Urip mung mampir ngarit!

Gara-gara HP



Entah kebetulan atau memang sudah takdir. Mereka bertiga bertemu di sebuah kafe. Berangkat dari sebuah trauma yang sama mereka berkumpul dalam satu meja. Ya, meski mereka belum mengenal satu sama lain. Agaknya, latar belakang trauma tersebut membuat mereka sama.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya Soni menghampiri meja yang hanya diduduki satu orang.

“Oh, silakan. Tidak ada yang lain kok!” jawab Lukman dengan senyum.

“Terima kasih!” Soni segera duduk berhadapan dengan pria yang belum dikenalnya itu.

Selang beberapa menit. Datanglah pria lain yang mempunyai masalah yang sama dengan mereka berdua.

“Boleh gabung di sini? Kebetulan semua meja di sini sudah full kecuali di sini?” tanya Andre yang membawa makanan. Ia ikut bergabung dengan kedua pria itu.

“Soni......”

“Lukman....”

“Andre....”
 Mereka saling berjabat tangan memperkenal diri.

“Kamu asli Semarang ya Man?” tanya Soni memulai pembicaraan.

“Bukan, saya perantauan di sini. Aslinya Purwodadi. Kalau kamu?”

“Saya asli Pati. Di Semarang sudah 2 tahun. Kalau kamu, Ndre? Asli orang sini juga? Tapi kalau dilihat-lihat tampang kamu bukan tampang Semarang, hehehe.....”

“Bukan. Saya asli Purwodadi, kebetulan kerja di Semarang sama seperti kamu tadi, 2 tahun. Wah ternyata ketemu tetangga malah.”

Mereka bertiga ngobrol ngalur ngidul. Semua mereka bicarakan. Mulai dari masa kuliah, lulus dan sekarang bekerja. Jam dinding kafe menunjukkan pukul 15.00. Berarti mereka sudah ngobrol selama tiga jam.

“Boleh minta nomor handphone kamu, Man? Ya, sapa tahu kalau ada waktu luang mampir ke tempat kamu!” tanya Soni.

“Punya. Tapi kebetulan lagi gak bawa hp.”

“Kebetulan, aku juga tidak bawa hp,” sahut Andre menimpali.

“Oh ya. Sama dong. Aku juga gak bawa hp, hahahahahahaha!”

Tidak bawa hp kok bangga. Waduh.

“Hp kadang bisa membuatku mengingat kejadian yang menyedihkan di dalam hidupku,” ujar Soni tanpa diminta.

“Ya, kamu benar Son. Aku juga pernah mengalami hal yang buruk dengan hp,” sambung Andre.

“Benarkah? Lagi-lagi kita sama dong. Apa kalian juga punya pengalaman yang menyedihkan, menjengkelkan atau apalah itu namanya yang berkaitan dengan hp, Ndre?” Soni beralih menatap Andre.

“Iya,” jawab Andre singkat.

“Kalau aku, gara-gara hp aku harus putus dengan pacar yang kusayangi dan kucintai,” Soni memulai ceritanya. Ia memandang ke atas dan mulai bertutur cerita.

*******

Siang itu.

“Jangan smsan mulu to yank! Konsentrasi ke jalan!” pinta Reni kepada Soni yang asyik smsan meski mereka dalam perjalanan pulang kuliah dengan sepeda motor.

“Iya, yank, iya!” jawab Soni seadanya. Tiap ada sms yang masuk Soni segera membalasnya tanpa menghiraukan jalan di depan.

“Iya, iya! Kalau iya kenapa masih smsan mulu! Kan bisa diteruskan nanti kalau sudah sampai kos,” lanjut Reni semakin kesal atas ulah pacarnya itu. Bukannya mengutamakan keselamatan malah memilih bersms ria di jalan raya.

Agaknya nasihat Reni tidak digubris Soni. Nyatanya ia masih memandang layar hpnya dan sesekali melihat arah depan. Minimnya konsentrasi ke jalan inilah yang menyebabkan angka kecelakaan lalu lintas selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Reni semakin dongkol. “Jangan-jangan itu sms dari selingkuhan kamu ya?”

Tak ada jawaban dari Soni. Tentu membuat Reni semakin kesal dan marah. Ia merebut hp Soni. Terjadi aksi tarik-menarik antara Soni dan Reni memperebutkan hp. Karena adegan tarik-menarik membuat Soni tidak memperhatikan jalur motornya. Sepeda motornya oleng dan menabrak pohon pinggir jalan. Brrraaakkkk.

Soni dan Reni terpental. Dan untungnya, mereka tidak terpental ke tengah jalan raya. Kalau itu terjadi bisa-bisa disambar kendaraan yang lewat. Soni berusaha bangun memastikan tidak terjadi apa-apa padanya dan berlari menghampiri sepeda motornya yang nyungsep.

“Alhamdulillah kerusakannya tidak seberapa.”

“Sialan kamu Son! Bukannya menolong pacarnya, motor duluan yang kamu urusin. Kita putus!” teriak Reni.

Bllarrr. Seperti ada petir di siang bolong.

“Apa? Putus? Kenapa harus sekarang sih, yank? Dalam keadaan seperti ini?”

“Putus ya putus. Kamu lebih sayang hp dan motor kamu daripada pacar kamu sendiri!” Reni menangis dan berjalan pergi meninggalkan Soni.

“Tapi yank? Sebaiknya aku antar kamu pulang, kakimu lecet gitu!”

“Tidak usah! Mending aku naik angkot saja!” Reni berjalan pergi sembari sesengukan menangis.

“Tapi yank........”

 “Gak ada tapi-tapian. Putus ya putus!” jawab Reni mulai kesal.

“Itu, helmnya tolong dibalikin. Itukan punyaku!”
GUBRAAKKK....

“Ya begitulah. Saya dan Reni beneran putus gara-gara kejadian tersebut. Meski sebenarnya saya masih sangat mencintainya,” kata Soni mengakhiri ceritanya.

“Kenapa kamu tidak tembak dia lagi?” tanya Andre merespon cerita Soni barusan.

“Sayang sekali sob. Dia sudah menikah dengan orang lain dan sekarang menetap di Kalimantan,” jawab Soni dengan ekpresi sedih di wajahnya.

“Saya ikut belasungkawa sob! Hahaha,” canda Lukman mencairkan suasana.

“Jiangkrik, hahaha.”

*****

Sekarang giliaran Lukman yang bercerita. Cerita ini terjadi saat ia dan pacarnya, Yuni pulang dari kuliah. Tempat kuliah dan kos lumayan jauh dan harus melewati pos polisi lalu lintas. Kita harus berhati-hati. Tahu sendirilah polisi lalu lintas Semarang sangat displin. Kesalahan sedikit saja di semprit. Digiring masuk ke pos dan akhirnya apalagi kalau bukan ditilang. Lho kok malah bahas polisi. Kembali ke cerita.

Siang itu, kejadiannya seperti cerita Soni sebelumnya, kata si Lukman gitu.

Ibuku sangat perhatian kepadaku. Saking perhatiannya, apa-apa harus lapor lewat sms atau telepon. Sedang melakukan apa, sama siapa dan sebagainya. Kalau sms atau telepon tidak aku cepat balas atau angkat, ibu akan menceramahi inilah, itulah panjang lebar. Pada intinya aku sangat sayang kepada ibuku. Itu beliau lalukan karena aku adalah anak tunggal. Seperti siang itu... Narasi Lukman seperti prolog film.

“Yank, kita jadi nonton film?” rengek Yuni di belakang.

“Iya, yank. Jadi!” jawab Lukman yang konsentrasi ke arah depan. Mereka berencana nonton film sepulang kuliah. Seperti biasa, Lukman mengantar Yuni pulang ke kos dengan sepeda motornya untuk berganti pakaian.

Gret, gret, gret, gret. Hp Lukman bergetar di dalam sakunya. Ada sms yang masuk! Ahhh...mungkin dari teman-teman yang iseng! Batin Lukman. Ia tak mengubrisnya. Lampu hijau sudah menyala, Lukman memacu motor agak melambat karena ada nada panggilan masuk. Dilihatnya di layar hp. Ibu, pikir Lukman.

“Ya, Bu. Ini Lukman sedang di jalan..... Iya.... Iya, Bu..... Nanti Lukman pulang tepat waktu kok...... Sedang sama temen..... Iya-iya,”

Klik. Telepon selesai.

Priiitttt. Prrriiittt.

“Bisa berhenti sebentar, Pak!” perintah salah satu polisi menghentikan perjalanan Lukman. 

“Bisa lihat surat-suratnya!”

Lukman memberikan STNK dan SIM C kepada polisi tersebut.
“Bapak tahu kesalahan Bapak? Bapak telah melanggar peraturan No 2 tahun 2005, bahwa tidak boleh berkendara motor sembari bersms atau telepon. Untuk selengkapnya mari kita ke pos!” si polisi meninggalkan mereka dengan membawa surat-surat Lukman.

“Apa aku bilang yank! Jangan telepon atau sms sambil berkendara. Begini kan jadinya! Huuufftttt,” Yuni kesal atas perbuatan Lukman barusan. “Ya sudahlah kita putus sekarang!”

“Lho, lho, lho, kok putus segala yank!” kata Lukman dengan kagetnya.

“Putus ya putus!” Yuni masih tetap pada pendiriannya. Mengakhiri hubungannya dengan Lukman.

”Ini gue balikin helmnya. Sebelum kamu minta!” tambah Yuni menyerahkan helm kepada mantan pacarnya itu.

Yuni berjalan pergi meninggalkan Lukman sendirian yang masih belum nggeh dengan kejadian barusan.

“Bagaimana acara nontonnya, yank?” teriak Lukman yang masih memanggil Yuni dengan kata sayang. Yuni hanya melambaikan tangan yang berarti tidak.

“Kalau begitu balikin tiket nontonnya! Kan masih kamu bawa!”
GUBRRAAKKK

“Begitulah sob! Akhirnya saat itu aku putus dengan Yuni. Sangat disayangkan memang. Tapi ya sudahlah yang lalu biar berlalu,” Lukman mengakhiri ceritanya.

“Lantas bagaimana kabar Yuni sekarang, Man?” tanya Soni.

“Apa kamu masih ketemu sama dia?” Andre menambahi.

“Suatu hari, dia mengajak ketemuan. Katanya dia minta maaf atas kejadian tempo hari. Dia melakukan itu hanya emosi sesaat dan minta balikan lagi. Dan, sekarang telah menjadi istriku, hehehe,” jawab Lukman dengan tawanya yang renyah.

“Terus kabar ibu kamu gimana?” tanya Andre lagi.

“Alhamdulillah masih sehat di rumah. Tapi ya itu perhatiannya seolah-olah aku masih anak kemarin sore,” lanjut Lukman.

*******

Dan terakhir, giliran Andre yang bercerita.

Cerita ini terjadi dua tahun yang lalu. Saat Andre masih duduk di bangku kuliah. Siang itu, lagi-lagi waktu pasti siang semua. Udah pada janjian ya? Hehehe.

Siang itu Andre dan pacarnya, Indah pulang selepas kuliah.

“Yank, jadikan kita menjenguk Ida di rumah sakit?”

“Insha Allah, jadi yank! Memang ada apa?” tanya Andre sembari melihat pacarnya tersebut.
Mereka berencana menjenguk Ida yang terbaring di rumah sakit karena tipes. Ida adalah teman sekelas mereka.

“Kadang aku pengen sakit di rumah sakit, yank! Dapat beristirahat dengan tenang. Lantas kamu selalu ada di sampingku, menjagaku saat aku tidur.”

“Huussshhhh. Jangan bilang begitu, yank! Aku akan selalu di samping kamu meski kamu gak sakit. Buang jauh-jauh pikiran semacam itu,” Andre menasihati.

Indah hanya tersenyum mendengar kata pacarnya tersebut. Dan memandang wajah Andre yang sedang konsen menyetir mobilnya.

Tiba-tiba dari hp Andre bergetar, ketika hendak mengambil, hpnya jatuh ke bawah. Andre berusaha mengambil dengan jangkauan tangannya. Hal ini membuat konsentrasinya terpecah

Brrraaaakkkkkkk 
Sebuah truk menabrak mobil Andre dari arah depan. Membuat bagian depannya ringsek. Andre dan Indah mengalami luka yang lumayan serius. Beruntung Andre masih bisa diselamatkan. Tetapi naas bagi Indah, karena mengalami pendarahan di bagian kepala. Nyawanya tidak tertolong. Hal ini, membuat Andre merasa bersalah. Keluarga Indah sudah berulang kali meminta Andre untuk tidak menyalahkan diri atas kematian putri mereka. Tetapi malah membuat Andre semakin bersalah.

“Selang beberapa hari polisi memberitahukan bahwa kecelakaan tersebut dikarenakan supir truk mabuk ketika menyetir,” kata Andre menyudahi ceritanya.

“Sudahlah sob! Kita memang tidak bisa melawan takdir. Kita ambil hikmah dibalik ini semua!” lipur Soni sembari menepuk-nepuk bahu Andre. Andre membalasnya dengan senyuman.

“Kami ikut sedih mendengarnya!” tambah Lukman.

“Terima kasih semuanya!” balas Andre.

*****

Tidak terasa sudah lima jam mereka duduk di kafe tersebut. Mereka memutuskan untuk pulang. Karena sudah menjelang malam Andre menawarkan mengantar Soni dan Lukman. Karena Andre satu-satunya yang membawa mobil. Ternyata rumah mereka satu arah.
Di dalam perjalanan pulang mereka masih ngobrol dan bercanda. Tiba-tiba.....

Ada seorang wanita yang menyebrang sembarangan. Tanpa melihat kendaraan yang lewat. Sialnya lagi wanita tersebut sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone di telinganya. Matanya tertuju layar hp sembari smsan.

Tiiiiiiiiiinnnnnn. Tiiiinnnnnn.
Klakson mobil Andre tak membuat wanita tersebut sadar.

“Mbak tolong minggir!” teriak Soni yang harus keluar jendela memperingatkan.

“Woy, mbbbbaaaakkkkkk...Miiiinnggggiiiiiiirrrrrrr......” teriak Lukman membantu.

Dan. BBRAAAKKKK.
Tag : Cerpen
0 Komentar untuk "Gara-gara HP"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top