Selamat malam, Ayah..

Selamat malam, Ayah..

2 Comments
Selamat malam, Ayah..
Hari ini aku baru sempat menyapamu tengah malam seperti sekarang ini.
Maafkan aku ayah..hari ini aku sibuk sekali..
Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.
Oiya, ini mungkin hari ke 1223 semenjak ayah pergi meninggalkan aku.
Aku merindukanmu ayah..
Semoga ayah selalu setia menunggu aku menyapamu setiap harinya.
Maafkan aku karena sekarang aku semakin sibuk dengan pekerjaanku.
Bila dulu aku bisa menyapamu minimal dua kali sehari, sekarang aku hanya bisa menyapamu sekali dalam sehari. Itupun ketika tengah malam menjelang seperti sekarang ini.
Bukannya aku mulai melupakanmu..tapi pekerjaan ini menyeretku ke dalam kesibukan yang begitu melelahkan.
Semakin melelahkan setiap harinya.
Jujur, aku lelah sekali ayah..
Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini.
Sudah lama sekali aku ingin memeluk tubuh tegapmu dan menyampaikan semua keluh kesahku padamu.
Aku sungguh merindukanmu..
Ayah tak lupa kan? Besok aku genap berusia 26 tahun.
Bukankah putrimu ini tumbuh terlalu cepat?
Semalam aku bermimpi bertemu ayah.
Dan aku sungguh tak menyangka kalau ayah menanyakan satu hal yang membuatku tak bisa berkata-kata.
"Jadi, siapa seorang laki-laki beruntung yang sudah merebut putri kesayangan ayah?"
Oh.. ayah..aku malu sekali mengakui kalau aku masih sendiri semenjak kepergianmu.
Mungkin putrimu ini tak cukup cantik dan baik untuk menarik perhatian seorang laki-laki di luar sana.
Atau mungkin aku terlalu sibuk berkutat dengan komputer usang ini hingga melupakan bagaimana caranya menarik perhatian seorang laki-laki?
Apa aku terlihat sangat menyedihkan?
Tapi tak apa ayah..mungkin Tuhan belum menemukan seseorang yang cocok untuk menggantikanmu dihatiku.
Sungguh, cintaku masih hanya untukmu ayah.
Baiklah ayah..aku tidak mau selalu membebanimu dengan semua keluh kesahku ini.
Selamat beristirahat kembali ayah.
Dan aku berharap malam ini kau tak menyanyakan hal yang sama seperti malam kemarin.
Aku akan sangat malu ayah.
Jadi, kumohon..jangan tanyakan itu lagi..

Sedikit Curahan Hati (2)

Add Comment
Setelah kejadian dulu selalu membuatku penasaran dan penasaran. Siapakah wanita tersebut? Bagaimana mungkin saya bisa mengenalnya? Hanya Ida. Tak ada clue lainnya. Malam ini kalau memang beruntung semoga bisa bertemu kembali.

"Massssss......."

Aku mendengar sapaan seorang wanita. Suaranya yang syahdu merayu, membuatku tidak lupa akan pemilik suara ini. Aku palingkan pandanganku ke sekitar. Tak ada seorang pun. Lantas siapa yang memanggilku barusan?

"Masssss...." kali ini panggilannya disertai sentuhan lembut di pundakku. Aku membalikkan badan. Dia hanya tertawa sembari ditutupi jemari tangannya. Ya. Memang benar dia. Wanita yang aku temui dulu di mimpiku pertama. Aku kucek mataku untuk meyakinkan bahwa memang benar dia.

 "Adinda tunggu sebentar ya!! Tunggu di sini jangan kemana-mana!! Abang pergi sebentar!!"

Perihal Mobil Hitam di Depan Rumah Ina

Add Comment

Pagi ini membosankan. Sama membosankannya seperti pagi-pagi sebelumnya.
Pagi ini, Emak dan Bapak tak di rumah ketika aku bangun. Ini baru jam 5 pagi dan mereka sudah pergi?

Ini hari kamis, pasti mereka pergi ke kota. Pada hari kamis setiap minggu akan ada pasar lelang.
Lelang apa? Tentu saja macam-macam barang ada di pasar itu.

Kemarin malam emak bilang kalau pancinya sudah berlubang. Barangkali beliau hendak membeli panci disana.

Entahlah..aku malas ikut ke pasar lelang. Di sana panas dan kotor. Semua warga desa pelosok macam desaku ini pasti tumpah ruah kesana. Maklumlah, harga barang di pasar lelang jauh lebih murah daripada di pasar biasanya. Aku sendiri masih heran, kenapa harganya lebih murah padahal kualitasnya sama?

Aku selalu merasa kasihan dengan penjual di pasar biasa yang menjadi sepi pelanggan sejak adanya pasar lelang mulai bulan kemarin.

Warga desa macam kami ini rata-rata tak mempedulikan kualitas. Yang kami tau hanya seberapa besar selisih harganya.

Obrolan Ngalor Ngidul

Add Comment


Kluntinggg....
Satu sms masuk di hp jadulku.

"Lek iki wis tekan nek panggonan," sms dari Lek Soni.

Malam ini memang kami berencana berkumpul di salah satu kafe Grobogan. Karena memang Lek Soni meluangkan waktunya yang super sibuknya berkunjung ke Grobogan. Aku stater Grand Impressa tuaku. Lima belas menit kemudian.

"Sorry lek telat, soale mau enek kondangan nyatus tonggo, hahaha" ujarku langsung nimbrung di salah satu meja tengah kafe kopi tersebut.

"Wis reti lek, lha kui iseh gowo sarung, hahaha. Kondangane nimbal kene pow? Hahahaha," cerocos Lek Soni sembari bersalaman. Soni dan Lukman tertawa bareng.

Jiangkrik!!! Oalah pantesan mau rasane kok sempriwing-sempriwing piye ngunu, hahaha. Jebule sih gowo sarung."Kesusu lek, hahaha," jawabku sembarangan.

Jadi malam ini saya, Lek Soni sama Lukman berkumpul rembug tuo. Sekadar kumpul-kumpul karena memang sudah tidak pernah kumpul lagi. Disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Lek Soni yang menekuni bidang onlinenya, Youtube, Adsense, Blog dll. Sama halnya Lukman yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, jadi guru. Sedangkan aku sendiri? Masih berkutat dengan pacul dan sawah. Aku lebih akrab memanggil Soni dengan tambahan "Lek" ben ngajeni. Begitu juga sebaliknya dia memanggilku.

Sedikit Curahan Hati

Sedikit Curahan Hati

Add Comment
Aku melihatnya duduk sendiri di tengah taman bunga. Wajahnya ia sembunyikan di kedua telapak tangannya. Sedang menangiskah dia? batinku. Sebenarnya aku juga bingung dan heran kenapa tiba-tiba bisa di taman bunga nan cantik ini. Aku berusaha mendekatinya. Apakah gerangan yang terjadi padanya.

Terdengar isak tangis pelan dari perempuan tersebut. Apakah aku mengenalnya? Aku berjongkok tepat di depannya. Aku sentuh telapak tangnnya untuk memberitahukan keberadaanku di depannya.

“Ada apakah gerangan adinda menangis di tengah taman ini?” tanyaku kepadanya.
Meskipun baru pertama kali aku melihat paras wajahnya. Seolah kami sudah saling mengenal dan tidak bertanya nama satu sama lain. Seolah ada keterikatan batin yang tidak bisa aku jelaskan. Sungguh!

Mata kami saling memandang. Lekat sekali kami berpandangan. Terlihat air matanya masih menetes. Sembari sesenggukan. Perempuan tersebut masih belum menjawab. Entah kenapa tiba-tiba jemari ini bergerak menyeka airmatanya yang menetes. Kulitku menyentuh kulitnya. Terasa lembut dan damai. Dia lagi-lagi masih terdiam.

“Adinda cantik ini tidak pantas untuk menangis. Siapa yang sebenarnya tega membuat adinda cantik ini menangis? Bolahkah kakanda mengetahuinya?”

Renang : Bukannya Ku Tak Cinta....

Add Comment
Jika kalian mendengar kata renang apa yang terlintas di pikiran? Olahraga air. Tempat berkumpulnya para pria atau wanita baik muda maupun tua untuk berendam sekaligus mandi. Atau tempat yang digunakan sedikit remaja untuk cuci mata karena dapat melihat rejeki yang terpampang secara gratis. Dan masih banyak lagi mungkin.

Ketika saya ditanya apakah saya bisa renang? Saya menjawab setengah bisa setengah tidak. Ketika saya ditanya apakah saya suka atau senang renang? Iya waktu kecil. Lha sekarang masih suka atau senang? Enggak. Sekarang rasa sukaku sudah saya berikan kepada oranglain (nggak nyambung ya).
Sebenarnya saya tidak begitu suka renang. Kalaupun ikut renang pasti juga terpaksa karena diajak gratis sama teman-teman. Berbeda sekali waktu saya masih kecil. Renang tidak harus bayar. Gratis tis. Tidak mengeluarkan uang sepersen pun. Tetapi sekarang renang harus di kolam renanglah. Di pemandianlah. Di empanglah. Atau dimanalah. Harus bayar uang parkir sekaligus bayar uang masuk.

Kembali ke permasalahan pertama, yaitu kenapa saya tidak begitu suka renang. Ada dua penyebab utama kenapa saya tidak begitu menyukainya. Pengen tahu nggak? Nggaaakkkk..... asem tenan.


Sahabat (Gila) Sejati

Add Comment

“Kowe enek duit Ni?"
“Piro bos?”
“Koyok biasane. Sisuk tak genti bar bayaran macul!”

Setiap orang pasti punya teman. Punya seseorang -yang note benenya bukan saudara kandung-yang ada di saat kesusahan maupun di saat kita bahagia atau senang. Pasti kalian memiliki sahabat yang seperti itu? Tidak perlu banyak memang. Cukup satu dan itu sudah lebih dari cukup.

“Angger moro ngomah wae. Aku lagi nek omah muleh soko Semarang!”
“OK. Siap meluncur!”

Namanya Lukman (dany.web.id) tetapi aku lebih suka memanggilnya dengan panggilan “Ni” sedangkan dia sering memanggilkan dengan “Bos” (bosok paling, hahaha. Petani po yo enek sing dadi bos to Ni Ni). Kami berteman sejak kelas 3 SMA.

Setelah lulus SMA dia melanjutkan kuliah di Univesitas Negeri Semarang mengambil jurusan guru olahraga. Mengikuti jejak bapaknya. Sedangkan saya cuma melanjutkan kuliah di universitas sawah. Setiap kali dia pulang saya mendapatkan cerita bagaimana hidup sebagai mahasiswa kos-kosan. Cerita dari kota Semarang. Saya kenal dengan komputer, internet, gadget juga semua darinya. Begitu juga ketika harus jagake masalah duit juga dari dia, hahaha.


(Jawaban) Teman...

(Jawaban) Teman...

Add Comment
Teman, adakalanya kita harus mengalah dengan apa yang kita sebut cinta.
Ketika kita mengalah bukan berarti kita kalah. Mengalah untuk sebuah kemenangan bukan kekalahan.

Teman, adakalanya kita harus belajar merelakan walaupun tanpa melupakan.
Kita tidak bisa melupakan atas apa yang sudah menjadi jalan hidup kita. Merelakan? Mungkin lebih baik mengikhlaskan. Karena ikhlas lebih di atas level merelakan.

Teman, adakalanya kesedihan karena mencintai terasa begitu menyakitkan.
Sedih dan bahagia bagai dua mata sisi uang yang tidak bisa dipisahkan. Mencintai seseorang? Berarti harus bersiap merasakan kesedihan. Simpel bukan? Simpel karena sebatas teori.

Teman, sekarang kau memang merasakan sakit karena kau harus merelakan orang yang kau cintai dengan sepenuh hatimu bersanding dengan orang lain.
Level tertinggi keikhlasan cowok ketika mendoakan orang yang dia suka bahagia dengan orang lain. Level tertinggi kebohongan cowok mengatakan kalimat di atas. Sulit memang? Tetapi kalau tidak kita jalani bagaimana kita bisa tahu hasilny?

Tapi ketahuilah teman, memang seperti itulah mencintai.
Cinta = bahagia + sedih. Itu rumus cinta. Tapi ketika kita mencintai Allah SWT, tak ada kata sedih melainkan bahagia + bahagia.

Kita tidak pernah tau seberapa lama cinta itu mampu bertahan pada orang yang sama.
Hati setiap detik berubah, Kawan. Dia bisa berujar A selang beberapa detik bisa dikoreksi jadi B. Hanya dia dan Allah yang tahu!!

Bahkan, kita tidak tau akan jadi seperti apa cinta kita ketika orang yang kita cintai sudah tak lagi membalas cinta kita.
Ketika kita berjalan, lebih enteng dan enak kan jika berjalan menggunakan dua kaki. Jika semisal kaki satu kita sakit atau cidera pasti kau akan kesusahan ketika melangkah.

Baiklah, ini terdengar begitu mengenaskan.
Tapi tak apa teman, kau masih bisa bertahan sekarang.
Aku bertahan karena aku masih punya Allah SWT. Dan karena masa depanku yang menanti juga keluarga dan sahabat, termasuk kau kawan.

Tetaplah bersemangat untuk menjalani hidupmu selanjutnya.
Ya, pasti.

Hey, bukankah kau seorang temanku yang begitu luar biasa? Luar biasa hebat karena mampu bertahan dengan keadaan yang seperti sekarang ini.
Kau juga sahabatku yang biasa di luar, hahaha. Kau sahabatku yang luar biasa.

Jadi, tetaplah bersemangat teman!
Di luar sana banyak yang mendukungmu.
Ini jalan hidupmu.
Ya, salah satunya kau, kawan!!

Hadapi dan jalani dengan semangat yang bertambah setiap harinya.
Pasti, jalan kita tidak mungkin terhenti karena kerikil kecil di jalan kita.

Maaf ya teman, ini sekedar tulisan yang aku buat untukmu.
Percayalah, ketika dia bisa baik-baik saja sekarang. Maka kaupun bisa tetap baik-baik saja.
Tentu. Karena aku sudah membalas tulisanmu ini dengan tulisanku juga. Kita bisa meraih mimpi kita dengan orang yang mau berjuang bersama. Terima kasih, Cha.

Keep fighting! :)
Keep fighting! Ticha :)
Teman...

Teman...

Add Comment
button-241994_1280
Teman, adakalanya kita harus mengalah dengan apa yang kita sebut cinta.
Teman, adakalanya kita harus belajar merelakan walaupun tanpa melupakan.
Teman, adakalanya kesedihan karena mencintai terasa begitu menyakitkan.
Teman, sekarang kau memang merasakan sakit karena kau harus merelakan orang yang kau cintai dengan sepenuh hatimu bersanding dengan orang lain.
Tapi ketahuilah teman, memang seperti itulah mencintai.
Kita tidak pernah tau seberapa lama cinta itu mampu bertahan pada orang yang sama.
Bahkan, kita tidak tau akan jadi seperti apa cinta kita ketika orang yang kita cintai sudah tak lagi membalas cinta kita.
Baiklah, ini terdengar begitu mengenaskan.
Tapi tak apa teman, kau masih bisa bertahan sekarang.
Tetaplah bersemangat untuk menjalani hidupmu selanjutnya.
Hey, bukankah kau seorang temanku yang begitu luar biasa? Luar biasa hebat karena mampu bertahan dengan keadaan yang seperti sekarang ini.
Jadi, tetaplah bersemangat teman!
Di luar sana banyak yang mendukungmu.
Ini jalan hidupmu.
Hadapi dan jalani dengan semangat yang bertambah setiap harinya.
Maaf ya teman, ini sekedar tulisan yang aku buat untukmu.
Percayalah, ketika dia bisa baik-baik saja sekarang. Maka kaupun bisa tetap baik-baik saja.
Keep fighting! :)

Cerita Tentang Foto Saya

Add Comment

Jadi begini ceritanya, saya ini wanita *ehm* berhijab. Keseharian saya memang tak selalu berhijab, hanya jika keluar rumah saja.
Saya mau sedikit curhat, sebentar lagi saya mau menikah *ehm*.
28 April 2015 kemarin saya menjalani prosesi yang bahasa kerennya disebut pre-wedding. Saya ini masih muda lhooo..jadi ya pasti mengerti istilah-istilah gaul macam itu..
Oke baiklah abaikan kalimat di atas.
Langsung saja ke pokok ceritanya.
Foto di atas itu foto saya dan calon suami saya.
Lho kok nggak pake jilbab?
Iya, saya memang sengaja tidak menggunakan jilbab.
Itu murni keinginan saya. Bukan bermaksud menghilangkan identitas saya sebagai wanita muslim berhijab. Tapi memang foto-foto ini untuk kenang-kenangan saya dengan calon suami saya.
Mohon maklum, kami tidak punya foto berdua sebelumnya.
Kami bertemu bulan januari lalu dan Dia langsung melamar saya.
Jadi kami tidak ada waktu untuk berfoto selfie seperti pasangan-pasangan lainnya. ehehe
Foto pre-wedding saya ada lima sesi.
Sesi pertama dan kedua berisi foto-foto resmi tanpa banyak gaya. Sungguh, sejujurnya saya kurang suka foto macam itu..ehehe
Sesi ketiga sampai kelima saya melepas jilbab saya dan berkostum santai.
Pertamakali saya upload foto tanpa jilbab banyak sekali teman-teman yang shock, heboh, tak percaya, dll.
Ada juga yg bilang kalau saya skrg jadi berani berfoto semacam itu.
Saya tanggapi semua dengan tawa, lha mau gimana lagi?
Saya penginnya begini kok. Jadi saya terima pendapat mereka semua dengan senang hati.
Berarti banyak teman-teman saya yang peduli dengan saya.
Terimakasih yaaa :)
Sebenarnya, kalau menurut saya. Mau berjilbab atau tidak itu kan hak masing-masing orang.
Saya foto cuma untuk kenang-kenangan lhoo..biar nanti anak saya tau, kalau ayah ibunya dulu bisa narsis..ahaha
Sepertinya postingan saya ini tidak penting dan tak ada manfaatnya. Lha dari awal kan saya bilang kalau ini murni curhat (tak penting) semata.
Yasudah, sekian dulu kawan-kawan..
Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya.
Babayyy :))

Istilah-istilah Di Kampung

Add Comment
Bahasa Jawa banyak sekali perbendaharaan katanya. Mulai dari yang baku sampai yang tidak baku, semua tumplek blek jadi satu di kampung. Bahkan terkadang ada ciri khas tersendiri antara daerah satu dengan daerah lainnya. Tak terkecuali di kampung saya sendiri, lebih tepatnya di Dusun Ngrumpeng Desa Putatsari, Grobogan.
Berikut ini beberapa istilah yang sering digunakan oleh orang desa.
  1. Sambatan
Mungkin kita sering mendengar kata gotong royong, kalau di kampung lebih familiar dengan sebutan sambatan. Sambatan berasal dari kata sambat yang berarti mengeluh. Kerjomu kok sambat wae (Kerjamu kok mengeluh saja). Dapat imbuhan –an menjadi sambatan berubah artian saling membantu. Biasanya sambatan sering dilakukan jika salah satu tetangga punya gawe atau hajatan. Baik itu mantenan, bangun atau bongkar rumah, atau panen. Jadi jika si A panen padi atau jagung dibantu si B, C dan D. Maka jika gantian si B yang panen si A, C, dan D membantu, begitu seterusnya hingga tuntas.
  1. Jagulan
Kalau sambatan tadi atas rasa gotong royong, beda halnya dengan jagulan. Jagulan di sini meminta bantuan tetapi dikasih upah atau imbalan. Semisal jagulan macul, jagulan panen padi, dll.
  1. Ngedos
Di desa panen padi lebih identik dengan sebutan ngedos. Karena alat yang biasa digunakan untuk merontokkan padi disebut DOS (bukan bahasa pemrograman itu lho). Pengoperasiannya pun masih manual yaitu dipancal layaknya mancal sepeda. Tetapi sekarang agak maju karena ada yang sudah memakai tenaga diesel.
  1. Ngarit
Rata-rata orang kampung memiliki hewan peliharaan mulai dari ayam, bebek, wedus sampai sapi. Ngarit berarti mencari rumput di sawah atau di hutan dengan karung beras atau krenjang. Dulu setiap sore pasti disuruh emak ngaritno wedus opo sapi nek ngarep omah opo nek sawah.
  1. Ndaut
Mencabuti benih padi yang nantinya akan ditanam di sawah. Biasanya diikat dengan tali bambu. Orang desa menyebutnya pocongan. Ndaut biasanya dijagulkan, tetapi ada juga yang sambatan.
  1. Tempah
Kalau ndaut tadi kita mengumpulkan benih padi kemudian diikat. Kalau tempah kita menata benih padi di sawah. Melayani para ibu-ibu yang sedang menanam padi. Layaknya pelayan di restoran, hahaha
  1. Ulur
Pernah mendengar kata ulur? Mungkin lebih familiar kata mengulur-ulur waktu. Atau memperlambat atau memperlama waktu. Berbeda artinya kalau di kampung. Ulur berarti menanam padi di sawah ketika musim kemarau. Kita memasukkan benih padi ke lubang-lubang yang sudah dibuat menggunakan taju. Ulur biasanya di kampung lebih identik ulur jagung , padi atau palawija.

******

Misuh atau umpatan atau cacian di kampung pun beragam jenisnya. Ada beberapa yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari ada juga yang jarang digunakan atau pas keadaan/kejadian tertentu saja.
Kalau untuk yang umum semisal:
  • Pej*h atau J*h
Kadang kala juga dapat imbuhan i jadi pej*hi atau j*oh opo kowe ki! Umpatan ini sering dilontarkan oleh orang kampung ketika marah, kesal, bertengkar dll. Tingkatan Tinggi.
  • L*nte
Umpatan ini sering ditujukan kepada wanita-wanita nakal, sering keluyuran malam, mau dibawa kemana-mana, pulangnya subuh/pagi. Yang kalau di kota disebut PSK (Perempuan Suka Keluyuran). Tingkatan Tinggi.
  • Kakeane atau Kekanem
Kata satu ini juga menjadi langganan orang kampung untuk mengungkapkan rasa kekesalannya. Tingkatan Rendah.
  • Bajingan (Tingkatan Sedang)
  • Picek (Tingkatan Sedang) Umpatan untuk mata yang salah melihat atau bawur.
  • Bento (Tingkatan Sedang) Umpatan untuk mata juga.
 *****

Bahkan nama-nama hewan pun turut diikutsertakan dalam misuh di desa. Sebenarnya ini tidak sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Hewan, hahaha. Bisa diambil contoh:
  • Asu / Anjing / Kirik
Hewan satu ini sering mendapatkan porsi terbesar. Bahkan terkadang anak kecil faseh mengucapkannya. Kadang juga mendapat imbuhan -i jadi Asui atau asu i memberikan penekanan yang lebih. Ada juga dapat tambahan awalan U menjadi Uaassuuu, lagi-lagi untuk memberikan penekannya yang lebih. Biar lebih afdol mungkin misuhnya. Tingkatan Tinggi.
  • Jangkrik
Serangga satu ini juga menjadi korban misuh-misuh orang kampung. Terkadang mendapat sisipan –i menjadi Jiangkrik. Tingkatan Rendah.
  • Kethek/Munyuk (Tingkatan Rendah)

 *****

Yang tidak saya habis pikir juga nama tumbuhan juga diikut-ikutkan juga. Kasihan tanaman yang dicatutkan tanpa pemberian royalti ini, hahaha.
  • Asem
Buah kecut satu ini sering digunakan untuk menambah rasa di sayur bening. Sebagai bumbu dapur di rumah, asem juga menjadi buah bibir para warga untuk misuh juga. Dengar saja di percakapan para pemuda kampung, pasti lak ada satu kata ASEMI / ASEM I. (Tingkatan Rendah)
  • Telo
Ketela rambat di desa sering disebut telo. Tanaman satu ini pun tidak luput dari perbincangan para warga. Telo di sini mengumpamakan seseorang yang bodo, ora mudengan. Oalah utek-utek telo!! Raimu koyok telo!! (Tingkatan Sedang)
  • Waloh
Waloh juga menggambarkan seseorang yang bodo, plola-plolo, ora mudengan. Utek-utek waloh!! Kokean mangan waloh tenan kowe ki!! (Tingkatan Sedang)

Mungkin hanya segitu yang dapat saya tuliskan. Mungkin dari teman-teman ada yang mau menambahi saya persilakan di komentar.

Salam Macul!!
Cerita Dari Kota

Cerita Dari Kota

Add Comment
Ada teman dari kota yang seringkali saya ajak bertukar pikiran mengenai gemerlap kota. Karena kebetulan memang dia kuliah di salah satu kota besar di Jawa Tengah, sebut saja Semarang. Lewat dia saya tahu gimana gambaran kota besar itu. Dari dialah saya juga mengetahui perilaku-perilaku mahasiswa seperti dia. Saya hanyalah calon petani udik yang masih berkutat di desa.

Sawah jadi media nulis para petani. Pacul jadi media mereka mengutarakan isi hatinya, hahaha.
Cerita di bawah ini seratus persen aktual dari langsung dari narasumbernya. Saya ubah jadi sudut pandang orang pertama, yakni aku, biar privasinya tidak terbongkar.

Usia remaja memang masa-masa pubertas. Masa-masa dimana mencari jati diri yang ujung-ujungnya nanti tidak ditemukan ketikan ditanya apakah sudah menemukan jati dirimu?? Tak terkecuali untuk anak-anak kuliahan atau mahasiswa yang merantau ke kota tertentu.

Di sini saya akan mengenjewantahkan hal-hal yang biasanya dijumpai di kalangan mahasiswa. Sebenarnya tidak hanya untuk mahasiswa saja, ini berlaku untuk semua kalangan. Sudah kita lihat di beberapa media televisi yang mengabarkan bahwa anak SD, SMP sampai SMA yang sudah mulai melakukan tindakan asusila. Ujung-ujungnya apa? Wanita yang menjadi korban. Selalu begitu. Dari jaman kakek moyang dulu sampai sekarang, selalu wanita yang menjadi bulan-bulanan. Padahal kalau dipikir, kenapa pihak laki-laki tidak pernah mendapat getah dari apa yang merekan lakukan berdua.

Selama sepengetahuan saya sebagai anak kos yang mencicipi sedikit nikmatnya perkuliahan. Jujur, saya sering bergonta-ganti kos-kosan. Bosan di kos ini, pindah cari kosan lainnya. Begitu seterusnya hingga lahan gandum jadi C*co crunch, hahaha. Selama itu pula saya mengamati perilaku yang dilakukan teman-teman kos ketika mereka If You Know What I Mean dengan pacarnya.

Ada semacam ritual yang sering saya dapati ketika teman sekamar ingin memakai kamar tersebut dengan pacarnya.

1. Jadi rajin membersihkan kamar Kos.
Ini gejala pertama. Biasanya si A yang selalu ogah-ogahan dengan kebersihan kamar kos, ujug-ujug berubah menjadi insan yang mencintai kebersihan kamar. Mulai dari menyapu kamar kos. Membersihkan seprai yang biasanya ditata ketika pas mau tidur saja. Mencentelkan pakaian pada tematnya, yang sebelunya pada berserakan kemana-mana.

Bisa saya jamin, bahwa akan ada seseorang spesial yang akan mengunjungi kamar tersebut. Saya khawatir, mungkin pacarnya adalah audit kebersihan yang akan menilai kebersihan kamar kos.
Kesambet apa ini bocah kok tumben-tumbenya mau bersihin kamar, batin saya ketika menjumpai kamar bersih. Meski dengan perasaan yang nggak enak. Ketika capek sepulang kuliah mau mengistirahatkan badan ini.

Dengan cengengesan teman kamar saya bilang, “Bro kamare tak silehi disik yo. Bocahe arep dolan eg.”

Lha to, mesti enek apa-apane bocah gemblung iki resik-resik kamar.

“Mok pek yo monggo,” jawabku sambil sedikit dongkol. Mau istirahat dengan nyenyaknya harus dicancel.

Yang perlu kalian tahu, biasanya sowan si pacar kalo nggak pagi ya siang, kalo nggak sore ya malem sehabis Magrib atau Isya.

2. Ngabari lewat SMS
Kluntinggggg....
Ada sms masuk. Dengan sedikit malas saya raih HP yang tergeletak di samping. Mata ini sedikit saya pincingkan untuk membaca sms yang masuk.
Mungkin sms dari operator, dugaan saya salah.
Mungkin sms dari orang yangngabari kalo saya dapat sapi dan disuruh transfer, dugaan saya masih meleset.

Sms dari pacar? Si pacar lagi ngambek mana mungkin sms, kalo nggak duluan minta maaf, padahal siapa juga yang salah (malah curcol). Masih salah lagi.

Ndelalah yang sms si Paimin, kalo ngabari pengen boking kamarnya sama pacarnya. Belajar kelompok apa belajar lainnya.

“Bro, kamare tak silehi diluk yo. Kie aku wis perjalanan muleh kos mbi ayang,”

Ayang gundulmu sempal kuwi. Tak kira sms apalah, ternyata sms yang harus menghentikan kegiatanku untuk malas-malasan. Terpaksa harus cabut keluar. Atau paling mentok nonton tv di ruang tamu sambil menunggu dua insan yang entah sedang melakukan apa di kamar.

Kalau mengerjakan tugas kuliah, kok ya aneh. Tidak ada suara perbincangan atau perdebatan tentang materi perkuliahan.
Soalnya terkadang saya juga mendengar suara-suara aneh. Tentu tidak perlu saya jabarkan panjang lebar, hahaha.

3. Permintaan Aneh-aneh.
Selain gejala kedua di atas, mungkin ini juga menjadi tanda kalau kamarmu akan ada sidak dadakan dari Kementrian Perempuan. Keluar permintaan yang aneh-aneh dari teman sekamarmu.

“Bro, iso nukoke aku rokok nek Jeporo? Ojo ding ning Rembang wae.”

Seketika pandanganku kosong, sembari mbatin,

“Utekmu sempal wi, ngopo tuku rokok ndadak tekan Rembang. Tak tapuk uyah raimu kapok. Ngomong wae nak arep nganggo kamar. Huuuu...dupak raimu kapok,”

Yang nyuruh pasti cuma mesam-mesem. Seneng mesti.
Jika kebetulan lagi mujur ya pasti dikasih uang jajan buat berkelana keluar. Tapi kebanyakan selama ini tidak mujur, alias kosongan. Ora metu blas duite.

Huuuu....dasar kere. Padahal yo podo kere ne, hahaha.

4. Tidak Pulang Kampung
Jika akhir pekan teman sekamarmu yang biasanya pulang kampung tetapi absen dalam kegiatan tersebut. Kamu harus husnuzdon terhadap temanmu tersebut. Bisa jadi karna uang jajannya masih lebih jadi tidak pulang ambil jatah. Atau memang ada kegiatan di kampus yang mengharuskan untuk tidak pulang. Jangan pernah memikirkan yang macam-macam dahulu.

“Orak muleh kowe bro?” “Ora bro, bla bla bla bla....” Tumben, batinku.

Dan ketika saya balik ke kosan dari kampung. Kamar kos kok terkunci dari dalam. Saya ketuk-ketuk juga tidak segera dibukakan. Ada apakah gerangan.

Kluntinggg....
 “Sorry bro, ayangku lagi nek jero kamar. Kamare sih tak enggo.”

Gregetan pengen banting HP. Tapi ya sayang, HP satu-satunya.

Sorry dengkulmu mploncot kui. Dan terpaksalah mengungsi di ruang tamu sembari menonton televisi.

Mungkin itu trik-trik yang sering digunakan oleh teman sekamar jika menyambut kedatangan si pacar. Itu hanya saya globalkan saja sepengetahuan dan sepengelaman saya selama ini, hahaha. Lantas apa yang dapat diambil hikmah dari tulisan di atas? Tidak ada. Tidak ada hikmah atau pesan yang ingin saya sampaikan. Saya hanya memberikan informasi yang seringkali hanya diketahui kaum adam saja.

Lha lantas apakah saya pernah juga melakukannya? Jawabnya iya, hahaha. Saya juga manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa kawan. Terus apakah semua mahasiswa begitu semua? Tidak, ada juga kok anak kosan yang tidak begitu tetapi begini, hahaha. Di sini saya ambil contoh saja, bukan berarti semua mahasiswa begitu kelakuannya. Sebagian besar memang iya, tetapi ada sebagian kecil pengecualiannya.

Gimana bro? Sudah sama persis seperti yang kamu ceritakan belum? Ini ceritanya mana ceritamu? Hahahaha. Saya memang tidak bisa sepenuhnya menjabarkan apa yang dikatakan narasumber. Tapi setidaknya ini mewakilinya.
Salam Macul dari deso.......
Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah

Add Comment
“Loe ngapain Son. Muka loe tekuk gitu?”
Soni masih murung tidak menanggapi pertanyaan Lukman.
“Habis kesambet ya loe? Nggak kayak biasanya gini?”
Soni menatap tajam Lukman yang berada di depannya.
“Jangan sinis gitu dong! Nyeremin banget, hahahaha...."
“Gue lagi patah hati, Man!”
“Patah hati kenapa?” tanya Lukman yang sudah duduk di sampingnya.
“Gue ditolak mentah-mentah sama si Eni. Padahal gue cinta banget sama dia.” Soni memasang muka masamnya. Mendengar keluhan temannya, Lukman malah tertawa.
“Jahat amat sih loe jadi temen. Gue lagi sedih malah loe tertawain. Cariin solusi kek!”
Lukman menahan tawanya. Berusaha memasang tampang serius dan iba.
“Emang gue kurang apa coba, Man?” keluh Soni kepada sohib kentalnya itu. Lukman mencoba berpikir sejenak.
“Iya juga ya. Kalau dipikir-pikir loe itu kurang apa coba? Tampang, kurang. Duit, kurang.....”
“Yaelah, malah menghina gue loe. Sialan!!
“Sorry, sorry, Son! Cuma bercanda kok, hehehehe. Mungkin kriteria loe kali yang terlalu banyak.”
Soni menatap Lukman yang berada di sampingnya. “Kriteria ya?”
“Yoi bro. Kriteria loe yang terakhir sangat tidak masuk akal,” jawab Lukman dengan semangat.
“Oooohhh, kriteria yang ‘manusia’ itu? Memang kenapa?” gantian Soni yang bertanya heran.
“Pakai nanya lagi, lihat diri loe siapa? Kita ini bangsa Jin, goblok!!”

Note: jika nama dan jalan ceritanya sama dengan pembaca, itu karena memang saya sengaja samakan. Tidak ada namanya kebetulan, hahaha.
Sambel Tempe Kemangi

Sambel Tempe Kemangi

Add Comment
Sesuai janjiku kemarin bahwa saya akan menceritakan tentang masakan fenomal Emak  yaitu Sambel Tempe Kemangi. Sederhana memang kalau dilihat dari namanya. Tetapi tidak menurut keluarga saya. Menu tersebut merupakan masakan terlezat. Mungkin kalian pernah mendengar pepatah mengatakan‘Masakan terlezat di dunia adalah masakan simbokmu. Karena ada bumbu cinta di dalamnya’. Bumbu tersebut tidak akan pernah kalian temukan di restoran mahal sekalipun.

Kembali ke Sambel Tempe Kemangi. Lauk tersebut sering Emak sajikan setiap kali kami sarapan pagi. Perpaduan antara pedas lomboknya dan gurihnya tempe sangatlah pas. Kalau kata Pak Bondan Maknyus.

Karena saya baik hati akan saya beberkan resep lauk spesial buatan Chef Simbok saya. Bisa kalian catet di buku atau di hape tidak apa-apa.
Bahan : Tempe secukupnya
              Daun Kemangi juga secukupnya
Bumbu:
* Lombok 3-5 biji
* Bawang (Bawang Putih, kalau Bawang Merah di kampung saya disebut Brambang)
* Moto secukupnya
* Uyah (Garam) secukupnya
Proses:
1. Semua bumbu dihaluskan jadi satu di cowek maka jadi sambel
2. Tempe digoreng setengah mateng kemudian ditiriskan
3. Kemangi juga digoreng, jangan sampai garing
4. Ulek tempe tadi di sambel sampai bercampur
5. Campur kemangi ke sambel tempe tersebut
6. Taaaa...raaaaaa.... selesai, siap dimakan.

Dengan lauk sambel tempe kemangi satu cowek begitu biasanya saya berebut dengan Mas dan Adik. Bahkan lauk beberapa sendok saja bisa menghabiskan sego sak wakul.

Masakan Emak memang paling lezat di dunia. Masakannya yang membuat kita merantau jauh selalu ingat dengan rumah dan kampung halaman.

Terima kasih Emak. Berbahagilah bagi mereka yang masih bisa menikmati masakan Emaknya.
Pernah saya mencoba membuat sambel tempe tersebut. Tetapi saya tidak bisa membuat seenak yang dibuat Emak. Mungkin tidak ada cinta pas saya membuatnya. Karena cinta saya khusus buat kamu...Iya kamu..... #hahahaha.

Karena Emak dan Bapak masih di sawah, sepulang sekolah saya membuat lauk sambel tempe. Optimis saya tentu rasanya sebelas duabelas sama buatan Emak. Setelah selesai dicobalah sambel tempe tersebut oleh Mas dan Adik. Dan lauk kali ini saya kasih namaSoybean Basil Sauce, biar keren gitu. Tetapi tidak sekeren hasilnya.

“Kakeane tenan, sambelmu kasinen,”kata Masku yang pertama kali nyoba.

“Mosok to Mas?” jawabku masih penasaran

Bajirut tenan. Rasanya memang keasinan. Mungkin tadi saya kebanyakan ngasih garam #hahahaha. Aku hanya mesem kecengengesan.

“Modyar kowe,” umpat Masku.
Buat Simbokku

Buat Simbokku

Add Comment
Meskipun sudah terlewatkan peringatan Hari Ibu, tidak ada salahnya jika saya juga mengangkat cerita tentang Emak. Memang tidak akan pernah habis dan cukup membahas jelmaan bidadari surga ini. Tapi perkenankan saya merangkai kata sederhana untuk mengungkapkan cinta kepada Emak di rumah.

Satu hal yang selalu Emak lakukan di rumah setiap pagi adalah memastikan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Walau hanya dengan lauk kemarin yang diangetkan lagi. Kadang juga hanya dengan sambel, tapi bagi saya itu lebih dari cukup. Berapa banyak di luar sana yang tidak bisa makan, harus bekerja membanting tulang demi sesuap nasi. Dan menu andalan Emak saya adalah sambel tempe kemanggi (mungkin bisa saya ceritakan sendiri lain kali).

Setiap kali bangun tidur pasti sarapan sudah siap di meja (kusam) makan kami. Melihat anaknya bangun emak pasti langsung berkata, Ndang Subuh Le. Bar iku ndang sarapan trus adus, mangkat sekolah!

Emak dan Bapak pasti sarapan paling terakhir, memastikan bahwa ketiga anaknya sudah selesai sarapan. Terkadang Bapak malah harus ke sawah setelah bangun tidur, tidak sempat sarapan. Lha sarapane durung mateng. Setelah anak-anaknya berangkat sekolah, barulah Emak sarapan. Tentu lauk sambel tempenya tersisa sedikit.

*****

Di kampung tidak ada namanya tradisi mengucapkan selamat hari Ibu kepada Emak atau Simboknya. Semua berjalan seperti biasa, mereka hanya tahu bahwa tanggal 22 Desember Hari Ibu. Hanya tahu tok, tidak lebih. Jangankan hari Ibu, namanya perayaan ulang tahun saja hanya segelintir orang mampu yang bisa merayakan di kampung. Untuk kita anak-anak petani perayaan ulang tahun malah setiap sebulan sekali. Pas jatuh hari penanggalan Jawa. Itupun hanya dengan Jenang Abang.

Sebenarnya saya ingin sekali mengucapkan kepada Emak. Mengucapkan selamat Hari Ibu kepada beliau yang telah sembilan bulan mengandung, melahirkan dan merawat selama ini.

"Mak, selamat hari ibu nggih!”

Emak yang masih sibuk ngaru nasi melihatku sambil heran. Tangan kanannya memegang centong.  Matanya mendelik menatapku yang masih mikul tong air ngangsu.

“Ngomong opo kowe! Wis bar durung tekmu ngangsu. Pakmu meh muleh. Ndang dikebaki gentonge. Ojo sing ora-ora. Kesambet pow kowe le?” jawab Emak sambil geleng-geleng kepala lantas meneruskan kesibukannya ngaru nasi.

Tuh kan tahu sendiri. Di kampung itu tidak cocok mengucapkan selamat hari ibu. Aku pun bergegas merampungkan kegiatan ngangsu banyu. Serasa oase di tengah gurun sahara. Lha wong seumur-umur belum ada itu di kampung yang pernah melakukannya.

*****

Bukan ucapan selamat yang mereka inginkan dari kita, anak udik kampung. Melainkan krungoke nak dituturi, manut nak dikongkon. Karena Emak dan Bapak lebih banyak di sawah jadi semua urusan rumah harus bisa diselesaikan anak-anaknya. Mulai dari menyapu, mencuci pakaian,mencuci piring, mengisi bak mandi (punya saya masih gentong), ngarit buat sapi. Hanya itu. Sederhana sekali bukan.
Emak juga tidak menginginkan kartu ucapan selamat Hari Ibu. Karena sebagian besar ibu-ibu di kampung tidak tamat SD, alhamdulillah Emak saya lulusan SD. Jangankan menulis, membaca saja kadang mereka masih terbata-bata mengejanya. Tetapi beda jika urusannya masalah duit, ibu-ibu jagonya.

“Duit mbok ceh-ceh go tuku kertas. Mending mok tabung opo go tuku lombok lakyo sak omah iso mangan sambel Le!” begitu mungkin ucapan ibu-ibu jika ada yang berani mencoba memberi emaknya kartu ucapan.

*****

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
Kita tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayang yang telah Emak dan Bapak berikan kepada kita. Lantas apa yang dapat berikan? Jadilah anak yang membanggakan orangtua. Tidak neko-neko. Manutan.

Setiap malam Emak pasti tertidur di amben depan tv. Setelah seharian bergumul di sawah dan memasak di rumah. Jika ingin melihat wajah bidadari kalian dengan sempurna, pandanglah wajah Emak/Simbok/Ibu pas tidur. Saya pernah melakukannya jika tidak sengaja menemani Emak nonton tv.

Wajah lelah, penat beliau. Tergurat dari kerutan-kerutan di wajah mereka. Tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Tanpa lelah bekerja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Pernahkah kalian melihat wajah sejati Emak kalian ketika tertidur? Cobalah.

“Mbok, ngapurane sing kathah. Dereng saget mbahagiake Emak karo Bapak. Nyuwun dongane mawon Mak, mugo-mugo saget dados tiyang,” ujarku setelah melihat wajah Emak tertidur.

Selamat Hari Ibu buat Emak-emak di kampung!!
Tak Kenal Maka Tak Sayang

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Add Comment
Ada pepatah lama mengatakan, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Sebelumnya perkenalkan nama saya Dwi Andri Yatmo,S.Pd (bukan gelar Sarjana Pendidikan, melainkan Seorang Petani Desa #jossss), masih tinggal dengan kedua orang tua di desa. Saya tinggal di daerah yang jauh dari keramaian kota. Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan saya mengenal dunia luar.
Jikalau teman-teman semua terdampar di blog ini, segeralah tutup browser anda, karena anda sedang tersesat. Jika masih kuat tidak apa-apa jelajahi dunia yang akan saya ceritakan di sini. Dunia saya sederahana. Hanya sekelumit tentang kehidupan anak petani desa. Tak lebih. Jangan. Kalian jangan meminta lebih pada saya.
Akhirnya cukup sekian perkenalan diri saya. Oh ya lupa, sepertinya juga akan ada penulis lainnya di blog ini. Dari saudari Mbak Tuticha (baca Ticha) yang berasal dari negara sebrang nun jauh di sana. Rembang.
Akhirnya untuk kedua kalinya, sekian perkenalan diri kami. Semoga senang dan bahagia baca tulisan kami. Setiap kalian habis baca tulisan kami, cek segera kesehatan mata di dokter terdekat. Dan camkan sekali lagi, dengan mambaca tulisan kami bukan membuat anda semua bertambah pintar, melainkan menyia-nyiakan waktu berharga kalian #buseett.
Sekian terimakasih. Sudah mampir.
Cium, peluk, jauh dari saya (upssss..dari Mbak Ticha ding, hahaha)