Urip mung mampir ngarit!

Larangan Berkhalwat


Sore itu rumah terasa sepi. Hati dan Akal tidak tahu kemana. Setelah meletakkan semua barang di kamar ingin rasanya beristirahat di depan televisi ruang tamu.

Terdengar gelak tawa dari Nafsu yang sudah dari tadi berada di depan televisi.

“Kau kenapa tertawa Naf?” tanyaku heran sembari menrebahkan tubuh di sofa sebelahnya.

“Itu lihat Boy berita di televisi. Sudah semakin rusak pergaulan anak muda sekarang ini? Lihat itu..”

Aku melihat berita yang memperlihatkan penggerebekan muda mudi yang berduaan di hotel. Mereka digelandang karena tidak bisa membuktikan kalau mereka suami istri. Diberitakan juga aborsi yang dilakukan wanita dikarenakan bapak dari jabang bayi tersebut tidak mau bertanggungjawab. Masih di bawah umur semua.

“Itu semua terjadi karena mereka sering berduaan di tempat sepi atau dalam agama Islam disebut Khalwat. Bukannya dalam agama Islam tindakan tersebut dilarang keras, bukan Boy?” gantian Nafsu bertanya kepadaku.

“Memang benar, dalam Islam ada perintah untuk tidak berkhalwat (beruda-duaan) antara seorang pria dan wanita yang bukan mahramnya. Disebut dalam sebuah Hadist, Ingatlah, janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita (bukan mahramnya) melainkan yang ketiganya adalah syaitan.” (Tirmidzi no. 20165). Dan juga “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita saja, kecuali ia bersama muhrimnya” (Bukhari no. 4904)

Jarang sekali Nafsu mengajak diskusi yang bahannya menyangkut perilaku syahwat seseorang. Biasanya dia lebih suka mengajak diskusi mengenai keseksian wanita daripada membahas agama. Ciri khas dirinya.

“Tahu tidak Boy, sebenarnya larangan berkhalwat tersebut ada penjelasan ilmiahnya. Inilah yang terkadang jarang sekali diketahui. Ada korelasi secara ilmiah yang menyebabkan agama Islam melarang khalwat,” lanjutnya sembari masih menatap cara berita di televisi.

Aku pun tertarik atas apa yang akan dijelaskan Nafsu. Jarang sekali dia memberitahukan sesuatu hal mengenai dirinya. Acara televisi sudah tidak membuatku tertarik. Aku memandangi Nafsu yang persis di sebelahku.

“Emang ada penjelasan ilmiahnya Naf?” tanyaku masih heran.

“Boy, Boy, kau ternyata salah satu dari orang yang tidak mengetahuinya ya? Hahaha,” ejek Nafsu mendengar pertanyaanku barusan. “Para peneliti di Universitas Valencia menegaskan bahwa seorang yang berkhalwat dengan wanita menjadi daya tarik yang akan menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Tentu kau tahu hormon Kostisol kan, Boy?”

“Hormon yang bertanggung jawab terjadinya stres dalam tubuh,” jawabku singkat.

“Sebenarnya temuan ini sudah ada sejak tahun 2010 dan dimuat di Daily Telegraph!, “Cukuplah anda duduk selama lima menit dengan seorang wanita. Anda akan memiliki proporsi tinggi dalam peningkatan hormon tersebut,”

“Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah, namun jika meningkat hormon dalam tubuh dan berulang terus proses tersebut, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dan berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya yang mungkin meningkatkan nafsu seksual.”

Aku masih belum mengerti atas penjelasan Nafsu. Penyataannya masih belum bisa sepenuhnya aku cerna. Yah, inilah jika harus berdiskusi dengan Nafsu tanpa ada Akal dan Hati di sini.

“Peningkatan hormon tersebut bisa memicu stres. Stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik lebih besar! Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol.

“Seperti halnya ketika pria duduk dengan seorang pria aneh, hormon ini tidak naik. Hanya ketika sendirian dengan seorang pria dan seorang wanita yang aneh! Paham Boy?” rupanya Nafsu tahu kalau aku belum sepenuhnya mengerti dan paham atas penjelasannya. Aku hanya menggelangkan kepala.

“Makanya Boy, jangan heran jika di media massa ada berita lelaki hidung belang meninggal karena serangan jantung ketika sedang bersama selingkuhannya. Bisa jadi karena dia stres tingkat dewa, hahaha,” lagi-lagi Nafsu tertawa. “Itulah mengapa Islam sangat melarang karena menginginkan kita menghindari banyak penyakit sosial dan fisik.”

“Ketika seorang beriman mampu menghindari diri dari melihat wanita (yang bukan mahram) dan menghindari diri dari berkhalwat dengan mereka, maka ia mampu mencegah penyebaran amoralitas dan dengan demikian melindungi masyarakat dari penyakit epidemi dan masalah sosial, dan mencegah individu dari berbagai penyakit.”

Aku mendekati Nafsu, meletakkan telapak tanganku di dahinya. “Hangat kok!” ujarku.

“Ehh, sialan kau Boy! Hahaha”

Kami berdua tertawa bersama. Ada kalanya Nafsu memberiku penjelasan dan pelajaran yang tidak aku dapatkan dari Akal dan Hati. Di sinilah aku merasakan belajar dari mereka bertiga.

“Assalamu’alaikum....” terdengar ucapan salam dari luar. Sepertinya Hati dan Akal pulang dari entah darimana.

"Wa'alaikumsalam...," jawab kami bersamaan.

“Lagi pada nonton apa nih? Tumben akur gitu?” goda Akal yang melihatku dan Nafsu satu sofa.

“Noh lihat Naruto. Mau merasakan chidoriku?” jawab Nafsu dengan kesal.

Mulai lagi deh. Sebentar saja merasakan ketenangan. Aku hanya tepok jidat melihat kelakuan mereka berdua. Hati langsung menuju ke dapur.

“Ayo siapa takut? Belum pernah merasakan Rasenganku kan? Hahaha,” tantang Akal menanggapi.

Dan aku memutuskan untuk mandi. Daripada harus melihat pertengkaran mereka berdua.

Salam Macul
0 Komentar untuk "Larangan Berkhalwat"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top