Urip mung mampir ngarit!

Persamaan Yang Dipaksakan


Kami bertiga bukan saudara kandung. Apalagi saudara tiri. Kami tidak lahir di rahim yang sama, bukan juga bapak yang sama. Kami bertiga berbeda. Tidak ada aliran darah yang se-ayah ibu mengalir di tubuh kami. Bukan juga sepersusuan yang sama. Kami bertiga beda. Berbeda dalam segala hal. Kami dipertemukan dengan ikatan sahabat. Pertemuan yang mungkin sudah ditakdirkan untuk kami. Ya, aku kenal terlebih dahulu dengan Lukman. Teman satu kelas ketika kelas 3 SMA. Sedangkan Lek Soni kenal karena dia adalah teman Lukman satu almamater di Semarang. Tidak ada kemiripan sekalipun di antara kami bertiga. Malah itu membuat kami memiliki keunikan masing-masing. Terlepas dari itu semua kami sudah melewati banyak waktu bersama. Merintis sesuatu yang ingin kita gapai bersama hasilnya. Kalaupun boleh memaksa ada beberapa persamaan kecil yang ada di antara kami bertiga. Setidaknya itu yang akan aku tuturkan di tulisan ini. 

Pertama, sama-sama lahir di tahun 1990. Setelah aku mengecek KTP satu per satu ternyata ada satu premis sama yakni tahun 1990. Aku dan Lukman lahir di bulan yang sama, hanya selisih 11 hari, Lukman lahir dahulu. Dia tanggal 13, aku tanggal 24. Sedangkan Lek Soni lahir tanggal 13 juga, tetapi berbeda bulan. Bulan Juli. Jadi tahukan, kalau Lukman itu lebih tua dari kami berdua. Makanya tidak heran dia kami jadikan panutan. Dihormati karena memang dia lebih tua. 

Kedua, penggemar bola. Kami bertiga penggemar sepakbola, sebenarnya lebih ke sepakbola Inggris. Kami tetap menyukai sepakbola Indonesia. Aku dan Lek Soni seorang gooner (penggemar Arsenal). Sedangkan Lukman penggemar Manchester City. Dua lawan satu.

Ketiga, blogger. Berawal dari sinilah sebenarnya kami kenal dan dekat. Meskipun jujur dalam dunia ini aku masih terbilang baru atau newbie. Karena memang dari mereka berdualah aku mengenal internet dan tetek bengeknya.

Keempat, punya sendal E*ger. Awalnya aku tidak mau memasukkan ini di dalam tulisan. Takut dipaksakan. Daripada gak ada yang lainnya lagi. Kami bertiga pemakai produk E*ger. Meski baru sempat yang kebeli baru sendalnya. Itu pun juga masih barang KW belum kuat membeli yang Original. Kelima, suka traveling. Kami memiliki jiwa petualang. Jiwa pemberontak. Jiwa tidak mau berdiam diri di rumah atau kos saja. Itu pun juga kalau ada uang yang cukup. Setidaknya jiwa muda kami selalu membara setiap saat. Dan yang paling kami selalu junjung dan ingat adalah ketika sholat saat berpergian. Yang menjadi imam selalu bergantian. Hari ini Lukman, besuk aku, besuknya lagi Soni. Itung-itung latihan menjadi imam kelak jika berumah tangga. Aamiin. 

Yang terakhir, kami akhir-akhir ini dipusingkan oleh masalah yang sama. Perut Buncit. Setelah lebaran kemarin masalah ini timbul dengan sendirinya dan membuat kami syok. Sebenarnya perut buncitku ini bersifat kontemporer alias sementara. Tidak tahu kalau milik mereka berdua. Masih sementara atau sudah masuk fase semi permanen. Karena selama bulan Ramadhan kemarin belum sempat olahraga lagi. Biasanya kami sering bermain futsal. Cukup berolahraga perut buncit ini pasti akan berubah menjadi sixpack onepack.

Mungkin itu saja dulu yang bisa aku jabarkan dengan panjang kali lebar di sini. Mungkin lain waktu bisa aku tambahkan kembali. Sudah aku beritahukan di awal kalau persamaan ini persamaan yang dipaksakan. Aku juga tidak memaksa kalian membaca. 

Salam Macul
Tag : Cerita
0 Komentar untuk "Persamaan Yang Dipaksakan"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top