Urip mung mampir ngarit!

Drama Kehidupan

Kemarin ketika tiba di bandara, saya disajikan penggalan adegan telenovela. Lha bagaimana tidak? Ada seorang wanita pribumi memeluk cowok non-pribumi sembari sesenggukan menangis.
Dan saat itu saya disadarkan bahwa drama itu ada di dalam kehidupan. Tidak hanya drama Korea saja. Dalam diri kalian itu juga ada drama. Tinggal apa yang bisa memantik jiwa drama kalian muncul ke permukaan. Camkan itu, kisanak.

Jadi tak elok rasanya mencibir atau mengucilkan seorang pria tontonnya Drama Korea. Bukan. Bukan. Ini bukan sebuah pembelaan.
Kembali lagi ke pasangan sejoli yang tidak mengindahkan perasaan para jomblo di bandara itu. Bedebah memang. Saya pun menghentikan kaki untuk check in. Mengamati dengan saksama adegan langka bin jarang-jarang yang saya jumpai. Biasanya hanya ada di film-film ataupun drama.
Siapa yang tidak menebak-nebak asal muasal penyebab kejadian tersebut. Ndilalah kok ya oatakku juga tidak mau ketinggalan menebak. Jiangkrik og. Tapi ya mau gimana lagi, itu sudah jadi kebiasaan kita untuk ikut campur dalam urusan oranglain. Alasannya satu dan lain hal.
Pertama, si cowok albino itu hendak meninggalkan Indonesia. Ya iyalah. Pasti juga tebakannya gitu. Eh sama to, hehe. Kalau menangis yg sampai menyebabkan sembab di mata. Bisa diperkiraan bahwa si bule badjingan yang telah mengoyak hati cewek cantik kembali ke habitat asal dan tidak akan kembali ke sini dalam waktu yang lama. LDR tingkat tinggi, dipisahkan benua dan lautan.
Setidaknya si mbak itu masih bisa berkomunikasi. Ada lho yang LDR tingkat dewa. Tingkat mantap juiwa. LDR yang dipisahkan dunia. Dipisahkan alam.
Ingin saya nyeletuk, "Kalau bulenya pulang tenang Dinda masih ada Kanda di sini!"
Kedua, mereka berdua putus hubungan. Bisa karena si cewek tidak mau LDR. Atau si albino yang tidak mau LDR. Jadi sebagai perpisahan mereka melampiaskan dengan adegan berpelukan. Menangis pula. Bulenya juga tidak bereaksi apa-apa. Mengelus-elus rambutnya pun tidak. Membalas pelukan si cewek juga boro-boro. Sialan memang. Beda kalau saya yang dipeluk #ngarep.
Ah sepertinya saya terlalu banyak mengkhayal tentang hubungan dua manusia beda ras tersebut. Biarlah mereka melakukan apa yang mereka anggap benar. Toh setidaknya kita juga disuguhi sebuah cuplikan drama kehidupan.
Jangan sok suci, itu tidak elok karena kita budaya timur. Tabu kalau di tempat umum. Emang kalau di tempat sepi kalian mau ngapain saja? Kita terkadang menganggap diri sendiri paling suci. Paling bersih. Paling benar. Dan menganggap orang lain berdosa semua. Kita lupa bahwa kita semua ini tercipta dari tanah semua. Kenapa kudu sombong? Bisa jadi drama kalian yang nantinya ke permukaan. Yang akan kalian sajikan ke khalayak umum tanpa disadari.
Sudah. Sudah. Kita akhiri saja sampai di sini. Saya langkahkan kaki ke tempat check in tiket. Berbahagialah bagi mereka yang selalu mendoakan pasangannya satu sama lain. Bahwa doa itu sebuah wujud cinta yang paling hakiki.
Tabik.
Tag : Pribadi
0 Komentar untuk "Drama Kehidupan"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top