Urip mung mampir ngarit!

Emak : Pahlawan Sejati


Satu hal yang selalu Emak lakukan di rumah setiap pagi adalah memastikan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Walau hanya dengan lauk kemarin yang dihangatkan kembali. Kadang juga hanya dengan sambel, tapi bagi saya itu lebih dari cukup. Berapa banyak di luar sana yang tidak bisa makan, harus bekerja membanting tulang demi sesuap nasi. Dan menu andalan Emak adalah sambel tempe kemangi.  Kalaupun tidak ada kemangi ya tidak apa-apa, toh tetap sambel tempe.
Setiap kali bangun tidur pasti sarapan sudah siap di meja (kusam) makan kami. Melihat anaknya bangun Emak pasti langsung berkata, “Ndang sholat Subuh Le. Bar iku ndang sarapan trus adus, mangkat sekolah!” (Ayo sholat subuh, Nak. Setelah itu sarapan kemudian berangkat sekolah)
Emak dan Bapak pasti sarapan paling terakhir, memastikan bahwa ketiga anaknya sudah selesai sarapan. Terkadang Bapak malah harus ke sawah selepas subuhan, tidak sempat sarapan. Lha  wong sarapane durung mateng. Setelah anak-anaknya berangkat sekolah, barulah Emak sarapan. Tentu lauk sambel tempenya tersisa sedikit, tidak jarang bahkan lauknya habis. Emak tidak pernah sedikit pun marah.
****
Emak bukan wanita karir. Hanya lulusan SD. Terpaksa tidak meneruskan pendidikan SMP dikarenakan harus mengalah dengan kelima adik laki-lakinya. Emak lebih memilih membantu nenek menjaga adik-adiknya di rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga. Sebagai anak pertama dan perempuan memang harus serba cekatan dan serba bisa di kampung. Tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk kami berbangga hati memiliki ibu seperti beliau.
Menjadi seorang ibu yang baik tidak dilihat dari titel pendidikannya. Tetapi seberapa besar beliau bisa menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anaknya.
Bagi saya Emak selalu dalam #usiacantik. Tidak peduli berapaun umnurnya sekarang ini. Karena perjuangan beliaulah kami tumbuh dewasa tanpa kekurangan kasih sayang. Dari beliaulah kami belajar sabar dan mengalah. Dari beliau juga kami belajar banyak hal. Meski fisiknya harus dikorbankan karena terus bekerja di sawah.
*****
Bukan uang banyak yang mereka inginkan dari kita, anak udik kampung. Melainkan krungoke nak dituturi, manut nak dikongkon. Karena Emak dan Bapak lebih banyak di sawah jadi semua urusan rumah harus bisa diselesaikan anak-anaknya. Mulai dari menyapu, mencuci pakaian,mencuci piring, mengisi bak mandi (dulu belum ada pompa air), ngarit buat sapi. Hanya itu. Sederhana sekali bukan.
*****
Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
Kita tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayang yang telah Emak dan Bapak berikan kepada kita. Lantas apa yang dapat berikan? Jadilah anak yang membanggakan orangtua. Tidak neko-nekoManutan. Menjadi orang yang sukses. Hanya itu yang mereka inginkan di masa paripurnanya.
Setiap malam Emak pasti tertidur di amben depan tv. Setelah seharian bergumul di sawah dan memasak di rumah. Jika ingin melihat wajah bidadari kalian dengan sempurna, pandanglah wajah beliau ketika tidur. Saya pernah melakukannya ketika tidak sengaja menemani Emak menonton tv.
Wajah lelah, penat beliau. Tergurat dari kerutan-kerutan di wajah mereka. Kerutan semakin bertambah seiring bertambahnya usia beliau. Wajah kusam yang terbakar sinar matahari. Kulit kaki yang pecah-pecah. Tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Tanpa lelah bekerja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Pernahkah kalian melihat wajah sejati Emak kalian ketika tertidur? Cobalah.

“Mbok, ngapurane sing kathah. Dereng saget mbahagiake Emak karo Bapak. Nyuwun dongane mawon Mak, mugo-mugo saget dados tiyang,” ujarku setelah melihat wajah Emak tertidur.
Tag : Pribadi
0 Komentar untuk "Emak : Pahlawan Sejati"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top