Urip mung mampir ngarit!

Menjadi Kakak Yang Sebaik-Baiknya

Menjadi Kakak Yang Sebaik-Baiknya_dwiandriyatmo.id

"Mas tukoke hape."

Begitu sms yang masuk di hape saya. Sms tersebut dari adikku semata wayang.

"Hape opo dik?" Balas smsku

"Hape xiaomi mas."

Sejenak saya terhenti untuk segera mengetik pesan balasan.

"Iyo. Akhir bulan yo nak mas gajian."

Jawaban diplomatis yang tentu akan digunakan tidak hanya saya jika di dalam posisi tersebut. Seketika saya teringat kembali beberapa tahun ke belakang. Ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu saya minta kakak untuk dibelikan hape nokia. Karena minta ke bapak ibu, takut semakin menambah beban ekonomi.

Akhirnya saya dibelikan hape nokia 6030 warna hitam. Baru. Gres. Buka dos. Harganya 600 ribu. Nominal yang terhitung banyak waktu itu. Apakah kakak saya bilang tidak atas permintaan adiknya saat itu? Tidak. Dia hanya berjanji akan membelikan saat ada rejeki.

Mungkin perasaan dan apa yang dirasakan kakak saya beberapa tahun lalu seperti yang saya rasakan saat ini. Bagaimana tega seorang kakak menolak permintaan adiknya. Yang menganggap hanya dialah yang bisa dimintai permintaan. Kenapa tidak minta bapak ibu? Sekali saya tekankan, beban ekonomi keluarga lebih penting tercukupi daripada harus dialokasikan ke hal-hal yang tidak begitu penting. Salah satunya hape.

Menjadi saudara paling tua dan secara tidak langsung juga menjadi tulang punggung keluarga tidaklah mudah. Momen tersebut sudah kakak saya lalui. Dengan menikahnya dia, berarti tampuk tanggungjawab tersebut beralih posisi. Siap tidak siap, mau tidak mau harus dipikul tanggungjawab itu.

Saya terlahir dari tiga bersaudara. Dilihat darinya pasti sudah tahu bahwa saya anak nomor dua. Ndilalah semua saudara saya adalah laki-laki. Padahal konon dulu Bapak kepengen banget punya anak berjenis kelamin perempuan. Tetapi Gusti Allah lebih memberikan anak laki-laki daripada perempuan.

Apakah saya sudah menjadi kakak yang baik? Belum. Masih banyak yang belum bisa saya berikan ke adik dan keluarga. Menjadi seorang kakak yang sebaik-baiknya. Menjadi kakak yang bisa dibanggakan adik-adiknya. Menjadi abang yang senantiasa melindungi adik dan keluarganya. Semua itu belum bisa saya wujudkan.

Setidaknya mewujudkan apa yang diminta oleh adiknya adalah sebuah langkah awal semoga saya bisa menjadi kakak yang baik dan anak yang bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Sudahkah kalian menjadi abang, mbakyu, kangmas yang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya di hadapan saudara kalian? Bahwasanya kita hidup hanyalah menggantikan peran oranglain. Dulu kita bisa minta apa saja ke kakak kita. Mungkin beberapa tahun kemudian giliran kita yang dimintai apa saja oleh adik-adik kita.

Berbahagialah bagi mereka yang sudah menjadi kakak yang baik. 
Tag : Pribadi
0 Komentar untuk "Menjadi Kakak Yang Sebaik-Baiknya"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top