Urip mung mampir ngarit!

Gagal Rabi Karena Riba

Kurang lebih 2 tahun saya bergelut dengan riba. Awalnya saya berpikir, ah sama saja. Tinggal bagaimana kita mengatur dan bersedekah saja. Itulah bayangan di kepala ketika menerima pekerjaan tersebut. Meskipun sebenarnya tahu bahwa riba sangat diharamkan di dalam keyakinan saya. Dicoba dululah tidak apa-apa, keputusan saya ambil.
Pekerjaan tersebut dilatar belakangi atas ketidakpuasan ‘seseorang’. “Kalau kamu bekerja di situ? Bagaimana kelak akan membangun masa depan?”
Akhirnya saya mengambil itu kerjaan lantaran referensi ‘dia’ juga. Saya memang selalu menuruti apa yang ‘seseorang’ itu katakan. Kata salah satu teman, itulah kelemahan yang dimiliki orang Pisces. Ciiih meskipun saya terkadang tidak percaya akan hal-hal tersebut.
Kurang lebih setahun berjalan di pekerjaan yang memang setiap harinya berurusan dengan kredit, bunga, tabungan, deposito. Sedikit ada perubahan gaya hidup, walau tidak signifikan. Karena saya memang tidak pernah suka shopping atau jalan-jalan kemana kek. Kecuali kalau ada yang mengajak. Mungkin ini juga yang membuat hubungan dengan ‘seseorang’ tersebut mulai hambar dan dingin. Egois dengan diri sendiri.
Awalnya perubahan hidup yang saya rasakan sedikit demi sedikit malah menjerat dengan yang namanya kekurangan. Ketidakpuasan. Awalnya gaji sebulan cukup dan bisa disisihkan untuk orang di rumah. Lama-lama menjadi minus. Tombok. Besar pasak daripada tiang. Selalu saja pengeluaran tidak sesuai dengan penghasilan lagi. Entah ini saya yang memang kurang memanage atau bagaimana.
Mulai saat itulah setiap bulan dan bulan-bulan berikutnya pengeluaran selalu satu langkah di depan penghasilan. Utang sana sini. Tutup lubang gali lubang. Apakah yang salah? Aku juga menyisihkan sedikit untuk berbagi. Sholat insya Allah juga tidak bolong-bolong amat. Mungkin dikarenakan tidak bisa manage keuangan, simpulan saya waktu itu.
****

Tidak ada perubahan yang lebih baik bulan-bulan berikutnya. Pernah saya bertukar pikiran dengan sesama teman kantor satu divisi. Mengenai keresahan keuangan yang njlimet ini, walau tidak terbuka seratus persen. Anehnya, teman sebelah meja tersebut juga mengalami hal yang sama. Defisit. Minus. Kurang. Bokek. Setiap gajian layaknya mampir ngombe, begitu ungkapannya. Ternyata tidak saya saja yang merasakan.
Alhamdulillah, Allah selalu memberikan rejeki yang tidak terduga-duga. Setiap kali bokek, saya pakai ungkapan itu saja, Allah memberikan rejeki dari orang-orang yang meminta servis laptop atau handphone. Malah terkadang uang inilah yang membantu menyambung hidup. Uang pokok gaji kemana? Entah kemana uang itu pergi.
Akhirnya saya sedikit disadarkan oleh perkataan salah satu sahabat. Dia berujar, kalau dari hulunya saja sudah kotor. Sebersih apapun kamu membersihkannya tetap kotor juga. Ya. Saya diingatkan oleh perkataan itu. Muncul niatan untuk resign. Walau masih sebatas keinginan.
Niatan itu aku utarakan kepada ‘seseorang’ yang sudah mulai apatis antara satu sama lain. Hubungan ini sebatas formalitas belaka. Di dalam sudah mulai membentuk benteng dingin masing-masing.
‘Aku mau resign!’
Resign? Sudah dapat penggantinya. Kalau belum mau kerja apa? Sekarang cari kerja itu susah. Jangankan lulusan SMA, lha wong lulusan sarjana saja banyak yang nganggur,’ balasnya.
‘Aku sudah tidak nyaman dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan riba. Kamu tahu kan tiap bulan bukannya bisa menabung malah minus mulu. Malah selalu merepotkanmu tiap bulan.’
‘Terserah kamu sajalah. Toh juga kamu yang jalani sendiri.’
*****

Niatan tersebut masih sebatas niatan. Belum ada keberanian untuk memberikan sebuah surat cinta, eh, mundur kepada manager di lantai 2. Dan hubunganku dengan ‘dia’ sudah entah sampai mana tingkat kejenuhannya. Bahkan tersiar kabar, itupun juga dari ‘dia’ langsung, kalau orangtuanya sudah menentukan calon suami. Keinginan untuk bertandang membawa bapak ibu musnah sudah. Harapan, walau sudah pesimis karena beberapa bulan ini hubungan seperti ini, untuk bersama menemui jalan sulit kalau tidak mau dikatakan buntu.
Dan hari tersebut akhirnya datang, tidak pernah ada komunikasi yang terjalin. Hubungan kurang lebih 4-5 tahun sudah terkubur secara resmi dengan datangnya sebuah sms darinya.
‘Aku sudah dijodohkan dengan oranglain pilihan orangtua. Hubungan ini cukup sampai di sini. Tolong jangan hubungi aku lagi. Terima kasih untuk selama ini.’
Bak orang sekarat, sakaratul maut, akhirnya modyar juga. Itulah persoalan selain niatan untuk resign. Masalah itu membuatku sejenak melupakan untuk resign. Menenangkan hati dengan bersembunyi di balik pekerjaan. Dan hasilnya, pekerjaan tidak maksimal dan banyak kesalahan. Lantas apakah aku menyalahkannya? Saya tidak pernah sekejam itu menghakimi.
Tak terasa sudah memasuki 1,5 tahun masih berkutat dengan riba. Ada perubahan? Tidak ada. Masih seperti setahun kemarin. Gaji tiap bulan bak mampir terus berlalu. Ditambah lagi status resmi jomblo. Walau sudah saya duga jauh-jauh hari. Tetapi hanya menunggu momentum peresmian perpisahan itu.
*****

Ada sahabat sewaktu SMA yang selalu saya repotkan masalah keuangan. Malah dengan dia sering saya habiskan waktu daripada ‘dia’. Saking dekatnya, mungkin kalau dia perempuan sudah saya tembak kepalanya. Berusaha setegar apa pun seorang pria kalau ada masalah mengenai asmara pasti akan tercium juga oleh sesama pria. Tak terkecuali sahabat saya itu.
Dia sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang wanita yang sedang dinas di Aceh. Anehnya, jadiannya pun tidak tatap muka. Kok bisa ya? Kadang heran kalau dipikir. Niatan untuk resign pun pernah saya lontarkan kepadanya.
‘Kerjaku riba gak sih Ni?’
‘Sorry bos, nak masalah riba tidaknya aku angkat tangan. Tidak punya pengetahuan cukup aku harus judge ini riba itu tidak.’
‘Bosomu leh sok-sokan duwur!’
Jangkrik, perasaan sewaktu SMA jadi ketua Rohis, batinku. Dia lebih memilih berkutat dengan layar handphonenya daripada meneruskan perdebatan.
‘Kowe kok gak semangat to bos! Wis to wis, wong wedok okeh. Gak mung siji kae,’ tiba-tiba dia membahas topik lain.
‘Emang ketok yo?’
‘Raimu ki ora iso ngapusi aku. Have fun. Ojo digowo pikir, mundak loro. Nyoh diwenehi pin BB koncone cewekku. Jare yo lagi bar putus, hahaha.’
‘Oh, lambemu. Ndi pin e?’
Aku masih bertahan di tempat kerja. Meski jujur sudah mulai tidak merasakan lagi apa yang namanya bekerja. Perkenalan dengan teman pacarnya Lukman juga dingin awalnya. Karena mungkin saya yang tidak agresif.
‘Bos, bos, kapan iso olehmu cewek nak chattingmu monoton. Takon iki dijawab wis. Nganti lebaran kucing yo gak bakalan oleh kowe. Sing agresif. Okeh takone. Improvisasi. Gawe bahan perbincangan. Jangkrik ngunu og koncoku!’
****

Singkat kata, hubungan yang awalnya hanya pertemanan ternyata berkata lain. Saat itu dia meminta tolong untuk dibelikan buku dan akan menjadi pertemuan pertama kami. Benar saja, akhirnya kami bertemu.
Sedikit canggung karena sebelumnya hanya say hello via aplikasi handphone. Saya memang tidak mengatakan kalau bekerja di salah satu lembaga keuangan. Karena toh hanya sebatas teman. Tetapi kehendak Allah berkata lain, kami semakin didekatkan dan mau tidak mau dia tahu kalau saya bekerja di pekerjaan riba.
Deg. Memang tidak ada penolakan di wajah. Tetapi dia memberikan nasihat dan dasar bahwasanya riba itu haram di dalam Islam. Walau saya sebenarnya juga tahu. Itulah pertarungan yang terjadi di dalam diri saya akhir-akhir ini. Memberikan saran untuk resign dan mencari pekerjaan yang lebih halal. Dan apa saya langsung menyetujuinya?
Awalnya masih sedikit gamang. Tetapi mantab juga tekat untuk resign. Langsung saya menghadap bapak manager di lantai 2. Dengan membawa surat pengunduran diri. Awalnya pak manager berusaha menahan karena kerja saya bagus. Tapi saya tetap pada pendirian untuk mundur.
Dan tepat 25 September 2015 saya lepas dari perusahaan tersebut. Atau khususnya lepas dari jeratan riba selama ini. Itulah pengalaman saya yang kurang lebih berdekatan dengan riba. Tidak ada berkah-berkahnya. Saya di sini tidak pernah menjelek-jelekkan sebuah perusahaan atau profesi. Ini murni apa yang saya rasakan sendiri. Dulu pernah saya membeli handphone yang sedikit mahal dengan gaji bulanan. Selang beberapa handphone tersebut hilang karena lupa naruh pas jalan-jalan di mall. Anehnya handphone satunya yang dulu beli pakai uang ngelesi sampai sekarang masih ada.
Banyak kok orang yang kerja di lingkungan riba jadi sukses. Saya tidak mempermasalahkan oranglain. Entah dia sukses atau tidak. Kita sendiri yang merasakannya. Bisa saja mereka sukses tetapi ada sedikit kegelisahan di hati mereka (bisa mungkin terjadi. Saya tulis mungkin). Dan mungkin Allah masih sayang kepada saya dengan memberikan keberanian untuk keluar dari lingkaran setan riba. Jauhilah riba kalau tidak mau terkabar oleh apinya.
Wassalam.
0 Komentar untuk "Gagal Rabi Karena Riba"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top