Urip mung mampir ngarit!

Keutamaan Seorang Wanita


Sore yang indah.

"Day, sibuk gak?"

Lamunanku buyar mendengar suara Hati dari belakang. Aku menoleh dan memasang wajah ada apa gerangan? Pekerjaanku menumpuk di atas meja. Kertas-kertas berserakan tidak menentu. Banyak sekali yang menggantung. Semua buntu.

"Yuk jalan-jalan ke taman. Kau sudah lama kamu tidak mengajakku jalan-jalan sore lagi," ajaknya sambil menarikku agar berdiri dari kursi peraduan. Aku segera mengambil kunci motor dan mencari keberadaan HPku. Aku mengitari seluruh meja dan kamar. Itu dia.

Tiba-tiba Hati mencegahku. "Kali ini HP ditinggal saja! Sekali-kali boleh kan tidak bawa gadget!"
Aku mengangguk pelan. Tak apalah, batinku.

Hati segera menggandengku keluar kamar. Antusias sekali dia sore ini.
*****
Ada taman kota tidak jauh dari desa. Terletak di tengah persawahan. Dikelilingi pohon mahoni. Di tengah taman sengaja diletakkan beberapa permainan anak-anak. Ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan lainnya. Taman ini menjadi destinasi para warga untuk bermain bersama buah hati dan keluarganya. Jangan heran kalau sore hari adalah waktu paling ramai di taman tersebut.

Setelah 15 menit akhirnya kami sampai di taman. Seperti dugaanku, taman sudah ramai. Kebanyakan keluarga yang membawa buah hatinya bermain.

"Sudah ramai ya Day?" kata Hati turun dari motor. Aku mengangguk.

"Yuk ke kursi itu!" Hati setengah berlari menarik tanganku.

Asri. Damai. Tenang. Melihat keceriaan yang terpancar dari wajah anak-anak yang bermain.

"Inilah kehidupan yang sebenarnya Day!"

"Maksudnya apa, Hat?"

"Lihatlah di tengah taman itu. Inilah gambaran nyata kehidupan Day. Bukan cuma sebatas di layar 5 inch smartphone atau layar monitor saja. Jaman memang sudah banyak berubah. Mereka lebih asyik di dunia mayanya sendiri tanpa menghiraukan dunia nyata di sekelilingnya."

"Mereka hanya tidak siap menghadapi pergeseran kehidupan," jawabku sekenanya.

'Ini bukan masalah siap tidak siap Day. Mereka saja yang tidak bisa mengatur porsi masing-masing. Ketika mereka lebih asyik berkutat dengan dunia tak nyatanya, dunia nyata mereka dengan sendirinya akan terlupakan. Yuk ikut bermain dengan anak-anak," ajak Hati beranjak ke tengah taman.

Apakah selama ini aku terlalu disibukkan dengan dunia maya? Aahhhh. Aku melihat Hati begitu ceria sore ini. Gelak tawanya. Senyumnya. Ketika bermain dengan anak-anak. Bersendau gurau bersama anak kecil lainnya.

Tiba-tiba sebuah bola jatuh di depanku. Terlihat dari kejauhan Hati melambaikan tangan meminta bola tersebut. Aku ambil bola tersebut dan melangkah menuju kerumunan anak-anak kecil.
*****
"Gimana Day? Menyenangkan bukan?" tanya Hati setelah tadi bermain dengan anak-anak. Kami putuskan untuk menyudahi permainan bola tersebut. Merebahkan kembali tubuh ini ke deretan kursi taman yang lumayan lenggang.

Aku mengangguk pelan. Sore ini tidak tahu kenapa bawaannya tidak mau banyak berdebat dengan Hati. Malas rasanya untuk berkomentar.

"Day, kamu lihat ibu-ibu yang di sana?" tunjuk Hati ke seorang ibu di taman.

"Ibu-ibu yang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya itu?" jawabku menebak siapa yang ditunjuk Hati barusan.

"Ya. Ibu yang membawa kelima anaknya itu. Beliau hebat ya Day! Seorang diri menjaga kelima anaknya!"

Terlihat di sana ibu-ibu yang sedang menggendong bayi dan mendorong kereta bayinya. Di sekelilingnya berlarian tiga buah hati lainnya. Ibu dengan kelima anaknya.

"Jangan lupa ada suami hebat juga di samping ibu tersebut, Hat!"

"Iya, tapi sekarang beliau sedang sendirian bukan? Mungkin suami masih bekerja!" balas Hati menatapku. Aku membalas tatapannya bertanda heran.

"Kau tahu Day, seorang wanita itu adalah makhluk yang memiliki banyak keuutamaan."

"Makhluk yang memiliki banyak keutamaan? Maksudnya apa Hat?" tanyaku tidak mengerti arah pembicaraan Hati. Sepertinya akan ada pengetahuam baru dari Hati, batinku.

"Kau menatapku jangan begitulah Day! Serasa aku ini makhluk aneh di sini, hahaha," Hati tertawa melihat ekspresiku."Wanita itu memiliki banyak sekali keutamaan, Day. Kau bisa melihatnya dari sosok ibumu sendiri atau ibu-ibu tadi. Pertama, wanita memiliki bahu kuat. Buat apa? Agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur."

Aku memperhatikan dengan saksama.

"Yang kedua, wanita diberi kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Sudah bukan rahasia umum lagi kan banyak sekarang anak yang durhaka kepada orangtuanya. Padahal kalau mereka mau berpikir betapa beratnya seorang ibu ketika melahirkan. Mempertaruhkan nyawanya segala!"

"Selanjutnya?" potongku tidak sabaran.

"Ketiga, wanita diberi keperkasaan dan kesabaran. Keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Pandanglah wajah Ibumu ketika terlelap tidur, itulah wajah asli beliau tanpa ada yang ditutupi di depan anak-anaknya."

Tidak tahu mengapa, aku menggenggam erat tangan Hati. Seolah membangkitkanku memori tentang ibu. Aku kangen padamu Bu!

"Yang keempat, wanita dikaruniai perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya."

Hati berhenti sejenak mengambil nafas. Menikmati setiap hembusan nafas udara sore ini. Taman semakin ramai. Banyak keluarga yang mulai berdatangan.

"Selanjutnya, wanita diberi kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya."

"Bukankah sudah menjadi kewajiban suami untuk menjaga istri dan keluarganya, Hat? Lantas penjelasan perkataanmu barusan apa?" akhirnya aku bertanya juga.

"Hehehe," Hati malah tertawa kecil mendengar pertanyaanku. "Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Hati dan jantung tersebut ibarat suami, anak dan keluarganya. Kalau masalah misua menjaga keluarganya, itu sudah menjadi kodrat laki-laki menjaga sesuatu yang berharga baginya."

"Yuk, Day kita bermain lagi! Banyak anak-anak kecil lucu di sana! Sisanya nanti saya beritahu di perjalanan pulang saja. Yukkk..

Aku ditarik Hati untuk ke tengah taman lagi. Bermain dengan anak-anak kecil yang lucu. Berlarian ke sana kemari. Tidak ada lelah-lelahnya ini anak, batinku. Aku saja yang hanya melihat saja sudah ngos-ngosan.
****
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16:30. Sudah 2 jam lebih aku dan Hati bermain di taman. Matahari sudah turun ke peraduannya. Semburat jingga menghiasai langit sore. Menambah keindahan sore ini. Inilah kehidupan nyata. Yang tidak bisa kita jumpai kalau hanya memandang monitor Hp atau komputer saja.

"Ayo pulang Hat! Sudah sore!" terlihat wajah sedikit kesal karena harus menyudahi keceriaannya sore ini.

Sepanjang jalan desa kiri kanan ditanami pohon angsana. Membuat rimbun dan teduh ketika siang hari. Musim kemarau waktu yang pas menjumpai pohon angsana berbunga. Bunga kecil berwarna kuning. Ketika tertiup angin bunga tersebut jatuh menutupi jalan. Indah sekali momen langka ini. Kalau di Jepang ada bunga Sakura, di sini ada bunga Angsana.

"Hat, tadi kamu bilang masih ada dua keutamaan sebagai wanita kan?" tanyaku mengingatkan.

"Oh ya hampir lupa. Sudah keberapa ya Day?"

"Keenam," jawabku singkat

"Wanita diberi kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi."

"Dan yang terakhir adalah wanita diberi air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus diberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan."

Hati melingkarkan tangannya ke tubuhku. Menyandarkan wajahnya ke punggungku.

"Makasih ya Hat, atas pelajaran sore ini. Kau mengajarkan banyak hal kepadaku. Bahwa kehidupan itu tidak terbatas di sepetak layar HP atau monitor. Hidup sebenarnya adalah berinterksi langsung dengan sekeliling kita. Juga tentang pemahamanmu mengenai sosok wanita."

Tidak ada jawaban dari belakang.

"Hat.... Hat.... “ Yah, mungkin dia ketiduran karena capek.

Aku pacu motorku menyusuri jalan aspal. Hati tertidur di punggungku. Ditemani bungan angsana yang jatuh tertiup angin. Kawan, sudah kita peduli dengan sekitar kita terutama keluarga kita. Jangan sampai kita menyesal ketika mereka sudah tidak ada.

Salam Macul
0 Komentar untuk "Keutamaan Seorang Wanita"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top