Urip mung mampir ngarit!

Disembunyikan Makhluk Halus


Hidup di kampung selalu bersinggungan yang namanya dunia mistis atau klenik. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau sesepuh dulu memiliki ajian berbeda-beda. Kata orang dulu mereka melakukan lakutopo atau meditasi bahasa kerennya. Tetapi bukan masalah gamankhodam atau apa yang akan aku bahas di sini. Stop.

Setan, demit, hantu atau apalah itu sudah menjadi teman cerita sewaktu kami kecil. Biasanya Emak atau Bapak memberikan cerita setan kalau kami bandel susah tidur. Kalian pernah? Pasti tidak kan? Bukannya takut aku malah selalu tertarik jika Emak bercerita tentang kejadian semasa kecilnya mengenai setan atau demit. Bahkan Emak sendiri pernah mengalaminya sendiri.

Waktu itu Emak masih berumur kurang lebih 7-8 tahun. Sepulang dari bermain, beliau langsung ke dapur mencari makanan. Rumah sepi karena Bapak dan Emaknya Emak pergi ke sawah. Tiba-tiba....

Seluruh rumah bingung bukan kepalang. Emak adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Adik-adik Emak laki semua. Simbah Kakung dan Putri bingung karena Emak dicari-cari tidak ditemukan batang hidungnya. Tiba-tiba....Emak ditemukan di dalam gulungan tikar bambu yang disandarkan di dinding rumah. Pas di atas tempat dulu ari-ari Emak dikuburkan.

Dari cerita Emak, dulu beliau tiba-tiba dibawa oleh makhluk hitam legam. Kami menyebutnya genderuwo, tidak tahu di daerah kalian namanya apa. Kata Emak juga sebenarnya beliau dapat melihat Simbah Kakung dan lainnya sedang mencarinya. Tetapi tidak tahu mengapa beliau tidak bisa berteriak memanggilnya. Kata sesepuh kampung, digondol genderuwo itu bisa menurun ke anak sulungnya kelak. Tetapi Emak tidak mempercayai itu.

Selang puluhan tahun setelah kejadian itu. Mas Pung, kakaku pertama, anak sulung Emak akhirnya mengalami apa yang dialami Emak dahulu. Waktu itu aku ingat betul apa yang terjadi.

Sore itu Mas Pung pergi main bola ke dusun sebelah. Tidak seperti biasanya dia main ke dusun sebelah. Dusunku dengan dusun tersebut dipisahkan sungai di belakang rumah. Jadi lewat belakang rumah lebih dekat daripada harus memutar jalan. Adzan Magrib sudah dikumandangkan di langgar depan rumah. Emak dan Bapak khawatir bukan main mendapati anak pertamanya belum pulang-pulang. Semua teman Mas Pung ditanyai apakah ada yang tahu keberadaannya.

Akhirnya ada tetangga yang melihat Mas Pung mandi di sungai belakang rumah ketika pulang dari dusun sebelah. Kalau mandi di sungai belakang rumah harusnya sudah dari tadi sampai di rumah. Lha ini kok belum pulang-pulang. Kemana lagi mainnya. Jangan pernah membuat orangtua kepikiran, karena kalian akan tahu bagaimana rasanya jika kalian memiliki anak kelak. Sesakit sakitnya sakit.

Bapak pun meminta pertolongan Pak Yahya, Kyai langgar depan rumah. Juga kepada Pak Dhe, kakak pertama Bapak, yang sering dimintain tolong oleh warga dalam hal spiritual. Semua tetangga berkumpul di dalam rumah. Ibu-ibu berusaha menenangkan Emak yang ternyata dari tadi sudah menangis. Ya Allah, kuatkan Emak hamba. Sudah tidak terhitung berapa kali Emak keluar masuk kamar Mas Pung. Sekadar mengecek siapa tahu Mas Pung sudah di dalam kamar. Alhamdulillah Emak tidak sampai pingsan.

"Siapkan tampah dan linggis. Kita ke belakang rumah sambil dipukuli tampah dan linggisnya," perintah Pak Yahya kepada warga yang berkumpul. Sepertinya Pak Yahya mengetahui kalau anak didik ngajinya itu sedang berada di dunia lain.

Aku pun ikut ambil bagian. Memukuli batang linggis. Sedangkan lainnya memukuli tampah. Terdengar suara dok ting dok ting dok ting. Perpaduan suara tampah dan linggis. Ada juga yang lantang memanggil nama Mas Pung.

"Pung...."

"Pung... Kowe nek ndi Le!"

"Digoleki wong okeh ki lho!"

"Pung..."

Belakang rumah ada kebun yang ditanami klirut dan ganyong sama simbah. Kami sudah memutari belakang rumah. Ke rumpun bambu yang tumbuh subur di pinggir kali. Melewati pohon waru yang besar menjulang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah..

"Purwanto sudah ketemu..."

Alhamdulillah. Akhirnya Mas Pung dipulangkan. Emak menjerit bukan main. Memeluk anaknya yang dikira hilang.

"Lee...Lee...nek ndi wae kowe mau!" meski menangis aku tahu pasti Emak bahagia dan senang karena anaknya sudah kembali dengan selamat.

Mas Pung ditemukan di antara amben dan gedek (dinding rumah dari bambu). Padahal sudah tidak terhitung Emak keluar masuk kamarnya tadi. Pas di atas tempat dikubur ari-arinya sewaktu bayi. Sama persis seperti ceritanya Emak dulu waktu kecil. Mas Pung langsung dimandiin sama Emak. Dibutkan teh hangat dan disuapi makan.

Emak tidak bertanya apa-apa kepadanya. Karena Emak tahu anaknya sedang syok. Bapak masih di ruang tamu melayani tamu-tamu yang datang. Aku lihat Mas Pung hanya diam dan tidak banyak bicara.

Sebagai tambahan dulu dapat cerita dari Mbah Sri (Sesepuh Kampung), kalau digondol genderuwo dikasih makanan jangan pernah mau. Konon katanya kalau dikasih mie itu aslinya cacing. Dan kalau sampai kita memakannya kita akan gendeng selamanya (baca: gila). Alhamdulillah Mas Pung tidak sempat ditawari makanan sam itu makhluk asral (pinjam sebutan dari Dunia Lain).

Mas Pung bercerita kalau sebenarnya dia sudah mau pulang selepas mandi di sungai. Tetapi tidak tahu kenapa ketika hendak pulang malah sampai di bawah pohon waru besar belakang rumah. Dan ketika melihat ke atas ada sorotan sinar terang. Sebenarnya dia juga tahu ketika sedang dicari orang satu RT. Melihat kami memukuli tampah dan linggis.

"Genderuwone ambune apek. Pokoke gak enak blas. Ora tahu adus paling," katanya

Itulah dua kejadian digondol genderuwo yang pernah terjadi di dalam keluargaku. Pertama Emak, kedua Mas Pung. Apakah nantinya akan menurun ke anak pertama Mas Pung? Semoga saja tidak. Aamiin.

Apakah sahabat Maculler ada juga yang mengalami hal yang sama? Atau mungkin tahu tetangga, saudara atau temannya yang pernah mengalami?

Premis yang dapat aku tarik di sini adalah mungkin si demit tersebut kesepian dan minta ditemani oleh anak manusia. Atau malah mau mengadopsi anak manusia dikarena dia jomblo, hahaha
Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Salam Macul
Tag : Pribadi
2 Komentar untuk "Disembunyikan Makhluk Halus"

Your articles are very useful for us who use social media and thank you for your article
raja poker

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top