Urip mung mampir ngarit!

Cerita Paling Horor


Siang itu aku dan Lukman menyempatkan diri ke Pati. Aku, Lukman dan Soni sengaja ingin mengunjungi pameran batu akik terbesar di Pati. Kami bertiga penyuka akik. Penggemar batu alam ini. Tetapi kami tidak pernah memakainya di jemari. Sebatas suka dan senang melihat keindahannya.

Rasa suka dan kagum yang paling utama dan sejati adalah tanpa harus memilikinya. Tentu di sisi lain karena memang kami tidak punya anggaran untuk membelinya. Suka tetapi tidak wajib memiliki. Itulah mencintai paling hakiki.

Singkat cerita kami bertiga sudah sampai di dalam pameran tersebut. Alamak, berjejer puluhan stand yang berkilau bermacam warna bebatuan.

"Alamak, koyok pameran akik yo," kataku polos melihat pemandangan di depan mata.

"Kan yo pancen pameran akik lek," jawab Soni.

Berjejer stand-stand memamerkan akik-akik terbaiknya. Silakan dilihat mas akiknya. Asli Aceh lho. Berbagai macam rayuan dan promosi digunakan untuk menarik pengunjung. Bahkan ada beberapa stand yang menggunakan jasa SPG untuk menggaet pengunjung.

"Duh dik, SPG ne ayu-ayu. Rok e yo cekak-cekak, sakduwure dengkul. Gowo gak yo....." batinku bergejolak memandang mbak SPG

"Ojo ngeres pikirane. Nyawang oleh, ojo jorok pikirane," sergah Lukman yang melihat aku melamun.

"Hahahaha, rejeki og Ni. Jarang-jarang to,"

Kami berkeliling melihat-lihat semua stand. Kami hanya menikmati bebatuan alam tersebut beserta bonus paha mulus mbak SPGnya. Lumayan. Tiba-tiba kami berhenti di salah satu stand. Bukan karena Mbak SPGnya yang cantik melainkan karena ada salah satu batu akik yang membuat kami penasaran.

"Ini batu akik paling tua di Indonesia!" begitu kata pemilik stand.

Mata kami bertiga berbinar mendengar keterangan si bapak. Kalau diucapkan mungkin lebih tepatnya, Mosok?

"Lebih tua mana sama jenengan Pak?" tanyaku polos. Lukman dan Soni mendelik melihatku. Emang kenapa kalau tanya? Reflekku.

"Sebelum kalian semua lahir batu ini sudah ada. Bahkan buyut dari kakek kalian belum lahir saja batu ini sudah ada, hahahaha," ujar sombongnya si bapak.

"Lho bapak dapat darimana kalau bapak saja belum lahir batu itu sudah ada?" gantian Lukman yang bertanya.

"Ini pemberian dari kakek buyut bapakku dulu. Dulu pernah ditawar ratusan juta tetapi tidak saya lepas," lagi-lagi si bapak membanggakan batu tersebut.

Padahal batunya tidak bagus-bagus amat. Tetapi entah kenapa kami bertiga merasa tertarik untuk melihatnya.

"Pak, ada batu yang bisa buat kaya tidak?"

Si bapak hanya tertawa mendengar pertanyaan Soni. "Hahaha. Le, kalaupun batu itu ada, tentu bapak tidak jualan batu akik di sini. Kaya atau sukses itu perjuangan dan perjalanan. Tidak langsung instan. Mie instan saja, pembuatannya juga panjang. Butuh proses. Tidak ujug-ujug jadi mie, hahahaha"
Kami bertiga saling pandang kemudian tertawa. Bener juga penjelasan bapak ini.

"Ini bapak kasih cincin satu-satu sebagai kenang-kenangan dari Bapak. Diterima!"
Si bapak menyodorkan tiga cincin batu akik berwarna hijau. Kami lagi-lagi saling pandang tak mengerti. Dan sepakat.

"Maaf pak. Bukannya kami tidak mau menerima rejeki. Tetapi kami sebatas mengagumi dan menyukai batu akik tanpa harus memiliki. Itulah rasa suka yang paling sejati. Mencintai tidak harus memiliki. Biar tidak ada rasa keterikatan memiliki. Karena jika hilang, kami tidak merasa kehilangan."

Bukannya kecewa atau marah si Bapak lagi-lagi tertawa. Yah, kenapa gak diambil saja sih. Kan bagus, gratis lagi, raut wajah Lukman dan Soni agak kecut.

Kami sudahi mengunjungi pameran batu akik tersebut. Meski kadang masih curi pandang kepada si Mbak SPG yang seksi. Itung-itung buat perpisahan pulang.
*****
Kami sudah berkumpul di rumahnya Lek Soni. Karena memang agenda utama kami adalah rapat sidang isbat mengenai kelanjutan proyek yang kami kerjakan. Kunjungan pameran akik tadi kebetulan berbarengan rapat kami. Hitung-hitung sebagai refreshing.

Rapat alot bukan main (kayak makan daging saja). Interupsi dikeluarkan oleh beberapa kubu. Perdebatan di sana sini tak terelakkan. Tetapi tetap coolingdown. Tidak sampai baku hantam secara fisik. Ini sidang apa sih sebenarnya? Hahaha

Getok palu sudah dibunyikan. Kami bertiga tepar ketiduran di depan televisi ruang tamu. Kekenyangan oleh makanan dan cemilan Lek Soni.

Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 petang. Aku terbangun. Melihat keadaan yang masih pada tepar. Suara kumandang adzan Magrib bertalu-talu.

"Ni, tangi Ni. Sudah magrib. Bangun! Ayo balik!" aku goyang-goyangkan kaki Lukman dan Lek Soni.

"Lagi jam berapa? Iseh ngantuk aku," Lukman menguap lebar.

Kami numpang mandi dan bergegas sholat Magrib langsung cus balik ke kampung halaman. Grobogan.
****
"Ni, yakin bensinmu kuat tekan omah?" tanyaku Lukman melihat jarum penunjuk bensin di speedometer.

"Kuat-kuat."

Perlu sahabat Macullers tahu, jalan Pati-Grobogan melewati persawahan, kebun tebu, pegunungan dan hutan jati. Bisa dibayangkan bukan, pulang malam-malam melewati medan begitu. Sebenarnya kami sudah beberapa kali melakukannya. Tetapi entah mengapa malam ini ada yang berbeda. Kebetulan juga malam ini adalah Malem Jemah Kliwon.

"Kok perasaanku gak enak gini yo Ni?" ujarku kepada Lukman yang sedang nyetir.

"Gak enak piye? Ah perasaanmu saja itu!" balasnya singkat.

Kami sudah sampai di Kayen, lanjut Sukolilo. Di daerah sini ada tanjakan yang orang di sini menyebutnya Watu Getuk. Tanjakan belokan yang selalu ramai di siang hari maupun malam hari. Siang hari banyak sekali ibu-ibu yang berkumpul di sana. Usut punya usut ternyata mereka menunggu lemparan uang koin atau kertas dari mobil atau truk yang lewat. Entah mulai kapan kebiasaan tersebut ada. Dan melempar uang koin atau kertas sering diindentikkan untuk membuang sial ketika lewat jalan tersebut.

Menurut cerita turun temurun, dahulu ada pembunuhan di tempat tersebut. Jasadnya digantung di salah satu pohon jati. Konon, arwahnya masih gentayangan dan sering menampakkan diri ketika malam hari. Makanya setiap kendaraan yang lewat dianjurkan melempar uang di tempat tersebut. Memang setan butuh duit? Kok dikasih uang.

Malam hari gantian bapak-bapak yang berkumpul di sana. Sepertinya memang berusaha mengais rejeki lemparan uang deh. Orang Indonesia memang senang sekali mengambil kesempatan. Terkadang aku merinding kalau malam hari lewat Watu Getuk sendirian. Karena memang daerah tersebut masih persawahan dan hutan kiri kanannya. Rumah penduduk pun jauh. Puluhan kilometer baru ada rumah penduduk. Bisa membayangkannya?

Baru beberapa meter dari Watu Getuk tiba-tiba motor Lukman mogok.

Greettt...greeettt...greeettt.. Layaknya motor kehabisan bensin. Seperti yang aku khawatirkan. Mana rumah penduduk sudah lewat lagi. Untuk kembali puluhan kilometer.

"Lha to Ni, omonganku lak bener. Mau gak gelem ngisi bensin disik," kesalku kepada Lukman.

"Kakeane, iso-isone kentekan bensin nek kene."

Kami berdua celingukan tidak tahu apa yang dicari. Yang ada hanya gelap gulita. Hanya lampu remang yang ditempatkan persis di Watu Getuk.

"Jajal telpon opo sms Lek Soni opo sopo Ni?" Aku masih celingukan memandangi sekitar yang masih gelap.

Tuuuuttttt....tuuuutttt... Tiba-tiba baterai HP yang tadinya penuh langsung lowbat dan mati seketika.

"Setan alas, padahal mau iseh kebak. Iso-isone bateraine ntek," umpat Lukman yang mendapati kejanggalan malam ini. Dia memandangku dalam keremangan. Bertanya apakah HPku masih hidup. Aku hanya menggelangkan kepala. Bateraiku juga mendadak habis.

"Malem jemah opo sih Bos?"

"Malem Jemah Kliwon Ni. Terus piye iki? Balik nek Pati opo disurung tekan Jati Pohon wae?"

"Edan kowe. Berapa kilo kudu nyurung motor iki,"

"Lha daripada mandek nek kene. Gak reti jluntrungane."

"Siapa tahu ada mobil atau motor sing lewat. Dijaluki tulung!" ujar Lukman.

Hampir 30 menit kami menunggu. Tetapi entah mengapa tidak ada satupun mobil atau motor yang lewat. Ada apa ini gerangan pemirsa? Hanya hembusan angin sawah malam yang menemani. Membuat kami berdua merinding bulu kakinya.

Akhirnya kami sepakat mendorong motor ke arah Jati Pohon. Meskipun kami tahu jaraknya Nauzbilahi min dzalik lumayan jauhnya. Aku mendorong dari belakang. Kami memasuki tanjakan ke arah Watu Getuk.

Mimpi apa aku tadi? Perasaan juga tidak mimpi apa-apa?

"Ngimpi opo kowe mau Bos? Jangan-jangan kowe mimpi basah pas nek wene Soni?"

"Jiangkrik. Asem kowe. Nuduh sing ora-ora. Paling kowe kui sing tembus."

Terjadi perdebatan di antara kami berdua. Pikiran kami sama-sama gamang. Tidak bisa berpikir jernih atas kondisi malam ini.

Maaakkk...cluruttt....tiba-tiba ada Tikus Tungtung lewat di depan Lukman.

"Wedusssss...." reflek Lukman membuatku kaget di belakang.

"Ndi weduse Ni? Ndi?" jawabku melihat sekitar. Tidak ada kambing atau wedus yang lewat seperti yang dikatakan Lukman.

"Enek tikus lewat mau Bos. Kaget aku. Asem og. Gawe wong tratap wae!"

"Nak sing lewat tikus ngopo nyebutku wedus. Wuuuuu....gawe wong kaget wae."
*****
Berjarak 10 meter dari belokan Watu Getuk kami mencium bau bunga melati. Kata orang tua dulu aroma bunga melati tandanya ada arwah atau setan yang lewat atau mau muncul ke permukaan bumi. Perasaanku makin gak karuan. Antara takut, wedi, gusar, was-was dan semuanya. Sudahkah habiskah waktu kami di dunia ini?

"Bos, ngambung melati pora kowe?" Lukman menatapku ke belakang. Aku bisa melihat ketakutannya walau dalam kegelapan.

"Iyo Ni," jawabku agak gemetaran."Lanjut wae nyurunge."

Kami celingukan kiri kanan memastikan tidak ada sesuatu yang tiba-tiba muncul. Kalau di dalam Dunia Lain mereka menyebutkanya makhluk asral. Makhluk lembut kalau kami menyebutnya. Gak ada apa-apa. Keadaan masih aman, meski was-was menghantui kami.

"Opo goro-goro kowe mau nolak batu akik ndik awan Bos?" lagi-lagi Lukman berusaha mengaitkan kejadian malam ini dengan kejadian tadi siang.

"Asemi, ora enek hubungane Ni. Wis to tetap tawakal wae. Moco dzikir sama Surat Yassin wae."

Aku kesulitan baca Yassin karena memang tidak hafal. Surat An-Nas, Al-Ikhlas dan Al-Falaq yang aku hafalkan aku baca berulang-ulang. Sebagai gantinya Surat Yassin.

"Tawakale Mbahmu wie," jawabnya tanpa kompromi.

Masih sempat-sempatnya kami tertawa bersama. Di dalam kondisi yang serba tidak menguntungkan ini.

Lingsir Wengi
Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngreridhu ati
Kawitane
Mung sembrono njur kulino
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno
Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi
Nandang bronto
Kadung loro
Sambat-sambat sopo
Rino wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine mugo biso tak ugemi

Lagi-lagi kami dikejutkan dengan sesuatu yang di luar perkiraan kami berdua. Ada apa lagi ini Ya Allah? Terdengar suara langgam jawa Lingsir Wengi. Langgam yang menurut orang Jawa ritual untuk memanggil setan atau hantu. Kami celingukan mencari asal suara tersebut. Kami mengambil hp masing-masing. Siapa tahu nada dering hp. HP kami masih terkulai tak berdaya.

"Krungu kowe Ni?" tanyaku kepada Lukman. Dia hanya mengangguk. Kami berhenti. Memandang ke arah depan. Persis di Watu Getuk. Di bawah temaram lampu yang seperti segan hidup.

Raut wajah kami makin ketakutan. Jam tanganku menunjukkan pukul 11 malam. Waktu yang pas untuk para dedemit keluar. Jalan-jalan atau sekadar mengganggu manusia lewat.

Terlihat di depan kami seorang Sinden yang menari persis di bawah lampu. Di belakangnya terdapat seperangkat gamelan yang bermain sendiri. Duk ding duk ding duk ding. Sinden tersebut matanya putih tanpa ada hitamnya. Senyumnya kecut. Wajahnya putih bukan karena bedak melainkan putih karena tidak ada aliran darahnya.

Kami paksa untuk tetap mendorong motor melewatinya. Mata aku pejamkan sembari mendorong. Tidak tahu apakah Lukman juga memejamkan matanya. Jika iya bisa-bisa masuk kalenan karena tidak tahu jalan.

"Ora mampir mas?" begitu si Sinden menyapa kami berdua.

Kami percepat laju dorongannya. Secepat apapun, karena jalannya tanjakan tetap saja membuat kami kewalahan. Capek sudah tidak kami rasakan. Yang ada dalam pikiran bagaimana kami cepat meninggalkan tempat mistis tersebut.

Kami masih mendengar alunan gamelan dan lagu lingsir wengi. Diikuti suara cekikikan sinden tersebut, Hiiihiiihiihiiii...... Melengking ke udara.

"Ayo cepet Ni!" ajakku kepadanya.

"Iki yo yowes cepet. Masamu ora?"

Tiba-tiba, pleekk. Sebuah tangan dingin hinggap di pundakku.

"Astaghfirullah. Jiangkrik. Jabang bayi. Ni..." aku memanggil Lukman yang di depan. "Ni...tulung!!" aku sudah menggigil ketakutan. Badanku sudah dingin. Tanpa melihat sosoknya aku sudah tahu siapa pemilik tangan dingin tersebut.

Lukman yang aku panggil menoleh ke belakang. Tetapi seketika memalingkan wajahnya ke depan.

"Bosss....nek mburimu bosss!!"

Langkah kami seakan berhenti. Mencoba lari dan melangkahkan kaki saja tidak bisa. Serasa dilem di tempat tersebut. Terdengar lengkingan suara tawa seorang kakek-kakek, hahahaha...

"Butuh bantuan, Le?" begitu tanyanya kepadaku. Kami sepakat menggelangkan kepala. Aku dalam hati membaca semua surat yang aku hafal. Dzikir tanpa henti.

"Hahahahaha....." suara tawa itu melengking kembali.
*****
Ndilalah kami dapat berlari dengan mendorong motor dengan kalap. Sepertinya sosok kakek-kakek tadi sudah menghilang. Alhamdulillah kami sudah melewati Watu Getuk yang angker itu. Lega rasanya. Tetapi dugaan kami salah.

Kami melewati deretan warung di pinggir hutan. Kosong tak berpenghuni. Warung tersebut buka hanya siang hari. Digunakan oleh para petani melepas penat, haus dan lapar ketika sedang meladang. Ketika hendak melewati deretan warung tersebut, ada sesosok wanita berpakaian putih melambaikan tangannya. Seperti meminta tumpangan.

"Astaghfirullah, bar Sinden mbi Mbah-mbah muncul mbak-mbak maneh. Salah awake dewe opo to Bos,Bos!" sesal Lukman ketakutan memandangku. Bulu kuduk dan kakiku berdiri dan sepertinya juga kelelahan berdiri terus.

Aku melihat sesosok wanita di depan. Wajahnya tidak terlihat, tertutup rambut panjangnya. Tangannya masih melambai-lambai meminta tumpangan.

"Amit mbak, ojo diganggu nggih! Trimo lewat, Mbak! Nyuwun sewu!" kata Lukman meminta ijin.

Cliingggg...tiba-tiba sosok tersebut hilang. Lukman merasa senang dengan kepergiannya. Tetapi aku merasa tidak.

"Alhamdulillah aman bos! Ayo lanjut!!"

"Amanmu gedhi. Delok memburi jajal!" aku masih mendorong motor tersebut dengan menundukkan wajah ke tanah. Tak kuat aku memandang ke depan.

"Ya Allah...." Lukman langsung memalingkan pandanganya ke depan.

Sosok wanita tersebut dengan santainya sudah nangkring di jok motor Lukman. Modyar kowe!!

"Mas nyampe pemandaian Jati Pohon ya!! Akika mau renang. Sudah lama tidak renang. Nanti akika ditemani ya Mas, hihihihi..." cerocos si Mbak itu.

Aku putuskan untuk kabur dan menggandeng Lukman mengajaknya berlari dengan cepat. Secepat lari dari kenyataan. Lukman awalnya tidak setuju dan marah aku ajak kabur!

"Terus motorku piye Bos? Kakeane malah mbok tinggal," protesnya ketika kami berusaha kabur.

Karena kami tinggalkan, motor tersebut oleng dan jatuh ke samping.

"Sialan kalian berdua, bikin akika jatuh kayak gini. Sakit tauk...." omel si Mbak.

Kami sudah tidak memperhatikan si Mbak. Pokoknya kami lari sekencang mungkin.

"Ora usah mikir motor disik. Sing penting awake dewe selamet. Motor iso digoleki sisuk-sisuk maneh," lipurku ke Lukman.

Si Mbak tersebut marah besar. Terbang mengejar kami berdua.

"Tunggu pembalasanku hai kisanak. Kalian tidak akan aku maafkan... Hihihihihi...." lengkingan tawanya menggema di sepanjang jalan.

Sial. Tiba-tiba kakiku tersangkut akar pepohonan. Membuat aku terjatuh dan Lukman ikut jatuh menindihku. Kami sudah pasrah atas kelanjutannya. Mungkin memang sudah waktu kami.
Kami pejamkan mata, mulut kami komat kamit membaca surat sebisanya. Tenaga kami sudah habis. Down. Tidak bisa digunakan untuk berlari kembali. Sosok wanita tersebut semakin dekat, kuku-kukunya yang panjang siap menerkam kami berdua.

"Ni, sakdurunge awake dewe mati.Utang-utangku nek kowe anggep wae lunas yo....."

"Ya Allah lindungi kami..."
*****
"Lek tangi lek. Man, tangi Man," terdengar suara Soni berusaha membangunkan kami berdua.
Aku geragapan bangun. Mengecek seluruh tubuh. Masih komplit. Aku lihat Lukman masih pulas tertidur di sebelahku.

Soni bingung melihat tingkahku. Aku hanya tersenyum sambil menggaruk kepala yang memang gatal. "Ternyata cuma mimpi!"

Aku bergegas mengecek bensin motor Lukman dan memastikan baterai HP. Dan meminjam powerbank milik Soni (perasaan Lek Soni gak punya PB, hahaha). Takut apa yang aku mimpikan tadi beneran terjadi.

Salam Macul
Tag : Cerita
0 Komentar untuk "Cerita Paling Horor"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top