Urip mung mampir ngarit!

Sedikit Curahan Hati (2)

Setelah kejadian dulu selalu membuatku penasaran dan penasaran. Siapakah wanita tersebut? Bagaimana mungkin saya bisa mengenalnya? Hanya Ida. Tak ada clue lainnya. Malam ini kalau memang beruntung semoga bisa bertemu kembali.

"Massssss......."

Aku mendengar sapaan seorang wanita. Suaranya yang syahdu merayu, membuatku tidak lupa akan pemilik suara ini. Aku palingkan pandanganku ke sekitar. Tak ada seorang pun. Lantas siapa yang memanggilku barusan?

"Masssss...." kali ini panggilannya disertai sentuhan lembut di pundakku. Aku membalikkan badan. Dia hanya tertawa sembari ditutupi jemari tangannya. Ya. Memang benar dia. Wanita yang aku temui dulu di mimpiku pertama. Aku kucek mataku untuk meyakinkan bahwa memang benar dia.

 "Adinda tunggu sebentar ya!! Tunggu di sini jangan kemana-mana!! Abang pergi sebentar!!"

"Mau kemana mas?"

Aku akhirnya bangun dari mimpiku. Aku melihat jam dinding, masih menunjukkan pukul 00:30 WIB. Alhamdulillah, berarti masih ada banyak waktu untuk menemui si dia. Paling tidak aku masih punya 3,5 jam sebelum masuk sholat subuh. Merasa sudah aman dan mendukung, aku baringkan tubuh ini ke pulau kapuk. Menyambut adinda kembali.

Duh, kok tidak mau merem ini mata. Ayolah, ayolah ngantuk. Biar cepet bisa ketemu adinda. Ya Allah, perkenankan hamba-Mu ini untuk bisa bertemu kembali, hehehe.

"Kok lama sih mas?" tanyanya kepadaku. Berarti aku sudah dalam mimpi kembali.

"Hehehe, tadi memastikan keadaan adinda. Maaf ya menunggu lama!" kata permintaan maafku kepadanya.

Lagi-lagi kami berada di taman bunga. Ah sudahlah, yang penting aku sudah bertemu dengannya lagi.

"Mas sudah sholat?"

"Sholat? Alhamdulillah sudah. Gaji maculku sama ngedosku gak sepiro dik, mosok yo arep ninggalke sholat, hahahaha"

Dia juga tertawa mendengar jawabanku.Senang rasanya melihat dia tertawa dan ceria. Berbeda sekali saat pertama kali aku menjumpainya. Penuh airmata dan tangisan.

"Mas itu sebenarnya siapa sih?" lagi-lagi dia bertanya kepadaku.

"Aku..... Aku......" kataku tercekat tidak bisa menjelaskan. Aku pun sebenarnya juga bingung adinda. Ini takdirkah atau hanya sebatas bunga tidur?
 
"Mas itu anugerah....,"

"Anugerah? Aku itu Dwi Andri Yatmo adinda," jawabku setengah heran.

"Mas itu anugerah terindah yang pernah kumiliki..... Eaaaaaaaa...,"
GUBRAAAKKKKK

Lagi-lagi aku termakan gombalannya. Dia masih tertawa melihat ekspresiku yang salah tingkah karena gombalannya. Ternyata ilmu gombalanku masih kalah jauh. Kudu sinau luwih maneh ki.....

"Adinda sudah maem belum?" sekarang aku yang berinisiatif menanyainya.

"Belum, Ma. Mau ngajakin maem dimana Mas?" dia balik bertanya.

"Enaknya dimana ya Adinda? Aku awam di daerah sini. Mungkin adinda punya referensi?"

Dia berpikir sejenak. "Warung di sini cuma di sana Mas?" jawabnya sembari menunjuk ke arah atas bukit. Ndelalah kok ada warung makan, padahal tadi belum ada apa-apa.

"Kita jalan kaki Adinda? Apa tidak kejauhan?" tanyaku lagi.

"Kan bisa pake motornya Mas. Tuh ada di situ!"

Lhadalah, sejak kapan Grand Astreaku ada di sini juga. Perasaan tadi masih aman-aman saja di rumah. Aku bingung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Mbokyo sekali-kali keluarnya motor Ninja, CBR atau Satria Baja Hitam. Duh deekk....

Dik, bukane aku gak gelem ngajak maem. Tapi aku khawatir nak gowo motorku iku gak kuat nanjak. Gak kuat munggah. Lakyo tengsin aku.

"Pripun mas? Jadi maem?"

Duh dekk, aku kudu piye iki. Satu sisi aku pingin ngajak. Satu sisi laine aku wedi nak motore ora kuat munggah, hahaha. Yoweslah tak tekati. Kuat ora kuat penting tak pancal disik. Bismillah.

"Ayo adinda..." ajakku kepadanya. Dia menaiki motor ijoku itu. Bismillah. Aku starter.

Aku dalam hati terus berdoa, Ya Allah moga kuat nanjak. Bismillah. Bismillah. Bismillah. Kuatke motore ya Allah.

Dan benar saja. Motor yang sebelumnya aku ragukan bisa nanjak. Nanjak dengan mulusnya dan tanpa kekurangan apa pun. Alhamdulillah.

Akhirnya kami makan di warung antah berantah ini. Kami lanjutkan obrolan yang tadi. Banyak yang ingin aku ketahui tentang dirinya. Siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa muncul di mimpiku? Walaupun sebatas mimpi, aku merasakan ini nyata.

"Kalau aku boleh tahu, siapakah adinda sebenarnya?" aku beranikan diri untuk membuka omongan.

"Bukankah dulu Mas sudah tahu namaku?" jawabnya singkat sembari memasukkan satu sendok suapan ke mulut.

"Tidak tahu mengapa aku memanggilmu Ida. Bukankah kita belum bertemu sebelumnya? Siapa kau sebenarnya Da?"

"Aku tidak bisa menjelaskan di sini, Mas! Akan ada saatnya kamu mengetahuinya sendiri. Akan ada saatnya kita pasti dipertemukan di dunia nyata, tapi aku tidak tahu kapan itu terjadi."

Kemudian dia mengeluarkan dua buah buku tebal. Diletakkannya buku tersebut di atas meja makan. Aku semakin tambah tidak mengerti akan semua ini.


"Buku Matematika? Apa hubungannya dengan semua ini?"

"Anggap saja ini sebagai petunjuk jalan Mas. Pasti akan bermanfaat kok!" sembari tersenyum manis kepadaku.

Tiba-tiba sebuah suara derungan motor terdengar dari luar rumah makan. Kami menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat dua pria tambun turun dari motor. Dengan ekspresi tergesa-gesa masuk ke dalam warung. Celingukan, mengedarkan pandangan ke semua sisi warung. Aku melihat Ida di depanku hanya tersenyum.

Entah kenapa bayangan Ida semakin hilang. "Mas, aku pergi dulu. Kita pasti bertemu kembali!" ucapnya sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.

"Da..... Ida.... Mau kemana?"

*****

GLONNTAAANGGG
Terdengar perkakas dapur jatuh, membuatku terbangun dari tidur. Aku bergegas ke dapur untuk memastikan apa yang terjadi.

"Wis tangi kowe, Le? Iku kucing nyenggol panci dadine do tibo kabeh pancine! Yowes kono ndang wudhu terus adzan nek mushola!" jelas Simbok yang masih sibuk memasak. Emak memang selalu membuat sarapan tiap hari. Meskipun hari Minggu atau libur, anak-anak selalu dibuatkan sarapan.

"Kenapa Ida memberiku buku Matematika? Lantas siapa dua pria tambun tadi? Aaaarrrgghhhhh.....," batinku bergemuruh.

Aku jejakkan kaki menuju mushola. Ternyata Pak Kyai Yahya sudah mengumandangkan adzan sendiri. Berarti nanti aku yang kebagian pujiannya.

"Seperti apa yang kau katakan Da. Semoga kita cepat bertemu!!" aku percepat langkah menuju surau.

Salam Mimpi sambil Macul.....
Tag : Cerita
0 Komentar untuk "Sedikit Curahan Hati (2)"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top