Urip mung mampir ngarit!

Istilah-istilah Di Kampung

Bahasa Jawa banyak sekali perbendaharaan katanya. Mulai dari yang baku sampai yang tidak baku, semua tumplek blek jadi satu di kampung. Bahkan terkadang ada ciri khas tersendiri antara daerah satu dengan daerah lainnya. Tak terkecuali di kampung saya sendiri, lebih tepatnya di Dusun Ngrumpeng Desa Putatsari, Grobogan.
Berikut ini beberapa istilah yang sering digunakan oleh orang desa.
  1. Sambatan
Mungkin kita sering mendengar kata gotong royong, kalau di kampung lebih familiar dengan sebutan sambatan. Sambatan berasal dari kata sambat yang berarti mengeluh. Kerjomu kok sambat wae (Kerjamu kok mengeluh saja). Dapat imbuhan –an menjadi sambatan berubah artian saling membantu. Biasanya sambatan sering dilakukan jika salah satu tetangga punya gawe atau hajatan. Baik itu mantenan, bangun atau bongkar rumah, atau panen. Jadi jika si A panen padi atau jagung dibantu si B, C dan D. Maka jika gantian si B yang panen si A, C, dan D membantu, begitu seterusnya hingga tuntas.
  1. Jagulan
Kalau sambatan tadi atas rasa gotong royong, beda halnya dengan jagulan. Jagulan di sini meminta bantuan tetapi dikasih upah atau imbalan. Semisal jagulan macul, jagulan panen padi, dll.
  1. Ngedos
Di desa panen padi lebih identik dengan sebutan ngedos. Karena alat yang biasa digunakan untuk merontokkan padi disebut DOS (bukan bahasa pemrograman itu lho). Pengoperasiannya pun masih manual yaitu dipancal layaknya mancal sepeda. Tetapi sekarang agak maju karena ada yang sudah memakai tenaga diesel.
  1. Ngarit
Rata-rata orang kampung memiliki hewan peliharaan mulai dari ayam, bebek, wedus sampai sapi. Ngarit berarti mencari rumput di sawah atau di hutan dengan karung beras atau krenjang. Dulu setiap sore pasti disuruh emak ngaritno wedus opo sapi nek ngarep omah opo nek sawah.
  1. Ndaut
Mencabuti benih padi yang nantinya akan ditanam di sawah. Biasanya diikat dengan tali bambu. Orang desa menyebutnya pocongan. Ndaut biasanya dijagulkan, tetapi ada juga yang sambatan.
  1. Tempah
Kalau ndaut tadi kita mengumpulkan benih padi kemudian diikat. Kalau tempah kita menata benih padi di sawah. Melayani para ibu-ibu yang sedang menanam padi. Layaknya pelayan di restoran, hahaha
  1. Ulur
Pernah mendengar kata ulur? Mungkin lebih familiar kata mengulur-ulur waktu. Atau memperlambat atau memperlama waktu. Berbeda artinya kalau di kampung. Ulur berarti menanam padi di sawah ketika musim kemarau. Kita memasukkan benih padi ke lubang-lubang yang sudah dibuat menggunakan taju. Ulur biasanya di kampung lebih identik ulur jagung , padi atau palawija.

******

Misuh atau umpatan atau cacian di kampung pun beragam jenisnya. Ada beberapa yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari ada juga yang jarang digunakan atau pas keadaan/kejadian tertentu saja.
Kalau untuk yang umum semisal:
  • Pej*h atau J*h
Kadang kala juga dapat imbuhan i jadi pej*hi atau j*oh opo kowe ki! Umpatan ini sering dilontarkan oleh orang kampung ketika marah, kesal, bertengkar dll. Tingkatan Tinggi.
  • L*nte
Umpatan ini sering ditujukan kepada wanita-wanita nakal, sering keluyuran malam, mau dibawa kemana-mana, pulangnya subuh/pagi. Yang kalau di kota disebut PSK (Perempuan Suka Keluyuran). Tingkatan Tinggi.
  • Kakeane atau Kekanem
Kata satu ini juga menjadi langganan orang kampung untuk mengungkapkan rasa kekesalannya. Tingkatan Rendah.
  • Bajingan (Tingkatan Sedang)
  • Picek (Tingkatan Sedang) Umpatan untuk mata yang salah melihat atau bawur.
  • Bento (Tingkatan Sedang) Umpatan untuk mata juga.
 *****

Bahkan nama-nama hewan pun turut diikutsertakan dalam misuh di desa. Sebenarnya ini tidak sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Hewan, hahaha. Bisa diambil contoh:
  • Asu / Anjing / Kirik
Hewan satu ini sering mendapatkan porsi terbesar. Bahkan terkadang anak kecil faseh mengucapkannya. Kadang juga mendapat imbuhan -i jadi Asui atau asu i memberikan penekanan yang lebih. Ada juga dapat tambahan awalan U menjadi Uaassuuu, lagi-lagi untuk memberikan penekannya yang lebih. Biar lebih afdol mungkin misuhnya. Tingkatan Tinggi.
  • Jangkrik
Serangga satu ini juga menjadi korban misuh-misuh orang kampung. Terkadang mendapat sisipan –i menjadi Jiangkrik. Tingkatan Rendah.
  • Kethek/Munyuk (Tingkatan Rendah)

 *****

Yang tidak saya habis pikir juga nama tumbuhan juga diikut-ikutkan juga. Kasihan tanaman yang dicatutkan tanpa pemberian royalti ini, hahaha.
  • Asem
Buah kecut satu ini sering digunakan untuk menambah rasa di sayur bening. Sebagai bumbu dapur di rumah, asem juga menjadi buah bibir para warga untuk misuh juga. Dengar saja di percakapan para pemuda kampung, pasti lak ada satu kata ASEMI / ASEM I. (Tingkatan Rendah)
  • Telo
Ketela rambat di desa sering disebut telo. Tanaman satu ini pun tidak luput dari perbincangan para warga. Telo di sini mengumpamakan seseorang yang bodo, ora mudengan. Oalah utek-utek telo!! Raimu koyok telo!! (Tingkatan Sedang)
  • Waloh
Waloh juga menggambarkan seseorang yang bodo, plola-plolo, ora mudengan. Utek-utek waloh!! Kokean mangan waloh tenan kowe ki!! (Tingkatan Sedang)

Mungkin hanya segitu yang dapat saya tuliskan. Mungkin dari teman-teman ada yang mau menambahi saya persilakan di komentar.

Salam Macul!!
Tag : Cerita
0 Komentar untuk "Istilah-istilah Di Kampung"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top