuskan memakai petunjuk Google Maps. Alhamdulillah setidaknya ada secercah harapan petunjuk. Dan akhirnya aku pun sadar bahwa apa yang dipilih akan memblansakkan dan menyengsarakanku. Google Maps menunjukkan untuk jalan terus.
"Selanjutnya lurus 3km," ujar si Mbak Google Maps, karena kebetulan suaranya cewek.
Lurus terus, meski di dalam hati ini mulai tidak percaya arah jalannya. Semakin lurus semakin aku tidak mengenal daerah ini.
"300m belok kiri," begitu si Mbak Maps memberikan intruksi.
"Belok kiri kemana? Belok kiri ndasmu!! Lha wong gak ada belokan? Ngaco ini si mbak!" jawabku protes atas instruksinya. Aku putuskan untuk terus lurus. Semakin lurus aku semakin merasa tersesat. Beneran ini daerah yang asing bagiku. Jalannya kecil, aspalnya sudah mengelupas, kiri kanan yang ada hanya pepohonan dan tanaman tebu.
"Makanya percaya intruksi yang aku berikan!" tiba-tiba Mbak Mapsnya gantian protes.
"Percaya mbahmu kui Mbak! Jelas-jelas kalo gak ada belokan disuruh belok. Belok nek hatimu??" aku tak kalah menyangghnya.
"Halah mboh, ngandani kok kowe. Mending aku turu!" si mbaknya malah ngambek.
Aku putuskan untuk bertanya kepada seorang warga pribumi.
"Maaf Pak, mau tanya arah Desa Kerep itu kemana ya?" tanyaku kepada bapak-bapak yang ngemong anak kecilnya.
"Desa Kerep mas? Desa mana ya mas itu? Kok baru denger saya?" jawabnya dengan seenak udelnya.
Ladalah, sebenere yang tidak terkenal itu Desa Kerep atau memang bapaknya yang tidak terkenal? Atau jangan-jangan aku yang salah bertanya pada orang yang salah.
"Kalo Sulang pundi Pak??" aku pun tidak habis akal.
"Oo...Sulang, jalan ini lurus terus mas," jawabnya sembari menunjukkan arah jalan.
"Suwun nggih Pak!"
Aku lanjutkan perjalanan kembali. Jalan yang aku lalui masih tidak jauh berbeda seperti jalan sebelumnya. Malah ini semakin pelosok dan hanya hamparan sawah kanan kirinya. Ya Allah, aku ini jan-jane neng ndi? Iso tekan Kerep ora yo? Aku bahkan sudah pesimis dengan perjalananku. Belum lagi Si Mbak Maps yang ngoceh mulu dari tadi. Belok kiri, belok kanan, lurus lanjutkan, padahal juga belum ada belokan di depan. Ngajak gelut tenan si Mbak siji iki.
Pamotan. Begitu kata yang aku baca ketika melintasi sebuah kelurahan. Modyar kowe kok iso tekan Pamotan.

"Ya Allah panase jan..." aku mbatin dalam hati.
"Le, panas dunyo durung sepiro panase ning neroko," eng ing eng tiba-tiba ada suara kakek-kakek di telinga saya.

Aku sudah pasrah lillahi ta'ala tidak bisa keluar dari perjalanan bodoh ini. Pesimis sudah dengan semuanya. Tetapi entah mengapa ada secercah harapan. Aku semacam de javu dengan jalan raya ini. Jalan raya Rembang-Blora yang dulu aku lewati ketika pulang ngedos. Ya. Memang ini jalannya.
Alhamdulillah ketemu juga jalannya.
"Lurus terus 3km," saran Mbak Maps
Jiangkrik, iseh adoh men yo yo. Bensin yang aku perkirakan hanya habis 50ribu membengkak, karena jarum bensin sudah di tanda merah E. Piye perasaanmu Cha??
"200m belok ngiri, lurus 2km lagi,"
Lha iki jalan sing dulu ke rumahe Ticha. Lagi-lagi aku harus melewati sebuah hutan untuk sampai ke Desa Kerep, tetapi setidaknya jalannya sudah benar. Alhamdulillah Ya Allah! Terdengar dari kejauhan suara pembawa acara pernikahan.
"Kanggo Mas Jawawi dan Dik Tutycha Fibrian Karisma........"
Senyummu mengembang, sampai juga.
*****
"Oalah namanya Jawawi to. Kok di undangan ditulis Jay. Jauh banget dah, hahaha" aku mbatin dalam hati.
Aku dipersilakan masuk ke dalam rumah. Karena kebetulan Ticha dan Mas Jawawinya masih duduk di kursi pelaminan. Entahlah apa nama acaranya. Yang pasti aku sudah nyampai di TKP dan berharap segera dapat asupan makanan. Karena jujur saja perjalanan menyesatkan tadi menguras seluruh daya energi. Haus dan lapar.
Aku duduk di ruang tamu, duduk lesehan di tikar. Terlihat beberapa cewek berkumpul lebih dahulu di ruang tamu. Dan yang laki-laki hanya aku seorang. Tak apalah, lagian aku juga tidak kenal mereka.
Setelah menunggu beberapa menit, keluarlah seorang ibu-ibu membawa kotak snack.
"Alhamdulilah keluar juga makannya. Tapi kok kotak snack kecil? Tak apalah paling juga isinya nasi ayam, hahaha" lagi-lagi aku membatin.
"Monggo mas," ujar ibunya meletakkan kotak snack di depanku. Aku mengangguk dan melihat di depan cewek-cewek yang datang duluan tadi ada beberapa teh botolnya. Lha aku kok gak dikasih? Hahaha. Glekkk, hanya air ludah yang aku telan.
Ketika aku buka kotak nasinya. Astaghfirullah, isinya cuma kacang tanah, arem-arem, jeruk, roti kecil dan air kemasan. Kemana nasinya ini? Kemana??? Kemana Cha?? Tak sesuai yang dibayangkan.
Mau protes sama ibu-ibu tadi juga sungkan. Mau minta teh botol juga sungkan. Akhirnya dengan terpaksa saya makan arem-aremnya, jeruk dan minum air kemasan tersebut. Sambil melirik teh botol di sebelah yang masih penuh, siapa tahu rasa airnya berubah jadi manis. Resiko anak seberang negeri nyumbang ya gini. Gak dikenali dan dinjarke garing, hahahaha piisss Cha.
Aku cek HP siapa tahu bikin status atau apa kek. Sialnya, ternyata sinyalnya bertanda silang. Jangan-jangan aku lagi di dunia lain?? Jangan-jangan tanah yang aku injak ini sudah ikut negara lain, bukan Indonesia, hahahaha. Gak iso opo-opo maneh.
Suasana makin membuatku muak dengan ulah para cewek di sebelahku yang narsisnya amit-amit. Mereka tanpa malu-malu di depanku pamer pose. Bibirnya dimajukanlah. Pose miringlah. Posisi nemplok di dindinglah. Pose tanganya hormat jinjay di kepalalah. Ya Allah ujian apalagi ini buatku. Aku lihatnya yang muak dan jijik. Belum masalah nasi kelar, aku disuguhi perilaku anak muda yang amit-amit jabang bayi kurang kunci.
********
Akhirnya masuklah seorang laki-laki dengan pakaian hitam. Duduk di sebelahku langsung. Kalau dilihat dari apa yang dibawa sepertinya salah satu crew fotografer yang disewa Ticha. Entah kelelahan atau memang acara foto-foto sudah selesai.
"Temannya Ticha Mas?" tanyanya sambil mengulurkan jabat tangan.
"Iya Mas. Andre!" jawabku sambil menyambut jabat tangannya.
"Somat!" balasnya
Setidaknya ada teman obrolan daripada harus melihat suguhan di depanku yang membuat mataku perih.
"Kalau aku lihat kok bukan asli Rembang ya Mas?" dia membuka obrolan kembali. Aku mengangguk dan heran.
"Kok tahu Mas?"
"Tahulah Mas. Dari wajahnya bukan wajah Rembang dan tadi lihat motor platnya bukan KD atau KM, hahahaha" oalah jebule lihat pas aku datang.
"Wanita memang misterius ya Mas?" aku heran mendengar pertanyaannya.
"Hahaha, jangan heran gitu Mas. Aku dulu pernah berhubungan dengan seorang wanita. Sejak lulus SMA aku sudah menyukainya. Akhirnya aku putuskan untuk menemui orangtuanya mengutarakan keinginan untuk berhubungan serius dan siap membiayai semua keperluan kuliahnya nanti. Selama kurang lebih empat tahun aku LDR dengannya, Semarang dan Jogjakarta. Setiap bulan bayaranku aku kasihkan ke dia untuk biaya SPP dan kuliahnya,"
Mas Somat menarik nafas berat menceritakan kisah percintaannya, aku hanya mendengarkan saja tanpa berkomentar.
"Tetapi beberapa bulan kemarin ada perubahan sikapnya. Mas tahu ketika kita bisa mempelajari ilmu telepati, kita bisa merasakan perubahan dari pasangan, atau sekarang lebih disebut kepekaan. Aku pun sudah merasakan dari dia. Pernah dia salah kirim sms. Aku tanya apa ini tidak salah kirim? Katanya sih tidak. Akhirnya aku berpikir dan merenung, apa yang harus aku lakukan dengan situasi seperti ini...." seolah melontarkan pertanyaan kepadaku.
Aku hanya menggelengkan kepala tidak mengerti. Setidaknya aku terhibur di rumah yang puanas karena Ticha tidak menyertakan kipas angin di rumahnya. Duhhh Cha, Cha......
"Aku putuskan ke Semarang, aku bersikap seolah tidak apa-apa. Aku ajak dia jalan ke mall. Aku ajak makan, beli es krim. Ketika kita sama-sama kenyang, aku utarakan niatku yang sebenarnya. Aku serahkan gajiku kepadanya untuk biaya kuliahnya. Dik, ini untuk biaya kuliahmu. Tapi mohon maaf mungkin ini uang yang terakhir. Mungkin aku yang tidak bisa menjaga suatu hubungan, maaf jika aku selingkuh. Dia hanya diam. Aku tahu kalau dia akan menangis. Akhirnya dia menceritakan semua perselingkuhannya dengan teman satu kelas. Bayangkan Mas, mereka selingkuh selama kurang lebih 2 tahun. Piye perasaanmu nak dadi aku??"
Ada rasa empati dariku kepada Mas Somat, betapa dia begitu tegar. Aku tepuk punggungnya sebagai bukti ikut merasakan apa yang dia rasakan. Dan ternyata ada yang lebih parah kisah cintanya daripada saya, hahaha. Dia memberikan ilmu, kembalikan semua rasa salah pasanganmu ke dirimu. Seolah-olah kamulah yang melakukan kesalahan. Maka pasanganmu akan berterus terang. Apa iya sih? Tak tahulah, yang pasti perutku masih keroncongan belum terisi.
Beberapa laki-laki dan perempuan datang masuk membawa kado. Ada juga yang mengendong bayinya. Sepertinya teman Ticha dari jauh juga. Apa yang aku harapkan ternyata terealisasi juga. Makannya keluar juga. Alhamdulillah ya Allah Kau kabulkan doa hamba, hahaha.
"Monggo mas dimakan dulu. Kelihatannya kok kayak belum makan dari tadi," ajak Mas Somat.
Asem, pancen mas! Ket mau dienteni gak ndang-ndang metu mangane, hahaha. Nasi gulai kambing sudah habis tersantap. Kata Ticha aku makannya cepat banget. Bagiku makan itu tidak perlu dimamah selembut mungkin nanti malah cepat lapar, hahaha.
"Mas seorang wanita kalau selalu mengelak menjawab tidak, tidak dan tidak. Kemungkinan besar kenyataannya malah Iya. Mereka hanya menutupi apa yang ada. Itulah keunikan dari wanita, mereka sangat rapi dalam menutupi apa yang dirasakan sendiri dalam hati. Dan kalau sebenarnya kita peka sebagai pria dapat mengetahui wanita tersebut berbohong apa tidak?"
"Caranya bagaimana Mas?" akhirnya aku berani mengomentari sekaligus bertanya kepadanya. Akhirnya Mas Somat membisikkan sesuatu di telinga saya. Aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Ouh begitu caranya.....
Obrolan kami harus usai ketika dia harus melanjutkan tugasnya nyuting pernikahan Ticha. Ada cucuk lampah (laki-laki yang berdandan ala wanita) yang mengajak sepasang pengantin masuk ke rumah. Biasanya sih mau ganti baju pengantin. Ckckckck, ganti baju pengantin saja kok repot segitunya.
Setelah berganti baju, gak perlu aku ceritakan proses pergantiannya bajunya juga di sini. Pokoknya sepasang pengantin Mr. & Mrs. Cap Jay sudah standby lagi di kursi panas, hahaha.
*****
Prosesi selanjutnya adalah foto-foto untuk para tamu undangan dengn pengantin. Sebenarnya di depan rumahnya ada panggung besar. Ketika datang tadi ada pengajian dari salah satu kyai. Lucu sih tapi kok materinya sudah sangat familiar di kuping, plek pengajiannya Pak Anwar Zahid. Setelah pengajian selesai tiba-tiba ndelalah kok sudah muncul 3 biduan dangdut beserta perlengkpannya. Lha iki sing tak tunggu-tunggu sebenarnya. Tapi sayang biduannya sudah uzur semua, jadi aku tidak begitu tertarik.
Akhirnya aku putuskan untuk foto-foto dengan Ticha dan Mas Jawawi. Setelah itu merogoh saku, ngambil amplop dan menyerahkannya. Jangan lihat nominalnya ya Cha, yang penting lihat history mengenaskannya di balik ini semua. Lagian aku juga gak enak harus menyebut nominalnya di sini, hehehehe..... Tahulah berapa, hahahaha.
Aku berharap ketika pulang dari nyumbang -kalau di daerah saya, ini kalau di daerah saya sih- ketika pulang akan membawa berkat, snack atau apalah. Lha ini, kagak dapat apa-apa saya. Tahu gitu snack tadi aku bawa pulang gak aku makan, hahaha. Cuma dapat souvenir asbak bolong yang gak bisa dimakan Lagian aku juga gak merokok, kenapa dikasih asbak?? Hubungannya apa coba Cha?? Cha servismu gak jossss og, hahahaha.


Tapi ya sudahlah aku terima dengan lapang dada. Pada intinya ini semua demi kebahagiaan mereka berdua. Dan tidak lupa seperti doa-doaku sebelumnya, semoga tidak ada kekhilafan di antara mereka berdua. Terutama dari pihak laki-laki tidak khilaf memilih teman hidup. Aku takutnya pas bangun pagi harinya, Mas Jawawi kaget dan syok melihat seorang wanita tak begitu cantik tergeletak tidur di sebelahnya. Dia reflek menarik selimut menutupi dadanya yang berbulu dan beringut ke dinding kamar, "Siapa kau sebenarnya? Dimana aku ini?" Hahahaha aku malah membayangkan yang tidak-tidak. Sudah sudah sudah, itu hanya khayalan bohong!!!
Selamat menempuh hidup baru kepada Tutycha dan Mas Jawawi. Kenapa aku memanggil Mas karena memang rentang usia kami terpaut 'lumayan' jauh, hahaha. Semoga jadi keluarga yang Sakinah Mawadah dan Warohmah. Aamiin.
Jangan tanya kapan aku nyusul?? Karena jodohku mungkin masih otewe, hahaha.
Dan kisah ini dimulai dari sebuah roti dari Ticha.
Salam Macul.....
(Mas Jawawi -jeneng kok jawawi, hahaha- aku siap mbantu kalo lelah macule, wkwkkwkwk)