Urip mung mampir ngarit!

Buat Simbokku

Meskipun sudah terlewatkan peringatan Hari Ibu, tidak ada salahnya jika saya juga mengangkat cerita tentang Emak. Memang tidak akan pernah habis dan cukup membahas jelmaan bidadari surga ini. Tapi perkenankan saya merangkai kata sederhana untuk mengungkapkan cinta kepada Emak di rumah.

Satu hal yang selalu Emak lakukan di rumah setiap pagi adalah memastikan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Walau hanya dengan lauk kemarin yang diangetkan lagi. Kadang juga hanya dengan sambel, tapi bagi saya itu lebih dari cukup. Berapa banyak di luar sana yang tidak bisa makan, harus bekerja membanting tulang demi sesuap nasi. Dan menu andalan Emak saya adalah sambel tempe kemanggi (mungkin bisa saya ceritakan sendiri lain kali).

Setiap kali bangun tidur pasti sarapan sudah siap di meja (kusam) makan kami. Melihat anaknya bangun emak pasti langsung berkata, Ndang Subuh Le. Bar iku ndang sarapan trus adus, mangkat sekolah!

Emak dan Bapak pasti sarapan paling terakhir, memastikan bahwa ketiga anaknya sudah selesai sarapan. Terkadang Bapak malah harus ke sawah setelah bangun tidur, tidak sempat sarapan. Lha sarapane durung mateng. Setelah anak-anaknya berangkat sekolah, barulah Emak sarapan. Tentu lauk sambel tempenya tersisa sedikit.

*****

Di kampung tidak ada namanya tradisi mengucapkan selamat hari Ibu kepada Emak atau Simboknya. Semua berjalan seperti biasa, mereka hanya tahu bahwa tanggal 22 Desember Hari Ibu. Hanya tahu tok, tidak lebih. Jangankan hari Ibu, namanya perayaan ulang tahun saja hanya segelintir orang mampu yang bisa merayakan di kampung. Untuk kita anak-anak petani perayaan ulang tahun malah setiap sebulan sekali. Pas jatuh hari penanggalan Jawa. Itupun hanya dengan Jenang Abang.

Sebenarnya saya ingin sekali mengucapkan kepada Emak. Mengucapkan selamat Hari Ibu kepada beliau yang telah sembilan bulan mengandung, melahirkan dan merawat selama ini.

"Mak, selamat hari ibu nggih!”

Emak yang masih sibuk ngaru nasi melihatku sambil heran. Tangan kanannya memegang centong.  Matanya mendelik menatapku yang masih mikul tong air ngangsu.

“Ngomong opo kowe! Wis bar durung tekmu ngangsu. Pakmu meh muleh. Ndang dikebaki gentonge. Ojo sing ora-ora. Kesambet pow kowe le?” jawab Emak sambil geleng-geleng kepala lantas meneruskan kesibukannya ngaru nasi.

Tuh kan tahu sendiri. Di kampung itu tidak cocok mengucapkan selamat hari ibu. Aku pun bergegas merampungkan kegiatan ngangsu banyu. Serasa oase di tengah gurun sahara. Lha wong seumur-umur belum ada itu di kampung yang pernah melakukannya.

*****

Bukan ucapan selamat yang mereka inginkan dari kita, anak udik kampung. Melainkan krungoke nak dituturi, manut nak dikongkon. Karena Emak dan Bapak lebih banyak di sawah jadi semua urusan rumah harus bisa diselesaikan anak-anaknya. Mulai dari menyapu, mencuci pakaian,mencuci piring, mengisi bak mandi (punya saya masih gentong), ngarit buat sapi. Hanya itu. Sederhana sekali bukan.
Emak juga tidak menginginkan kartu ucapan selamat Hari Ibu. Karena sebagian besar ibu-ibu di kampung tidak tamat SD, alhamdulillah Emak saya lulusan SD. Jangankan menulis, membaca saja kadang mereka masih terbata-bata mengejanya. Tetapi beda jika urusannya masalah duit, ibu-ibu jagonya.

“Duit mbok ceh-ceh go tuku kertas. Mending mok tabung opo go tuku lombok lakyo sak omah iso mangan sambel Le!” begitu mungkin ucapan ibu-ibu jika ada yang berani mencoba memberi emaknya kartu ucapan.

*****

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
Kita tidak akan pernah bisa membalas semua kasih sayang yang telah Emak dan Bapak berikan kepada kita. Lantas apa yang dapat berikan? Jadilah anak yang membanggakan orangtua. Tidak neko-neko. Manutan.

Setiap malam Emak pasti tertidur di amben depan tv. Setelah seharian bergumul di sawah dan memasak di rumah. Jika ingin melihat wajah bidadari kalian dengan sempurna, pandanglah wajah Emak/Simbok/Ibu pas tidur. Saya pernah melakukannya jika tidak sengaja menemani Emak nonton tv.

Wajah lelah, penat beliau. Tergurat dari kerutan-kerutan di wajah mereka. Tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Tanpa lelah bekerja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Pernahkah kalian melihat wajah sejati Emak kalian ketika tertidur? Cobalah.

“Mbok, ngapurane sing kathah. Dereng saget mbahagiake Emak karo Bapak. Nyuwun dongane mawon Mak, mugo-mugo saget dados tiyang,” ujarku setelah melihat wajah Emak tertidur.

Selamat Hari Ibu buat Emak-emak di kampung!!
Tag : Pribadi
0 Komentar untuk "Buat Simbokku"

Monggo nak selo podo komentar.....

Back To Top