Urip mung mampir ngarit!

Perihal Mobil Hitam di Depan Rumah Ina


Pagi ini membosankan. Sama membosankannya seperti pagi-pagi sebelumnya.
Pagi ini, Emak dan Bapak tak di rumah ketika aku bangun. Ini baru jam 5 pagi dan mereka sudah pergi?

Ini hari kamis, pasti mereka pergi ke kota. Pada hari kamis setiap minggu akan ada pasar lelang.
Lelang apa? Tentu saja macam-macam barang ada di pasar itu.

Kemarin malam emak bilang kalau pancinya sudah berlubang. Barangkali beliau hendak membeli panci disana.

Entahlah..aku malas ikut ke pasar lelang. Di sana panas dan kotor. Semua warga desa pelosok macam desaku ini pasti tumpah ruah kesana. Maklumlah, harga barang di pasar lelang jauh lebih murah daripada di pasar biasanya. Aku sendiri masih heran, kenapa harganya lebih murah padahal kualitasnya sama?

Aku selalu merasa kasihan dengan penjual di pasar biasa yang menjadi sepi pelanggan sejak adanya pasar lelang mulai bulan kemarin.

Warga desa macam kami ini rata-rata tak mempedulikan kualitas. Yang kami tau hanya seberapa besar selisih harganya.
Tentu saja kami akan memilih yang lebih murah.

Desaku ini lumayan jauh dari perkotaan, mungkin sekitar satu jam jika ditempuh dengan angkutan umum. Itupun kami harus berjalan kaki sekitar setengah jam agar bisa mencapai tempat pemberhentian angkutan umum.

Di desa kami jarang ada orang yang mempunyai kendaraan pribadi.
Hanya Bapak Kepala Desa yang mempunyai satu buah sepeda motor. Itupun milik putranya.
Namanya Aji.

Dia dulu satu sekolah dasar denganku. Tidak seperti Pak Kepala Desa yang ramah, Aji sangat sombong. Dia dulu tak pernah membalas sapaanku ketika kami bertemu di jalan. Dia bilang kalau aku tak pantas berkawan dengannya.

Dia anak orang berpunya, sedangkan Bapakku hanya petani biasa. Emak bekerja di rumahnya setiap hari jumat, biasanya beliau ditugaskan mencuci pakaian Aji.

Jangan heran, masing-masing anggota keluarga Pak Kepala Desa mempunyai buruh cuci sendiri.
Aku sendiri sempat tak setuju ketika emak mengatakan kalau dia jadi buruh cuci khusus untuk Aji.

"Aji itu tak sopan mak..bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Aku tak mau emak diperlakukan tak layak oleh Aji", suatu sore aku sedang berbincang dengan emak.

"Tak apa, nduk.. ini tugas langsung dari Pak Kepala Desa", ucap emak kala itu

"Tak bisakah emak mencuci baju Pak Kepala Desa saja? Beliau lebih murah hati mak..",

"Sudahlah..jangan khawatirkan emak..", kemudian emak tersenyum lebar layaknya baru mendapat undian.

Aku pasrah, semoga saja Aji tak bersikap buruk terhadap emakku.

Tapi, sepertinya doaku belum dikabulkan Tuhan. 
Suatu sore Aji datang ke rumahku. Emak dan Bapakku sedang tak di rumah kala itu.

"Heh..mana emakmu?", lihat..bahkan dia tak mengucapkan salam atau sekedar memanggil namaku.

"Emak sedang di sawah, ada apa?", aku masih berusaha sopan. Karena walau bagaimanapun Aji tetaplah anak Pak Kepala Desa yang aku hormati.

"Bilang sama emakmu, dia tak bersih mencuci bajuku! Buruh cuci seperti emakmu harusnya tak pantas dipekerjakan!", Dia membentak ke arahku.

Aku hanya diam. Orang sombong macam Aji tak pantas ditanggapi.
Dan yaaa..begitulah Aji. Selalu sombong dan tak mau menghargai usaha orang lain.

Eh..sepertinya aku menceritakan banyak hal tak perlu kepada kalian. Bahkan aku lupa memperkenalkan diriku.

Namaku Ina, umurku sekarang mungkin 18 tahun.
Jujur, aku tak tau tanggal lahirku. Yang kutau aku lahir tepat satu hari setelah Aji lahir. Itupun emak yang menceritakan.

Jadi mudah saja bagiku untuk tau berapa umurku.
Pasti sama dengan Aji.

Oke baiklah..abaikan ocehanku pagi ini.
Aku terlalu lama melamun di teras rumah. Hari sudah terik tapi emak dan bapak belum jg kembali dari kota.

Apakah mereka kesulitan mencari angkutan umum?
Setelah cukup lama aku duduk di teras, kuputuskan memasak makan siang untuk emak dan bapak. Kami tak terbiasa makan pagi.

Cukup minum segelas air putih akan cukup untuk memberikan tenaga untuk kami sampai siang menjelang.

***

Matahari mulai merangkak turun menandakan hari sudah menjelang sore.
Tapi emak dan bapak tak kunjung pulang.
Aku mulai khawatir. Tapi aku tak tau harus melakukan apa.
Aku hanya mondar-mandir di depan teras dengan perasaan cemas yang semakin menjadi-jadi.
Kulihat Aji memandangku meremehkan dari depan teras rumah megahnya.

Oh iya, aku lupa mengatakan kalau rumahku berhadapan dengan rumah Aji.
Aku balik memandang Aji tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Aku mulai muak dengan sikapnya.
Tak berselang lama, aku melihat cahaya lampu dari kejauhan. Seperti ada mobil yang akan lewat depan rumahku.

Mungkin itu tamu Pak Kepala Desa yang datang dari kota.
Sudah biasa kulihat pemandangan seperti ini.
Aku lelah menunggu emak dan bapak.
Kemana saja mereka?

"Nduk Ina.. emak pulang..", suara emak mengagetkanku.

"Emak kemana saja? Kenapa lama sekali? Mana bapak?", aku mencari-cari dimana bapak.

Apakah beliau tidak pulang bersama emak?
Perlahan-lahan aku memandangi mobil yang terparkir di depan rumahku.
Bapak turun dari dalam mobil bersama seorang wanita tua yang kuperkirakan seumuran dengan simbah buyutku.

"Siapa dia mak?",
Emak diam saja.

Beliau malah menggandengku untuk masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu.
Perempuan tua itu ikut menuntunku masuk ke dalam mobil.

Sekilas kulihat air muka Aji yang heran memandang kearahku.
Tidakkah dia tau kalau aku sama herannya seperti dia?
Karena terlalu heran aku tak sadar jika mobil sudah melaju menjauhi rumahku.
Aku duduk di belakang kemudi sendirian.
Tanpa emak dan bapak.

Pendingin ruangan mobil ini begitu menusuk tulangku.
Aku masih terlarut dengan keherananku sampai suara wanita tua itu menyadarkanku.

"Pasti akan ada banyak pemuda kota yang menginginkanmu, nak..", dia tersenyum tenang.

Apa maksud wanita tua ini?
Pemuda kota?
Aku tak paham.
Yang aku yakin sekarang adalah, hidupku tak akan pernah terasa sama lagi seperti dulu.
Mungkin lebih buruk, atau mungkin lebih baik.
Setidaknya aku tak akan pernah melihat wajah sombong Aji setiap harinya.
...
Tag : Cerpen
0 Komentar untuk "Perihal Mobil Hitam di Depan Rumah Ina"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top