Larangan Berkhalwat

Add Comment

Sore itu rumah terasa sepi. Hati dan Akal tidak tahu kemana. Setelah meletakkan semua barang di kamar ingin rasanya beristirahat di depan televisi ruang tamu.

Terdengar gelak tawa dari Nafsu yang sudah dari tadi berada di depan televisi.

“Kau kenapa tertawa Naf?” tanyaku heran sembari menrebahkan tubuh di sofa sebelahnya.

“Itu lihat Boy berita di televisi. Sudah semakin rusak pergaulan anak muda sekarang ini? Lihat itu..”

Aku melihat berita yang memperlihatkan penggerebekan muda mudi yang berduaan di hotel. Mereka digelandang karena tidak bisa membuktikan kalau mereka suami istri. Diberitakan juga aborsi yang dilakukan wanita dikarenakan bapak dari jabang bayi tersebut tidak mau bertanggungjawab. Masih di bawah umur semua.

“Itu semua terjadi karena mereka sering berduaan di tempat sepi atau dalam agama Islam disebut Khalwat. Bukannya dalam agama Islam tindakan tersebut dilarang keras, bukan Boy?” gantian Nafsu bertanya kepadaku.

“Memang benar, dalam Islam ada perintah untuk tidak berkhalwat (beruda-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahramnya. Disebut dalam sebuah Hadist, Ingatlah, janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (bukan mahramnya) melainkan yang ketiganya adalah syaitan.” (Tirmidzi no. 20165). Dan juga “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita saja, kecuali ia bersama muhrimnya” (Bukhari no. 4904)

Jarang sekali Nafsu mengajak diskusi yang bahannya menyangkut perilaku syahwat seseorang. Biasanya dia lebih suka mengajak diskusi mengenai keseksian wanita daripada membahas agama. Ciri khas dirinya.

“Tahu tidak Boy, sebenarnya larangan berkhalwat tersebut ada penjelasan ilmiahnya. Inilah yang terkadang jarang sekali diketahui. Ada korelasi secara ilmiah yang menyebabkan agama Islam melarang khalwat,” lanjutnya sembari masih menatap cara berita di televisi.

Aku pun tertarik atas apa yang akan dijelaskan Nafsu. Jarang sekali dia memberitahukan sesuatu hal mengenai dirinya. Acara televisi sudah tidak membuatku tertarik. Aku memandangi Nafsu yang persis di sebelahku.

“Emang ada penjelasan ilmiahnya Naf?” tanyaku masih heran.

“Boy, Boy, kau ternyata salah satu dari orang yang tidak mengetahuinya ya? Hahaha,” ejek Nafsu mendengar pertanyaanku barusan. “Para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Tentu kau tahu hormon Kostisol kan, Boy?”

“Hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh,” jawabku singkat.

“Sebenarnya temuan ini sudah ada sejak tahun 2010 dan dimuat di Daily Telegraph!, “Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut,”

“Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dan berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.”

Aku masih belum mengerti atas penjelasan Nafsu. Penyataannya masih belum bisa sepenuhnya aku cerna. Yah, inilah jika harus berdiskusi dengan Nafsu tanpa ada Akal dan Hati di sini.

“Peningkatan hormon tersebut bisa memicu stres. Stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik lebih besar! Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol.

“Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon ini tidak naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh! Paham Boy?” rupanya Nafsu tahu kalau aku belum sepenuhnya mengerti dan paham atas penjelasannya. Aku hanya menggelangkan kepala.

“Makanya Boy, jangan heran jika di media massa ada berita lelaki hidung belang meninggal karena serangan jantung ketika sedang bersama selingkuhannya. Bisa jadi karena dia stres tingkat dewa, hahaha,” lagi-lagi Nafsu tertawa. “Itulah mengapa Islam sangat melarang karena menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.”

“Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit.”

Aku mendekati Nafsu, meletakkan telapak tanganku di dahinya. “Hangat kok!” ujarku.

“Ehh, sialan kau Boy! Hahaha”

Kami berdua tertawa bersama. Ada kalanya Nafsu memberiku penjelasan dan pelajaran yang tidak aku dapatkan dari Akal dan Hati. Di sinilah aku merasakan belajar dari mereka bertiga.

“Assalamu’alaikum....” terdengar ucapan salam dari luar. Sepertinya Hati dan Akal pulang dari entah darimana.

"Wa'alaikumsalam...," jawab kami bersamaan.

“Lagi pada nonton apa nih? Tumben akur gitu?” goda Akal yang melihatku dan Nafsu satu sofa.

“Noh lihat Naruto. Mau merasakan chidoriku?” jawab Nafsu dengan kesal.

Mulai lagi deh. Sebentar saja merasakan ketenangan. Aku hanya tepok jidat melihat kelakuan mereka berdua. Hati langsung menuju ke dapur.

“Ayo siapa takut? Belum pernah merasakan Rasenganku kan? Hahaha,” tantang Akal menanggapi.

Dan aku memutuskan untuk mandi. Daripada harus melihat pertengkaran mereka berdua.

Salam Macul

Keberkahan Di Pagi Hari

Add Comment

“Kau sudah bangun, Kawan?” suara Akal menyapa di sebelahku sembari tangannya menyentuh bahu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Pagi hari adalah sesuatu yang aku dan Akal sukai. Setelah sholat Subuh dan mengaji jika memang tidak sedang banyak tugas aku habiskan di balkon sembari melihat pemandangan hijau persawahan yang terhampar di depan rumah.

“Hati dan Nafsu sudah bangun?” tanyaku kepadanya.

“Hati dan Nafsu sedang sholat subuh. Biasalah Nafsu sulit sekali kalau dibangunin,” jelasnya yang sudah duduk persis di sebelahku.

“Kau tahu Kawan, dalam Islam pun sebenarnya sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing)

Inilah yang aku sukai dari Akal. Setiap kali berdiskusi dengannya selalu menarik. Tanpa ada bahan yang harus kita bahas sebelumnya, selalu mengenai hal-hal yang sering kami lakukan. Aku menoleh kepadanya menandakan rasa heran dan meminta penjelasan lebih.

“Jangan kau menatapku dengan tanda tanya yang besar begitulah, Kawan! Hahaha,” Akal tertawa melihat ekspresiku atas pernyataannya barusan.

“Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullahshollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)

Aku masih menjadi pendengar setia. Terkadang aku tidak bisa mengikuti alur pikirannya si Akal. Aku masih menatap ke arah persawahan. Denyut nadi kehidupan kampung mulai berdetak. Satu dua orang petani mulai beranjak dari rumahnya menuju sawah. Kabut tebal yang tadi pagi menutupi sedikit terurai datangnya sinar matahari pagi.

“Melalui doa tersebut Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahanlah yang akan sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas,” tiba-tiba suara Hati datang dari belakang. Rupanya dia juga mengikuti perbincangan ringan pagi ini. Hati keluar membawa nampan yang berisi empat cangkir teh hangat.

“Ngobrolnya tentu lebih asyik jika ditemani secangkir teh hangat,” tambahnya.
Raut wajah senang terpancar dariku dan Akal. Sekarang di meja sudah tersedia empat cangkir teh hangat yang siap disruput. Pasti semakin mengasyikan.

“Makanya Boy, janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Barangsiapa yang mengisi waktu pagi dengan tidur akan menjadi pihak yang sering kalah dan merugi,” sekonyong-konyong Nafsu muncul dari belakang dan langsung mengambil satu cangkir teh hangat dan langsung menyruputnya.

“Kok bisa kamu katakan pihak yang kalah dan merugi?” aku melemparkan pertanyaan kepadanya.

“Hahahaha....” Nafsu lantas tertawa. Kami bertiga saling pandang. “Boy, Boy, bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah. Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari?”

“Berarti seperti kamu sendiri kan, Naf! Sering susah sekali dibangunin, hahaha,” balas Hati telak. Kami bertiga tertawa menyambutnya. Karena dari kami semua Nafsulah yang sering susah dibangunin. “Eeehhhh...ya bukannya begitu juga!” balasnya salah tingkah.

“Sudah-sudah, kasihan Nafsu kamu goda terus begitu, Hat. Lagian untuk bangun pagi hampir rata-rata orang di kampung jagonya. Beda sekali dengan orang-orang kota yang super duper sibuknya. Lantas adakah sebenarnya kiat-kiat yang bisa kita terapkan untuk bisa mendapatkan keberkahan di pagi hari, Kal?”

Oh ya lupa, Akal sering memanggil yang lainnya dengan sebutan “Kawan”. Sedangkan Nafsu sering menggunakan kosakata “Boy” untuk memanggil kami semua. Hanya Hati yang memanggilku dengan nama langsung, begitu juga kepada yang lainnya.

“Jangan pernah biasakan begadang di malam hari. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun,”

“Tuh dengerin, Naf, apa kata Akal barusan. Jangan banyak begadang!” ujar Hati menasehati Nafsu yang punya kebiasaan begadang. Nafsu hanya tersenyum kecut.

Akal menyeruput teh hangatnya. “Sebisa mungkin kita bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Syukur-syukur bisa sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan  malas.”

“Ah, masak iya sih Kal?” sergah Nafsu yang masih asyik menikmati hangatnya sinar matahari pagi.

Matahari pagi sudah mulai beranjak dari peraduannya. Aktivitas orang-orang kampung pun sudah mulai terlihat. Para petani berbondong-bondong ke sawah masing-masing. Sebuah aktivitas yang tidak mungkin kita jumpai jika bertempat tinggal di kota metropolitan. Yang ada hanya hamparan gedung-gednung pencakar langit yang menjulang tinggi.

“Sesuai Hadist Nabi, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan menyetempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhary 4/310)

“Ooooo...” Nafsu memonyongkan bibirnya membentuk huruf O mendnegar penjelasan Akal.

“Boleh aku ikut menambahkan?” tanya Hati yang sudah dari tadi ingin ikut berkomentar. Lagi-lagi aku hanya menjadi pendengar setia mereka bertiga. Aku dan Akal menggangguk mengiyakan. “Pastikan tidak kesiangan sholat subuh. Dan untuk laki-laki usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.”

Sesuai dengan sabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak (HR Muslim 2/123). Dan juga Hadist, “Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafikannya.” (HR Muslim 3/387)

“Mungkin kamu mau ikut menambahkan, Day?” Hati beralih bertanya kepadaku. Aku menatapkannya tajam kemudian tersenyum.

“Aku sebenarnya tidak tahu harus menambahkan pernyataan apa,” aku habiskan tegukan terakhir teh hangat buatan Hati. “Tetapi menyambung atas apa yang dijelaskan oleh Akal barusan. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia sudah menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga. Pagi adalah waktu yang paling berkualitas sepanjang hari. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga pihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

“Jadi, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya, bisa dengan membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Atau mungkin berkumpul berdiskusi seperti yang kita lakukan ini.”

“Kau tidak mau ikut menambahkan, Naf?” pertanyaanku kepada Nafsu yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan.

“Sudah kalian sebutkan semua. Sudah ah, aku mau mandi terus tidur kembali!”balasnya masuk ke dalam rumah setelah meletakkan cangkir kosongnya di meja depan kami bertiga.
Kami bertiga hanya menggelengkan kepala.

Sinar matahari pagi telah menembus semua kabut pagi. Tidak ada yang tersisa. Kehidupan sudah mulai tampak terhampar di persawahan. Petani mengolah sawahnya dengan begitu semangat.

Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.

Semangat Pagi para sahabat Maculkers

7 Poin

Add Comment

“Apa? Kalau aku bisa pasti aku jawab!” aku kembali mengalihkan pandanganku ke persawahan.


“Emmmmm.... Hal-hal apa sih yang menurut para pria itu romantis yang mesti dilakukan pasangan wanitanya?” tanyanya dengan sedikit malu-malu.

Aku memandanginya sekali lagi setelah mendengar pertanyaan tersebut. Seakan-akan ada tanda tanya di atas kepalaku. Tumben Hati bertanya hal yang beginian.

“Ada yang aneh?” tanya Hati sekali lagi. Sepertinya ia merasa sebal aku pandangi seperti itu.

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke persawahan. Terlihat beberapa anak kecil yang memainkan layang-layang.  Merasa tidak ada respon dariku, Hati sedikit jengkel.

“Ya sudahlah, kalau tidak mau menjawab!” ujar Hati sedikit kesal karena aku tidak segera menjawab pertanyaannya. Aku segera mengenggam tangan kanannya dan menariknya hingga ke pelukanku. Hati sedikit kaget aku peluk seperti itu.

“Pelukan dengan pasangannya, juga merupakan hal yang romantis bagi seorang pria!”

Aku melepaskan pelukanku. Memandanginya sekali lagi.

“Banyak hal yang membuat pria merasa romantis. Semua itu tergantung individunya masing-masing, Hati.  Tetapi aku akan memberikan beberapa hal yang membuat merasa romantis atas apa yang dilakukan pasangan wanitanya. Yang pertama, berdandan untuknya. Sebagai pasangannya, kamu tentu tahu seleranya. Nah, sesekali berdandanlah dengan gaya yang ia sukai. Ingat, kamu melakukan ini untuk kepuasannya.

"Ajak si dia shopping dan mintalah ia memilihkan dress yang ia inginkan untuk kamu pakai," begitu saran dari Mbak Barbara De Angelis, Ph.D, penulis buku Secrets About Men Every Woman Should Know. Dan yang juga perlu kamu ingat, pria adalah mahluk yang orientasinya lebih fokus pada penampilan. Karena itu, hal yang sangat romantis bagi mereka adalah melihat kamu berdandan sesuai dengan gaya dan fantasi mereka.

“Tetapi jujur secara pribadi, aku lebih menyukai wanita yang tidak terlalu memperdulikan dandannya. Aku lebih menyukai mereka apa adanya, tanpa harus ditutupi bedak. Yah, meski dalam keadaan tertentu mereka harus berdandan.”

Hati mendengarkan dengan baik. Tidak lupa juga ia mencatat hal-hal yang menurutnya penting.

“Yang kedua,  pria suka pasangan berinisiatif. Banyak pria mengaku merasa lebih diinginkan bila pasangan mereka tak segan berinisiatif melakukan kontak fisik. Menggandeng tangannya saat jalan di mal atau "bermain" kaki di bawah meja, adalah contoh sentuhan fisik yang mereka sukai. Para pria mengartikan sentuhan-sentuhan itu sebagai ungkapan penerimaan dan hasrat dari pasangannya. Tetapi hal tersebut tidak harus dilakukan secara intens kok.”

Hati mengangguk mengerti.

“Yang ketiga adalah ijin bergaul. Bila kamu membiarkan mereka tetap bergaul dan boleh berkumpul dengan teman-temannya, bagi mereka itu adalah hal yang manis dan romantis. Sebenarnya pria juga tidak suka pasangannya terlalu posesif dan protektif. Tidak boleh melakukan ini, melakukan itu, bergaul dengan si A atau si B. Tetapi yang aku herankan, jika mereka tidak mau begitu, kenapa kebanyakan para pria juga terlalu posesif dan protektif dengan pasangannya? Hehehe, manusia memang aneh!”

Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Mencerahkan pikiran yang sebelumnya kalut karena pekerjaan. Dan sekarang harus menjelaskan sesuatu kepada Hati. Mengasyikkan juga sih sebenarnya.

“Selanjutnya apa?”

“Selanjutnya adalah memujinya. Kamu pasti tahu bagaimana menyenangkan rasanya dipuji. Berbaik hatilah dengan sesekali memujinya. Kamu bisa mengatakan tubuhnya masih seksi dan tegap atau apalah sebatas itu tidak menyinggungnya. Pujian yang kamu berikan akan ia nikmati sebuah pesan bahwa  kamu menginginkan, membutuhkan, dan mencintainya.”

Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Begitu serius mencatat apa yang aku katakan. Aku mengusap rambut hitamnya yang panjang. Ia juga tersenyum dan kembali mencatat. “Terus?” ujarnya.

“Ini yang keberapa ya? Oh ya kemana Akal dan Nafsu? Sepertinya seharian ini aku tidak melihat mereka berdua?”

“Yang kelima! Sudahlah jangan menghiraukan mereka berdua. Paling-paling juga jalan-jalan gak jelas,” jawabnya dengan antusias.

“Iya. Yang kelima adalah beri hadiah yang tepat. Ingin mengungkapkan perhatian lewat kado? Pikirkan sesuatu yang akan membuatnya senang. Bila ia pecinta musik, mungkin tiket nonton konser band favoritnya akan lebih dihargainya ketimbang sebotol parfum.

“Dan yang keenam, beri perhatian.  Ini yang paling semua pasangan butuhkan. Perhatian. Menemukan cara untuk menunjukkan perhatian pada seluruh aspek dalam hidupnya adalah cara yang tepat untuk menunjukkan kamu sangat peduli padanya. Sesekali ikut menemani Si Dia melakukan hobinya, membaca buku bareng,  memberi ucapan selamat ulang tahun pada ibunya, atau memberinya buku yang terkait dengan profesinya, adalah contoh hal-hal kecil bermakna besar.

“Bentar dong! Pelan-pelan saja bicaranya!” protes Hati yang merasa kewalahan dalam mencatat apa yang aku katakan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

“Iya!” jawabku dengan tersenyum.

“Dan yang terakhir adalah menceritakan rahasia. Si dia juga ingin jadi soulmate kamu. Menceritakan padanya rahasia kamu merupakan simbol dan ungkapan bahwa kamu percaya kepadanya dan pada hubungan yang sedang dibina. Ia pun pasti tak akan keberatan berbagi rahasia denganmu. Sudah, cuma itu yang bisa aku jelaskan. Meski masih banyak lagi lainnya, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Semua itu tergantung prianya masing-masing. “

“Lho kok pelukan tidak ada? Katanya tadi pelukan juga termasuk?” lagi-lagi Hati protes kepadaku.

“Pelukan kamu masukkan saja ke poin enam. Bukankah suatu pelukan itu termasuk rasa perhatian pasangan kepada pasangannya. Memang buat apa kamu mengumpulkan data-data seperti itu, Hati?” tanyaku ingin tahu.

“Rahasia dong! Hehehe,” jawabnya dengan senyum.

Cup. Sebelum Hati pergi ia mencium pipiku. Aku menyentuh pipiku, bekas ciumannya. Apalagi yang bisa aku lakukan jika bukan tersenyum. Ada-ada saja kelakuannya! Pikirku.

Aku sendirian di balkon. Merasakan semilir angin sore yang berhembus. Aku mengambil ponsel di saku celana. Mengetik pesan singkat. Dan segera mengirimkannya.

Aku kangen sama kamu.
Tring.
Pesan terkirim
Someone
15:00

Gara-gara HP

Add Comment


Entah kebetulan atau memang sudah takdir. Mereka bertiga bertemu di sebuah kafe. Berangkat dari sebuah trauma yang sama mereka berkumpul dalam satu meja. Ya, meski mereka belum mengenal satu sama lain. Agaknya, latar belakang trauma tersebut membuat mereka sama.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya Soni menghampiri meja yang hanya diduduki satu orang.

“Oh, silakan. Tidak ada yang lain kok!” jawab Lukman dengan senyum.

“Terima kasih!” Soni segera duduk berhadapan dengan pria yang belum dikenalnya itu.

Selang beberapa menit. Datanglah pria lain yang mempunyai masalah yang sama dengan mereka berdua.

“Boleh gabung di sini? Kebetulan semua meja di sini sudah full kecuali di sini?” tanya Andre yang membawa makanan. Ia ikut bergabung dengan kedua pria itu.

“Soni......”

“Lukman....”

“Andre....”
 Mereka saling berjabat tangan memperkenal diri.

“Kamu asli Semarang ya Man?” tanya Soni memulai pembicaraan.

“Bukan, saya perantauan di sini. Aslinya Purwodadi. Kalau kamu?”

“Saya asli Pati. Di Semarang sudah 2 tahun. Kalau kamu, Ndre? Asli orang sini juga? Tapi kalau dilihat-lihat tampang kamu bukan tampang Semarang, hehehe.....”

“Bukan. Saya asli Purwodadi, kebetulan kerja di Semarang sama seperti kamu tadi, 2 tahun. Wah ternyata ketemu tetangga malah.”

Mereka bertiga ngobrol ngalur ngidul. Semua mereka bicarakan. Mulai dari masa kuliah, lulus dan sekarang bekerja. Jam dinding kafe menunjukkan pukul 15.00. Berarti mereka sudah ngobrol selama tiga jam.

“Boleh minta nomor handphone kamu, Man? Ya, sapa tahu kalau ada waktu luang mampir ke tempat kamu!” tanya Soni.

“Punya. Tapi kebetulan lagi gak bawa hp.”

“Kebetulan, aku juga tidak bawa hp,” sahut Andre menimpali.

“Oh ya. Sama dong. Aku juga gak bawa hp, hahahahahahaha!”

Tidak bawa hp kok bangga. Waduh.

“Hp kadang bisa membuatku mengingat kejadian yang menyedihkan di dalam hidupku,” ujar Soni tanpa diminta.

“Ya, kamu benar Son. Aku juga pernah mengalami hal yang buruk dengan hp,” sambung Andre.

“Benarkah? Lagi-lagi kita sama dong. Apa kalian juga punya pengalaman yang menyedihkan, menjengkelkan atau apalah itu namanya yang berkaitan dengan hp, Ndre?” Soni beralih menatap Andre.

“Iya,” jawab Andre singkat.

“Kalau aku, gara-gara hp aku harus putus dengan pacar yang kusayangi dan kucintai,” Soni memulai ceritanya. Ia memandang ke atas dan mulai bertutur cerita.

*******

Siang itu.

“Jangan smsan mulu to yank! Konsentrasi ke jalan!” pinta Reni kepada Soni yang asyik smsan meski mereka dalam perjalanan pulang kuliah dengan sepeda motor.

“Iya, yank, iya!” jawab Soni seadanya. Tiap ada sms yang masuk Soni segera membalasnya tanpa menghiraukan jalan di depan.

“Iya, iya! Kalau iya kenapa masih smsan mulu! Kan bisa diteruskan nanti kalau sudah sampai kos,” lanjut Reni semakin kesal atas ulah pacarnya itu. Bukannya mengutamakan keselamatan malah memilih bersms ria di jalan raya.

Agaknya nasihat Reni tidak digubris Soni. Nyatanya ia masih memandang layar hpnya dan sesekali melihat arah depan. Minimnya konsentrasi ke jalan inilah yang menyebabkan angka kecelakaan lalu lintas selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Reni semakin dongkol. “Jangan-jangan itu sms dari selingkuhan kamu ya?”

Tak ada jawaban dari Soni. Tentu membuat Reni semakin kesal dan marah. Ia merebut hp Soni. Terjadi aksi tarik-menarik antara Soni dan Reni memperebutkan hp. Karena adegan tarik-menarik membuat Soni tidak memperhatikan jalur motornya. Sepeda motornya oleng dan menabrak pohon pinggir jalan. Brrraaakkkk.

Soni dan Reni terpental. Dan untungnya, mereka tidak terpental ke tengah jalan raya. Kalau itu terjadi bisa-bisa disambar kendaraan yang lewat. Soni berusaha bangun memastikan tidak terjadi apa-apa padanya dan berlari menghampiri sepeda motornya yang nyungsep.

“Alhamdulillah kerusakannya tidak seberapa.”

“Sialan kamu Son! Bukannya menolong pacarnya, motor duluan yang kamu urusin. Kita putus!” teriak Reni.

Bllarrr. Seperti ada petir di siang bolong.

“Apa? Putus? Kenapa harus sekarang sih, yank? Dalam keadaan seperti ini?”

“Putus ya putus. Kamu lebih sayang hp dan motor kamu daripada pacar kamu sendiri!” Reni menangis dan berjalan pergi meninggalkan Soni.

“Tapi yank? Sebaiknya aku antar kamu pulang, kakimu lecet gitu!”

“Tidak usah! Mending aku naik angkot saja!” Reni berjalan pergi sembari sesengukan menangis.

“Tapi yank........”

 “Gak ada tapi-tapian. Putus ya putus!” jawab Reni mulai kesal.

“Itu, helmnya tolong dibalikin. Itukan punyaku!”
GUBRAAKKK....

“Ya begitulah. Saya dan Reni beneran putus gara-gara kejadian tersebut. Meski sebenarnya saya masih sangat mencintainya,” kata Soni mengakhiri ceritanya.

“Kenapa kamu tidak tembak dia lagi?” tanya Andre merespon cerita Soni barusan.

“Sayang sekali sob. Dia sudah menikah dengan orang lain dan sekarang menetap di Kalimantan,” jawab Soni dengan ekpresi sedih di wajahnya.

“Saya ikut belasungkawa sob! Hahaha,” canda Lukman mencairkan suasana.

“Jiangkrik, hahaha.”

*****

Sekarang giliaran Lukman yang bercerita. Cerita ini terjadi saat ia dan pacarnya, Yuni pulang dari kuliah. Tempat kuliah dan kos lumayan jauh dan harus melewati pos polisi lalu lintas. Kita harus berhati-hati. Tahu sendirilah polisi lalu lintas Semarang sangat displin. Kesalahan sedikit saja di semprit. Digiring masuk ke pos dan akhirnya apalagi kalau bukan ditilang. Lho kok malah bahas polisi. Kembali ke cerita.

Siang itu, kejadiannya seperti cerita Soni sebelumnya, kata si Lukman gitu.

Ibuku sangat perhatian kepadaku. Saking perhatiannya, apa-apa harus lapor lewat sms atau telepon. Sedang melakukan apa, sama siapa dan sebagainya. Kalau sms atau telepon tidak aku cepat balas atau angkat, ibu akan menceramahi inilah, itulah panjang lebar. Pada intinya aku sangat sayang kepada ibuku. Itu beliau lalukan karena aku adalah anak tunggal. Seperti siang itu... Narasi Lukman seperti prolog film.

“Yank, kita jadi nonton film?” rengek Yuni di belakang.

“Iya, yank. Jadi!” jawab Lukman yang konsentrasi ke arah depan. Mereka berencana nonton film sepulang kuliah. Seperti biasa, Lukman mengantar Yuni pulang ke kos dengan sepeda motornya untuk berganti pakaian.

Gret, gret, gret, gret. Hp Lukman bergetar di dalam sakunya. Ada sms yang masuk! Ahhh...mungkin dari teman-teman yang iseng! Batin Lukman. Ia tak mengubrisnya. Lampu hijau sudah menyala, Lukman memacu motor agak melambat karena ada nada panggilan masuk. Dilihatnya di layar hp. Ibu, pikir Lukman.

“Ya, Bu. Ini Lukman sedang di jalan..... Iya.... Iya, Bu..... Nanti Lukman pulang tepat waktu kok...... Sedang sama temen..... Iya-iya,”

Klik. Telepon selesai.

Priiitttt. Prrriiittt.

“Bisa berhenti sebentar, Pak!” perintah salah satu polisi menghentikan perjalanan Lukman. 

“Bisa lihat surat-suratnya!”

Lukman memberikan STNK dan SIM C kepada polisi tersebut.
“Bapak tahu kesalahan Bapak? Bapak telah melanggar peraturan No 2 tahun 2005, bahwa tidak boleh berkendara motor sembari bersms atau telepon. Untuk selengkapnya mari kita ke pos!” si polisi meninggalkan mereka dengan membawa surat-surat Lukman.

“Apa aku bilang yank! Jangan telepon atau sms sambil berkendara. Begini kan jadinya! Huuufftttt,” Yuni kesal atas perbuatan Lukman barusan. “Ya sudahlah kita putus sekarang!”

“Lho, lho, lho, kok putus segala yank!” kata Lukman dengan kagetnya.

“Putus ya putus!” Yuni masih tetap pada pendiriannya. Mengakhiri hubungannya dengan Lukman.

”Ini gue balikin helmnya. Sebelum kamu minta!” tambah Yuni menyerahkan helm kepada mantan pacarnya itu.

Yuni berjalan pergi meninggalkan Lukman sendirian yang masih belum nggeh dengan kejadian barusan.

“Bagaimana acara nontonnya, yank?” teriak Lukman yang masih memanggil Yuni dengan kata sayang. Yuni hanya melambaikan tangan yang berarti tidak.

“Kalau begitu balikin tiket nontonnya! Kan masih kamu bawa!”
GUBRRAAKKK

“Begitulah sob! Akhirnya saat itu aku putus dengan Yuni. Sangat disayangkan memang. Tapi ya sudahlah yang lalu biar berlalu,” Lukman mengakhiri ceritanya.

“Lantas bagaimana kabar Yuni sekarang, Man?” tanya Soni.

“Apa kamu masih ketemu sama dia?” Andre menambahi.

“Suatu hari, dia mengajak ketemuan. Katanya dia minta maaf atas kejadian tempo hari. Dia melakukan itu hanya emosi sesaat dan minta balikan lagi. Dan, sekarang telah menjadi istriku, hehehe,” jawab Lukman dengan tawanya yang renyah.

“Terus kabar ibu kamu gimana?” tanya Andre lagi.

“Alhamdulillah masih sehat di rumah. Tapi ya itu perhatiannya seolah-olah aku masih anak kemarin sore,” lanjut Lukman.

*******

Dan terakhir, giliran Andre yang bercerita.

Cerita ini terjadi dua tahun yang lalu. Saat Andre masih duduk di bangku kuliah. Siang itu, lagi-lagi waktu pasti siang semua. Udah pada janjian ya? Hehehe.

Siang itu Andre dan pacarnya, Indah pulang selepas kuliah.

“Yank, jadikan kita menjenguk Ida di rumah sakit?”

“Insha Allah, jadi yank! Memang ada apa?” tanya Andre sembari melihat pacarnya tersebut.
Mereka berencana menjenguk Ida yang terbaring di rumah sakit karena tipes. Ida adalah teman sekelas mereka.

“Kadang aku pengen sakit di rumah sakit, yank! Dapat beristirahat dengan tenang. Lantas kamu selalu ada di sampingku, menjagaku saat aku tidur.”

“Huussshhhh. Jangan bilang begitu, yank! Aku akan selalu di samping kamu meski kamu gak sakit. Buang jauh-jauh pikiran semacam itu,” Andre menasihati.

Indah hanya tersenyum mendengar kata pacarnya tersebut. Dan memandang wajah Andre yang sedang konsen menyetir mobilnya.

Tiba-tiba dari hp Andre bergetar, ketika hendak mengambil, hpnya jatuh ke bawah. Andre berusaha mengambil dengan jangkauan tangannya. Hal ini membuat konsentrasinya terpecah

Brrraaaakkkkkkk 
Sebuah truk menabrak mobil Andre dari arah depan. Membuat bagian depannya ringsek. Andre dan Indah mengalami luka yang lumayan serius. Beruntung Andre masih bisa diselamatkan. Tetapi naas bagi Indah, karena mengalami pendarahan di bagian kepala. Nyawanya tidak tertolong. Hal ini, membuat Andre merasa bersalah. Keluarga Indah sudah berulang kali meminta Andre untuk tidak menyalahkan diri atas kematian putri mereka. Tetapi malah membuat Andre semakin bersalah.

“Selang beberapa hari polisi memberitahukan bahwa kecelakaan tersebut dikarenakan supir truk mabuk ketika menyetir,” kata Andre menyudahi ceritanya.

“Sudahlah sob! Kita memang tidak bisa melawan takdir. Kita ambil hikmah dibalik ini semua!” lipur Soni sembari menepuk-nepuk bahu Andre. Andre membalasnya dengan senyuman.

“Kami ikut sedih mendengarnya!” tambah Lukman.

“Terima kasih semuanya!” balas Andre.

*****

Tidak terasa sudah lima jam mereka duduk di kafe tersebut. Mereka memutuskan untuk pulang. Karena sudah menjelang malam Andre menawarkan mengantar Soni dan Lukman. Karena Andre satu-satunya yang membawa mobil. Ternyata rumah mereka satu arah.
Di dalam perjalanan pulang mereka masih ngobrol dan bercanda. Tiba-tiba.....

Ada seorang wanita yang menyebrang sembarangan. Tanpa melihat kendaraan yang lewat. Sialnya lagi wanita tersebut sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone di telinganya. Matanya tertuju layar hp sembari smsan.

Tiiiiiiiiiinnnnnn. Tiiiinnnnnn.
Klakson mobil Andre tak membuat wanita tersebut sadar.

“Mbak tolong minggir!” teriak Soni yang harus keluar jendela memperingatkan.

“Woy, mbbbbaaaakkkkkk...Miiiinnggggiiiiiiirrrrrrr......” teriak Lukman membantu.

Dan. BBRAAAKKKK.